LOGINSisi langsung berdiri dan beranjak keluar ruangan tanpa basa basi. Meninggalkan lelaki yang memilihnya, juga lelaki yang mendesaknya menjadi pasangan hidup. Dia melihat ke arah Edah yang memeluknya begitu dia keluar dari kamar. Edah menangis sesegukan, mengusap punggung Sisi perlahan. Hangat itu menjalar, hingga pada akhirnya, Sisi ikut terbawa suasana Edah yang penuh haru.
“Terimakasih sudah mau berkorban untuk EMak dan Daffi. Emak tahu, ini berat. Tapi, Emak janji anak Emak itu akan menyayangimu. EMak pun akan sayang sama kamu seperti sama anak sendiri.” ENtah sudah berapa lama dia tak dipeluk sehangat itu, dtangisi seperti ini hingga anggukan pun dia lakukan demi bisa membuat Edah tersenyum. Rasa jengkel sejak semalam gara gara menikah demi tugas, beralih menjadi rasa hangat karena pelukan calon mertua. “Andini mana, Mak?” tanya Sisi yang berusaha menyembunyikan keharuannya. “Di ruang tamu, sedang makan tadi sama Abangnya.” Sisi mengangguk dan meninggalkan Edah yang masih ingin bersamanya. Dia tak bisa lama lama di tempat ini, dia harus menghubungi atasannya jika misi ini melesat jauh dari dugaan. “Aku yakin Kapten pasti sengaja kan,” ketus Sisi saat panggilannya diangkat oleh sang ketua misi–Hazel. “Sengaja apa, hm?” “Sengaja kan, bikin aku nikah sama Dokter Daffi?” “Masa? Wah, selamat ya?” Lelaki itu hanya terkekeh mendengar kemarahan dan aduan Sisi. “Gak lucu, Kapten. Andai saja aku tahu, Kapten akan begini, aku memilih menyudahi misi yang tinggal beberapa minggu lagi. Nyesel aku.” “Nyesel nikah sama Dr kalem satu itu? Dia gak buru buruk amat, gak lebih buruk juga dari Ayang kamu yang pengangguran itu.” “Ck, apaan sih. Aku mau izin ditarik tugas, gak bisa nih aku nikah sama dia.” “Oh, jadi belum nikah?” “Pura pura,” gerutu Sisi. “ Aku bukan Tuhan loh, mana aku tahu kalau akhirnya kamu akan dinikahi Dokter itu,” jawab Hazel dengan kekehan ringan. “Gak asik ah, Kapten!” rengek Sisi. “Aku mau ditarik tugas, males nikah sama dia. Aku kabur nih sekarang!” “Jangan, mau aku kasih SP buat hal ini?” Sisi menggerutu dalam hati, atasan mudanya yang satu itu memang benar benar menyebalkan luar biasa. Dia hanya bisa pasrah saat akhirnya statusnya sebagai lajang dibuat permainan dan akan menjadi istri dalam hitungan waktu. Andini melihat Sisi keluar dengan wajah dinginnya, lalu duduk di sisi Andini sambil menyeruput es yang ada di depannya sampai tandas. “Duh, haus Neng?” kekeh Kenzi. “Nih lagi.” Sisi mengambil minuman yang Kenzi berikan, lalu meminumnya lagi sampai tandas. Beruntung yang ada di sana hanya Kenzi, Andini dan Ratmi karena yang lain meninggalkan ruangan untuk makan di tempat khusus. Sengaja Kenzi mengambilkan makanan untuk Andini dan memakannya di ruang majlis. Tak ingin terlihat istimewa meski dia memang tamu di tempat ini. “Kenapa, Si? Kamu disuruh apa lagi sampai kesal begitu?” tanya Andini pelan, dia masih belum bisa konek dengan apa yang terjadi. Namun, dengan perlahan Kenzi menjelaskan hingga dia bisa mudah berbaur kembali. “Ck, gak usah tanya lah, Bos. Bad mood!” Kenzi tersenyum. “Maaf ya, gara gara saya kamu begini.” Sisi menarik napas dalam dalam, lalu menyandarkan punggung di tembok belakangnya. “Katanya kapan nikahnya?” Pertanyaan Ratmi sukses membuat Sisi memejamkan mata. “Petang ini.” Ratmi mengangguk sedangkan Sisi menghela napas panjang. “ Kak Ken, tolong bilang sama Kapten Hazel, tarik tugasnya hari ini juga. Kakak kan tahu, ini tugas buat jagain siapa.” “Nanti saya akan bilang. Apa kamu nggak akan mempertimbangkan?” “APanya? Gak ada yang berat kok dalam tubuh ini, jadi gak usah ditimbang timbang. Takut nganan.” Gerutu Sisi dan Andini tersenyum. “Gak papa, Sisi. Aku ikhlas loh kamu sama Aa. Dia baik, lelaki baik. Apa kamu nggak kasihan setelah tadi dia disudutkan banyak orang? Maaf kalau aku yang bikin kamu gak nyaman, tapi aku pikir Aa Daffi bukan orang jahat.” Saat berbincang ada keluarga Andini yang mendekat dan Sisi pun diminta membantu membereskan barang barang di depannya oleh Ratmi. “Kalau jadi keluarga ini, kamu harus kuat telinga. Mereka memang ulama, tapi kadang kita yang awam ini gak paham cara pikir mereka. Jadi, diam itu lebih baik,” bisik Ratmi saat mereka ke belakang.Tery ngakak, “Daripada lo dikasih nama Gendhis Sugiyo, udah syukurin aja. Lagian nama doang, yang penting wajah lo udah cakep. Sekarang kalau selfie udah nggak perlu aplikasi 360 lagi.”Aisy menghela napas panjang, lalu menatap pemandangan dari jendela hotel.“Gue pengin pergi ke tempat yang nggak banyak orang tahu. Yang tenang, ada pantainya, tapi sinyalnya tetap ada. Gue mau nulis, ngedit, sambil healing. Ya, gue mau jadi penulis aja lah. Biar nggak perlu mikir keras dan bisa jebolin aplikasi menulis buat bikin genre yang dramatis dan romantis.”“Tumben banget lo ngomong kayak penulis konten inspiratif. Ada apa, Momo?”“Panggil gue Sisi udah deh, kayak dulu aja,” potong Aisy cepat.Tery kembali cekikikan. “Sisi udah mati. Yang sekarang itu Momosy Edigowa, warga dunia maya dengan wajah baru dan identitas yang udah dipoles dari kepala sampai dagu. Kalau lo ke kantor kelurahan, disuruh fingerprint, lo bisa ditangkep karena nggak match.”
Aisy menerimanya dengan pelan, rasa terharu pun menyeruak. Dia dikelilingi orang baik, bahkan Dokter yang mendampinginya pun begitu baik dengan memberikan cermin kecil berhiaskan batu permata yang jelas bukan murah harganya.“Wah, Dokter baik sekali. Apa hanya Aisy saja yang diberi? Saya tidak? Wah, ini tak adil,” ledek Tery.“Tenang saja, untuk sahabat terbaik pasien saya ini, saya persiapkan gantungan kunci. Ini sama bagusnya kok, ada lambang bulan dan bintang di s iini dan kamu bisa menyimpannya sebagai kenang kenangan.”Tery menerima gantungan kunci berbentuk bulan dan bintang yang sama mewahnya. Meski belum tentu apa itu lapis batu permata atau bukan seperti milik Aisy, tapi Tery senang mendapatkan kebaikan itu juga.“Makasih banyak, Dokter Lie. ANda baik sekali, semoga Tuhan memberkati…”“Sama sama, kalian adalah contoh sahabat selamanya dan semoga keberuntungan selalu menyertai kita.”“Ter
Tiga hari yang melelahkan. Operasi plastik yang dilakukan hampir 100 persen selesai. Wajah Aisy yang baru akan tercipta. Meski DNA tak mungkin akan berubah, tapi jelas kecantikan Aisy yang biasa biasa saja akan berubah memancar setelah ini.Tery dengan siap menunggu di rumah sakit itu. Pasca operasi, dia yang mengurus semuanya. Dari cara makan Aisy yang kesulitan, pergi ke WC sampai semua yang Aisy butuhkan, Tery yang membantunya. Hari ini, pelepasan perban di wajah Aisy. Tery menggenggam tangan Aisy erat-erat. Tangannya hangat, tapi ada sedikit getar di sana. Mungkin karena gugup, mungkin karena khawatir akan reaksi Aisy setelah melihat wajah barunya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak lambat, seperti sengaja memberi efek dramatis.“Deg degan ya? Artinya lo masih hidup, Sy,” jawab Tery membuat Aisy tersenyum dalam hatinya. Dia belum bisa berbicara dan makan dengan baik karena bibirnya ditutup perban dan tak
Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se
Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau
“Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka
“Ara,” bisik Glen sambil mendekat.Ara terperanjat dan menoleh cepat. “Dokter Samuel? Anda ke sini, ada apa?”Glen tersenyum, penyamarannya berhasil. Dia pun mendekat dan memberikan sebuah permata yang pernah dia berikan pada Arasebagai bukti kasih sayangnya.
Ibnu tersenyum. “Iya, maafkan Abi. Abi memang salah, makanya ABi sekarang ditinggalkan oleh anak anak Abi karena menyakiti ibu ibu mereka. Abi harus bagaimana, Daffi? Abah sudah renta dan Abi pun sama. Lalu, siapa yang akan melanjutkan pesantren ini? Bahkan kamu dan Sisi sudah …. Abi, sedih mende
“Abimu masuk rumah sakit dan keadaannya mengkhawatirkan. Kamu harus menemuinya,” ucap Ratmi.Daffi menegang, menatap ibunya yang terlihat menangis dan sesegukan di pelukannya. Entah apa yang sudah terjadi berbulan bulan lamanya, bahkan dia tak mendengar kabar Abinya pasca kejadian di mas
Glen mengamati apa yang Sisi lakukan di kediamannya. Dia yang tentunya mendapatkan perintah agar menahan Sisi tetap di sana pun merasa tidak bisa menahan diri lama lama. Sudah dia coba pancing agar Sisi melupakan keinginan pulang, tapi ternyata Sisi masih ingin menjadi orang yang dulu.







