LOGIN"Ni-al?!"
Tampah berisi ikan asin itu jatuh ke tanah, dan wanita yang menjatuhkannya berdiri membeku dengan kedua tangan masih terangkat di udara. Nial berhenti di tengah jalan setapak yang licin oleh sisa hujan, aroma amis yang menyengat itu menusuk hidungnya, dan untuk beberapa detik dia hanya bisa menatap wajah yang sudah dua tahun dia cari ke seluruh negeri. Semalaman dia terombang-ambing di atas kapal kecil menuju pulau terpencil di kota lain, hanya ditemani seorang pengawal dan Robert, informan yang ditugaskan mencari keberadaan Elia. Jalan setapak dari batu biasa dengan celah di sana-sini itu juga baru pertama kali dia injak. Seorang putra konglomerat generasi keempat yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan, dan kehidupan orang-orang di tempat ini sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Elia berlari lebih dulu, menabrak dadanya dengan kedua lengan yang memeluk erat. "Ni-al, apa ini sungguh dirimu? Aku masih tidak percaya." Tubuh Nial terasa tegang. Teman masa kecilnya telah kembali ke dalam pelukannya, momen yang dia tunggu-tunggu selama dua tahun. Tapi kenapa pelukan itu justru terasa asing? Dia mengira perasaannya akan meledak, tapi yang dia temukan hanya ruang kosong yang tidak bisa dia jelaskan. "Elia. Aku tidak percaya akhirnya bisa menemukanmu, kau tinggal di sini selama ini?" "Iya, aku tinggal di sini. Ah, kita bicara di dalam saja, ya?" Rumah kayu itu begitu kecil bagi Nial yang terbiasa dengan mansion berlantai marmer. Dia masih tidak percaya, Elia, putri keluarga konglomerat yang sejak kecil hidup sama seperti dirinya, ternyata bisa bertahan di tempat seperti ini. Apakah dia sungguh Elia yang dia kenal? "Tempatnya memang kecil, jauh berbeda dengan rumah kita, kan?" Elia duduk di tepi dipan sembari merapikan rambutnya yang kusut. "Tapi di sinilah aku tinggal selama dua tahun. Mereka sangat baik, mau merawatku yang waktu itu amnesia, justru rumah ini terasa jauh lebih hangat dibandingkan rumahku sendiri." "Aku sudah mendengar garis besarnya, kau amnesia setelah kecelakaan itu. Tapi Elia, apakah tidak ada seorang pun di sini yang mencoba melaporkanmu ke polisi? Wajahmu juga bisa dilacak, jadi kenapa harus menghilang selama dua tahun?" "Nial, aku tidak ingat detailnya, saat itu wajahku penuh banyak luka, aku tidak punya kartu identitas, aku juga takut bertemu orang-orang kecuali keluarga kecil ini, tapi mungkin ini yang terbaik untuk pemulihanku. Sudahlah, yang terpenting kita sudah bertemu dan aku baik-baik saja sekarang." Elia menggenggam tangannya. "Maaf ya Nial, aku menghilang selama itu, aku pasti membuatmu cemas. Nial, apa kau tahu, begitu ingatanku pulih, kau adalah orang pertama yang muncul di dalam ingatanku, aku sangat merindukanmu Nial. Apa kau tidak merindukanku?" Rindu? Nial tidak yakin itu rindu, atau hanya rasa bersalah karena dia nyaris gagal menepati janjinya kepada mendiang ibu Elia, untuk menjaga satu-satunya putri yang ditinggalkannya. “Aku merindukanmu juga, Elia.” “Nial? Bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia selama aku tidak ada?” "Seharusnya aku yang bertanya bagaimana kabarmu," ujar Nial akhirnya. Elia tersenyum, seakan semuanya sudah baik-baik saja. "Setelah bertemu denganmu, aku merasa hidup kembali. Semua rasa sakit yang kualami, terlupakan begitu saja." Dia menyandarkan kepalanya di bahu Nial. Tidak ada reaksi apa pun darinya. "Bagaimana kalau kita menginap dulu beberapa hari? Aku ingin menceritakan banyak hal, dan aku juga mau mengajakmu berkeliling." "Pekerjaanku menumpuk di kota, dan ada satu hal yang harus kuceritakan sebelum kita kembali, supaya nantinya tidak terjadi kesalahpahaman." "Kenapa wajahmu serius sekali? Apa ada yang lebih penting daripada bertemu denganku?" "Aku akan menjelaskannya di perjalanan. Tapi sebelum itu, kita ke klinik dulu untuk memeriksa kondisimu." "Aku baik-baik saja, Nial. Memang dulu gegar otak, tapi sekarang sudah sembuh. Ah benar, dokter bilang aku tidak boleh memikirkan sesuatu yang berat, aku menjadi mudah setres sekarang, hehe." Elia tertawa dengan wajah lugunya, lalu menambahkan seolah baru teringat, "Oh iya, apa kau membawa uang? Aku ingin membalas budi pada mereka, dan nanti kuganti saat kita sampai di rumah." "Kau tahu aku tidak pernah membawa uang tunai." "Ada warung di dekat sini yang bisa menukarnya, aku tahu jalannya." ujar Elia ringan. Nial terkejut dengan jawaban Elia, pulau ini ternyata tidak sepenuhnya tertinggal. Lalu kenapa tidak ada satu orang pun yang melaporkan adanya korban kecelakaan di sini. Tapi Nial buru-buru menepis pikiran itu, karena yang terpenting sekarang Elia sudah ditemukan. ────୨ৎ──── Mereka kembali ke kota ketika hari sudah larut. Elia tertidur pulas di kursi belakang mobil, dan Nial menelan kembali semua penjelasan yang tadinya akan dia sampaikan. Dia hanya menatap jalan pinggiran kota yang lengang. Sungguh lucu, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada wanita di sebelahnya, melainkan pada seseorang di rumah, yang selama ini selalu dia sangkal keberadaannya. ‘Apa yang sedang wanita itu lakukan sekarang?’ Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kembalinya Elia justru memberikan jawaban pasti tentang siapa wanita itu di hatinya, dan besok dia akan menyelesaikan semuanya. ‘Tante, putrimu baik-baik saja sekarang, beban di dadaku sedikit terangkat. Apakah wanita itu pantas untuk kucintai? Anak dari wanita yang telah melukai hatimu dan putrimu. Apakah aku boleh melanjutkan hidupku dengannya?’ Ponselnya bergetar. Nama Paul muncul di layar, dan entah kenapa, perasaan Nial langsung memburuk. "Tuan, maaf mengganggu perjalanan Anda." Suara Paul terdengar lebih rendah dari biasanya. "Nyonya Freya meninggalkan rumah semalam. Seharian ini saya mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ada hasil. Kamarnya kosong, dan di atas meja hanya ada ini." "Apa yang ada di meja, Paul?" "Sebuah amplop, dan cincin pernikahan Anda." Mobil itu tiba-tiba terasa sempit."Ni-al?!" Tampah berisi ikan asin itu jatuh ke tanah, dan wanita yang menjatuhkannya berdiri membeku dengan kedua tangan masih terangkat di udara. Nial berhenti di tengah jalan setapak yang licin oleh sisa hujan, aroma amis yang menyengat itu menusuk hidungnya, dan untuk beberapa detik dia hanya bisa menatap wajah yang sudah dua tahun dia cari ke seluruh negeri. Semalaman dia terombang-ambing di atas kapal kecil menuju pulau terpencil di kota lain, hanya ditemani seorang pengawal dan Robert, informan yang ditugaskan mencari keberadaan Elia. Jalan setapak dari batu biasa dengan celah di sana-sini itu juga baru pertama kali dia injak. Seorang putra konglomerat generasi keempat yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan, dan kehidupan orang-orang di tempat ini sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Elia berlari lebih dulu, menabrak dadanya dengan kedua lengan yang memeluk erat. "Ni-al, apa ini sungguh dirimu? Aku masih tidak percaya." Tubuh Nial terasa tegang. Teman
Setelah memastikan semua barangnya masuk, Freya menutup resleting koper kecilnya pelan-pelan, takut bunyinya terdengar sampai ke lorong. Ia menghela napas pelan kemudian memperhatikan kamar yang telah menemaninya selama 2 tahun, dan menjadi saksi atas seluruh air mata dan lukanya selama tinggal di rumah itu. Ia bahkan tahu lebih banyak tentang tata letak apa saja yang ada di dalam kamar itu, dibandingkan Nial yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Freya sedikit penasaran, setelah dia pergi, apa yang akan terjadi pada kamar ini? Apakah Elia akan menempatinya, tidur di ranjang yang sama, memakai meja rias yang sama, seolah dua tahun ini tidak pernah ada? Atau mungkin Nial akan menyuruh pelayan mengosongkannya, menjadikannya kamar tamu atau gudang penyimpanan? Mungkin tidak akan ada seorang pun yang mengingat bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini. Freya tersenyum getir. Seharusnya dia tidak begitu terikat dengan apa pun yang ada di rumah ini, dengan begitu
Usai menyembuhkan tangannya, Freya lanjut mengerjakan agenda berikutnya; bersiap-siap untuk pergi. Dia membuka laci meja rias, mengeluarkan buku tabungan yang selama dua tahun ini dia isi sedikit demi sedikit dari uang bulanan rumah tangga yang tidak pernah dia belanjakan, lalu sebuah map berisi akta kelahiran dan surat tanda pengenalnya. Tidak ada satu pun dari semua itu yang berasal dari keluarga Andrew. Dia menghitung angkanya dua kali, takut ada yang hilang, padahal dia sudah tahu persis jumlahnya. Setelah itu dia membuka lemari. Di dasarnya, tepatnya di bawah tumpukan selimut yang jarang disentuh, terlipat sebuah mantel wol cokelat yang warnanya sudah memudar dan ukurannya jauh terlalu kecil untuk tubuhnya sekarang. Freya menariknya keluar, dan seketika pikirannya kembali ke umur delapan tahun. Lima belas tahun lalu, di tengah musim dingin, Elia yang saat itu berusia tiga belas tahun menguncinya di taman belakang. Dengan gaun tipisnya, Freya berdiri di sana sampai jari-
"Kau akan menggantikan Elia. Tiga hari lagi, di gereja yang sama, dengan pria yang sama." Dua tahun yang lalu, Freya berdiri di tengah ruang kerja ayahnya dengan kedua tangan terlipat di depan rok, tempat yang sama di mana setiap bagian hidupnya selalu dimulai dan diakhiri dengan sebuah perintah. Garrett Moore tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pria itu hanya menatap laut gelap di balik jendela, tempat mobil Elia ditemukan hancur di dasar tebing semalam, tanpa seorang pun di dalamnya. "Ayah, Kak Elia bahkan belum ditemukan." Freya bertanya lirih sembari mencengkeram roknya. "Bagaimana mungkin Ayah sudah membicarakan pernikahan?" "Undangan sudah sampai ke tiga ratus tamu, termasuk menteri perdagangan, dua duta besar, dan hampir semua pengusaha besar di negeri ini. Yang paling penting, klien dari luar negeri yang diundang keluarga Andrew untuk kontrak impor mereka sudah mendarat kemarin." Garrett akhirnya berbalik, dan tatapannya terasa seperti seseorang yang sedang menimbang
"Kak Nial, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Hanya hari ini harapan terakhir Freya. Dia sudah menghabiskan seluruh keberaniannya untuk berdiri di depan pintu kayu besar itu, pintu yang selalu terasa lebih tebal dari tembok mana pun di rumah ini, dan mengetuknya tiga kali dengan jemari yang masih dingin. Jika yang berdiri di sini adalah Elia, apakah dia juga harus menunggu selama itu? "Silakan masuk, Nyonya." Paul, asisten pribadi Nial, membukakan pintu dengan sikap sopan yang terlalu formal, seolah dia sedang menyambut tamu, bukan istri majikannya. "Terima kasih, Paul." Langkah Freya terasa berat ketika menyeberangi karpet tebal itu. Nial duduk di balik meja kerjanya dengan punggung tegak dan tatapan terkunci pada layar monitor. Dua tahun, dan Freya masih belum tahu rasanya ditatap sekali saja tanpa harus meminta. "Kak Nial." "Padahal kau bisa menyampaikannya lewat Paul, seperti biasa." Nial menjawab tanpa mengangkat kepala. "Apakah kau tidak bisa meluangkan waktu s







