로그인"Akhirnya kesini ya, Syifa."
Syifa memutar bola matanya mendengar nada menggoda pegawai kesayangan sang papa, Candra. Memilih tidak mendengarkan dengan mengikuti papanya menuju ruangan, langkahnya terhenti saat papanya berhenti dihadapannya."Ruangan kamu sama Miko, bukan papa.""Berdua? Mas Candra dimana?" Syifa menatap apa yang dikatakan papanya tidak percaya."Candra ya disitu juga, nanti ada Mbak Esti. Kamu masih inget kan sama Mbak Esti?" Syifa mengan"Terima kasih bapak mau invest disini." "Saya percaya sama kamu, jangan buat saya rugi." Aryo menganggukkan kepala mendengar permintaan pemilik tempat gym "Yo, saya mau kamu jadi trainer khusus seseorang, dia bilang kenal kamu dengan baik." Aryo mengerutkan keningnya "Siapa, pak? Saya nggak tahu dan ingat, maaf yang saya latih bukan satu dua orang." Nanda menganggukkan kepala "Saya sempat cek data dia disini dan tidak pernah menjadi trainee disini, makanya saya tanya terlebih dahulu kamu gimana? Namanya...Neni."Aryo membelalakkan matanya, wanita itu tidak menyerah sama sekali "Apa bapak akan marah kalau saya menolak?" "Kenapa? Kasih saya alasan. Kamu kenal sama dia?" "Ya. Saya tidak mau berhubungan dengan dia lagi, saya tidak mau menyakiti orang terutama kekasih saya." Aryo mengatakan dengan nada tegasnya."Kamu benar menolak?" Nanda memastikan dengan menatap dalam Aryo."Ya.""Baiklah, saya akan
"Nikah? Aryo? Yakin?" "Kenapa gitu reaksinya, om? Om tahu kalau hubungan ini serius, terus kenapa kaget begitu?" Syifa langsung menuju ke rumah Teddy setelah mengantarkan Aryo ke tempat gym, gagal melakukan olahraga bersama tidak membuat mereka tidak bertemu. Syifa membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara, Maya sudah bekerja yang tidak tahu dimana sekarang, sedangkan Indah jelas tidak bisa diajak bicara karena lambatnya dalam berpikir. Syifa jelas tahu apa yang dilakukan salah dimana Teddy bukan orang yang tepat dengan masa lalu mereka, padahal Aryo sendiri sudah tidak berhubungan dengan Neni."Kamu tahu kalau dia...""Aku tahu dan sangat ingat, lalu? Semua punya masa lalu om, aku terima dia artinya menerima semua. Om juga begitu sama tante, bukannya lebih baik om harus memutuskan masa depan pernikahan kalian, memang om nggak kasihan tante?" "Kamu tahu kalau aku bertahan agar dia nggak menggoda Aryo dan akhirnya kamu tersakiti."
"Aku nggak marah sama kamu, aku kesal sama cewek itu. Apaan sok-sokan kamu adalah calon kakak ipar yang diharapkan, padahal kakaknya punya cewek lain. Dia nggak menghargai kekasih kakaknya, kalau Aldi begitu sudah kupukul kepalanya.""Kamu bisa dapat omelan dari ibu," ucap Syifa menggoda Aryo yang menatap tajam."Sayang, aku serius ini. Kamu malah bercanda." Aryo memberikan tatapan kesalnya."Aku juga nggak ngomong sama dia.""Ada aku makanya kamu nggak ngomong sama dia, coba nggak ada pastinya kalian bakal ngobrol karena apa? Karena adiknya semangat buat dekatin kalian lagi!" "Penting yang dapat lampu hijau dari papa itu kamu bukan dia, sayang." Syifa menyandarkan kepala di bahu Aryo "Aku nggak mau kita tengkar masalah nggak penting, sekarang kita fokus sama acara pernikahan.""Kayaknya kamu harus pulang kalau nggak mau ikut aku." Aryo mengingatkan Syifa yang seketika cemberut "Gimana?""Aku malas ikut kamu."
"Kenapa cemberut? Jarang loh kita keluar dari pagi begini, sayang. Kamu mau kemana? Senam? Kita ke tempat gym aja gimana?" "Nggak mood. Kamu kemarin kenapa setuju ngajak orang tua kerumah? Memang kamu siap sama pernikahan?" "Aku lupa kasih tahu kamu kabar baik. Setelah kamu sampai rumah dan aku mau pesan kendaraan online calon nasabah atau orang yang aku temui bilang mau transfer, bukan hanya seratus tapi dua ratus. Aku langsung kerumahnya buat tanda tangan segala macam, untungnya aku selalu bawa berkas kerjasama.""Serius? Wah...selamat..." Syifa memeluk Aryo erat, tidak lupa mencium pipi berulang kali "Terus kenapa langsung setuju? Kita setidaknya bisa ngomong dulu, aku kan pengen dilamar romantis."Aryo tertawa mendengar kalimat Syifa, mencubit hidungnya gemas "Bilang kalau mau begitu, sayang. Aku nggak ahli buat begituan, jadi kapan kita mulai bahas masalah pernikahan? Kamu maunya gimana?""Bahas dimana? Tempat gym? Nggak mau aku."
"Broker? Udah dapat orang? Nasabah maksudnya.""Belum, om." Aryo menjawab semua pertanyaan Rahmad dengan sangat sopan.Acara dirumah Aryo terpaksa diundur, Rahmad meminta Aryo datang kerumah. Syifa yang sudah tidak memiliki alasan memilih mengalah dengan mengajak Aryo kerumah, duduk bersama dengan mendengarkan pembicaraan mereka berdua, walaupun mamanya meminta tetap di dapur."Kapan rencana kamu nikah? Hubungan kalian akan ke pernikahan, kan?" tanya Rahmad.Aryo menganggukkan kepalanya "Saya sudah mengajak Syifa menikah, om. Pernikahan bukan hanya tentang cinta dan nafsu, banyak hal yang harus dipertimbangkan termasuk kerja. Saya baru keterima kerja dimana hasilnya belum terlihat, sedangkan Syifa sendiri masih ingin menggapai impiannya." "Lalu?" "Mungkin setelah Syifa dapat pekerjaan, om." "Syifa sudah kerja di tempat om, apa kamu keberatan?" Aryo menggelengkan kepalanya "Kamu tahu apa yang diinginkan Syifa?" Aryo ke
"Aku kemarin datangi suaminya Tante Neni buat minta invest.""Lalu?" Syifa menatap penasaran.Syifa belum bertemu dengan Teddy, tapi rencananya mereka akan melakukan speda bersama menggunakan sepeda tandem. Syifa hanya mengikuti saja keinginan dan rencana Teddy, tampaknya hal ini akan menjadi topik pembahasan mereka, dimana Syifa akan meminta tolong juga."Dia ngatain aku. Aku cuman diam karena bagaimanapun aku pernah salah. Dia kasih aku kesempatan buat jelasin secara detail karena dia yang akan pegang sendiri nantinya kalau cocok dan paham sama penjelasanku. Menurut kamu ini dia bakal invest nggak?" "Mungkin, kalau dari ceritamu dia akan melakukan apa yang dikatakan." Aryo menganggukkan kepalanya "Sayang, sebenarnya...waktu kita ketemuan terakhir kemarin...aku ketemu...Tante Neni....""Lalu? Kamu nggak..."Aryo menggelengkan kepalanya "Waktu kita ketemu sebenarnya aku merasa bersalah sama kamu, sayang. Dia mau bantui







