MasukHari berganti bulan, masih belum ada kabar dari Zio dan Glen. Semua benar benar senyap dan Sisi pun sudah mulai terbiasa dengan aktivitasnya. Daffi dan Ainah juga terlihat jarang muncul dan Sisi jadi semakin penasaran dengan kehidupan mereka.
“Tabungan bulan ini banyak, Mrs,” ucap Sisi saat pulang ke rumah kontrakan mereka.“Kamu mau beli apa, Nak? Beli saja. Aku gak usah.”“Serius, Mrs?”“Ya. Beli saja apa yang kamu butuhkan.”Berita tentang Edi dan kejadiaan naasnya masih menjadi senter di media sosial. Bahkan, Aisy pun melihat perkembangan itu dari jauh. Sebelum berita itu hilang dari peredaran, jelas dia sama sekali tak berkeinginan pulang atau kembali.Tery dengan sigap menemani. Apapun yang dia butuhkan, Tery selalu ada buatnya. Bahkan, saat sedang mandi dengan telaten Tery menemaninya. Takut luka di tubuhnya kembali koyak dan basah oleh air jika tidak hati hati.“Te, apa lo balik aja? Gue udah mendingan kok,” ucap Aisy tak enak.“Buat apa? Balik juga gak akan bikin gue dikasih tugas kayak dulu.”“Dipecat?”Tery menoyor kepala Aisy, “lupa gue di sini buat siapa? Dah ah, bosen denger lo usir gue terus. Lo pikir gue sedih ngurus lo?”Terdengar ketus dan menyebalkan, tapi Aisy suka kebaikan teman dekatnya itu.“Gak enak gue liat lo LDR’an sama ayang bebep. Emang lo gak kangen pengen ketemuan?”“Gak enak ya tinggal dilepehin, Sy. Gitu aja kok repot! Lagian, Dean udah tahu dan udah biasa juga LDR an sama gu
Berita kematian Aisy sampai di telinga Daffi. Dia datang di hari kedua, saat tamu sudah hanya beberapa yang ditemui. Daffi sangat terpukul, ini kedua kalinya berita kematian Aisy terdengar dan dia pun hampir menangis saat Edi mau menemuinya.“Ini yang saya takutkan jika kamu tetap jadi suaminya. Kematian dia, ada di depan mata setiap hari.”“Apa pembunuhnya tidak bisa diurus? Ditemukan atau diadili?”Edi tersenyum samar, “andai bisa semudah itu, kematian kedua orang tua kandungnya akan mudah ditemukan.”“Maksud Anda?”“Kamu hanyalah orang biasa yang tak akan paham dunia politik dan kejamnya kursi parlemen. Tak apa, doakan saja dia tenang dan damai. Saya yakin, kamu masih peduli dengan dia tapi berhenti untuk memikirkan anak saya itu adalah jaana agar dia tenang dan bisa selalu tersenyum.”Daffi mengangguk, dia mungkin terluka dengan kematian Aisy tapi Edi lebih sangat terluka kelihatannya. TErbukti Edi hanya menemuinya beberapa menit saja, lalu pamit ke kamar karena tidak enak badan.
Edi sendiri sudah tahu ini akan terjadi. Kesedihan mendalam itu membuat dia benar benar murka pada pelaku yang merencanakan kejahatan sekejam itu. Menjadikan jalan raya yang sepi sebagai akses membuatnya terluka, bahkan meyasar dua anaknya sekaligus tanpa ampun.Laporan Tery dan Dean membuat Edi shock. Namun, dia yang sudah sampai di Bogor tak bisa ke Jakarta dalam waktu yang sama. INi adalah jebakan sehingga dia memastikan LIlo aman dan tidak seperti Aisy nasibnya, lalu akan ke Jakarta besok. Malam ini, dia akan membuat laporan jika Edi berduka dan keluarganya tewas diban tai di tol 87 malam itu.Berat. Untuk kedua kalinya, Aisy menggunakan nyawa sebagai taruhannya. Dia tahu, ini tak mungkin bisa dia maafkan. Namun, balas dendam dengan cara yang sama akan membuat pelakunya semakin menjadi. Biarlah mereka senang dan pada akhirnya, dia yang akan membalasnya dengan cara dia sendiri.Pagi hari, insiden tentang masalah keluarga Edi mencuat. Tentu kabar ini tersiar dan mengegetkan semua pi
Di kawasan 87, Aisy mulai menyadari satu hal: dia dijebak dan benar-benar sendirian.Tak ada sinyal. Tak ada suara tembakan dari tim Elang, yang biasanya jadi penanda mereka masih hidup dan bertempur.Yang ada hanya suara ranting patah, tanah basah, dan deru nafasnya sendiri yang makin berat."Ayah..." gumamnya, berulang kali. Tapi tak ada jawaban dari semesta. Yang terdengar hanya satu suara...Tuk. Tuk. Tuk.Langkah. Berat. Teratur.Aisy berbalik. Dedaunan bergetar. Angin tidak ada, tapi pohon bergoyang.“Siapa di sana!” teriaknya. Tangannya memegang pistol kecil di balik jaket, sementara matanya memindai setiap gerakan mencurigakan. Dia masih mengaktifkan lensa musuhnya dan ada sinyal merah di sana, menandakan ada manusia di sekitarnya.Lalu suara muncul.“Terlambat kau datang, Aisy...”Suara berat. Bekas luka. Penuh dendam.Aisy memutar
Tak ada jawaban dari temannya, suara teriakan Dean membuat Aisy kalap. Dia mengambil ancang ancang, membuat mobil melayang melewati beberapa mobil dan mendarat di atap mobil lainnya.“Aih, kurang pandai ternyata aku.”Tak terlihat anak anak agen rahasia di sana dan pengawal banyak yang terluka dan sedang menyingkirkan truk besar yang melintang. Suara sirine polisi pun terdengar seolah datang terlambat untuk membantu.“Pak Edi mana?” tanya Aisy.“Melesat ke sana!” salah satu pengawal menunjuk ke arah tebing.Tak ada tim Elang di sana, tapi Aisy melihat pengawal pengawal ayahnya banyak yang terluka. Aisy langsung berlari dan mencari mobil ayahnya.“Ayah …”Teriakan Aisy sepertinya tidak ada sambutan, mobil tak terlihat dan gelapnya malam membuat dia terpaksa harus turun. “Aku harus cari di mana ayah.”Terlihat dari kejauhan, hanya gelap yang menyelimuti tapi A
Sisi telah mengubah nama setelah misi bersama Daffi selesai. Aisy tahu ini bukan hal yang tak mungkin terjadi. Dan sekarang misi baru dimulai. Ayahnya meminta dia melindungi Lilo sedangkan nyawa sendiri terancam. Dua hal yang Aisy atau Sisi pahami dari hal ini, Ayahnya ingin anak anaknya selamat dan Ayahnya sendiri lupa akan keadaannya sendiri.Aisy memutar arah, dia menghubungi seseorang yang harus juga membantunya. Di Jakarta, Lilo pasti akan dilindungi. Meskipun kecil jika yang menyerangnya dadakan dia sudah menghubungi seseorang yang tentunya bisa langsung memintanya untuk memberitahu Lilo dan memintanya agar tetap berada di rumahnya.Motor melaju dengan cepat menyusul mobil ayahnya yang mungkin sudah kilometer jauhnya tertinggal. Tak peduli, tim ayahnya banyak dan dia yakin hanya dia yang jadi sasaran karena kebanyakan mereka hanya tahu anaknya adalah perempuan yang selama ini melindungi.Terlihat dari kejauhan, kecelakaan berunt
Gemericik air kran membangunkan Daffi dari tidurnya. Entah jam berapa dia semalam sampai di rumah, yang jelas sudah hampir dini hari. Dia menengok ponselnya, melihat jam sudah pukul 8 pagi.“Ai, nggak bangunin aku?” tanya Daffi kaget.“Sudah, tapi Gus gak bangun juga.
Daafi terdiam, kata cucu bukanlah kata singkat tanpa makna. Tapi bisa jadi hal berat yang akan sulit dia kabulkan. “Biar saja, mereka tidak tahu juga kalau_”“Apa Gus nggak mau sedikit berusaha menerimaku? Bagaimanapun, aku berhak meminta hal itu sebagai nafkah, bukan?”
Sisi langsung berdiri dan beranjak keluar ruangan tanpa basa basi. Meninggalkan lelaki yang memilihnya, juga lelaki yang mendesaknya menjadi pasangan hidup. Dia melihat ke arah Edah yang memeluknya begitu dia keluar dari kamar. Edah menangis sesegukan, mengusap punggung Sisi perlahan. Hangat itu m
"Pelan sedikit, Sayang... kamu terlalu bersemangat malam ini."“Tapi aku menyukaimu, Dokter. Ah…”" Uhm…" Suara desahan itu pecah di antara deru napas yang memburu. Di bawah temaram lampu kamar yang diset redup, Daffi mencengkeram bahu Sisi, mencoba menahan ritme gerakan wanita itu yang terasa be







