LOGINKenny berkata dengan nada agak dingin, "Bukannya sudah kubilang kamu nggak perlu menungguku?""Akhir-akhir ini, robot pintar yang baru dirilis oleh Grup Laksmana sering mengalami masalah internal. Kami semua lembur untuk melakukan perbaikan. Karena pulang terlalu larut dan sudah terlalu lapar, akhirnya kami makan bersama di luar."Begitu mendengar kata lembur, Melati malah semakin kesal. Dia mengambil risiko dipecat dengan menyerahkan data internal UME kepada Kenny agar dibawa ke Grup Laksmana, semua itu demi Kenny bisa naik jabatan dan mendapat kenaikan gaji.Namun setelah sekian lama berlalu, Kenny bukan hanya tidak mendapatkan kenaikan gaji, malah semakin sibuk. Uang yang disetorkannya setiap bulan pun semakin sedikit.Grup Laksmana yang merupakan perusahaan papan atas, ternyata malah tidak sebaik perusahaan-perusahaan kecil dalam hal kemurahan hati. Kalau terus seperti ini, kapan dia dan Kenny bisa punya rumah sendiri?Lantaran tak kuasa menahan diri, Melati mengeluh, "Kamu sudah m
Pamela berkata, "Kakakku itu memang nggak peduli sama dia."Mavin bertanya, "Lalu menurutmu, kakakmu akan peduli pada pekerjaannya atau pada hal-hal yang dia sukai?"Begitu kalimat itu keluar, Pamela langsung terdiam, tak mampu membantah sepatah kata pun.Sebenarnya, setelah insiden Vivian diperlakukan tidak adil, yang dia tahu hanyalah hubungan Devan dan Scarlett memburuk dengan sangat cepat. Ditambah lagi sejak awal dia memang tidak menyukai Scarlett. Setelah mendengar dari kakaknya tentang berbagai perbuatan Scarlett, kebenciannya pun semakin bertambah.Meskipun pulang ke rumah Keluarga Laksmana, dia dan kakaknya hanya akan menganggap Scarlett seperti udara.Kalaupun berada di ruang yang sama, kakaknya memperlakukan Scarlett seperti orang tak terlihat, sementara dirinya pun sering melontarkan kata-kata tajam.Soal kepedulian? Dia tidak tahu apa yang kakaknya pedulikan, tetapi dia sendiri hanya peduli satu hal, yaitu kapan kakaknya bisa bercerai dari Scarlett.Pamela terdiam. Pikiran
Nada dering berbunyi hampir satu menit sebelum akhirnya diangkat. Pamela menunggu dengan agak tidak sabar.Begitu tersambung, dia langsung mengeluh, "Lama sekali baru angkat telepon. Scarlett, kamu ini merasa bersalah, jadi nggak berani angkat ya?"Kalimatnya baru saja selesai, dari seberang terdengar suara Mavin yang sudah sangat dikenalnya."Scarlett sedang rapat sekarang, nggak ada waktu. Kalau ada urusan mendesak, bisa bilang ke aku, nanti aku sampaikan ke dia."Mendengar yang berbicara adalah Mavin, Pamela langsung tertegun. Kata-kata yang sudah dia siapkan sebelumnya pun tertahan di mulut dan tidak jadi keluar.Dia tahu Mavin punya perasaan pada Scarlett, jadi dia tidak ingin hubungannya dengan Mavin menjadi tidak menyenangkan gara-gara urusan Scarlett.Pamela tertawa kecil. "Nggak ada apa-apa, cuma ingin ngobrol dengan Scarlett. Ya sudah kalau Scarlett nggak ada."Mavin sudah menebak tujuan panggilan itu. "Kalau kamu merasa nggak puas karena masalah kemiripan teknologi dan algor
Setelah berkata demikian, Pamela sengaja meninggikan nada bicaranya dan menyindir Devan dengan dingin, "Masalahnya, pasangan yang paling dipercaya Kak Vivian dan satu-satunya orang yang bisa membantunya, yaitu kakakku sendiri, hatinya malah buta dan tuli. Aku benar-benar merasa nggak adil untuk Kak Vivian."Devan terdiam.Untuk pertama kalinya, dia tidak berdebat dengan Pamela. Setelah beberapa detik hening, dia berkata, "Akhir-akhir ini kamu lebih sering temani dia. Kalau ada waktu, ajak dia periksa kehamilan lagi.""Itu calon istrimu, tapi kamu malah suruh aku yang temani. Kamu benar-benar tega," Pamela melontarkan candaan.Meski begitu, dia tetap menyetujuinya. Lagi pula, kondisi Devan masih belum pulih sepenuhnya setelah cedera.Selain itu, Pamela sangat memahami sifat kakaknya. Dia bisa menebak bahwa kemungkinan besar Devan baru saja berselisih dengan Vivian karena Scarlett, sehingga dia gengsi untuk menemui Vivian dan butuh waktu untuk menenangkan diri serta berpikir jernih.Seba
Belakangan ini, Pamela juga mendengar kabar tentang kasus plagiarisme yang ramai dibicarakan di internet. Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa kakaknya bukan hanya tidak membantu Vivian untuk menuntut pertanggungjawaban, malah justru membantu Scarlett.Dia kesal sekaligus tak habis pikir, lalu akhirnya menutup laptopnya dengan keras."Kak, sekarang kamu benar-benar sudah nggak bisa membedakan mana yang benar dan salah.""Scarlett kasih kamu obat apa sih sampai-sampai kamu jadi begini? Apa kamu tahu kalau Vivian melihat apa yang sedang kamu lakukan, dia bakal sangat terluka?"Devan membuka kembali laptopnya. "Terlepas dari benar atau salah, yang berhak menilai bukanlah orang-orang ini. Mereka sama sekali nggak punya kualifikasi untuk mencaci maki orang lain."Pamela membalas, "Tapi mereka juga ingin menegakkan keadilan. Lagian, memang Scarlett yang memakai cara-cara rendahan seperti ini."Mendengar ucapannya, Devan mengangkat kelopak matanya sedikit. "Masalah ini bukan urusan pr
Edric mengangkat tangan dan menyentuh dahinya dengan lembut. "Jangan pusing, aku punya cara. Mau dengar?"Scarlett mengangguk.Edric mendekat ke telinganya dan membisikkan beberapa kalimat.Mata Scarlett langsung berbinar. "Ide bagus," katanya.Namun seketika, seolah-olah teringat sesuatu, dia tampak ragu.Edric menebak isi pikirannya. "Urusan Harris, biar aku yang cari cara. Kamu fokus saja mengerjakan urusanmu sendiri."Beberapa hari ini dia terkurung di sini. Di permukaan, suasana hatinya tampak baik-baik saja setiap hari, tetapi sebenarnya hatinya sudah lama melayang ke UME.Namun, Harris seperti sebilah pedang yang tergantung di atas kepala dengan sehelai rambut, bisa jatuh kapan saja.Scarlett tidak ingin membuat Edric khawatir, jadi dia menurut dan tetap tinggal di sini.Sebenarnya Edric sudah lama menyadarinya. Barusan, setelah berbicara lewat telepon dengan Lucinda, dia baru benar-benar paham bahwa dirinya tanpa sadar juga sedang menggunakan nama cinta untuk membatasi kebebasa







