LOGIN“Nih, istrinya mau pulang katanya. Apa nggak ngeselin?” rengek Andini.
“Kamu mau pulang ke mana, Sisi?” tanya Daffi menghela napas panjang. Setelah mengemudikan mobil hampir 9 jam lebih, dia juga merasa butuh istirahat,“Mau ke kontrakan dulu, Dok. Capek banget, ngantuk.”“Kan dia istri Aa, harusnya tidur di kamar Aa kan?” Andini merasa tak rela Sisi pulang malam malam.“Nggak, Mbak Bos. Aku mau balik ke kontrakan. Gak jauh juga,” kilahSisi kembali mencari cara untuk menghubungi Hazel. Dia harus memberitahukan bahwa Ara, wanita yang disebut Glen dalam tidurnya, ternyata masih hidup dan berada di Jepang. Jika Hazel tahu, mungkin dia bisa menghubungkan titik-titik yang selama ini terputus.Namun, baru saja ia akan mengetik sesuatu, Glen muncul dari belakang.“Apa yang kamu lakukan, Sisi?”Sisi langsung menutup layar. Jantungnya hampir copot.“Cuma lihat-lihat berita.”Glen menatapnya lama, sebelum akhirnya menyipitkan mata. “Jangan main-main, Sisi. Aku tahu kamu bukan orang bodoh.”Sisi meneguk ludah. Dia harus lebih hati-hati mulai sekarang.“Tentu saja. Aku kan asistennya bos besar,” jawabnya santai.Glen menyeringai. Dia mendekat dan mengambil alih komputer yang ada di depan Sisi.“Siapa yang sedang kamu hubungi?”“Tak ada, hanya_”“Jangan gegabah menghubungi siapapun. Kamu bisa membuatku dalam masalah.”Glen menatap layar monitor dengan serius, lalu langsung menengok begitu melihat riwayat web yang baru Sisi masuk
Hari berlalu begitu cepat. Bahkan Sisi merasa kehidupan Glen sangat menantang. Beberapa bulan berselang, semuanya berjalan dengan sangat menantang. Hebatnya, lelaki itu benar benar tak pernah melibatkannya ketika sedang beraksi.Malam itu, Glen pulang dalam keadaan mabuk. Lelaki itu terlihat sangat rapuh, sampai Sisi pun tak tega melihatnya. “Kenapa kamu mabuk? Tumben sekali?” Glen menatap Sisi dengan senyum penuh arti, lalu dia mengusap pipi Sisi namun Sisi menangkisnya.“Sadarlah, aku akan bawa kamu ke kamar!” seru Sisi.“Ara … kapan kamu kembali? Aku merindukanmu.”“Ara?”Nama yang menurut Sisi tak asing, tapi dia pun penasaran. Dia membantu Glen masuk kamar, membaringkan dia di atas ranjang.“Aku tahu kamu belum mati, Ara.”Sisi menunggu sampai Glen tertidur, saat ini dia pun bingung apa yang harus dia lakukan. Hingga pada akhirnya, dia pun mencoba mencuri ponsel Glen. Dia ingin tahu, dari mana dan siapa wanita yang disebutkan oleh Glen.Ponsel Sisi dapatkan. Sayangnya, ada sa
Glen mengamati apa yang Sisi lakukan di kediamannya. Dia yang tentunya mendapatkan perintah agar menahan Sisi tetap di sana pun merasa tidak bisa menahan diri lama lama. Sudah dia coba pancing agar Sisi melupakan keinginan pulang, tapi ternyata Sisi masih ingin menjadi orang yang dulu. “Sedang apa?” Sisi mendekat padanya, memberikan secangkir kopi.“Thanks,” jawabnya.“Kamu ini kerjanya apa sih? Serius banget.”“Pengangguran.”Sisi mendorong Glen, bahkan Glen hanya tersenyum dengan kelakuan Sisi. Berdua bersama di tempat yang tenang kadang membuat Glen harus sekuat tenaga tidak jatuh cinta. Sisi sangat lucu, bahkan selalu santai dalam segala hal. Namun, kenapa harus ada seseorang yang ingin membuatnya pulang.“Itu …. DDoS?” Sisi mulai menyadari apa yang sedang Glen lakukan. “Kamu menjalankan bisnis saham pasar gelap?”“Apa saja, asal bisa punya uang.”“Kamu masih bekerja
**Hari berlalu begitu cepat. Bahkan Sisi merasa kehidupan Glen sangat menantang. Beberapa bulan berselang, semuanya berjalan dengan sangat menantang. Hebatnya, lelaki itu benar benar tak pernah melibatkannya ketika sedang beraksi.Malam itu, Glen pulang dalam keadaan mabuk. Lelaki itu terlihat sangat rapuh, sampai Sisi pun tak tega melihatnya. “Kenapa kamu mabuk? Tumben sekali?” Glen menatap Sisi dengan senyum penuh arti, lalu dia mengusap pipi Sisi namun Sisi menangkisnya.“Sadarlah, aku akan bawa kamu ke kamar!” seru Sisi.“Ara … kapan kamu kembali? Aku merindukanmu.”“Ara?”Nama yang menurut Sisi tak asing, tapi dia pun penasaran. Dia membantu Glen masuk kamar, membaringkan dia di atas ranjang.“Aku tahu kamu belum mati, Ara.”Sisi menunggu sampai Glen tertidur, saat ini dia pun bingung apa yang harus dia lakukan. Hingga pada akhirnya, d
Mobil Glen tampak kembali. Lelaki itu terlihat masih memakai baju kedokterannya. Dia masuk dengan terburu buru, lalu masuk ke dalam kamarnya. Sisi pun turun dan melihat apa yang dilakukan Glen, tapi lelaki itu tak meninggalkan jejak apapun selain sikapnya yang dingin dan aneh.Sisi menuju ke dapur. Dia membuka kulkas dan melihat banyak makanan cepat saja di sana. Dia pun berinisiatif memanaskannya dan membuat nasi goreng dengan bahan yang ada. Baginya, roti tak akan mengenyangkan jika belum makan nasi.Aroma makanan menyeruak. Glen yang baru saja mandi pun penasaran dan langsung keluar kamar. Padahal, tadi niatnya dia ingin tidur karena nanti malam, dia akan menjalankan sebuah pekerjaan penting. Dia sudah menjadi orang baru dan pekerjaanya ini tentu tidak ada yang tahu.“Masak?” tanya Glen.“Tentu saja, aku lapar. Perutku ini made in Indonesia dan nasi adalah makanan pokok yang wajib ada. Maaf kalau aku mengotori dapurmu, aku t
“Ada di ruang jenazah dan sudah kami periksa, hampir 70 persen tidak bisa dikenali.”Mr Giant yakin, ada hal yang bisa dia lihat di jenazah Sisi. Dia pun berjalan menuju ke ruang jenazah dan di sana dia melihat jenazah yang sudah gosong dan siap untuk dikremasi.“Tunggu!”Mr Giant pun mencegah petugas kremasi melanjutkan membawa Sisi. Dia mendekat dan melihat dengan teliti, apakah di Sisi yang asli atau bukan. Mr Giant mengawasi, melihat dengan detail bentuk tubuh dan juga jari jari. Jika ada logam emas yang tersisa di kalung Sisi, artinya dia memang Sisi dan saat dia memeriksanya sendiri, ternyata ada kalung itu.Petugas di sana tidak merasa takut sama sekali karena memang mereka hanya tahunya akan mengkremasi jenazah. Mereka tidak tahu siapa Giant dan siapa mayat itu sebenarnya.“Kalian yakin ini Aisy. wanitaku?” tanya Mr Giant.“Saya yakin dia adalah korban yang sama dengan korban di kamar Melbou
“Aku pikir Kapten itu mengirim pengawal untuk menemaniku di sini.”“Kamu menolak, untuk apa aku memaksa? Toh, nyawa ditanggung yang punya badan,” jawab Hazel saat Sisi menghubungi.“Lalu, lelaki itu siapa?”“Arfin, dia adalah seorang TNI yang dtugaskan Jendral Edi untuk mengawalmu. Beliau merasa be
Kabar Sisi yang sudah dinyatakan membaik sampai di telinga Edi. Edi yang memang sibuk mengurus masalah di rumah karena kedatangan anak lelakinya beserta keluarga, terpaksa meminta Arkhan mengatur jadwal yang dipercepat.“Kamu pesankan tiket keberangkatan untuk sore ini saj
Jenderal Edi menarik napas panjang. “Saya minta maaf kalau ini mengejutkanmu, Daffi. Tapi, saya ingin kamu tahu… Sisi butuh seseorang di sisinya. Bukan untuk dilindungi, tapi untuk menjadi rumah tempat dia bisa kembali. Saya tunggu kamu untuk membereskan semuanya dan perlu kamu ketahui, menikahi
Tidak ada satu pun orang yang bisa mengenal tim rahasia bimbingan para TNI dan PolRI itu. Juga, hanya orang orang tertentu yang bisa mengenali mereka saat turun ke jalan. Sisi dengan keadaan yang sudah hampir mati pun, hanya belas kasihan temannya yang bisa dirasakan. Sedangkan keluarganya sendir







