"Perasaan aku aja atau kamu tambah gemuk?"
"Memang naik lima kilo, Mba.""Yakin? Bukannya lebih?"Shea mencebikkan bibir, tapi tidak menolak ketika Mba Naomi menyodorkan beberapa lembar dokumen untuknya.Yah, bagaimana berat badan Shea tidak bertambah? Suaminya pandai masak. Bukan seperti chef yang ahli, Shea sudah pernah mengatakan ini, tapi masakan Jerikho selalu pas ditambah suaminya seperti paham selera Shea.Dalam beberapa minggu terakhir, praktis hidupnya lebih ringan. Mungkin yang berat hanya bimbingan dengan Bu Winda."Gimana?""Acc Mba tinggal cari tempat untuk runway. Bisa di kampus atau di tempat lain. Aku masih cari referensi.""Cepat juga kamu ya?""Kalau nggak ada yang plagiat dan idenya udah di kepala memang lancar Mba, tapi kalau masih meraba-raba. Empat semester juga nggak akan cukup."Naomi meringis kecut, memilih memalingkan muka ketika Pak Jerikho keluar dari ruangannya untOke tenang inhale-exhale. Mobil ini dilengkapi dengan GPS jadi pasti mudah dilacak. Plus Shea masih pegang ponsel, dia menghubungi Alisa, mengirimkan chat singkat, yang mengabarkan kalau terjadi sesuatu padanya tolong hubungi damkar. "Siapa yang bayar Bapak? Bapak ditawarin uang dua kali lipat?" Karena beliau sudah bersikap blak-blakan, maka Shea pun melakukan hal yang sama. "Atau pertanyaannya salah, sejak kapan Bapak bekerja untuk orang lain selain Abang?" "Saya masih karyawan Pak Jeri." Mobil melaju ke jalanan asing, jantung Shea semakin berdegup kencang. Dalam hati dia menebak-nebak, siapa yang akan bertemu dengannya? Mama Gina, Papa Tony? Atau Adimas? Nama yang terakhir membuat perut Shea mulas. "Nggak ada karyawan yang berkhianat, Pak." "Mba Shea salah, justru banyak karyawan yang diam-diam berkhianat." "Bapak tahu konsekuensinya?" "Saya sudah dilindungi, Mba." Percaya diri sekali dia. Shea meremas ponsel dengan dongkol. Laju mobil perlahan melambat, mereka b
"Sama Pak Aidan.""Memang aku selalu sama beliau.""Langsung pulang.""Abang udah bilang itu empat kali ya.""Aku hanya mengingatkan Shea."Tapi bagaimana Shea bisa lupa?Mereka menjalani segala proses hukum dengan tenang, meskipun dalam praktiknya tim Jerikho menemui banyak hambatan. Tapi, sisi positifnya, hubungan Shea dengan Kalina membaik.Mereka bahkan membuat gaun bersama dan memilih kain yang nyaman untuk dipakai para balita dari desain Shea.Sementara sesuai dugaan berita tentang Jerikho yang menjadi pengacara di sisi korban meledak di media. Itulah kenapa suaminya senewen, karena belakangan ada beberapa wartawan yang nekat memburu berita sampai ke kampus."Abang sendiri jangan lembur terus.""Nggak bisa, ada yang harus dihandle.""Bawa ke rumah kan, bisa Bang."Jerikho hanya melirik Shea sekilas, yang sibuk menyendok ice cream sambil duduk di sofa, mengenakan kaos keb
Betapa lega hati Shea mendengar penuturan suaminya. Senang karena Jerikho berada di sisi yang benar. Di sisi mereka.Saking emosional dia segera mendekap tubuh suaminya. Jerikho balas memeluknya erat sambil menggumamkan kata-kata sayang.Mereka tidak langsung membicarakan masalah kasus hari itu juga. Karena lusa Kalina sudah bisa pulang. Shea tidak ingin membuat Kalina cemas dan takut.Bagaimana pun Jerikho adalah keluarga Adimas, Kalina merasa trust issue, khawatir pendapat Jerikho akan bias."Nggak pa-pa Kal, itu wajar, tapi Abang mau ke sini aja udah nunjukin komitmennya untuk serius. Gimana hasilnya nanti, yang penting kita udah berusaha semaksimal mungkin."Kalina yang awalnya goyah pun akhirnya memantapkan niat melakukan tuntutan. Proses diskusi pertama kali justru terjadi di rumahnya. Di kamar Kalina setelah kepulangan dari rumah sakit.Di sinilah kemudian peran Jerikho dibutuhkan sebagai orang dewasa dan berpeng
Bagaikan bom waktu Jerikho merasa dirinya akan meledak dalam beberapa jam ke depan ketika diskusi dengan Pak Darius kembali alot dan bertele-tele.Tapi sebagian lain dirinya sadar kalau tempramennya yang seperti kucing puber dipengaruhi oleh permintaan sang istri."Abang lihat dulu gimana keadaan Kalina, baru nanti Abang nilai sendiri." Itulah yang istrinya katakan pagi ini, suaranya bergetar antara emosi dan sesak."Dia nggak bohong, aku juga nggak mungkin ngomong asal. Abang udah pernah lihat gimana dulu aku masuk RS."Sial.Kenapa harus terjadi lagi?Jerikho tidak paham dari mana Adimas mendapatkan sifat seperti itu? Kekerasan bukan bagian dari keluarga Lomana. Papa, meskipun brengsek tapi dia tidak pernah menyentuh Mama dengan cara yang tidak pantas, begitu pun Tante Gina. Jerikho menebak ini semua hasil didikan mereka yang terlalu memanjakan Adimas hingga merasa bisa melakukan apapun."Empat jahitan Bang."
"Tolong lihat ke arah cahaya." Dokter Mega menarik kursi ke dekat ranjang. Ia membuka berkas medis, lalu menyalakan senter kecil dari pena. Dia menyorot mata Kalina satu per satu, memastikan reaksi pupil normal. "Bagus, refleks cahaya masih baik. Nggak ada tanda perdarahan di dalam kepala." Tangannya yang lembut lalu meraba pelipis dan tulang pipi Kalina dengan hati-hati. "Masih nyeri di sini?" tanyanya. Kalina meringis pelan. "Iya, Dok." "Baik, itu akibat retakan kecil di tulang pipi. Kita harus bersyukur nggak sampai perlu operasi. Nanti kita observasi saja. Denyut nadi juga stabil. Obat anti nyeri intravena semalam sudah diminum kan?" "Sudah, Dok." "Bagus, sekarang kita bisa ganti dengan obat oral supaya lebih nyaman ya." "Baik, Dok." "Masih mual nggak?" Kalina menggeleng, dokter Mega kemudian berkata itu berarti lambung Kalina membaik karena saat pertama kali datang Kalina sempat muntah-muntah. Ada kelegaan dalam diri Shea ketika kemudian dokter paruh baya bers
Wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan, beberapa helai menempel di kening yang basah keringat. Mata kirinya tampak bengkak dan memar kebiruan, bibir bawah pecah, dan ada guratan merah di pelipisnya. Lengan kanan terbalut perban, sementara pergelangan tangannya tampak memar keunguan, seakan dicengkram atau ditarik keras. Kalina mengenakan baju pasien longgar warna hijau muda, bagian lengannya tersingkap memperlihatkan lebam-lebam yang tidak beraturan. Jelas saja ini bukan jatuh dari kamar mandi! Kalina selalu tampil cantik, rapi dan aestetik, tapi adakah penampilan temannya itu yang lebih buruk dari ini? Alisa di sampingnya membekap mulut. Mata mereka dengan cepat memburam. Menjadi satu gumpalan emosi yang mendesak di tenggorokan. "Kenapa nggak langsung ngomong!" Satu-satunya yang bisa mereka ucapkan hanyalah itu. Sebelum Shea dan Alisa jatuh meraung di samping Kalina. Ini situasi yang sulit, sampai Kalina mera