LOGIN"Kau akan menggantikan Elia. Tiga hari lagi, di gereja yang sama, dengan pria yang sama."
Dua tahun yang lalu, Freya berdiri di tengah ruang kerja ayahnya dengan kedua tangan terlipat di depan rok, tempat yang sama di mana setiap bagian hidupnya selalu dimulai dan diakhiri dengan sebuah perintah. Garrett Moore tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pria itu hanya menatap laut gelap di balik jendela, tempat mobil Elia ditemukan hancur di dasar tebing semalam, tanpa seorang pun di dalamnya. "Ayah, Kak Elia bahkan belum ditemukan." Freya bertanya lirih sembari mencengkeram roknya. "Bagaimana mungkin Ayah sudah membicarakan pernikahan?" "Undangan sudah sampai ke tiga ratus tamu, termasuk menteri perdagangan, dua duta besar, dan hampir semua pengusaha besar di negeri ini. Yang paling penting, klien dari luar negeri yang diundang keluarga Andrew untuk kontrak impor mereka sudah mendarat kemarin." Garrett akhirnya berbalik, dan tatapannya terasa seperti seseorang yang sedang menimbang barang di pasar. "Kau kira keluarga Andrew menginginkanmu? Mereka sendiri muak membayangkan anak haram bersanding dengan putra mereka. Tapi mereka tidak bisa membatalkannya di depan orang-orang itu, dan aku pun tidak bisa. Siapa yang selama ini merawatmu?" "Tapi kenapa harus aku, Ayah?" "Karena sudah jelas kau membawa margaku." Marga itu. Marga yang tidak pernah boleh disebut ketika ada tamu di rumah ini, tapi sekarang tiba-tiba dibutuhkan. Freya lahir bukan dari cinta, melainkan dari sebuah hubungan yang tidak pernah direncanakan siapa pun. Ibunya hanyalah seorang wanita penghibur yang bertemu Garrett Moore di waktu yang salah, dan pria itu, yang sudah beristri dan terbiasa menganggap semua hal bisa dibeli, tidak pernah benar-benar bertanya apa akibat dari perbuatannya. Ketika bayi itu lahir, Garrett memilih menutup mata, sedangkan ibunya memilih menjadikan bayi itu senjata untuk meraup keuntungan. Tiap bulan wanita itu menagih uang dengan ancaman akan membocorkan keberadaan Freya ke media, dan Garrett selalu membayarnya, bukan karena peduli, tapi karena nama baik dan saham perusahaannya jauh lebih berharga daripada seorang anak. Sampai akhirnya Garrett sadar, selama Freya masih berada di tangan ibunya, dia akan terus diperas. Maka dari itu, dia membeli Freya dari tangan Ibunya, kemudian membawanya ke rumah besar itu dengan status sebagai anak adopsi. Dunia tidak tahu kebenarannya, hanya keluarga besarnya, istrinya yang jatuh sakit karena depresi, Elia, dan keluarga Andrew, sahabat lama mereka, yang tahu siapa Freya sebenarnya. Di balik itu semua, Garrett sudah lama menghitung, kelak anak itu bisa dia jadikan alat pernikahan bisnis. Freya tidak pernah memilih lahir dari siapa, tapi dialah yang harus membayar semuanya, kebencian Elia yang kehilangan ibunya, tatapan keluarga besar yang menganggapnya aib, dan cap anak haram yang akan menempel di namanya seumur hidup hingga membuatnya dikucilkan. Freya masih ingat tempat tidur kecil di sayap belakang yang diberikan kepadanya di usia lima tahun, supaya tamu-tamu tidak melihatnya berkeliaran di dekat Elia, putri sahnya. Karena itu, ketika Garrett menyinggung hal tersebut, tubuh Freya spontan bergetar ketakutan. Ia sudah tahu bagaimana tatapan keluarganya dan Andrew saat melihatnya nanti di pesta pernikahan. Dan yang paling memalukan, di tengah ketakutan itu, ada satu bagian kecil dari dirinya yang bergetar karena nama pria yang disebutkan ayahnya. Nial Andrew. Pria yang sejak lama hanya berani dia lihat dari kejauhan, yang dia kagumi diam-diam seperti seseorang yang mengagumi bintang di langit, tanpa pernah berharap bisa menyentuhnya. Meski begitu, apakah seseorang seperti dia punya hak untuk menolak? Dia bahkan juga tidak pernah diberikan kesempatan sekali pun untuk berkata tidak. "Aku mengerti, Ayah." ujar Freya akhirnya, dengan suara yang bahkan tidak terdengar seperti miliknya sendiri, “Aku akan menggantikan kak Elia.” Lalu, hari itu tiba. Hari pernikahannya dengan Nial. Seorang penjahit tua berlutut di kaki Freya sembari menyematkan peniti di sepanjang pinggang gaun putih itu. Gaun itu dirancang untuk Elia, dengan tinggi badan dan lekuk tubuh Elia yang lebih berisi, sehingga setiap kali peniti menusuk kain, Freya merasa dia sedang dipaksa memuat dirinya ke dalam bentuk orang lain. "Dengar baik-baik dan jangan salah paham, ini bukan sebuah penerimaan dariku, aku sendiri tidak sudi menyebutmu menantuku. Tapi klien kami sudah duduk menunggu di hotel itu, jadi aku tidak mau ada kekacauan sedikit pun." ucap Margaret Andrew kala itu dengan nada halus, tanpa sedikit pun kemarahan, tapi justru itulah yang membuat setiap katanya terasa seperti dingin yang merambat ke tulang. Ia menatap Freya dengan mata memicing dan dagu terangkat, seolah Freya adalah kecoak menjijikkan yang harus dibumihanguskan. “Jadi, lakukan tugasmu dengan benar. Tersenyumlah seperlunya dan bersikap seperti Elia hingga para tamu tidak menyadari kalian berbeda.” “Baik, Nyonya Andrew,” lagi-lagi, Freya hanya mampu mengangguk patuh. Suara yang begitu sopan itu justru terasa lebih menusuk daripada bentakan. Ketika lonceng gereja berbunyi menandakan acara dimulai, Freya hanya mampu tertunduk ketika berjalan di antara bangku-bangku yang penuh, melewati wajah-wajah penting yang menoleh dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan, dengan gaun yang menyesakkan pinggangnya dan buket bunga yang dipilih untuk wanita lain. Di ujung lorong, Nial berdiri dengan setelan hitam, tampan, tegak, dan sama sekali tidak menoleh. Ketika dia mengucapkan janji, suaranya datar, seolah sedang membacakan isi kontrak. Dan ketika pendeta mempersilakan mereka berciuman, bibir Nial hanya menyentuh udara di atas pipi Freya, cukup dekat untuk dilihat tamu, cukup jauh untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Malam itu, kamar pengantin terasa terlalu luas dan terlalu sunyi. Freya duduk di tepi ranjang dengan gaun yang belum sempat dia lepas, sebab dia tidak tahu apakah dia diizinkan menyentuh apa pun di ruangan ini. Ketika pintu terbuka dan Nial masuk sembari melonggarkan dasinya, Freya spontan berdiri. "Kak Nial, aku..." "Dengar dulu, karena aku hanya akan mengatakannya sekali." Nial tidak menatapnya. Dia hanya menuangkan segelas air dari meja, lalu meminumnya dengan tenang. "Keluargaku tidak menginginkanmu, aku juga tidak, dan kalau bukan karena klien penting itu sudah duduk di bangku tamu, pernikahan ini tidak akan pernah ada." "Aku tahu." "Bagus, jadi tinggallah di rumah ini seperti biasa, jalankan saja peranmu sampai batas yang ditentukan, dan jangan menambah masalah apa pun." Nial menaruh gelasnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia menoleh. Sorot matanya terasa dingin. "Satu hal lagi, jangan berharap apa pun dariku." Freya mengangguk saat itu, karena hanya itu yang bisa dia lakukan. Kalimat yang sudah dia susun sepanjang hari, tentang betapa dia tidak berniat menggantikan siapa pun, dia pun hanya korban dari keinginan kedua keluarga besar, menguap begitu saja dari kepalanya. Sungguh tidak adil, Freya tahu itu, tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak pernah sekalipun diberikan kesempatan untuk membela diri. Freya keluar dari kamar mandi dengan punggung tangan yang masih berdarah, tapi dia tidak peduli. Keputusannya sudah bulat, dan satu-satunya yang ada di kepalanya sekarang hanyalah bagaimana caranya pergi sebelum pagi. Dia menarik koper dari kolong tempat tidur dan baru akan membukanya ketika pintu kamarnya diketuk pelan. TOK. TOK. TOK. "Nyonya? Maaf mengganggu, tapi saya mendengar suara kaca pecah dari dalam. Apakah Anda baik-baik saja?" Itu suara Paul. Freya tersentak. Dia buru-buru mendorong koper kecil itu kembali ke kolong, lalu menyembunyikan tangannya di balik punggung seolah Paul bisa melihatnya menembus pintu. "Aku baik-baik saja, Paul. Tadi aku tidak sengaja menjatuhkan gelas, tapi tidak apa-apa, tidak perlu khawatir." "Kalau begitu izinkan saya masuk membereskannya, Nyonya. Pecahan kaca bisa melukai Anda." "Tidak usah!" Suaranya terdengar terlalu cepat, jadi dia menarik napas dan mengulangnya lebih tenang. "Kau bisa membereskannya besok. Aku sudah mau tidur sekarang." Hening beberapa detik. Freya menahan napas, menatap bayangan sepatu Paul di celah bawah pintu, dan dia bisa membayangkan lelaki itu sedang khawatir. "Baik, Nyonya. Tapi kalau Anda membutuhkan apa pun, silakan panggil saya." Langkah itu menjauh perlahan, dan Freya baru berani mengembuskan napas ketika suaranya hilang di ujung lorong. Tangannya gemetar saat dia mengambil kotak obat dari laci. Perih menusuk ketika kapas antiseptik menyentuh luka, dan hanya itu yang membuatnya sadar bahwa tubuhnya masih memiliki sensor rasa sakit. Dia membalut punggung tangannya sendiri dengan perban, sedikit berantakan, tapi cukup untuk menutupi lukanya. Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja rias. Freya meraihnya, dan hatinya terasa perih sekaligus kosong begitu melihat nama pengirimnya. *Tunggu aku di rumah.* -Nial- Pesan itu pendek, tanpa sapaan, tanpa pertanyaan apakah dia baik-baik saja atau sekadar penjelasan. Hanya sebuah perintah yang terkesan memaksa. Tapi lagi-lagi, keputusan Freya sudah bulat. Alih-alih membalasnya patuh seperti biasa, Freya justru hanya menaruh ponselnya kembali dengan layar menghadap meja."Ni-al?!" Tampah berisi ikan asin itu jatuh ke tanah, dan wanita yang menjatuhkannya berdiri membeku dengan kedua tangan masih terangkat di udara. Nial berhenti di tengah jalan setapak yang licin oleh sisa hujan, aroma amis yang menyengat itu menusuk hidungnya, dan untuk beberapa detik dia hanya bisa menatap wajah yang sudah dua tahun dia cari ke seluruh negeri. Semalaman dia terombang-ambing di atas kapal kecil menuju pulau terpencil di kota lain, hanya ditemani seorang pengawal dan Robert, informan yang ditugaskan mencari keberadaan Elia. Jalan setapak dari batu biasa dengan celah di sana-sini itu juga baru pertama kali dia injak. Seorang putra konglomerat generasi keempat yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan, dan kehidupan orang-orang di tempat ini sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Elia berlari lebih dulu, menabrak dadanya dengan kedua lengan yang memeluk erat. "Ni-al, apa ini sungguh dirimu? Aku masih tidak percaya." Tubuh Nial terasa tegang. Teman
Setelah memastikan semua barangnya masuk, Freya menutup resleting koper kecilnya pelan-pelan, takut bunyinya terdengar sampai ke lorong. Ia menghela napas pelan kemudian memperhatikan kamar yang telah menemaninya selama 2 tahun, dan menjadi saksi atas seluruh air mata dan lukanya selama tinggal di rumah itu. Ia bahkan tahu lebih banyak tentang tata letak apa saja yang ada di dalam kamar itu, dibandingkan Nial yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Freya sedikit penasaran, setelah dia pergi, apa yang akan terjadi pada kamar ini? Apakah Elia akan menempatinya, tidur di ranjang yang sama, memakai meja rias yang sama, seolah dua tahun ini tidak pernah ada? Atau mungkin Nial akan menyuruh pelayan mengosongkannya, menjadikannya kamar tamu atau gudang penyimpanan? Mungkin tidak akan ada seorang pun yang mengingat bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini. Freya tersenyum getir. Seharusnya dia tidak begitu terikat dengan apa pun yang ada di rumah ini, dengan begitu
Usai menyembuhkan tangannya, Freya lanjut mengerjakan agenda berikutnya; bersiap-siap untuk pergi. Dia membuka laci meja rias, mengeluarkan buku tabungan yang selama dua tahun ini dia isi sedikit demi sedikit dari uang bulanan rumah tangga yang tidak pernah dia belanjakan, lalu sebuah map berisi akta kelahiran dan surat tanda pengenalnya. Tidak ada satu pun dari semua itu yang berasal dari keluarga Andrew. Dia menghitung angkanya dua kali, takut ada yang hilang, padahal dia sudah tahu persis jumlahnya. Setelah itu dia membuka lemari. Di dasarnya, tepatnya di bawah tumpukan selimut yang jarang disentuh, terlipat sebuah mantel wol cokelat yang warnanya sudah memudar dan ukurannya jauh terlalu kecil untuk tubuhnya sekarang. Freya menariknya keluar, dan seketika pikirannya kembali ke umur delapan tahun. Lima belas tahun lalu, di tengah musim dingin, Elia yang saat itu berusia tiga belas tahun menguncinya di taman belakang. Dengan gaun tipisnya, Freya berdiri di sana sampai jari-
"Kau akan menggantikan Elia. Tiga hari lagi, di gereja yang sama, dengan pria yang sama." Dua tahun yang lalu, Freya berdiri di tengah ruang kerja ayahnya dengan kedua tangan terlipat di depan rok, tempat yang sama di mana setiap bagian hidupnya selalu dimulai dan diakhiri dengan sebuah perintah. Garrett Moore tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pria itu hanya menatap laut gelap di balik jendela, tempat mobil Elia ditemukan hancur di dasar tebing semalam, tanpa seorang pun di dalamnya. "Ayah, Kak Elia bahkan belum ditemukan." Freya bertanya lirih sembari mencengkeram roknya. "Bagaimana mungkin Ayah sudah membicarakan pernikahan?" "Undangan sudah sampai ke tiga ratus tamu, termasuk menteri perdagangan, dua duta besar, dan hampir semua pengusaha besar di negeri ini. Yang paling penting, klien dari luar negeri yang diundang keluarga Andrew untuk kontrak impor mereka sudah mendarat kemarin." Garrett akhirnya berbalik, dan tatapannya terasa seperti seseorang yang sedang menimbang
"Kak Nial, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Hanya hari ini harapan terakhir Freya. Dia sudah menghabiskan seluruh keberaniannya untuk berdiri di depan pintu kayu besar itu, pintu yang selalu terasa lebih tebal dari tembok mana pun di rumah ini, dan mengetuknya tiga kali dengan jemari yang masih dingin. Jika yang berdiri di sini adalah Elia, apakah dia juga harus menunggu selama itu? "Silakan masuk, Nyonya." Paul, asisten pribadi Nial, membukakan pintu dengan sikap sopan yang terlalu formal, seolah dia sedang menyambut tamu, bukan istri majikannya. "Terima kasih, Paul." Langkah Freya terasa berat ketika menyeberangi karpet tebal itu. Nial duduk di balik meja kerjanya dengan punggung tegak dan tatapan terkunci pada layar monitor. Dua tahun, dan Freya masih belum tahu rasanya ditatap sekali saja tanpa harus meminta. "Kak Nial." "Padahal kau bisa menyampaikannya lewat Paul, seperti biasa." Nial menjawab tanpa mengangkat kepala. "Apakah kau tidak bisa meluangkan waktu s







