Share

Lupakan

Author: Ai Iluzen
last update publish date: 2026-10-12 18:08:41

Setelah memastikan semua barangnya masuk, Freya menutup resleting koper kecilnya pelan-pelan, takut bunyinya terdengar sampai ke lorong.

Ia menghela napas pelan kemudian memperhatikan kamar yang telah menemaninya selama 2 tahun, dan menjadi saksi atas seluruh air mata dan lukanya selama tinggal di rumah itu. Ia bahkan tahu lebih banyak tentang tata letak apa saja yang ada di dalam kamar itu, dibandingkan Nial yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja.

Freya sedikit penasaran, setelah dia pergi, apa yang akan terjadi pada kamar ini? Apakah Elia akan menempatinya, tidur di ranjang yang sama, memakai meja rias yang sama, seolah dua tahun ini tidak pernah ada?

Atau mungkin Nial akan menyuruh pelayan mengosongkannya, menjadikannya kamar tamu atau gudang penyimpanan? Mungkin tidak akan ada seorang pun yang mengingat bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini.

Freya tersenyum getir. Seharusnya dia tidak begitu terikat dengan apa pun yang ada di rumah ini, dengan begitu dia bisa pergi tanpa perlu mengingat apa pun.

Menghela napas pelan, Freya kemudian meraih pena di atas meja rias, dan kertas surat cerai di depannya yang masih bersih dari tanda tangan. Surat cerai itu sudah dia siapkan beberapa bulan lalu, tepat setelah acara keluarga besar Andrew.

Malam itu, ketika melewati ruang baca, Freya tanpa sengaja mendengar Margaret berbicara dengan Nial. Penyelidikan tentang keberadaan Elia mungkin menemukan titik terang, dan Margaret berkata dengan nada tegas jika Elia benar-benar kembali, Nial harus segera menceraikan Freya. Nial tidak membantah. Dia hanya diam, seperti biasa.

Entah keberanian dari mana, keesokan harinya Freya diam-diam menemui seorang pengacara di luar kota untuk menyusun surat cerai, dengan pembagian harta yang hampir seluruhnya dia tolak, supaya ketika hari itu tiba dia tidak perlu meminta apa pun dari keluarga Andrew. Dia menyimpan surat itu di bawah buku tabungan, berharap tidak akan pernah menggunakannya, tapi semua itu hanya angan-angan.

Dia menandatanganinya dengan tangan yang masih diperban, sementara kolom tanda tangan Nial masih kosong, Ia lalu mengambil kertas kosong untuk menulis pesan perpisahannya.

Apa yang harus dia tulis? Terima kasih? Maaf? Atau tentang perasaan yang selama ini dia pendam selama bertahun-tahun?

Freya berkali-kali berpikir, berusaha merangkai tulisan yang tidak membuat Nial menganggapnya sebagai sebuah pembelaan. Tapi, semuanya tidak keluar dengan baik.

Sekali, lalu merobeknya. Dua kali, lalu merobeknya lagi. Hingga entah kertas yang ke berapa, Freya akhirnya berhasil menuliskannya.

Pesan itu hanya berisikan tiga baris. Sebuah permintaan maaf karena sudah menempati tempat yang bukan miliknya, ucapan selamat atas kembalinya Elia, dan satu kalimat pendek di bagian akhir. ‘Terima kasih karena sudah menjagaku selama dua tahun ini.’

Haruskah dia memberitahu Nial soal kehamilannya? Bagaimanapun dia Ayah biologis dari anak ini. Tapi trauma yang dia rasakan tentang bagaimana Ibunya mencoba memeras Ayahnya dengan keberadaannya masih membekas. Bagaimana jika Nial berpikir demikian?

Lagi pula, malam itu Nial juga menyuruhnya untuk melupakan apa yang terjadi, artinya dia tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang penting. Bahkan, dia mungkin sudah melupakannya.

“Selain itu, kalau dia tahu tentang anak ini, dia mungkin akan menemuiku, tapi bukan karena menginginkanku, tapi karena sebuah tanggung jawab. Lalu bagaimana jika kelak dia mengambil anak ini? Bagaimana denganku? Aku mungkin akan sendirian selamanya…” gumam Freya pelan.

Freya tahu persis seperti apa pria itu. Dan dia tidak mau menjadi tanggung jawab seseorang yang bahkan tidak menginginkannya.

Selain itu, dia juga tidak mau kalau anak ini menjadi bayang-bayang anak Elia jika Nial mengambilnya nanti.

Freya akhirnya menaruh pena kembali di atas meja rias tanpa memasukkan berita tentang kehamilannya. Dia menatap kalimat itu lama, lalu melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya di atas kertas, tepat di tengah.

Cincin itu sedikit longgar di jarinya sejak awal, karena dibuat untuk jari orang lain.

Pertanyaannya sekarang, ke mana dia akan pergi? Freya tidak punya keluarga yang bisa dia datangi, tidak punya rumah yang menunggunya, dan tidak punya seorangpun yang akan bertanya kenapa dia muncul tengah malam dengan koper kecil dan perban di tangan. Dia nyaris tertawa getir. Di dunia seluas ini, tidak ada satu pintu pun yang bisa dia ketuk.

Sampai dia teringat satu nama. Hanna. Teman satu-satunya yang ia miliki dalam hidupnya.

Freya tidak pernah bersekolah seperti anak-anak lain. Semua gurunya datang ke rumah, supaya dia tidak bertemu banyak orang dan tidak ada yang bertanya dia anak siapa. Karena itu dia tidak punya teman sekelas, tidak punya teman sebangku, dan satu-satunya tempat yang berani dia datangi diam-diam saat penjaga rumah lengah hanyalah sebuah panti asuhan di area kompleks.

Di sanalah dia bertemu Hanna, salah satu anak dari pemilik yayasan panti. Sayangnya, Hanna pergi ke luar negeri tiga tahun yang lalu untuk melanjutkan kuliahnya.

Hanna adalah satu-satunya orang yang tahu tentang tentang latar belakangnya tapi tidak menghakiminya. Bahkan setelah pergi ke luar negeri, dia tetap mengirim pesan setiap hari ulang tahun Freya, itu adalah satu-satunya ucapan yang pernah dia terima.

Pesan terakhir Hanna masih tersimpan di ponselnya. ‘Kalau suatu hari kamu butuh tempat pulang, datanglah ke sini.’ Dulu Freya menganggapnya hanya basa-basi. Malam ini, untuk pertama kalinya, dia berniat menerima tawaran itu.

Freya menenteng koper kecilnya menuruni tangga belakang yang biasa dipakai para pelayan. Di ujung lorong, lampu kamar Paul masih menyala, dan langkahnya sempat terhenti di sana.

Dia ingin berpamitan, ingin berterima kasih atas dua tahun kesopanan yang tidak pernah dia minta. Tapi kalau dia mengetuk, Paul pasti akan menahannya, dan dia tahu dia tidak cukup kuat untuk melawannya.

Dia mengusap perutnya yang masih rata. "Kita pergi sekarang, ya Nak."

Pintu dapur terbuka tanpa bunyi, dan gerimis menyambutnya di luar. Tidak ada seorang pun di rumah itu yang mendengar langkah kakinya menghilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Pelukan yang Terasa Asing

    "Ni-al?!" Tampah berisi ikan asin itu jatuh ke tanah, dan wanita yang menjatuhkannya berdiri membeku dengan kedua tangan masih terangkat di udara. Nial berhenti di tengah jalan setapak yang licin oleh sisa hujan, aroma amis yang menyengat itu menusuk hidungnya, dan untuk beberapa detik dia hanya bisa menatap wajah yang sudah dua tahun dia cari ke seluruh negeri. Semalaman dia terombang-ambing di atas kapal kecil menuju pulau terpencil di kota lain, hanya ditemani seorang pengawal dan Robert, informan yang ditugaskan mencari keberadaan Elia. Jalan setapak dari batu biasa dengan celah di sana-sini itu juga baru pertama kali dia injak. Seorang putra konglomerat generasi keempat yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan, dan kehidupan orang-orang di tempat ini sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Elia berlari lebih dulu, menabrak dadanya dengan kedua lengan yang memeluk erat. "Ni-al, apa ini sungguh dirimu? Aku masih tidak percaya." Tubuh Nial terasa tegang. Teman

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Lupakan

    Setelah memastikan semua barangnya masuk, Freya menutup resleting koper kecilnya pelan-pelan, takut bunyinya terdengar sampai ke lorong. Ia menghela napas pelan kemudian memperhatikan kamar yang telah menemaninya selama 2 tahun, dan menjadi saksi atas seluruh air mata dan lukanya selama tinggal di rumah itu. Ia bahkan tahu lebih banyak tentang tata letak apa saja yang ada di dalam kamar itu, dibandingkan Nial yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Freya sedikit penasaran, setelah dia pergi, apa yang akan terjadi pada kamar ini? Apakah Elia akan menempatinya, tidur di ranjang yang sama, memakai meja rias yang sama, seolah dua tahun ini tidak pernah ada? Atau mungkin Nial akan menyuruh pelayan mengosongkannya, menjadikannya kamar tamu atau gudang penyimpanan? Mungkin tidak akan ada seorang pun yang mengingat bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini. Freya tersenyum getir. Seharusnya dia tidak begitu terikat dengan apa pun yang ada di rumah ini, dengan begitu

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Sisa Kenangan

    Usai menyembuhkan tangannya, Freya lanjut mengerjakan agenda berikutnya; bersiap-siap untuk pergi. Dia membuka laci meja rias, mengeluarkan buku tabungan yang selama dua tahun ini dia isi sedikit demi sedikit dari uang bulanan rumah tangga yang tidak pernah dia belanjakan, lalu sebuah map berisi akta kelahiran dan surat tanda pengenalnya. Tidak ada satu pun dari semua itu yang berasal dari keluarga Andrew. Dia menghitung angkanya dua kali, takut ada yang hilang, padahal dia sudah tahu persis jumlahnya. Setelah itu dia membuka lemari. Di dasarnya, tepatnya di bawah tumpukan selimut yang jarang disentuh, terlipat sebuah mantel wol cokelat yang warnanya sudah memudar dan ukurannya jauh terlalu kecil untuk tubuhnya sekarang. Freya menariknya keluar, dan seketika pikirannya kembali ke umur delapan tahun. Lima belas tahun lalu, di tengah musim dingin, Elia yang saat itu berusia tiga belas tahun menguncinya di taman belakang. Dengan gaun tipisnya, Freya berdiri di sana sampai jari-

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Gaun Milik Orang Lain

    "Kau akan menggantikan Elia. Tiga hari lagi, di gereja yang sama, dengan pria yang sama." Dua tahun yang lalu, Freya berdiri di tengah ruang kerja ayahnya dengan kedua tangan terlipat di depan rok, tempat yang sama di mana setiap bagian hidupnya selalu dimulai dan diakhiri dengan sebuah perintah. Garrett Moore tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pria itu hanya menatap laut gelap di balik jendela, tempat mobil Elia ditemukan hancur di dasar tebing semalam, tanpa seorang pun di dalamnya. "Ayah, Kak Elia bahkan belum ditemukan." Freya bertanya lirih sembari mencengkeram roknya. "Bagaimana mungkin Ayah sudah membicarakan pernikahan?" "Undangan sudah sampai ke tiga ratus tamu, termasuk menteri perdagangan, dua duta besar, dan hampir semua pengusaha besar di negeri ini. Yang paling penting, klien dari luar negeri yang diundang keluarga Andrew untuk kontrak impor mereka sudah mendarat kemarin." Garrett akhirnya berbalik, dan tatapannya terasa seperti seseorang yang sedang menimbang

  • Cinta Lama Kembali, Aku Pergi   Dia Telah Ditemukan

    "Kak Nial, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Hanya hari ini harapan terakhir Freya. Dia sudah menghabiskan seluruh keberaniannya untuk berdiri di depan pintu kayu besar itu, pintu yang selalu terasa lebih tebal dari tembok mana pun di rumah ini, dan mengetuknya tiga kali dengan jemari yang masih dingin. Jika yang berdiri di sini adalah Elia, apakah dia juga harus menunggu selama itu? "Silakan masuk, Nyonya." Paul, asisten pribadi Nial, membukakan pintu dengan sikap sopan yang terlalu formal, seolah dia sedang menyambut tamu, bukan istri majikannya. "Terima kasih, Paul." Langkah Freya terasa berat ketika menyeberangi karpet tebal itu. Nial duduk di balik meja kerjanya dengan punggung tegak dan tatapan terkunci pada layar monitor. Dua tahun, dan Freya masih belum tahu rasanya ditatap sekali saja tanpa harus meminta. "Kak Nial." "Padahal kau bisa menyampaikannya lewat Paul, seperti biasa." Nial menjawab tanpa mengangkat kepala. "Apakah kau tidak bisa meluangkan waktu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status