LOGINDua hari setelah Freya pergi, Nial masih duduk di ruang kerjanya sejak semalam, dengan ponsel menempel di telinga dan tiga layar yang menampilkan rekaman kamera jalan. Dia belum tidur satu menit pun. "Periksa semua taksi yang beroperasi sekitar pukul satu dini hari di area rumah, Robert. Aku tidak peduli berapa biayanya, aku mau jawaban sebelum siang." "Baik, Tuan. Tapi bukankah Nona Elia sudah ditemukan? Apakah masih perlu mencari Nyonya..." "Lakukan saja." Nial memutus panggilan, dan baru saat itu dia sadar pintu ruang kerjanya sudah terbuka sejak tadi. Elia berdiri di sana dengan gaun tidur putih milik ibunya yang terlalu longgar di tubuhnya, rambutnya masih berantakan, dan matanya merah sembap. "Elia, kenapa kau bangun? Dokter bilang kau harus istirahat." "Bagaimana aku bisa istirahat?" Elia melangkah masuk dengan suara bergetar. "Aku terbangun di rumah yang sudah dua tahun tidak kulihat, dan orang pertama yang kucari tidak ada di kamarku. Ternyata dia di sini, menelepon ses
Nial turun dari mobil sebelum sopirnya sempat membukakan pintu. Dia menitipkan Elia yang masih tertidur pada pelayan yang berlarian keluar, lalu menaiki tangga rumah itu dengan rahang mengeras. Paul menunggunya di depan kamar Freya dengan wajah pucat, dan di tangannya ada sebuah amplop putih yang sudah sedikit kusut. "Tuan, saya minta maaf. Semalam Nyonya bilang dia mau tidur, jadi saya pikir dia baik-baik saja. Saya baru sadar tadi pagi, ketika membawakan sarapan dan kamarnya sudah kosong." "Aku memintamu tetap di rumah untuk menjaganya, Paul. Itu satu-satunya tugasmu semalam." "Saya tahu, Tuan. Saya tidak punya pembelaan apa pun." Nial merebut amplop itu, membuka pintu kamar, dan berdiri sejenak di ambang pintu. Kamar itu rapi, terlalu rapi. Seprai ditarik kencang, selimut terlipat di ujung ranjang, dan di meja rias hanya ada selembar kertas dengan cincin di atasnya. ‘Dia pergi begitu saja? Tanpa bilang apa pun padaku?’ Nial mendengus pelan. Sejak kapan wanita yang s
"Ni-al?!" Tampah berisi ikan asin itu jatuh ke tanah, dan wanita yang menjatuhkannya berdiri membeku dengan kedua tangan masih terangkat di udara. Nial berhenti di tengah jalan setapak yang licin oleh sisa hujan, aroma amis yang menyengat itu menusuk hidungnya, dan untuk beberapa detik dia hanya bisa menatap wajah yang sudah dua tahun dia cari ke seluruh negeri. Semalaman dia terombang-ambing di atas kapal kecil menuju pulau terpencil di kota lain, hanya ditemani seorang pengawal dan Robert, informan yang ditugaskan mencari keberadaan Elia. Jalan setapak dari batu biasa dengan celah di sana-sini itu juga baru pertama kali dia injak. Seorang putra konglomerat generasi keempat yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan, dan kehidupan orang-orang di tempat ini sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Elia berlari lebih dulu, menabrak dadanya dengan kedua lengan yang memeluk erat. "Ni-al, apa ini sungguh dirimu? Aku masih tidak percaya." Tubuh Nial terasa tegang. Teman
Setelah memastikan semua barangnya masuk, Freya menutup resleting koper kecilnya pelan-pelan, takut bunyinya terdengar sampai ke lorong. Ia menghela napas pelan kemudian memperhatikan kamar yang telah menemaninya selama 2 tahun, dan menjadi saksi atas seluruh air mata dan lukanya selama tinggal di rumah itu. Ia bahkan tahu lebih banyak tentang tata letak apa saja yang ada di dalam kamar itu, dibandingkan Nial yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Freya sedikit penasaran, setelah dia pergi, apa yang akan terjadi pada kamar ini? Apakah Elia akan menempatinya, tidur di ranjang yang sama, memakai meja rias yang sama, seolah dua tahun ini tidak pernah ada? Atau mungkin Nial akan menyuruh pelayan mengosongkannya, menjadikannya kamar tamu atau gudang penyimpanan? Mungkin tidak akan ada seorang pun yang mengingat bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini. Freya tersenyum getir. Seharusnya dia tidak begitu terikat dengan apa pun yang ada di rumah ini, dengan begitu
Usai menyembuhkan tangannya, Freya lanjut mengerjakan agenda berikutnya; bersiap-siap untuk pergi. Dia membuka laci meja rias, mengeluarkan buku tabungan yang selama dua tahun ini dia isi sedikit demi sedikit dari uang bulanan rumah tangga yang tidak pernah dia belanjakan, lalu sebuah map berisi akta kelahiran dan surat tanda pengenalnya. Tidak ada satu pun dari semua itu yang berasal dari keluarga Andrew. Dia menghitung angkanya dua kali, takut ada yang hilang, padahal dia sudah tahu persis jumlahnya. Setelah itu dia membuka lemari. Di dasarnya, tepatnya di bawah tumpukan selimut yang jarang disentuh, terlipat sebuah mantel wol cokelat yang warnanya sudah memudar dan ukurannya jauh terlalu kecil untuk tubuhnya sekarang. Freya menariknya keluar, dan seketika pikirannya kembali ke umur delapan tahun. Lima belas tahun lalu, di tengah musim dingin, Elia yang saat itu berusia tiga belas tahun menguncinya di taman belakang. Dengan gaun tipisnya, Freya berdiri di sana sampai jari-
"Kau akan menggantikan Elia. Tiga hari lagi, di gereja yang sama, dengan pria yang sama." Dua tahun yang lalu, Freya berdiri di tengah ruang kerja ayahnya dengan kedua tangan terlipat di depan rok, tempat yang sama di mana setiap bagian hidupnya selalu dimulai dan diakhiri dengan sebuah perintah. Garrett Moore tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pria itu hanya menatap laut gelap di balik jendela, tempat mobil Elia ditemukan hancur di dasar tebing semalam, tanpa seorang pun di dalamnya. "Ayah, Kak Elia bahkan belum ditemukan." Freya bertanya lirih sembari mencengkeram roknya. "Bagaimana mungkin Ayah sudah membicarakan pernikahan?" "Undangan sudah sampai ke tiga ratus tamu, termasuk menteri perdagangan, dua duta besar, dan hampir semua pengusaha besar di negeri ini. Yang paling penting, klien dari luar negeri yang diundang keluarga Andrew untuk kontrak impor mereka sudah mendarat kemarin." Garrett akhirnya berbalik, dan tatapannya terasa seperti seseorang yang sedang menimbang







