LOGINDelapan tahun menikah, Senja hidup terhina dan tak ubahnya seperti pembantu di rumah sendiri—hingga putrinya meninggal karena suaminya menolak membawanya ke rumah sakit. Putus asa, Senja mengakhiri hidupnya… namun ia justru terbangun kembali sepuluh tahun di masa lalu! Kali ini, Senja tidak akan menikahi pria yang sama. Ia akan mengubah takdirnya, menyelamatkan keluarganya, dan membuat mereka yang pernah menghancurkannya membayar semuanya!
View More"Mas, aku mohon bawa Anaya ke rumah sakit," pinta Senja menatap suaminya memelas. Matanya sudah dipenuhi cairan bening yang sudah hampir meluap.
Ardan mendengus kasar. "Kamu gak lihat, aku sudah rapi mau kondangan?" ujarnya dengan suara tegas. "Kalau begitu kasih aku uang, biar aku yang bawa Anaya ke rumah sakit." Senja kembali menurunkan nada suaranya. Berharap suaminya merasa iba. "Aku nggak ada uang. Semua gajiku baru tadi sore aku kasih Ibu. Kalau berani minta sama Ibu." Senja baru saja mendesah berat, sore tadi ia sudah meminta padan mertuanya, tapi jawabannya uang gaji Ardan untuk kebutuhan rumah. "Gak berani kan?" Ardan, mencebik lalu bangkit dari duduknya. Merapikan atasn batik yang ia kenakan. "Kalau kamu maksa mau bawa Anaya ke dokter, minta sana uang sama saudaramu yang penyakitan itu," ujarnya kemudian. Senja mengangkat wajahnya. Ekspresinya berubah dingin. Suaminya itu tak pernah menghormati kakak perempuannya. Selalu meremehkanmu dan mencemooh satu-satunya keluarga saudara yang ia miliki sekarang. "Mas, Anaya itu juga putrimu. Dia tanggung jawabmu!" Untuk pertama kalinya Senja menatap suaminya dengan tatapan tajam. Kekecewaan yang berulang perlahan mengikis kesabarannya hingga hampir lenyap. "Apa kamu tidak malu, jika aku meminta bantuan orang lain untuk membawa putrimu ke dokter? Sementara ayah kandungnya masih hidup," cibirnya dengan suara begetar. Plak! Tubuh ringkih itu tersungkur di lantai keramik yang dingin. Perih itu tidak terasa di pipinya namun di hatinya. "Berani kami menasehatiku?!" geram Ardan dengan mata melotot tajam. Senja tertegun beberapa saat, detik berikutnya ia mengangkat wajahnya. Menatap suaminya lebih dingin. Bukan sekali ini Ardan mengangkat tangannya. Bersikap kasar padanya, tapi baru kali ini tamparan itu menyadarkannya dari kebodohannya. "Aku menamparmu karena kamu tidak sopan, meninggikan suaramu!" ujar Ardan membela diri. Pria itu tak menyadari bersamaan dengan suara tamparan itu hati Senja telah patah dan mati. Hati itu kosong seperti tatapan matanya yang hampa. "Sudah, sudah. Kita harus segera berangkat!" Ibu mertua Senja keluar dari kamarnya. Melemparkan dua lembar uang seratus ribu ke depan Senja, lalu menarik tangan putranya. "Kamu jangan terlalu keras sama dia, kalau sampai dia kabur kita yang repot. Siapa yang akan mengurus rumah?" bisiknya yang masih bisa Senja dengar. Dua orang itu akhirnya melangkah pergi meninggalkan Senja seorang diri di ruang tengah rumah itu. Senja terkekeh miris. Menertawakan kebodohannya. Demi laki-laki patriark seperti Ardan, dirinya tega menolak permintaan orang tuanya sehingga membuat keluarga bangkrut dan berakhir dengan kematian mama dan papanya. Tawa itu terdengar sumbang. Dengan tangan gemetaran Senja meremas dua lembar uang di atas lantai. Jika bukan demi putrinya, dia tidak akan merendahkan dirinya serendah ini. "Bun...." Suara lirih itu terdengar, membuat Senja bergegas bangun dan menuju kamarnya. Di atas ranjang sederhana, seorang gadis kecil terbaring lemah. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan mata sendunya menatap sang ibu. “Iya, Sayang…” bisik Senja, meraih tubuh mungil yang kini terasa dingin. Berbeda dengan seminggu terakhir ketika tubuh itu membara oleh demam yang tak kunjung turun. “Kita ke rumah sakit sekarang, ya...” Dengan tangan gemetar, wanita berwajah lelah itu memakaikan jaket pada tubuh kurus putrinya. Ia menggendongnya erat, lalu melangkah tergesa keluar rumah. Seorang diri, Senja mengendarai motor matic pemberian almarhum ayahnya, menyusuri jalan yang mulai lengang. Angin malam menusuk kulit. Satu tangannya memegang setang motor, sementara tangan lainnya mendekap tubuh putrinya. Air mata tak lagi mampu ia bendung. “Anaya…” panggilnya lirih, melirik wajah putrinya yang semakin pucat. “Kamu dengar suara Bunda, sayang?” Rasa takut mencengkeram dadanya saat mata kecil itu perlahan terpejam. “Tolong bertahanlah… kita hampir sampai di rumah sakit.” Gas motor ditarik lebih dalam. Kendaraan itu melaju semakin cepat. Sepanjang perjalanan, doa tak henti ia lantunkan. Begitu tiba di UGD, Senja berlari sambil menggendong tubuh putrinya yang sudah lemas. “Dok! Tolong putri saya! Sus, tolong anak saya!" teriaknya panik. Air mata membanjiri wajah kusutnya. Paramedis yang berjaga segera mengambil alih tubuh mungil yang sudah lemas itu dari gendongannya. Beberapa perawat lain memanggil dokter. Tubuh kecil itu diperiksa cepat. Infus segera terpasang. Senja hanya bisa berdiri mematung, hatinya serasa diiris. Anaya Prameswari, putri semata wayangnya. Satu-satunya alasan ia masih bertahan setelah semua kepahitan hidupnya. “Pasien dehidrasi berat. Virus sudah menyerang usus dan lambung. Kenapa baru dibawa ke rumah sakit sekarang?” suara dokter terdengar tegas, nyaris marah. Senja tak mampu menjawab. Ia hanya menangis. Menyesali kebodohannya yang terlalu patuh pada suaminya. “Saya salah, Dok… tolong selamatkan anak saya…” pintanya di sela isak. Dokter menghela napas panjang. “Pasien sudah kritis. Tapi masih ada peluang. Saya beri resep. Obat ini harus segera ditebus dan langsung disuntikkan untuk membunuh virusnya.” Senja mengangguk. Bibirnya kelu, tak mampu berkata-kata. “Ini resepnya. Tebus di apotek 24 jam di pusat kota. Hanya di sana yang ada.” Ia menerima kertas itu dengan tangan gemetar. “Maaf, Dok… kalau boleh tahu, berapa harganya?” “Satu juta dua ratus ribu.” Suara itu pelan, tapi dunia seakan runtuh mendengarnya. Di sakunya hanya ada dua lebar uang pecahan seratys ribu, itu pun dengan susah payah didapatkan. Dengan imbalan sebuah tamparan di pipinya. Suami dan mertuanya sangat pelit kepadanya. Bahkan untuk membeli bedak pun ia tak pernah diberi uang. Katanya, perempuan yang sudah menikah tak perlu berdandan. Namun saat suaminya berselingkuh, tetap Senja yang disalahkan. Katanya sebagai istri, ia tak pandai merawat diri. “Segera, Bu. Waktunya tidak banyak!” Suara dokter mengejutkan Senja. Ia menganggukkan kepala. “Iya, Dok…” Tanpa banyak berpikir Senja berlari ke parkiran. Ia mengeluarkan ponselnya, menekan rasa sakit hatinya dan menelepon Ardan. “Mas…” “Apa lagi?!” jawab ketus yang dia terima dari seberang sana. “Anaya kritis, Mas. Butuh obat. Tolong datanglah ke sini,” pintanya tak bisa menahan tangis. Dadanya sesak dipenuhi rasa khawatir. “Jangan percaya!” terdengar suara ibu mertuanya. “Istrimu itu cuma cari perhatian. Anaya cuma masuk angin. Sudah, matikan saja!” “Aku serius, Mas!” Senja memekik. “Kumohon datang! Aku bu---" Belum selesai bicara sambungan telpon terputus. Tut… tut… Ia menelepon lagi. Ditolak. Detik berikutnya, ponsel Ardan tidak aktif. “Ya Tuhan…” jeritnya frustasi. Senja terduduk sambil menangis. Hatinya hancur. Sesal itu makin menyesakkan dadanya. Suaminya itu selalu lebih memilih percaya ibunya. Tapi ia tak boleh lemah. Senja bangkit lalu menstater motornya. Rumah kakaknya yang dia tuju. Satu-satunya orang yang bisa ia mintai bantuan. Namun kondisi sang kakak pun tak lebih baik darinya. Bulan, kakak Senja, seorang janda dengan dua anak. Karena kesalahan di masa muda, tubuhnya digerogoti HIV hingga dikucilkan tetangga sekitar. “Aku cuma punya dua ratus ribu…” ucap kakaknya, menyerahkan dua lembar uang lusuh. “Tak apa. Terima kasih. Aku akan cari sisanya,” jawab Senja. Dari rumah sepupu hingga temannya, ia mengetuk pintu demi pintu. Namun meski begitu, uangnya masih kurang. Wanita itu tak menyerah, ia nekat pergi ke apotik untuk membeli obat. Mungkin di sana ia bisa meminta keringanan. "Tolonglah, Mbak. Saya butuh obat ini, putri saya sedang kritis. Saya janji kekurangan akan saya bayar besok setelah menjual motor saya," mohon Senja pada karyawan apotik. "Saya tidak akan kabur. Ini KTP saya buat jaminan." "Biar saya yang bayar." Seorang bapak-bapak berjas rapi mengulurkan sebuah kartu ATMnya. "Masukkan ke tagihan saya," ucapnya. Mungkin karena iba atau kesal karena sudah menunggu terlalu lama. Sudah lebih dari setengah jam Senja merengek di depan kasir. "Terima kasih, Tuan, semoga Tuhan membalas kebaikan Anda. Saya tidak akan lupa dengan kebaikan Anda," ucapnya tulus. Segera ia kembali ke rumah sakit. Dengan senyum penuh harap, ia berlari kembali ke UGD. “Dokter! Saya sudah beli obatnya!” katanya, napas terengah namun wajahnya berbinar. Dokter hanya menatapnya sendu. Seorang perawat mendekat dan memegang pundaknya. “Ibu yang sabar, ya…” “Ma-maksudnya apa, Sus?” Senja bingung. “Putri ibu, sudah tidak ada. Sekarang sudah tidak sakit lagi," Duar! Senja membeku beberapa saat. Detik berikutnya ia menggeleng. “Tidak mungkin! Suster bohong!” Ia menggeleng keras. “Putri saya pasti selamat. Ini obatnya sudah saya beli!” “Ibu terlambat. Sudah tiga jam sejak ibu pergi. Dan anak ibu tidak bisa menunggu selama itu.” “Tidak!!!” sentaknya, menolak menerima kenyataan. "Putri saya masih hidup!" katanya lalu berlari menuju ranjang di mana putrinya terbaring. “Sayang… buka matamu, Nak…” bisiknya, menggenggam tangan yang sudah dingin. “Bunda sudah bawa obatnya, bangun, sayang....” katanya mendekap tubuh kecil itu. Tangisnya pecah tak terbendung. “Kumohon… jangan tinggalkan Bunda…” Ia memeluk tubuh kecil itu erat-erat. Penyesalan, kebencian, dan kekecewaan memenuhi dadanya. Demi cinta, ia melawan orang tuanya. Demi cinta, ia meninggalkan kuliahnya. Demi Ardan Saputra, ia mengorbankan segalanya. Namun pria itu, yang dicintainya hanya memberinya luka. Dan sekarang karena pria itu, Senja harus kehilangannya putrinya. "Anaya...." Tangis Senja makin keras. Tubuhnya sampai berguncang hebat. Andai waktu bisa diputar, Senja takkan pernah mau jatuh cinta. Ternyata cinta hanya memberinya luka. Dengan tatapan kosong, Senja berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Naik tangga darurat hingga ke atap. Ponselnya tiba-tiba berdering. “Halo…” ucapnya dingin. “Kamu di mana? Kenapa belum pulang?!” suara Ardan terdengar kesal. Senja menghela napas panjang. “Demi Tuhan… aku membencimu. Setelah ini, jangan bertemu lagi di akhirat!" katanya lalu menjatuhkan ponselnya. “Senja? Halo? Kamu di mana?!” Suara panik Ardan tak ia pedulikan. Senja menghapus air matanya. Perlahan ia naik ke tembok pembatas atap. Berdiri dengan kedua tangan terentang. “Bunda akan menyusulmu, Sayang… tunggu Bunda…” Matanya terpejam. Lalu... Tubuh itu pun terjatuh. Bruuggh! Suara-suara panik terdengar samar sebelum akhirnya semuanya berubah gelap. Seperti ada sesuatu energi yang menariknya ke lorong panjang dan gelap. Mendadak semua kejadian di hidup Senja berputar cepat. Seperti kaset kusut, semua kejadian berputar ulang. “Senja! Kamu sudah sadar?”Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari yang terkejut, mencibir dan menertawakan Ardan.Ardan sendiri seperti membatu. Napasnya tertahan di dada, matanya membelalak penuh keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka Senja berani menamparnya."Apa yang kamu lakukan?!" sentaknya menatap Senja dengan mata menyala penuh amarah. Namun Senja justru menarik satu sudut bibirnya.Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.Ada kepuasan kecil di matanya. "Kenapa kamu menamparku?!" geram Ardan.Tangannya mencengkeram lengan Senja dengan kasar.Cengkeraman itu begitu kuat sampai membuat Senja meringis. Namun Ardan tidak peduli.Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa malunya. Harga dirinya runtuh dalam sekejap.Senja menarik tangannya d
Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandari melangkah masuk. Tatapan seorang ibu yang penuh kekhawatiran langsung tertuju pada kepala Senja yang masih diperban. "Apa tidak mulai minggu depan saja kuliahnya?" ujar Wulandari lembut sambil duduk di ujung ranjang. "Luka di kepalamu belum sembuh, Nak." Senja tersenyum.Dari pantulan cermin ia menatap wajah mamanya dengan mata yang tiba-tiba terasa menghangat. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar nada khawatir itu. Di kehidupan sebelumnya, setelah keluarganya hancur, suara cerewet penuh perhatian ini hilang dari hidupnya. Senja menjalani delapan tahun hidup tanopa adanya dukungan dari sang mama. Penyakit jantung merenggut nyawanya. "Kok malah diam?" Wulandari kembali bertanya, bingu
Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan dat
Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.