MasukNial berlari sambil menekan layar ponselnya dengan satu tangan. Satu kata untuk Paul, hanya satu.‘Sekarang.’Mobil hitam itu berhenti di bawah pohon di ujung jalan masuk, hanya sekitar seratus meter dari villa. Pintu belakangnya sudah terbuka, dan Garrett baru saja menurunkan satu kakinya ke pasir. Nial menghentikan langkah tepat di depan kap mobil dengan napas memburu, lalu merentangkan tangan dan berpura-pura dia memang sedang berjalan santai di sana."Apa yang Ibu lakukan di sini?"Margaret menurunkan kaca jendela. Wajahnya datar, tapi matanya menatap Nial dari atas ke bawah, dari topi hitam, jaket kusut, sampai napasnya yang belum teratur. "Kau berlari, begitu terburu-buru, seakan menyembunyikan sesuatu.""Jawab pertanyaanku, Bu." Suara Nial rendah dan dingin, dan dia tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya. "Sudah kubilang jangan ikuti aku. Kenapa Ibu dan Paman Garrett tetap datang?""Ibu ingin melihat sendiri apa yang kau sembunyikan di pantai ini." Margaret menoleh ke arah
Freya terbangun dengan perasaan aneh yang tidak bisa dia jelaskan.Dia menoleh ke tempat tidur di sampingnya. Selimut Leon terlipat berantakan, dan bantalnya kosong."Leon?"Tidak ada jawaban. Freya bangkit dan memeriksa kamar mandi, dapur, beranda. Pintu depan terbuka sedikit, dan sandal kecil Leon tidak ada di rak."Han! Han, bangun! Leon tidak ada!"Hanna keluar dari kamar dengan rambut kusut, dan Theo muncul dari ruang tamu sembari mengucek mata. "Apa? Ada apa?""Leon hilang!" Suara Freya pecah. Dia berlari keluar villa tanpa alas kaki, napasnya terputus-putus. ‘Kalau ada yang menculiknya. Kalau dia jatuh ke air. Kalau...’Lalu dia melihatnya dari jendela.Di tepi pantai, jauh di sana, Leon sedang berjongkok sambil tertawa, dan di sampingnya ada seorang pria bertopi hitam yang menunjukkan cangkang kecil di telapak tangannya.Freya berhenti berlari. Darahnya terasa membeku.Pria itu menoleh, dan meski topinya menutupi sebagian wajahnya, Freya tahu persis siapa dia."Leon!"Leon men
Pagi itu pantai masih sepi, dan Nial sudah duduk di teras kedai kopi dengan topi hitam yang ditarik rendah. Dia nyaris tidak tidur lagi. Kabar dari Paul semalam membuatnya terus waspada, dan setiap beberapa menit dia menoleh ke arah jalan masuk, memastikan belum ada mobil asing yang datang. Namun, dibandingkan itu, dia jauh lebih mengharapkan Freya keluar dari villanya.Lalu matanya menangkap sosok kecil di tepi air.Seorang anak laki-laki, sendirian, berjongkok dengan ember kecil di tangannya dan rambut yang masih berantakan seperti baru bangun tidur. Tidak ada orang dewasa di dekatnya. Tidak ada siapa pun, hanya ombak yang datang dan pergi menyentuh ujung sandalnya.Nial berdiri sebelum dia sempat berpikir.‘Dia sendirian. Ombaknya bisa menyeretnya kapan saja.’Dia berjalan cepat melintasi pasir, dan semakin dekat, dia semakin yakin itu memang anak yang sama. Anak itu terlalu sibuk memungut cangkang dari pasir basah sampai tidak sadar ada orang yang mendekat."Hei." Nial memanggilny
Malam itu Nial tidak bisa tidur. Tangannya masih berdenyut di balik perban yang dipasang Paul, tapi bukan rasa sakit itu yang membuatnya terjaga. Setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul justru wajah Freya dan tangan Freya yang gemetar saat menutupi anak itu di restoran.Dia merindukannya. Rasa itu datang begitu saja, dan Nial sudah terlalu lelah untuk menyangkalnya.Dia sudah berjanji tidak akan menyuruh siapa pun mengawasi Freya, dan dia memang tidak melakukannya. Tapi tidak ada janji yang melarangnya datang sendiri hanya untuk melihat jendela rumah itu dari kejauhan. Tanpa membangunkan Paul, Nial menyambar jaket dan kunci mobil sewaannya, lalu pergi diam-diam dari hotel.Dia memarkir mobilnya jauh dari rumah kecil bercat kuning pucat di ujung jalan itu, dan niatnya hanya satu. Melihat lampunya menyala, memastikan Freya baik-baik saja, lalu pulang.Tapi pintu rumah itu justru terbuka. Hanna keluar lebih dulu sembari menarik koper, disusul Freya yang menggendong seorang anak laki
Villa kecil milik teman Hanna itu berdiri di ujung jalan berpasir, hanya beberapa langkah dari pantai, dan Freya baru benar-benar bisa bernapas lega ketika membuka jendela kamar pagi itu dan melihat laut yang tenang membentang di depan matanya.Mereka tiba lewat tengah malam setelah menyetir hampir empat jam. Leon tertidur sepanjang jalan di kursi belakang dengan buku gambar di pelukannya, dan Freya harus menggendongnya masuk dengan hati-hati supaya anak itu tidak terbangun."Nah, apa kubilang?" Hanna muncul di pintu dengan dua cangkir teh. "Kau butuh ini, Frey. Lihat wajahmu, sudah tidak sekusut kemarin.""Hehe, aku tidak sekusut itu, kau pikir aku benang.""Bukan benang, tapi kau sekusut kain pel." Hanna menyodorkan cangkir sembari duduk di tepi ranjang. "Sudah, hari ini kita dilarang membahas orang-orang tidak penting itu. Hari ini kita hanya boleh bersenang-senang."Freya tertawa kecil. Sudah berhari-hari dadanya terasa sesak, dan baru pagi ini dia sadar betapa lelahnya dia menaha
Ponsel Nial berdering saat dia sedang menatap layar laptop tanpa membaca apa pun. Nama Margaret muncul di layar. "Nial, Ibu sudah tiba di kota ini. Kami menuju hotelmu sekarang." "Kami?" Nial langsung berdiri. "Ibu bersama Garrett. Tunggu kami, ada yang harus kita bicarakan, soal Halcyon." Sambungan terputus. Nial berdiri membeku beberapa detik, lalu dia meraih jasnya dan menatap Paul. "Mereka sudah tahu soal Halcyon. Jangan ada satu pun orang kita yang menyebut nama Freya di depan mereka, dan pastikan tidak ada yang memberi tahu mereka alamat studio atau rumahnya." "Baik, Tuan." Dulu setiap kali Margaret datang membawa kemarahan, Nial hanya diam dan menurut. Dia masih ingat bagaimana dia memohon "Kumohon, Bu" pada malam Freya pergi, dan dia benci mengingat betapa lemah suaranya waktu itu. Kali ini dia memutuskan untuk bersikap lebih tegas lagi. Beberapa jam kemudian, di restoran hotel, Margaret sudah duduk dengan punggung tegak dan map cokelat di atas meja. Garrett duduk di sa







