LOGINDelapan tahun menikah, Senja hidup terhina dan tak ubahnya seperti pembantu di rumah sendiri—hingga putrinya meninggal karena suaminya menolak membawanya ke rumah sakit. Putus asa, Senja mengakhiri hidupnya… namun ia justru terbangun kembali sepuluh tahun di masa lalu! Kali ini, Senja tidak akan menikahi pria yang sama. Ia akan mengubah takdirnya, menyelamatkan keluarganya, dan membuat mereka yang pernah menghancurkannya membayar semuanya!
View MoreSejak sore, Laras sudah sibuk mondar-mandir di dapur rumah keluarga Bramantyo. Dengan cekatan ia mengatur menu makan malam, seolah dirinya benar-benar nyonya rumah di tempat itu. “Bik, potong dagingnya,” perintahnya pada salah satu ART tanpa ragu. Beberapa menu makan malam ia siapkan sendiri. Aroma masakan memenuhi seluruh dapur mewah itu. Hampir dua jam Laras berkutat di sana, mengaduk masakan, mencicipi bumbu, hingga mengatur penyajian makanan dengan penuh perhatian. Dari ujung tangga, Sarah memperhatikan semua itu dengan tatapan tajam. Ponsel di tangannya masih tersambung dengan Bumi. Sejak tadi ia melaporkan semua gerak-gerik Laras pada kakaknya. “Awasi saja. Jangan lakukan apa pun,” suara Bumi terdengar dari speaker ponsel. “Aku mau lihat sampai sejauh mana dia akan bermain.” “Iya, aku ngerti,” jawab Sarah pelan sebelum akhirnya memutus sambungan telepon. Setelah itu ia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Melihat Sarah datang, Laras yang sedang sibuk menata meja
Siang itu, Bumi datang ke rumah orang tuanya dengan satu tujuan, menemui Laras. Putra kedua Adityawarman itu memang sudah lama tidak tinggal di kediaman keluarga Bramantyo. Sejak dua tahun lalu, tepat setelah resmi menjadi dokter di rumah sakit milik keluarganya. Bumi memilih menetap di apartemen pribadinya. Baginya, hidup mandiri jauh lebih tenang dibanding harus terus berada di tengah tekanan keluarga besar Bramantyo yang penuh aturan. “Kapan kita bisa melakukan tes DNA?” tanya Bumi, menatap Laras yang duduk di sebelahnya. Laras menundukkan wajah. Suaranya pelan, lembut, dan terdengar rapuh. “Aku bukannya menolak. Tapi tunggu Lili benar-benar sembuh dulu,” ujarnya lirih sambil memainkan jemarinya sendiri. Tatapannya sendu, wajahnya memelas seolah meminta pengertian. Bumi menghela napas panjang. Pandangannya menatap lekat wanita itu. Mereka duduk berdampingan di kursi teras depan rumah. Suasananya sepi. Sarah menemani Lili, sementara Kinasih entah dimana? Sejak Bumi tiba, maman
Setelah hampir satu jam berputar-putar di bandara, Langit akhirnya menyerah. Rahangnya mengeras menahan frustrasi. Sorot matanya gelap, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Senja dan Oma Hanna benar-benar sudah pergi. Tapi entah kemana? Dengan langkah cepat ia kembali ke mobilnya. Sampai di rumah, Langit langsung mencari sopir yang tadi mengantar neneknya. “Saya hanya mengantar sampai depan lobi bandara, Tuan. Setelah itu saya langsung kembali,” jawab sang sopir dengan wajah tegang. “Apa Oma tidak bilang mau ke mana?” tanya Langit tajam. “Tidak, Tuan.” Langit mengangguk pelan. Namun jelas terlihat ia belum puas. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi pengurus rumah Oma di kampung. “Halo, apa Oma menelepon Bibi?” tanyanya begitu sambungan tersambung. “Ndak, Tuan.” “Apa Arya ada memberi kabar kalau Oma akan pulang?” tanyanya lagi. “Tidak ada, Tuan.” Suara di seberang sana terdengar bingung. “Maaf, apa Nyonya Hanna
“Kenapa diam?” Oma Hanna menatap Langit dengan sorot mata tajam yang penuh tekanan. Wajah wanita tua itu memerah menahan emosi, sementara dadanya naik turun tidak beraturan. “Mama duduk dulu, ya... Kita bicarakan baik-baik,” bujuk Aditya dengan suara hati-hati. Bersama Senja, ia menuntun Oma Hanna menuju kursi di meja makan. Namun bahkan setelah duduk, kemarahan Oma Hanna belum juga mereda. “Langit cepat jawab!!” ucapnya lagi dengan nada tinggi. Tetapi Langit tetap diam. Tatapannya justru tertuju pada Senja. Dalam, tajam, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak mampu ia ucapkan dengan kata-kata. Senja sendiri tak mengerti arti tatapan itu. Mungkinkah, Langit memilih Laras dan putrinya? “Jangan diam saja! Cepat pilih, kamu mau Senja yang angkat kaki dari rumah ini atau wanita itu dan anaknya!” Suasana langsung terasa makin mencekam. “Biar saya yang pergi, Oma,” ujar Senja pelan, memilih mundur. Ia tidak sepercaya diri itu untuk berpikir Langit akan memilih dirinya. Senja han
Senja segera menarik tangan Bulan dan membawanya naik ke kamar di lantai atas.Ia tidak memberi kesempatan kakaknya untuk membalas ucapan Papa. Jika Bulan kembali berbicara sekarang, pertengkaran itu pasti akan berubah menjadi perang besar.Sementara di ruang tengah, Wulandari berusaha menenangkan
Pukul dua siang, kuliah telah selesai. Senja langsung pulang bersama sopir, perintah Papanya. Begitu memasuki rumah, suara perdebatan langsung terdengar dari ruang tengah. Ia berhenti di ambang pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah. Di sofa ruang tengah nampak Mamanya dan Bulan, sed
Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari
“Ma, aku izin pergi sebentar, ya?” ucap Senja meminta izin. Wulandari yang sedang sibuk mengadon kue langsung menghentikan gerakan tangannya. “Mau ke mana?” “Ke pesta ulang tahun teman. Sebentar saja, Ma. Cuma mau ucapin selamat ulang tahun. Setelah itu langsung pulang.” Wulandari mengangguk.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews