Compartilhar

bab 2

Autor: Maey Angel
last update Última atualização: 2026-03-10 20:43:35

Sisi langsung berdiri dan beranjak keluar ruangan tanpa basa basi. Meninggalkan lelaki yang memilihnya, juga lelaki yang mendesaknya menjadi pasangan hidup. Dia melihat ke arah Edah yang memeluknya begitu dia keluar dari kamar. Edah menangis sesegukan, mengusap punggung Sisi perlahan. Hangat itu menjalar, hingga pada akhirnya, Sisi ikut terbawa suasana Edah yang penuh haru.

“Terimakasih sudah mau berkorban untuk EMak dan Daffi. Emak tahu, ini berat. Tapi, Emak janji anak Emak itu akan menyayangimu. EMak pun akan sayang sama kamu seperti sama anak sendiri.”

ENtah sudah berapa lama dia tak dipeluk sehangat itu, dtangisi seperti ini hingga anggukan pun dia lakukan demi bisa membuat Edah tersenyum. Rasa jengkel sejak semalam gara gara menikah demi tugas, beralih menjadi rasa hangat karena pelukan calon mertua.

“Andini mana, Mak?” tanya Sisi yang berusaha menyembunyikan keharuannya.

“Di ruang tamu, sedang makan tadi sama Abangnya.”

Sisi mengangguk dan meninggalkan Edah yang masih ingin bersamanya. Dia tak bisa lama lama di tempat ini, dia harus menghubungi atasannya jika misi ini melesat jauh dari dugaan.

“Aku yakin Kapten pasti sengaja kan,” ketus Sisi saat panggilannya diangkat oleh sang ketua misi–Hazel.

“Sengaja apa, hm?”

“Sengaja kan, bikin aku nikah sama Dokter Daffi?”

“Masa? Wah, selamat ya?” Lelaki itu hanya terkekeh mendengar kemarahan dan aduan Sisi.

“Gak lucu, Kapten. Andai saja aku tahu, Kapten akan begini, aku memilih menyudahi misi yang tinggal beberapa minggu lagi. Nyesel aku.”

“Nyesel nikah sama Dr kalem satu itu? Dia gak buru buruk amat, gak lebih buruk juga dari Ayang kamu yang pengangguran itu.”

“Ck, apaan sih. Aku mau izin ditarik tugas, gak bisa nih aku nikah sama dia.”

“Oh, jadi belum nikah?”

“Pura pura,” gerutu Sisi.

“ Aku bukan Tuhan loh, mana aku tahu kalau akhirnya kamu akan dinikahi Dokter itu,” jawab Hazel dengan kekehan ringan.

“Gak asik ah, Kapten!” rengek Sisi. “Aku mau ditarik tugas, males nikah sama dia. Aku kabur nih sekarang!”

“Jangan, mau aku kasih SP buat hal ini?”

Sisi menggerutu dalam hati, atasan mudanya yang satu itu memang benar benar menyebalkan luar biasa. Dia hanya bisa pasrah saat akhirnya statusnya sebagai lajang dibuat permainan dan akan menjadi istri dalam hitungan waktu.

Andini melihat Sisi keluar dengan wajah dinginnya, lalu duduk di sisi Andini sambil menyeruput es yang ada di depannya sampai tandas.

“Duh, haus Neng?” kekeh Kenzi. “Nih lagi.”

Sisi mengambil minuman yang Kenzi berikan, lalu meminumnya lagi sampai tandas. Beruntung yang ada di sana hanya Kenzi, Andini dan Ratmi karena yang lain meninggalkan ruangan untuk makan di tempat khusus. Sengaja Kenzi mengambilkan makanan untuk Andini dan memakannya di ruang majlis. Tak ingin terlihat istimewa meski dia memang tamu di tempat ini.

“Kenapa, Si? Kamu disuruh apa lagi sampai kesal begitu?” tanya Andini pelan, dia masih belum bisa konek dengan apa yang terjadi. Namun, dengan perlahan Kenzi menjelaskan hingga dia bisa mudah berbaur kembali.

“Ck, gak usah tanya lah, Bos. Bad mood!”

Kenzi tersenyum. “Maaf ya, gara gara saya kamu begini.”

Sisi menarik napas dalam dalam, lalu menyandarkan punggung di tembok belakangnya.

“Katanya kapan nikahnya?” Pertanyaan Ratmi sukses membuat Sisi memejamkan mata.

“Petang ini.”

Ratmi mengangguk sedangkan Sisi menghela napas panjang.

“ Kak Ken, tolong bilang sama Kapten Hazel, tarik tugasnya hari ini juga. Kakak kan tahu, ini tugas buat jagain siapa.”

“Nanti saya akan bilang. Apa kamu nggak akan mempertimbangkan?”

“APanya? Gak ada yang berat kok dalam tubuh ini, jadi gak usah ditimbang timbang. Takut nganan.” Gerutu Sisi dan Andini tersenyum.

“Gak papa, Sisi. Aku ikhlas loh kamu sama Aa. Dia baik, lelaki baik. Apa kamu nggak kasihan setelah tadi dia disudutkan banyak orang? Maaf kalau aku yang bikin kamu gak nyaman, tapi aku pikir Aa Daffi bukan orang jahat.”

Saat berbincang ada keluarga Andini yang mendekat dan Sisi pun diminta membantu membereskan barang barang di depannya oleh Ratmi.

“Kalau jadi keluarga ini, kamu harus kuat telinga. Mereka memang ulama, tapi kadang kita yang awam ini gak paham cara pikir mereka. Jadi, diam itu lebih baik,” bisik Ratmi saat mereka ke belakang.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 14

    “Burung siapa?”Daffi mengernyit, sedangkankan Ratmi terkekeh. “Atuh burung santri, Neng. Masa burungnya si Daffi. Ah, aya aya wae. Bibi mau balik ke pondok, Edah udah nungguin pasti itu. Tadi tak tinggal karena nyusulin si Andini sama Daffi, malah jadi kebethaan. Kamu mau ikut?” tanya Ratmi pada Andini.“Ikut, Bi.”Andini ikut dengan Ratmi, sedangkan Sisi masih berdiri di sana karena Daffi juga tak ikut pergi dengan Andini.“Kenapa gak ikut ke pondok?”“Mereka mau masak di dapur,” jawab Daffi. “Oh.”Hening, bingung mencari bahan dan topik pembicaraan. Daffi menengok dan memperhatikan Sisi yang masih terlihat kusut dengan baju yang sejak dini hari dia lihat.“Belum mandi?” tanya Daffi.Sisi mengangkat keti-aknya lalu menciu-m aroma di bajunya. Dia pun mengedikkan bahu.“Gak bau kok meski belum mandi,” ucap Sisi.“Salah satu manfaat mandi pagi adalah meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh. Cara ini dapat mencegah penyakit berbahaya, sekaligus meningkatkan kesehatan organ jantung.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 13

    Sisi yang baru selesai dari masjid pun tak menjawab, dia fokus melipat mukenanya. “Sisi,” panggil Daffi dengan sedikit meninggikan suaranya.“Cari angin, Pak Dokter. Aku tuh gak bisa tidur semalam, jadi ya … keluar bentar.”“Keluar dari jam 11 sampai pagi? Aku mencarimu, Si.”Sisi hanya diam tak menjawab, dia memilih sibuk merapikan mukena dan memasukkan ke dalam lemari. Dia juga merapikan meja rias, lalu kasur dan yang lain.“Sisi, aku akan kembali ke Karawang. Tapi gak sekarang. Abi minta beberapa hari dan kamu bersabarlah sedikit, kita akan diskusikan apa yang kamu inginkan setelah dari sini,” ucap Daffi menjelaskan.“Iya, Pak Dokter. Udah ya, gak usah jelasin kapan pulang dan jelasin apapun. Aku betah, aku kerasan, oke? Gak balik sekarang juga gak papa, aku oke. Dont worry.”Daffi tak mengerti dengan jalan pikiran Sisi. Kenapa dia bisa sesantai itu setelah membuatnya cemas setengah mati. Bahkan, dia mencermati kata kata Sisi yang seolah mengatakan ‘dia marah tapi dia tak kuasa.’

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 12

    Dafi mencoba menghubungi Sisi. Sialnya, panggilan tak aktif dan tak bisa dihubungi. Sampai dini, Daffi terjaga. Dia menunggu Sisi yang tak kunjung kembali ke kamarnya. Dia bahkan sampai keluar kamar lagi jam 3 dini hari. Mencari di sekitaran pondok dan seluruh ruangan. Berharap wanita itu terlihat di tempat tempat yang dia tuju.“Gus Daffi?”Santriwati yangs tengah mengambil air wudu untuk sholat tahajud kaget melihat Daffi yang tiba tiba muncul di jalan menuju tempat wudhu. Mereka menundukan pandangan, khawatir jadi fitnah mereka bertemu di tempat wudhu wanita. Mereka juga heran, kenapa Daffi sampai mendatangi tempat yang dilarang didatangi para pria itu.“Maaf. Saya hanya mencari istri saya. Kalian melihat?”“Belum kembali, Gus?”Wanita yang tadi bertemu Sisi mendongak kaget, lalu kembali bertanya. “Belum kembali Ning Sisinya?”“Kalian tahu ke mana dia pergi?” tanya Daffi mencoba menguasai rasa penasarannya.“Tadi beliau bilang mau ke luar sebentar.”“Jam berapa pergi?”“Jam seten

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 11

    Pesan dari Tery membuat Sisi tersenyum. Teman satu tim khusus yang selalu mengajak dia curhat dan membahas misi yang menegangkan itu seolah tahu situasi gabutnya.“Gak baik.”Tak lama kemudian, Tery menghubunginya lewat panggilan telepon. “Hai, Sisi.”“Gue kira lupa sama wajah teman sendiri,” gerutu Sisi saat temannya itu menyapanya ceria.“Ya elah, berat banget hidup lo. Cerita coba cerita,” kekeh Tery.“Lo di mana?”“Rumah, baru rapat di markas tadi. Ada Jenderal Edi juga datang.”“Ada masalah lagi ya?”“Mayan, sempat ada perdebatan tadi. Ya gak masalah sih, udah mulai biasa lagi. Ini gue lagi diminta Pak Aris buat ke Bogor lagi.”“Ada apa?”“Ada musuh mulai mendekat, tapi ini juga permintaan Jenderal Edi buat rolling sama anak anak di sana. Hazel lagi bikin alat baru, Dio lagi sama dia. Dibantu sama rekannya juga, entah siapa lagi. Gue nggak tanya. Gue gak kebagian misi bikin alat itu.”“Pasti seru nih ketemu banyak anak anak lain. Coba bujukin Kapten Hazel, peran gue diganti aj

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 10

    Daffi melirik pada Ustad Yahya yang tersenyum. Dia memang memilih banyak istri, salah satunya Aisyah–mantan istri Kenzi yang merupakan kakak Andini. “Satu atau dua, kalau adil ya nggak apa apa,” ustadz Ibnu menanggapi.Wajah Daffi mendadak tegang, lebih jelasnya dia kesal dengan sanggahan ayahnya. Dia pun memilih berdiri lalu izin pamit pergi dari sana. Sisi tadinya hendak berdiri dan ikut, tapi Andini sudah lebih dulu berdiri dan menyusul Daffi. Dia pun urung dan akhirnya duduk di sisi Umi Rodiah. Cukup lama Daffi tak kembali, membuat Sisi jadi ikut tak tenang. Dia pun berbisik pada Umi Rodiah, meminta izin untuk menyusul suaminya.“Iya, sekalian panggil suamimu. Pak Kyai sama anak anaknya mau pamit katanya.”Sisi mengangguk, lalu berdiri dan menyusul Daffi. Dia mencari lelaki itu ke kamar, tapi tak ada. Dia pun bertanya pada Edah dan Ratmi yang ada di dapur, mereka juga tak tahu.“Tadi bukannya di depan?” tanya Edah.“Tadi ke belakang, aku kira ke sini.”“Coba Emak cari,” ucap Ed

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 9

    “Itu di depan ada tamu. Kamu temani Daffi saja, Nduk,” ucap Edah saat sore Sisi menyusul Edah ke dapur ndalem.“Tamu siapa, Mak?” tanya Sisi penasaran.“ADa dari Jombang, keluarga Abah. Mau kenalan mungkin,” jawab Edah dengan ramah. Sisi mengangguk, hendak membantu sebisanya apa yang dilakukan mertuanya itu. Di belakangnya, Alifah sedang menata teh. “Umi, menantunya yang ini kok yang duduk di depan yang satunya lagi?” sindir Alifah.Sisi menengok sengit pada gadis yang sejak kemarin mencari masalah dengannya. Entah kenapa dia jadi tidak suka dengan santri yang satu itu. “Ya daripada sama situ, mana mau suamiku mau. Ya kan, Mak?” ketus Sisi.Edah tersenyum dan mengusap pundak menentunya. “Udah, ini bawa ke depan. Sekalian temani suamimu. Nggak usah diladeni.”“Habisnya, masih santri aja belagu,” gerutu Sisi.“Sabar.”Sisi mengangguk dan membawa nampan berisi camilan. Alifah juga membawa nampan berisi minuman. Sebagai santri senior, kadang perilakunya terlewat berkuasa sehingga Sisi

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status