LOGIN**
Pagi hari dengan aktivitas yang sama, Sisi bersiap membuat dagangan bubur. Hanum ke pasar pun dia kawal karena tugasnya memang menjaga wanita itu. Selama dalam perasingan, tak ada komuniaksi dan kabar smeentara waktu dari keluarga Hirosy karena semua sudah diatur oleh Glen.“Ini apa, Mrs?” tanya Sisi.“Kalau lihat jamur enoki, ingat sama Zio. Bagaimana kabar mereka ya?”“Pastinya baik baik saja.”Saat berjalan hendak pul“Andai itu Ayah, sudah dipastikan dia akan selalu melindungiku di mana pun berada,” batin Sisi dengan penuh rasa syukur karena ayah angkatnya itu bukan orang sembarangan yang bisa menyamar dan bersikap seolah dia adalah rakyat jelata. Hanya orang orang tertentu yang bisa melakukan penyamaran itu dan setengah yakin, SIsi mengira itu adalah Edi.Pulang ke rumah susun, Sisi melihat Hanum yang sudah pulas. Ada rasa tak tega juga melihat wanita itu tidur sendirian tanpa anak dan suaminya. Namun, tugas ini tak akan selamanya. Sisi yakin, Hirosy dan anak anaknya akan menjemput.Sisi mandi setelah badan terasa lengket. Jam 1 dini hari SIsi baru siap untuk mandi. Namun, dia sempatkan duduk di balkon rumah dan melihat ke arah parkiran rumah susun di bawah sana. Ada sebuah mobil yang terlihat sangat aneh. Sisi berdiri dan segera mengambil teropong kecil miliknya. Khawatir ada yang diam diam membuntutinya.“Itu_”Sisi bangkit dan segera tu
Perhitungan Sisi buka usaha di Bogor sepertinya salah. Omset yang didapatkan tidak sebesar saat di Jakarta. Dia pun hanya bisa menyimpan sisa modal untuk memutar dan membayar sewa, selebihnya dia seperti para kaum menengah ke bawah yang kekurangan biaya.Sisi harus memastikan kebutuhan Hanum tercukupi. Dia menolak Hanum ikut berjualan karena tak ingin terlalu lelah. Lokasi jualan dan juga rumah yang tidak begitu dekat membuat Sisi hanya memperbolehkan Hanum menemaninya saat menata dagangan saja. “Mrs pulang dulu gak papa.”“Kamu ini, malam ini aku ingin menmani kamu. Boleh ‘kan?”“Pulang aja, Mrs. Nggak baik terlalu memaksakan, sudah tua harus jaga kesehatan.”Hanum mencubit pelan tangan Sisi dengan gemas, lalu diantar pulang oleh ojek langganan. Udara bogor begitu dingin. Sisi mendapatkan beberapa pembeli meski jualan nya masih tersisa separuhnya. Sisi melihat jalanan sudah sepi, lalu berkemas unt
Setelah belanja, dia langsung pulang ke rumah susun, berharap Hanum tidak bertanya macam-macam tentang aksinya tadi. Namun, begitu pintu terbuka, Hanum sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap."Kamu tadi belanjanya ke pasar mana?" tanyanya dengan nada curiga."Pasar pagi, Mrs. Biasa, memangnya kenapa? Aku bawa belanjaannya kok," jawab Sisi cepat.Hanum menyipitkan mata. "Masalahnya ini sudah jam 10, Sy. Aku khawatir kalau kamu belum balik. Sebelum ke pasar, kamu ke mana?"Sisi menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ehm… gak ke mana mana lah, cuman tadi papasan sama kawalan jenderal atau apa mungkin. Kebetulan lewat di depanku. Penasaran, aku ikuti lah sampai rumahnya. Udah, gitu aja."Hanum mendesah. "Rumah siapa?"Sisi mengalihkan pandangan. "Rumah siapa, entah. Aku gak kenal..."Hanum langsung menepuk dahinya. "Ya Allah, Sisi! Jangan sampai kamu begini lagi. Aku sanga
**Pagi hari, Sisi pun menyewa mobil pick up. DIa membawa gerobak jualannya dan mengangkut semua isi rumah kontrakan menuju ke bogor. Beruntung rumah itu hanya dikontrak, bukan dibeli sehingga saat dia pergi tak kepikiran harus kembali. Sisi naik ke atas bak pick up, lalu meminta supir untuk melaju sekarang juga. Begitu mobil sudah berjalan, dia melihat Daffi yang ada di dalam mobil dengan Sisi. Dia yang sudah lega dan tak ada ikatan pun tersenyum, lalu memalingkan wajah agar tidak kelihatan oleh keduanya.“Aku tak sakit hati. Aku akan bahagia dan senang kalau Dokter bahagia dengan pilihan Dokter yang sekarang ini.”Sisi mensugesti dirinya dan sendiri dan dia pun tak akan mau lagi mendengar kabar apapun tentang Daffi. Dia akan memulai kehidupan baru menjadi sosok laki laki yang mungkin akan seperti itu sampai keluarga Hiroshi baik baik saja.Begitu sampai, Sisi pun menurunkan barangnya. Kali ini, mereka menyewa
“Dokter, katakan sekarang atau suster di luar sana akan masuk karena mengira Dokter sedang kesulitan menanganiku,” desak Sisi.“Sisi, aku tak bisa mengatakannya, aku…”“Jangan bilang cinta, Dokter. Kamu bahkan menikahiku tanpa cinta, mudah saja bukan? Katakan atau aku akan sangat membenci Dokter. Katakan!”Kali ini Sisi sudah tak sabar, dia menampakkan wajah marahnya karena Daffi terlihat memperlama ucapannya.“Tidak!” ucap Daffi.“Oke, kalau begitu aku akan kirimkan rekaman percakapan Dokter dengan istri baru DOkter jika Dokter menikahi dia karena gimmick. Dan Dokter tahu apa yang akan Dokter dapatkan? EMak mungkin marah dan ABi, mungkin akan_”“Baiklah! Baiklah kalau ini maumu. Aku menalakmu, Aisy Rahmah. Sekarang, haram bagi ku menyentuhmu.” Daffi mengatakan itu dengan tangan yang mengepal. Di saat dia sudah kehilangan Andini, dia juga sudah kehilangan Sisi. Harapannya entah apa sekarang ini, yan
Sisi membuka mata, meraih tangan Daffi. “Dokter, saya takut jarum suntik. Apa boleh dirawat Dokter saja?”Sengaja begitu agar nanti ada ruang di mana dia dan Daffi bisa bicara berdua. “Mas tenang saja. Kami akan memberikan pelayanan dengan baik. Dr Daffi ada praktik lain dan_”“Kalau bukan dia, saya tidak mau. Dia yang menabrak saya,” tegas Sisi pada Dokter yang ada di sana juga.“Sudah Dokter Anwar, pasien ini saya yang urus. Dia begini karena saya buru buru tadi.”Dokter tersebut mengalah dan membiarkan Daffi yang memeriksa. Begitu masuk ruang gawat darurat, Sisi pun kembali membuka mata. Daffi membuka kaki dan lengan Sisi, tapi Sisi mencegah tangannya.“Saya malu ada banyak cewek cewek di sini. Bisakah Dokter saja tanpa mereka?” tanya Sisi.“Ish, banyak maunya,” bisik salah satu perawat di sana.Sisi tak pedulikan hal itu. Yang dia pikirkan hanyalah punya waktu bicara
Sisi mengernyit. "Dia tampak seperti tahanan, bukan istri.""Tidak masalah bagiku selama target tetap target," ujar Glen.Sisi menatap rumah mewah di depannya dengan sorot mata tajam. Ini bukan pertama kalinya dia harus menyelesaikan target dalam kondisi penuh res
Pesan dari Tery membuat Sisi tersenyum. Teman satu tim khusus yang selalu mengajak dia curhat dan membahas misi yang menegangkan itu seolah tahu situasi gabutnya.“Gak baik.”Tak lama kemudian, Tery menghubunginya lewat panggilan telepon. “Hai, Sisi.”“Gue kira lupa sama wajah teman sendiri,” ger
Daffi melirik pada Ustad Yahya yang tersenyum. Dia memang memilih banyak istri, salah satunya Aisyah–mantan istri Kenzi yang merupakan kakak Andini. “Satu atau dua, kalau adil ya nggak apa apa,” ustadz Ibnu menanggapi.Wajah Daffi mendadak tegang, lebih jelasnya dia kesal dengan sanggahan ayahnya.
“Itu di depan ada tamu. Kamu temani Daffi saja, Nduk,” ucap Edah saat sore Sisi menyusul Edah ke dapur ndalem.“Tamu siapa, Mak?” tanya Sisi penasaran.“ADa dari Jombang, keluarga Abah. Mau kenalan mungkin,” jawab Edah dengan ramah. Sisi mengangguk, hendak membantu sebisanya apa yang dilakukan mer







