Share

Sisa Kenangan

Author: Ai Iluzen
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-12 18:07:57

Usai menyembuhkan tangannya, Freya lanjut mengerjakan agenda berikutnya; bersiap-siap untuk pergi.

Dia membuka laci meja rias, mengeluarkan buku tabungan yang selama dua tahun ini dia isi sedikit demi sedikit dari uang bulanan rumah tangga yang tidak pernah dia belanjakan, lalu sebuah map berisi akta kelahiran dan surat tanda pengenalnya.

Tidak ada satu pun dari semua itu yang berasal dari keluarga Andrew. Dia menghitung angkanya dua kali, takut ada yang hilang, padahal dia sudah tahu persis jumlahnya.

Setelah itu dia membuka lemari. Di dasarnya, tepatnya di bawah tumpukan selimut yang jarang disentuh, terlipat sebuah mantel wol cokelat yang warnanya sudah memudar dan ukurannya jauh terlalu kecil untuk tubuhnya sekarang.

Freya menariknya keluar, dan seketika pikirannya kembali ke umur delapan tahun.

Lima belas tahun lalu, di tengah musim dingin, Elia yang saat itu berusia tiga belas tahun menguncinya di taman belakang. Dengan gaun tipisnya, Freya berdiri di sana sampai jari-jarinya kebas dan giginya gemeretak.

Semua itu terjadi atas perintah Garrett, yang hari itu sedang menjamu tamu-tamu penting dan tidak mau keberadaan anak haram itu mempermalukan mereka. Meskipun statusnya sebagai anak adopsi tapi ada sedikit kemiripan wajah Freya dengan Garret yang akan menimbulkan pertanyaan.

Elia melakukan perintah Garret dengan senang hati. Sebab Elia selalu menganggap kematian ibunya tidak lepas dari tanggung jawab Freya dan wanita simpanan itu.

Itu bukan kejadian baru. Freya sudah mengalaminya beberapa kali. Jadi, dia berusaha menunggu dengan sabar sampai pintu dibukakan kembali untuknya. Lagipula, meski ia merengek sekalipun, tetap tidak akan ada orang yang membantunya.

Saat sedang mencari tempat berlindung agar tidak semakin kedinginan, mata Freya menangkap seseorang dari jendela lantai dua, seorang anak laki-laki berseragam sekolah memandanginya.

Anak itu adalah Nial, putra keluarga Andrew yang sering datang bersama orang tuanya dan seusia dengan Elia. Freya selalu mengenali wajah itu dari jauh. Nial tidak bereaksi apa pun, dia hanya menatap beberapa detik, lalu menutup tirai.

Malam harinya, setelah Elia puas menyiksanya dan mengizinkannya masuk lewat pintu belakang, Freya menemukan sebuah mantel wol cokelat dan sepotong roti hangat di depan pintu kamarnya, tanpa surat dan tanpa nama. Dia hanya sempat melihat punggung seorang anak laki-laki berseragam sekolah yang menjauh di ujung lorong, dan dia yakin itu Nial.

Freya tidak pernah melupakan hari itu, mungkin bagi Nial itu hanyalah belas kasihan, tapi bagi Freya itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Freya mengusap kerah mantel itu dengan ibu jarinya. Wol itu sudah kasar dan sebagian jahitannya longgar, tapi dia tidak pernah membuangnya, bahkan ketika dia dipaksa pindah dari satu kamar ke kamar lain, bahkan ketika dia dibawa ke altar dengan gaun milik orang lain.

‘Padahal aku tahu dengan jelas, kalau mantel ini hanya bentuk belas kasihan darinya, kenapa aku masih menyimpannya? Aku benar-benar bodoh.’

Dia meninggalkan mantel itu, beserta semua kenangan berharga di sana, Freya tidak ingin pergi dengan membawa satu pun ingatan tentang Nial.

Freya lalu membereskan barang-barangnya, dan ternyata tidak banyak yang harus dia kemas. Sejak awal dia memang tidak membawa banyak barang ke rumah ini, dan selama dua tahun Nial tidak pernah memberinya apa pun, bahkan sekadar hadiah kecil sekalipun. Beberapa potong pakaian, buku tabungan, dan dokumen pribadinya sudah cukup memenuhi satu koper kecil.

Setelah itu dia berpindah ke tempat tidur, dia merasa harus meninggalkan tempat tidur dalam keadaan rapi, sama seperti saat dia datang, jadi dia merapikan seprai yang kusut dan melipat selimut yang tergeletak di ujung. Tapi ketika tangannya menyentuh bantal di sisi lain ranjang, gerakannya terhenti.

Di sinilah malam itu terjadi, malam ketika anak yang ada di kandungannya terbentuk. Freya memejamkan mata, berusaha mengenyahkan ingatan itu, tapi ingatan itu datang tanpa bisa dia cegah.

Malam itu adalah malam peringatan dua tahun hilangnya Elia. Biasanya Nial menghabiskan malam seperti itu sendirian di ruang kerja, dengan pintu tertutup dan lampu yang menyala sampai pagi, tapi kali itu Paul memapahnya masuk ke kamar dengan wajah serba salah.

"Maaf, Nyonya, Tuan tidak bisa berdiri sendiri. Tadi beliau minum terlalu banyak. Saya hanya takut terjadi hal buruk jika meninggalkannya sendirian di ruang kerja," ucap Paul saat itu.

Freya awalnya ingin menolaknya. Ingin meminta agar Paul membawa Nial ke kamar pria itu saja. Tapi, melihat wajah suram dan terluka Nial, membuat Freya tak tega.

Ia akhirnya membolehkan pria itu masuk. Menyuruh Paul menaruhnya di sofa dan mulai merawatnya.

Ia memeras handuk basah, mengelap wajah Nial yang memerah, lalu menyodorkan segelas air ke bibirnya. Nial membuka mata sedikit, tatapannya buram dan tidak fokus, tapi Freya bisa melihat sorot terluka juga di sana yang membuat hatinya tersayat.

"Dua tahun." Suara Nial parau dan nyaris tidak terdengar. "Dua tahun, dan dia belum juga ketemu."

Tangan Nial tiba-tiba mencengkram pergelangan tangan Freya, kuat, dan hangat oleh alkohol.

"Jangan pergi."

Freya terdiam.

Dia sadar sepenuhnya bahwa pria di hadapannya bahkan tidak sedang melihat dirinya, hanya melihat orang lain melalui wajahnya. Seharusnya dia menarik tangannya, seharusnya dia memanggil Paul untuk menggantikannya mengurus Nial.

Tapi cinta di hatinya membuat perhatian palsu itu terasa lebih hangat daripada apa pun yang pernah dia terima di rumah ini.

Malam itu, Freya tidak menolak. Tidak, lebih tepatnya dia menyerahkan diri sepenuhnya pada Nial yang berada di bawah pengaruh alkohol.

Dengan kesadaran penuh, Freya memberikan segelnya kepada Nial. Dia terlena oleh malam sesaat. Rasa sakit sekaligus nikmat yang mungkin tidak akan pernah bisa dia lupakan sepanjang hidupnya, mungkin, ingatan itu hanya Freya sendiri yang merasakan.

Paginya, cahaya matahari menembus tirai dan jatuh tepat di wajah Nial. Dia terbangun dengan kening berkerut, menatap langit-langit, lalu menoleh dan melihat Freya yang sudah terjaga sembari memeluk selimut ke dadanya. Hanya butuh sedetik bagi ekspresi Nial berubah, dari bingung menjadi sadar, lalu berubah menjadi dingin.

Dia duduk di tepi ranjang dengan punggung menghadap Freya, lalu mengancingkan kemejanya satu per satu.

"Kak Nial..."

"Aku mabuk, dan itu adalah sebuah kesalahan. Seharusnya kau bisa menolakku." Nial berdiri tanpa menoleh sedikit pun.

"Lupakan apa yang terjadi semalam."

Kalimat itu masih terdengar jelas di telinga Freya sampai sekarang, seolah baru diucapkan beberapa detik yang lalu, padahal sudah berminggu-minggu lamanya.

Sekarang, kalimat yang dulu dia turuti itu justru menjadi satu-satunya alasan dia berani pergi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Pelukan yang Terasa Asing

    "Ni-al?!" Tampah berisi ikan asin itu jatuh ke tanah, dan wanita yang menjatuhkannya berdiri membeku dengan kedua tangan masih terangkat di udara. Nial berhenti di tengah jalan setapak yang licin oleh sisa hujan, aroma amis yang menyengat itu menusuk hidungnya, dan untuk beberapa detik dia hanya bisa menatap wajah yang sudah dua tahun dia cari ke seluruh negeri. Semalaman dia terombang-ambing di atas kapal kecil menuju pulau terpencil di kota lain, hanya ditemani seorang pengawal dan Robert, informan yang ditugaskan mencari keberadaan Elia. Jalan setapak dari batu biasa dengan celah di sana-sini itu juga baru pertama kali dia injak. Seorang putra konglomerat generasi keempat yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan, dan kehidupan orang-orang di tempat ini sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Elia berlari lebih dulu, menabrak dadanya dengan kedua lengan yang memeluk erat. "Ni-al, apa ini sungguh dirimu? Aku masih tidak percaya." Tubuh Nial terasa tegang. Teman

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Lupakan

    Setelah memastikan semua barangnya masuk, Freya menutup resleting koper kecilnya pelan-pelan, takut bunyinya terdengar sampai ke lorong. Ia menghela napas pelan kemudian memperhatikan kamar yang telah menemaninya selama 2 tahun, dan menjadi saksi atas seluruh air mata dan lukanya selama tinggal di rumah itu. Ia bahkan tahu lebih banyak tentang tata letak apa saja yang ada di dalam kamar itu, dibandingkan Nial yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Freya sedikit penasaran, setelah dia pergi, apa yang akan terjadi pada kamar ini? Apakah Elia akan menempatinya, tidur di ranjang yang sama, memakai meja rias yang sama, seolah dua tahun ini tidak pernah ada? Atau mungkin Nial akan menyuruh pelayan mengosongkannya, menjadikannya kamar tamu atau gudang penyimpanan? Mungkin tidak akan ada seorang pun yang mengingat bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini. Freya tersenyum getir. Seharusnya dia tidak begitu terikat dengan apa pun yang ada di rumah ini, dengan begitu

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Sisa Kenangan

    Usai menyembuhkan tangannya, Freya lanjut mengerjakan agenda berikutnya; bersiap-siap untuk pergi. Dia membuka laci meja rias, mengeluarkan buku tabungan yang selama dua tahun ini dia isi sedikit demi sedikit dari uang bulanan rumah tangga yang tidak pernah dia belanjakan, lalu sebuah map berisi akta kelahiran dan surat tanda pengenalnya. Tidak ada satu pun dari semua itu yang berasal dari keluarga Andrew. Dia menghitung angkanya dua kali, takut ada yang hilang, padahal dia sudah tahu persis jumlahnya. Setelah itu dia membuka lemari. Di dasarnya, tepatnya di bawah tumpukan selimut yang jarang disentuh, terlipat sebuah mantel wol cokelat yang warnanya sudah memudar dan ukurannya jauh terlalu kecil untuk tubuhnya sekarang. Freya menariknya keluar, dan seketika pikirannya kembali ke umur delapan tahun. Lima belas tahun lalu, di tengah musim dingin, Elia yang saat itu berusia tiga belas tahun menguncinya di taman belakang. Dengan gaun tipisnya, Freya berdiri di sana sampai jari-

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Gaun Milik Orang Lain

    "Kau akan menggantikan Elia. Tiga hari lagi, di gereja yang sama, dengan pria yang sama." Dua tahun yang lalu, Freya berdiri di tengah ruang kerja ayahnya dengan kedua tangan terlipat di depan rok, tempat yang sama di mana setiap bagian hidupnya selalu dimulai dan diakhiri dengan sebuah perintah. Garrett Moore tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pria itu hanya menatap laut gelap di balik jendela, tempat mobil Elia ditemukan hancur di dasar tebing semalam, tanpa seorang pun di dalamnya. "Ayah, Kak Elia bahkan belum ditemukan." Freya bertanya lirih sembari mencengkeram roknya. "Bagaimana mungkin Ayah sudah membicarakan pernikahan?" "Undangan sudah sampai ke tiga ratus tamu, termasuk menteri perdagangan, dua duta besar, dan hampir semua pengusaha besar di negeri ini. Yang paling penting, klien dari luar negeri yang diundang keluarga Andrew untuk kontrak impor mereka sudah mendarat kemarin." Garrett akhirnya berbalik, dan tatapannya terasa seperti seseorang yang sedang menimbang

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Dia Telah Ditemukan

    "Kak Nial, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Hanya hari ini harapan terakhir Freya. Dia sudah menghabiskan seluruh keberaniannya untuk berdiri di depan pintu kayu besar itu, pintu yang selalu terasa lebih tebal dari tembok mana pun di rumah ini, dan mengetuknya tiga kali dengan jemari yang masih dingin. Jika yang berdiri di sini adalah Elia, apakah dia juga harus menunggu selama itu? "Silakan masuk, Nyonya." Paul, asisten pribadi Nial, membukakan pintu dengan sikap sopan yang terlalu formal, seolah dia sedang menyambut tamu, bukan istri majikannya. "Terima kasih, Paul." Langkah Freya terasa berat ketika menyeberangi karpet tebal itu. Nial duduk di balik meja kerjanya dengan punggung tegak dan tatapan terkunci pada layar monitor. Dua tahun, dan Freya masih belum tahu rasanya ditatap sekali saja tanpa harus meminta. "Kak Nial." "Padahal kau bisa menyampaikannya lewat Paul, seperti biasa." Nial menjawab tanpa mengangkat kepala. "Apakah kau tidak bisa meluangkan waktu s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status