"Kak Nial, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Hanya hari ini harapan terakhir Freya. Dia sudah menghabiskan seluruh keberaniannya untuk berdiri di depan pintu kayu besar itu, pintu yang selalu terasa lebih tebal dari tembok mana pun di rumah ini, dan mengetuknya tiga kali dengan jemari yang masih dingin. Jika yang berdiri di sini adalah Elia, apakah dia juga harus menunggu selama itu? "Silakan masuk, Nyonya." Paul, asisten pribadi Nial, membukakan pintu dengan sikap sopan yang terlalu formal, seolah dia sedang menyambut tamu, bukan istri majikannya. "Terima kasih, Paul." Langkah Freya terasa berat ketika menyeberangi karpet tebal itu. Nial duduk di balik meja kerjanya dengan punggung tegak dan tatapan terkunci pada layar monitor. Dua tahun, dan Freya masih belum tahu rasanya ditatap sekali saja tanpa harus meminta. "Kak Nial." "Padahal kau bisa menyampaikannya lewat Paul, seperti biasa." Nial menjawab tanpa mengangkat kepala. "Apakah kau tidak bisa meluangkan waktu s
Last Updated : 2026-10-12 Read more