LOGIN"Ingat, kesalahan yang sudah kau buat sangat besar, tidak akan bisa hilang hanya dengan minta maaf saja." ~ Raka "Jika itu memang salahku, kupersilahkan karma mendatangiku. Tapi jika tidak, seumur hidupmu, kau berutang maaf padaku." ~ Kiran Empat tahun lalu, Kiran menabrak seorang wanita, kemudian masuk penjara. Setelah bebas, calon suami dari wanita yang dia tabrak datang mencarinya untuk balas dendam atas kematian calon istrinya. Pria itu tidak terima karena hukuman yang diterima Kiran terlalu ringan menurutnya. Penderitaan Kiran pun dimulai setelah itu hingga akhirnya kebenaran pun terungkap. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikuti terus ya.
View More"Maaf, kami tidak bisa mempekerjakan mantan napi di sini," ucap Pria berumur 55 tahun yang sedang duduk di depan Kiran.
“Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja, Pak. Cleaning service juga boleh,” balas Kiran meyakinkan. Pria itu menggeleng dengan pelan. "Kami tetap tidak bisa menerimamu. Catatan hitammu akan merusak reputasi perusahaan kami nanti.” Raut wajah Kiran seketika berubah menjadi sendu. “Baik, Pak. Terima kasih.” Setelah keluar dari kantor itu, Kiran menengadah ke atas, menatap nama gedung yang baru saja dia masuki. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menghalau sinar matahari yang menerpa wajahnya. Ini adalah kantor kelima yang dia datangi hari ini untuk melamar pekerjaan, dan untuk kesekian kalinya dia mendapatkan penolakan seperti kantor sebelumnya. Alasan utama penolakan itu adalah karena Kiran pernah mendekam di penjara. Tepatnya seminggu yang lalu, dia baru saja bebas dari penjara setelah menjalani hukuman selama 4 tahun. Hukuman itu lebih ringan dari tuntutan jaksa, mengingat ada beberapa pertimbangan yang meringankan hukuman Kiran. “Aku harus melamar ke mana lagi,” gumam Kiran dengan wajah lesu. Hampir semua tempat yang tidak jauh dari kontrakannya sudah dia datangi, tapi tidak ada satu pun yang mau mempekerjakannya. “Nanti aku cari di internet deh, siapa tau ada lowongan yang cocok untukku." Sebelum pulang, Kiran memutuskan untuk mencari warung makan yang tidak jauh dari sana. Sudah seharian ini dia berkeliling mencari pekerjaan, tapi dia belum makan nasi sama sekali. Hanya roti saja yang dia makan pagi tadi untuk mengganjal perutnya. Setelah membeli nasi bungkus, dia menyeret kakinya yang pincang menuju halte angkutan umum. Sambil melangkah, Kiran mencari-cari lowongan pekerjaan di salah satu situs terkenal melalui ponselnya. "Sepertinya ini cocok untukku, syarat juga tidak terlalu sulit." Tepat setelah mengatakan itu, bahunya menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah, hingga membuat ponsel dan nasi bungkus yang dia pegang terjatuh. “Kamu buta, ya!” hardik wanita yang memakai setelan kantor yang tadi bertabrakan dengan Kiran. “Maaf. Saya tidak sengaja.” Merasa tidak puas dengan permintaan maaf Kiran, wanita itu kembali berkata dengan nada marah, “Makanya, kalau jalan itu pake mata! Lihat, bajuku jadi kotor karena kamu.” Kiran menatap kemeja kerja wanita yang terkena noda minuman yang tadi dia pegang, kemudian kembali beralih pada wanita itu. "Maaf, saya ..." Ketika berniat membersihkannya, wanita justru mendorong Kiran dengan kasar, hingga membuatnya terjatuh dengan posisi duduk setelah kehilangan keseimbangan akibat kakinya pincang. “Jangan pegang-pegang! Aku tidak sudi dipegang sama orang miskin seperti kamu.” Setelah mengatakan itu, wanita itu melangkah pergi dengan ekspresi jijik, tidak lupa dia menendang nasi bungkus yang tadi dibeli oleh Kiran, hingga bergeser sejauh beberapa meter. Melihat wanita itu sudah menjauh, Kiran akhirnya berdiri dengan susah payah. Setelah membersihkan bajunya, dia melangkah dengan kaki pincang dan memungut ponsel juga nasi bungkus yang tadi tendang oleh wanita itu. Meski bentuknya sudah tidak utuh, tapi nasi itu masih bisa dimakan, jadi dia memutuskan untuk mengambilnya kembali. Lagi pula, uangnya tersisa sedikit, jadi dia harus berhemat demi kelangsungan hidupnya ke depan, apalagi dia belum mendapatkan pekerjaan semenjak bebas dari penjara. Tiba di kontrakan yang berada di perkampungan kumuh, Kiran langsung merebahkan diri karena merasa lelah setelah berjalan cukup jauh dari jalan raya menuju kontrakannya. Setelah berisitirahat selama satu jam, Kiran akhirnya bangun dari tidurnya, kemudian membuka bungkus nasi yang tadi dia beli. Beruntung isi di dalamnya tidak kotor, jadi dia masih bisa memakannya. Ketika melihat lauk hanya 1 tempe goreng dan sambal, tiba-tiba saja sorot matanya meredup. Dulu, dia tidak pernah kesulitan hanya untuk makan. Apa pun yang dia inginkan, bisa dia beli dengan mudah, sangat jauh berbeda dengan sekarang. Demi bisa bertahan hidup, dia itu terpaksa makan dengan laut seadanya. Bahkan, wanita berusia 29 tahun itu pernah makan hanya dengan nasi dan kerupuk selama 3 hari setelah keluar dari penjara karena tidak memiliki uang. Jika bukan karena menjual cincin miliknya, dia tidak mungkin memiliki uang untuk menyewa kontrakan dan juga untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Ketika sedang merenungi nasibnya, ponsel Kiran tiba-tiba berbunyi, dengan segera dia menjawab panggilan tersebut. “Baik, Kak. Aku akan datang ke sana besok. Terima kasih banyak, Kak.” Setelah panggilan terputus, Kiran menggenggam ponsel bututnya dengan senyuman bahagia. Baru saja kenalan lamanya memberitahukan kalau ada pekerjaan untuknya. ======== “Kiran, antarkan minuman ke ruangan VIP 101,” perintah Reno-supervisor di bar tersebut. “Baik, Pak.” Kiran melangkah menuju ruangan khusus VIP 101 setelah mengambil pesanan orang yang berada di ruangan tersebut. Sudah seminggu Kiran bekerja di salah satu bar yang berada di tengah kota. Pekerjaan yang dimaksud oleh kenalan lamanya adalah menjadi waitress di bar. Sebenarnya, tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya kalau dia akan bekerja di bar, tapi dengan kondisinya yang sulit seperti sekarang, mau tidak mau dia harus menerimanya. Sebelum memasuki ruangan di depannya, Kiran menarik napas panjang, lalu mendorong pintu ruangan itu, kemudian masuk ke dalam sambil menundukkan kepala. “Ini pesanan Anda, Tuan,” ucap Kiran setelah meletakkan minuman di atas meja. “Apa masih ada yang bisa saya bantu?” Ketika Kiran mengangkat kepala, matanya langsung bertabrakan dengan mata pria yang sedang duduk di sofa melingkar. Tubuhnya seketika membeku ketika melihat tatapan pria itu. Mata segelap obsidian itu adalah mata yang pernah menatapnya penuh kebencian 4 tahun lalu. Pemilik mata itulah yang pernah dia renggut kebahagiaannya secara tidak sengaja, hingga merubah hidup pria itu dan juga hidupnya. “Kenapa diam?” Suara berat pria itu menyadarkan Kiran dari keterkejutannya. “Kaget melihatku di sini?” Bagaimana tidak kaget. Pria itu adalah orang yang selama ini berusaha dia hindari setelah bebas dari penjara. “Ternyata kamu bebas lebih cepat dari dugaanku.” Kiran menelan salivanya ketika melihat pria itu melangkah ke arahnya. Dia perlahan melangkah mundur seiring dengan pria di depannya yang terus berjalan mendekatinya. Ketika tubuhnya membentur tembok di belakang, Kiran sontak menoleh dengan panik dan saat kembali menoleh ke depan, pria itu sudah mengurung tubuhnya menggunakan dua tangan yang bertumpu di tembok. Bersambung...."Di mana bajuku?" tanya Raka setelah keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Kiran bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri pria itu. "Ini baju gantimu." Setelah menerima, Raka berbalik sambil membawa pakaian ganti miliknya. Namun, tiba-tiba saja Kiran memanggilnya. "Raka, itu ..." Kiran menunjuk punggung pria itu yang tampak memiliki beberapa garis merah memanjang. "Ada apa dengan punggungmu?" Raka menoleh ke belakang sejenak, kemudian berbalik menghadap Kiran. "Apa kamu lupa? Kamu yang mencakarku semalam," ujar Raka santai. "Ini juga bekas gigitanmu," tunjuk Raka pada bahu sebelah kanannya yang tampak meninggalkan bekas gigitan yang berwarna merah-kebiruan. "Semua luka di tubuhku itu karena ulahmu." Mata Kiran membelalak mengetahui fakta itu. "Benarkah?" Raka mengangguk ringan sebagai jawaban. "Kamu tidak ingat?" Kiran termenung sambil mengingat kembali kejadian semalam. Jika bekas gigitan di bahu Raka, tentu saja dia ingat. Namun, dia tidak i
Perlahan, Raka memajukan wajahnya, membuat Kiran refleks menutup mata sambil menahan napas saat melihat hidung keduanya nyaris menempel. "Memikirkan apa?" bisik Raka. "Kenapa kamu menutup mata?" Kiran seketika membuka mata. Wajahnya memerah seperti tomat saat melihat Raka sedang tersenyuman jahil padanya. "Tidak ada." Kiran segera menarik kepalanya ke belakang, kemudian menutup kepala dengan selimut untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah setelah berbaring membelakangi Raka. "Aku mau tidur." Raka hanya tersenyum tipis, kemudian menyandarkan punggungnya, lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Pukul 2 siang, Raka akhirnya selesai mengurus pekerjaannya. Dia meletakkan laptop di atas nakas, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Kiran, lalu menurunkan selimut yang menatap wajah wanita itu. Kiran tampak sudah terlelap dengan wajah polosnya. Raka menatap wajah Kiran selama beberap saat, kemudian memajukan wajahnya. Mungkin karena lelah dan kurang tidur semalam, jadi wanita itu
"Makanya, kamu harus jujur padanya. Jika dia tidak mau menerimamu setelah kamu jujur, kamu harus berjuang untuk mendapatkan cintanya. Jangan menyerah sampai kamu berhasil meluluhkan hatinya." Kiran yang sejak tadi berdiri di depan cermin, akhir membasuh wajahnya, kemudian melangkah keluar dari kamar mandi. Raka yang mendengar suara dari belakangnya seketika menoleh dan melihat Kiran sedang berjalan dengan susah payah ke arah koper yang di letakkan dekat lemari pakaian. "Aku tutup dulu. Kita bicara lagi nanti." Usai mengakhiri panggilan telpon tersebut, Raka mendekati Kiran. "Hari ini kamu istirahat di kamar saja. Jangan ke mana-mana." Kiran yang baru saja mengambil pakaian di kopernya, seketika mengangkat kepala dan menatap Raka. "Aku mau melihat Papa. Aku sudah janji akan datang pagi." Ayah dan ibunya pasti sudah menunggunya, apalagi ini sudah menjelang siang hari. Kemarin, dia sudah berjanji akan menggantikan ibunya untuk menjaga sang ayah karena merasa kasihan melihat sang ta
"Kamu sudah bangun?" tanya Raka. Ketika tatapan keduanya bertemu, Kiran segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah memerah. "Iya," jawab Kiran lirih. Merasa canggung terus di tatap oleh Raka, Kiran bergegas bangkit dari duduknya. "Aku mau mandi dulu." Baru saja berjalan 3 langkah, Kiran tiba-tiba meringis. Raka yang melihat itu, seketika membuka suara. "Kenapa?" Merasa malu untuk menjawab dengan jujur, Kiran memilih menyembunyikan rasa sakitnya dan tersenyum paksa pada Raka. "Tidak apa-apa," jawabnya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Raka yang baru saja duduk di tepi ranjang tampak memperhatikan cara berjalan Kiran yang tidak biasa. Setiap kali melangkah, kedua kakinya gemetar, langkahnya sangat pelan. Meski dia sudah sering melihat wanita itu berjalan sedikit pincang. Namun, kali ini berbeda dari biasanya, dan dia tahu kalau dirinyalah yang menyebabkan wanita itu berjalan seperti itu. Tidak tega melihat Kiran kesulitan berjalan, Raka b
"Kiran, kau semakin berani rupanya." "Berani apa?" Kiran yang tidak mengerti maksud dari perkataan Raka tampak menatap pria yang sedang mengurungnya dengan wajah bingung. "Semenjak kapan statusku berubah menjadi majikanmu, dan pria itu menjadi orang terdekatmu?" tanya Raka dengan suara berat.
Setelah ibunya pergi, Raka pergi menutup pintu dan berjalan menuju kamar mandi. Saat melihat Kiran duduk termenung di tepi ranjang, Raka menghentikan langkahnya. "Kenapa belum pergi?" tanyanya. "Masih mau melanjutkan yang tadi?" Kiran menggeleng dan segera keluar dari sana, tapi karena dia melangk
"Papa akan memberitahumu nanti. Untuk sekarang, kamu bertahan saja dulu di sana sementara." "Tapi, Pa ..." "Sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat. Kita bicara lagi besok." "Baiklah." Setelah panggilan itu berakhir, Kiran meletakkan ponse
"Ada apa?" "Aku membawa makan malam untukmu." Raka melirik nampan yang berada di tangan Kiran sekilas, kemudian berkata dengan dingin, "Aku tidak lapar, bawa kembali makanan itu." "Tapi kamu belum—" "Pergi," potong Raka tegas. "Jangan mengangguku." Braaak! Pintu tertutup sebelum Kiran sempat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore