Mag-log inKalimat Florence bahkan belum selesai ketika Harris tiba-tiba menahannya. Mengabaikan perlawanan Florence, dia membungkuk dan mencium bibir Florence. Dia memaksa membuka gigi Florence, lalu menyuapkan bubur yang ada di mulutnya ke dalam mulut Florence.Begitu menyadari apa yang sedang dia lakukan, Florence langsung mendorongnya menjauh.Mual.Perutnya langsung bergejolak hebat. Dia membungkuk dan batuk keras, berusaha memuntahkannya. Namun perutnya hampir kosong, bahkan untuk muntah pun tidak ada yang bisa dimuntahkan."Kalau kamu masih nggak mau makan, aku akan mengikatmu di tempat tidur dan menyuapimu dengan cara seperti ini sampai semuanya habis!" bentak Harris dengan kesal.Florence memang sangat membenci sentuhannya.Kalau dulu, demi menghindari sentuhan Harris, Florence tetap akan berusaha menuruti perkataannya meski merasa marah. Namun kali ini, dia tidak marah. Karena tidak bisa memuntahkan apa pun, Florence hanya mengusap bibirnya.Melihat ekspresi Harris yang begitu kehilanga
Scarlett melirik layar ponselnya sekilas, lalu langsung menolak panggilan itu. Namun, Pamela tidak menyerah dan kembali menelepon. Melihat itu, Scarlett akhirnya mengangkat telepon."Kakakku ada di tempatmu?" Begitu panggilan tersambung, suara Pamela yang terdengar agak cemas langsung terdengar dari seberang.Scarlett menjawab singkat, "Nggak.""Aneh." Pamela berkata dengan bingung, "Kalau begitu, ke mana dia pergi? Sejak keluar kemarin, dia sama sekali nggak bisa dihubungi. Dia juga nggak pulang ke rumah, bahkan hari ini nggak masuk kantor."'Mungkin dia menerima pukulan yang cukup besar dan ingin menenangkan diri sendiri.' Scarlett diam-diam berpikir demikian."Kalau nggak ada hal lain, aku tutup dulu.""Jangan tutup dulu." Pamela tiba-tiba berkata, "Kak Scarlett."Scarlett langsung mengoreksinya. "Aku dan Devan sudah lama bercerai. Aku bukan kakak iparmu lagi."Pamela melanjutkan, "Dokumen perjanjian pengalihan saham yang kamu tanda tangani untuk Keluarga Laksmana, ternyata kakakku
"Kamu ini kakak Florence. Aku berharap kamu bisa lebih banyak membujuknya."Mavin menatap matanya. "Jadi semua yang kamu lakukan hari ini adalah supaya aku bisa datang ke rumah Keluarga Lutharsa secara wajar dan nggak buat Scarlett curiga?"Nadya mengangguk. "Kamu juga sudah lihat sendiri. Demi Scarlett, adikku hampir kehilangan nyawanya. Aku nggak ingin Florence celaka, juga nggak ingin Scarlett celaka."Di kamar tamu, Edric membaringkan Scarlett di atas ranjang dan menciumnya dengan lembut. Ciuman yang datang bertubi-tubi membuatnya linglung.Saat Scarlett mengira Edric akan melangkah lebih jauh, pria itu justru melepaskannya. Begitu membuka mata, Scarlett kebetulan melihat ekspresi kesakitan yang sekilas melintas di wajah Edric."Ada apa? Lukamu tertarik?" Dia buru-buru bangkit dan duduk.Namun, karena bangun terlalu cepat, pandangannya menggelap dan dia hampir terjatuh. Edric yang sedang berlutut di samping kakinya bereaksi sangat cepat. Dia langsung merangkul pinggang Scarlett dan
Di dalam kamar mandi.Nadya bersandar di kusen pintu, sebatang rokok terselip di antara jemarinya. Melalui cermin besar di hadapannya, dia melihat Mavin yang sedang berjalan ke arah sana."Bu Nadya, aku kurang mengerti, apa maksudmu melakukan ini?" tanya Mavin.Nadya tersenyum, lalu menjentikkan abu rokok di ujung jarinya. "Aku sudah melakukannya sejelas itu. Bahkan Scarlett saja sudah bisa melihatnya. Masa kamu nggak bisa?"Mavin sedikit mengernyit. Bukannya dia tidak bisa melihatnya, hanya saja menurutnya dia dan Nadya tidak punya banyak hubungan. Dia tidak memiliki perasaan terhadap Nadya. Selain itu, menurutnya perasaan Nadya terhadapnya muncul terlalu tiba-tiba. Di matanya, sikap Nadya itu lebih mirip permainan.Setelah berpikir sejenak, Mavin berkata dengan sopan, "Maaf, Bu Nadya. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik."Nadya mengangkat alis. Dia berdiri tegak dan mematikan puntung rokoknya, lalu melangkah perlahan mendekati Mavin. "Gimana kalau menurutku kamu sudah y
"Mm, memang cukup enak." Nadya meletakkan peralatan makannya. "Ini tipe rasa yang aku suka."Melihat itu, Lydia refleks berdiri dan berkata, "Kalau begitu, aku tambahkan lagi ....""Terima kasih, nggak perlu." Nadya menoleh ke arah Mavin dan tersenyum tipis. "Kalau terlalu banyak malah jadi bosan. Secukupnya justru pas."Dia mengelap tangannya, lalu berdiri. "Kalian lanjut saja makan, aku ke kamar mandi sebentar."Setelah berkata demikian, Nadya berbalik dan pergi.Sejak tadi Scarlett memang terus memperhatikan mereka berdua, jadi tentu saja dia melihat seluruh proses Nadya menggoda Mavin.Setelah Nadya pergi, jelas terlihat bahwa Mavin sedang memikirkan sesuatu dan ingin menyusulnya. Namun, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya ragu.Scarlett memperkirakan karena ada banyak orang di sini, jadi Mavin merasa kurang enak.Mungkin karena menyadari tatapannya, Mavin menoleh ke arahnya. Scarlett bereaksi cepat. Dia langsung menunduk dan melanjutkan makan, berpura-pura tidak melihat apa pun
Scarlett menyimpan foto-foto itu, lalu memilih satu yang paling dia sukai untuk dijadikan wallpaper ponselnya.Tak lama kemudian, Mavin dan Nadya juga datang.Scarlett menata bahan-bahan yang sudah dicuci bersih dan panci hotpot empat sekat di atas meja. Keenam orang itu kemudian mencari tempat duduk masing-masing.Meja itu berbentuk bundar besar, pas untuk enam orang. Nadya tidak memedulikan yang lain dan langsung duduk di tempat yang dipilihnya.Meskipun Nadya dan Edric adalah kakak beradik, aura mereka sama sekali berbeda. Edric memberi kesan mudah didekati, sedangkan Nadya memancarkan tekanan yang membuat orang asing enggan mendekat.Dalam beberapa hal, dia agak mirip dengan Tiffany.Lydia tidak terlalu berani mendekatinya, jadi dia sengaja duduk dengan satu kursi kosong di antara mereka.Tiffany melirik sekilas, berpikir sejenak. Bukannya duduk di sisi lain, dia justru duduk di antara Lydia dan Nadya.Nadya menoleh dan meliriknya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dengan begitu, ti







