Masuk"Sampai jam berapa sama Aryo?"
"Nggak lama kita langsung pulang." "Pembicaraan kalian menarik banget sampai-sampai kita mau masuk jadi bingung." Ranu mengangguk setuju. Syifa menggelengkan kepalanya "Kalian bisa langsung gabung kok." "Perhatian semua! Hari ini kita tandem dengan berpasangan." Syifa menatap Rania dan Ranu yang langsung memilih bersama, melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Menatap sekitar tampaknya Aryo tidak datang, bisa saja dirinya memang sibuk dengan pekerjaan atau urusannya, tampaknya memang Syifa akan melakukannya sendiri. "Maaf saya terlambat." Aryo melangkah masuk dan langsung mengambil tempat disamping Syifa "Tandem ya?" "Kok tahu?" tanya Syifa mengerutkan kening. "Jadwalnya begitu, kamu nggak baca?" Syifa tersenyum tidak enak "Kamu udah paham atau belum?" Syifa memilih menggelengkan kepalanya. "Kamu naik apa kesini?" tanya Syifa mengeluarkan tissue yang langsung diterima Aryo. "Rencananya motor tapi adik lupa isi bensin, makanya telat karena naik angkot. Bau ya badanku?" Aryo mencium ketiaknya yang dijawab Syifa dengan gelengan kepala "Langsung aja ya? Aku jelasinnya sambil praktek." Mendengar dan melihat cara Aryo melakukan apa yang menjadi tugas mereka, sesekali menatap wajah Aryo yang serius menerangkan dan menjelaskan dengan sangat sabar. Syifa beberapa kali bertanya tentang hal-hal yang tidak dipahami, mereka fokus dengan tugas sampai tidak menyadari jika waktu tidak lama lagi selesai. "Selesai juga akhirnya!" Syifa tersenyum lega dengan menatap Aryo yang juga tersenyum "Kemana setelah ini?" "Kamu mau kemana? Nongkrong di tempat kemarin lagi? Masih ada ingin yang dibahas?" Aryo memberikan tatapan dan suara lembutnya. "Nggak, aku hanya bertanya." Aryo tersenyum mendengar nada suara Syifa "Padahal masih ada yang ingin aku bahas, tapi kalau kamu nggak ada ya..." "Baiklah, kamu bisa nyetir? Rasanya aku lelah seharian ini, kamu keberatan?" "Nggak masalah, tapi apa nggak papa?" "Nggak papa, aku percaya sama kamu." Syifa menyerahkan kunci mobil pada Aryo. Tempat yang sama, tapi pembahasan yang sedikit berbeda dimana pembahasan kali ini lebih ringan. Mereka membahas tentang kehidupan setiap hari, apa saja kegiatan mereka. Syifa tidak percaya jika Aryo memiliki pekerjaan lain yaitu pelatih disalah satu gym, bukan pelatih resmi tapi apabila yang mau dilatih maka dia akan melatihnya dan sayangnya mereka tidak bertahan lama karena rasa malas atau mencari tempat gym lainnya. "Mau aku latih? Private nggak masalah." Syifa menggelengkan kepalanya "Aku malas kalau olahraga, tapi badanmu nggak kayak orang gym." "Mau aku buka?" Aryo bertanya dengan nada santai. "Aurat." Syifa menggelengkan kepalanya. "Bagian atas nggak masalah dilihat, gimana sih?" Aryo mengatakan dengan nada malas sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu nanti pulang naik apa?" tanya Syifa ketika mengingat kondisi Aryo saat berangkat tadi. "Angkot lagi, mau anterin ke rumah? Ketemu orang tuaku, gimana?" "Ngapain?" Syifa mengerutkan keningnya. "Kenalan sebagai calon mantu." Syifa menggelengkan kepalanya "Kita baru kenal, gimana bisa langsung calon mantu. Kasihan cewekmu nanti, kita juga nggak saling kenal dan dekat." "Banyak yang melalui proses taaruf, bukannya lebih baik. Kita udah dua kali komunikasi tanpa orang lain, jadi cukup saling mengenal. Apa mau satu kali lagi biar meyakinkan?" Syifa membelalakkan matanya "Nggak lucu, Yo. Kita baru kenal, ngobrol juga baru terus sekarang tiba-tiba kenalan sama orang tuamu. Ngarang kamu, ajak cewek kamu ajalah." Aryo tertawa seketika melihat ekspresi Syifa "Aku bercanda, tapi ada kok yang baru kenal langsung yakin menikah. Apa salah kalau aku memang melakukan itu? Namanya aja udah merasa pas jadi buat apa lama-lama. Bukankah pacaran itu nggak boleh?" "Memang, tapi aku nggak menganut hal itu. Udah ah...kita pulang aja keburu malam. Aku antar aja kamu daripada naik angkot." Mereka keluar dari cafe, Aryo tetap yang menyetir karena merasa tidak enak dimana dia lelaki dan Syifa yang menyetir. Perjalanan mereka tidak pernah sepi karena ada saja yang dibahas dan kali ini tentang kehidupan pribadi mereka, mendengarkan satu sama lain dan beberapa kali tangan Aryo menggenggam tangan Syifa. "Jadi kamu sekarang tugas akhir?" "Kamu juga?" Syifa sama sekali tidak menyangka jika mereka sama-sama berada di semester akhir, tadinya dia mengira jika Aryo sudah lulus dan bekerja karena memang penampilannya yang dewasa. Gambaran sedikit tentang Aryo, dia tidak berbeda jauh dengan lelaki pada umumnya diluar sana. Aryo bukan pria yang tampan dengan kulit putih, ekspresi wajah yang dingin tapi hangat. Semua itu tidak ada dalam diri Aryo, dimana pastinya Aryo berbeda dengan mantannya Hans. "Hati-hati di jalan, jangan ngebut." "Aku nggak pernah ngebut," ucap Syifa dengan ekspresi kesalnya. "Besok mau ketemu?" tanya Aryo dengan nada penuh harap "Aku ajak ke tempat gym, biar kamu olahraga." "Nggak, malas aku kalau berhubungan dengan olahraga." Syifa seketika menggelengkan kepalanya. "Kalau gitu kita ketemu lusa." Syifa menganggukkan kepalanya ragu "Kalau aku pengen ketemu besok, apa harus ada alasan?" Tatapan mereka bertemu dan Syifa bisa melihat tatapan Aryo yang tidak bisa diartikan, dimana tatapan yang sama ketika Syifa bersama dengan mantannya dulu. Kedekatan mereka ini membuat Syifa bertanya apa semua ini wajar atau tidak, semua terasa cepat dan takut dalam mengenal perasaannya. "Nggak harus. Kalau mau datang aja ke kampus besok jam dua belas. Rumah kamu dekat dari kampus aku, gimana? Bisa jam dua belas?" "Ok, aku akan datang." Kendaraannya bergerak meninggalkan Aryo yang masih di tempatnya, hembusan napas panjang dikeluarkan dan meyakinkan diri jika apa yang dilakukannya adalah benar dan masih wajar. Harapan Syifa saat ini adalah penilaiannya tentang Aryo tidak salah, dua kali pertemuan dirinya merasa jika Aryo adalah pria baik dan tanggung jawab. Hembusan napas kembali dikeluarkan kali ini dengan kasar, hal pertama dimana Syifa tertarik dengan pria secepat ini. Pria yang baru ditemui dan dikenal, pria yang mengajak diskusi tentang hal yang tidak disukai dan sekarang menyukainya. Papanya akan senang kalau tahu jika dia bisa diajak diskusi mengenai saham, Syifa tidak yakin bisa mengelola saham seperti harapan papanya, tapi kedekatan dengan Aryo membuat Syifa yakin melakukannya. "Kenapa kerja dirumah, pa? Biasanya papa nggak pernah bawa kerjaan dirumah." Rahmat menatap Syifa dengan senyum lelahnya "Revisi berkas tender besok. Gimana tadi? Menyenangkan?" "Lumayan, aku keatas dulu. Mas, aku tinggal dulu." Syifa mengangguk sopan pada salah satu karyawan papanya dan mencium pipi papanya sebelum berjalan keatas. "Kita harus dapatin tender besok, Ko. Kamu udah dikasih tahu sama Candra, kan?" Suara papa dan pegawainya sudah tidak terdengar, memasuki kamar dan membaringkan badannya. Mengingat pertemuan dengan Aryo seketika jantungnya kembali berdetak, Aryo memiliki magnet yang membuat dirinya ingin bertemu kembali. Syifa mengambil ponsel, menatap nama Aryo disana dan seketika gatal menghubungi. "Apa nggak boleh kangen?""Terima kasih bapak mau invest disini." "Saya percaya sama kamu, jangan buat saya rugi." Aryo menganggukkan kepala mendengar permintaan pemilik tempat gym "Yo, saya mau kamu jadi trainer khusus seseorang, dia bilang kenal kamu dengan baik." Aryo mengerutkan keningnya "Siapa, pak? Saya nggak tahu dan ingat, maaf yang saya latih bukan satu dua orang." Nanda menganggukkan kepala "Saya sempat cek data dia disini dan tidak pernah menjadi trainee disini, makanya saya tanya terlebih dahulu kamu gimana? Namanya...Neni."Aryo membelalakkan matanya, wanita itu tidak menyerah sama sekali "Apa bapak akan marah kalau saya menolak?" "Kenapa? Kasih saya alasan. Kamu kenal sama dia?" "Ya. Saya tidak mau berhubungan dengan dia lagi, saya tidak mau menyakiti orang terutama kekasih saya." Aryo mengatakan dengan nada tegasnya."Kamu benar menolak?" Nanda memastikan dengan menatap dalam Aryo."Ya.""Baiklah, saya akan
"Nikah? Aryo? Yakin?" "Kenapa gitu reaksinya, om? Om tahu kalau hubungan ini serius, terus kenapa kaget begitu?" Syifa langsung menuju ke rumah Teddy setelah mengantarkan Aryo ke tempat gym, gagal melakukan olahraga bersama tidak membuat mereka tidak bertemu. Syifa membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara, Maya sudah bekerja yang tidak tahu dimana sekarang, sedangkan Indah jelas tidak bisa diajak bicara karena lambatnya dalam berpikir. Syifa jelas tahu apa yang dilakukan salah dimana Teddy bukan orang yang tepat dengan masa lalu mereka, padahal Aryo sendiri sudah tidak berhubungan dengan Neni."Kamu tahu kalau dia...""Aku tahu dan sangat ingat, lalu? Semua punya masa lalu om, aku terima dia artinya menerima semua. Om juga begitu sama tante, bukannya lebih baik om harus memutuskan masa depan pernikahan kalian, memang om nggak kasihan tante?" "Kamu tahu kalau aku bertahan agar dia nggak menggoda Aryo dan akhirnya kamu tersakiti."
"Aku nggak marah sama kamu, aku kesal sama cewek itu. Apaan sok-sokan kamu adalah calon kakak ipar yang diharapkan, padahal kakaknya punya cewek lain. Dia nggak menghargai kekasih kakaknya, kalau Aldi begitu sudah kupukul kepalanya.""Kamu bisa dapat omelan dari ibu," ucap Syifa menggoda Aryo yang menatap tajam."Sayang, aku serius ini. Kamu malah bercanda." Aryo memberikan tatapan kesalnya."Aku juga nggak ngomong sama dia.""Ada aku makanya kamu nggak ngomong sama dia, coba nggak ada pastinya kalian bakal ngobrol karena apa? Karena adiknya semangat buat dekatin kalian lagi!" "Penting yang dapat lampu hijau dari papa itu kamu bukan dia, sayang." Syifa menyandarkan kepala di bahu Aryo "Aku nggak mau kita tengkar masalah nggak penting, sekarang kita fokus sama acara pernikahan.""Kayaknya kamu harus pulang kalau nggak mau ikut aku." Aryo mengingatkan Syifa yang seketika cemberut "Gimana?""Aku malas ikut kamu."
"Kenapa cemberut? Jarang loh kita keluar dari pagi begini, sayang. Kamu mau kemana? Senam? Kita ke tempat gym aja gimana?" "Nggak mood. Kamu kemarin kenapa setuju ngajak orang tua kerumah? Memang kamu siap sama pernikahan?" "Aku lupa kasih tahu kamu kabar baik. Setelah kamu sampai rumah dan aku mau pesan kendaraan online calon nasabah atau orang yang aku temui bilang mau transfer, bukan hanya seratus tapi dua ratus. Aku langsung kerumahnya buat tanda tangan segala macam, untungnya aku selalu bawa berkas kerjasama.""Serius? Wah...selamat..." Syifa memeluk Aryo erat, tidak lupa mencium pipi berulang kali "Terus kenapa langsung setuju? Kita setidaknya bisa ngomong dulu, aku kan pengen dilamar romantis."Aryo tertawa mendengar kalimat Syifa, mencubit hidungnya gemas "Bilang kalau mau begitu, sayang. Aku nggak ahli buat begituan, jadi kapan kita mulai bahas masalah pernikahan? Kamu maunya gimana?""Bahas dimana? Tempat gym? Nggak mau aku."
"Broker? Udah dapat orang? Nasabah maksudnya.""Belum, om." Aryo menjawab semua pertanyaan Rahmad dengan sangat sopan.Acara dirumah Aryo terpaksa diundur, Rahmad meminta Aryo datang kerumah. Syifa yang sudah tidak memiliki alasan memilih mengalah dengan mengajak Aryo kerumah, duduk bersama dengan mendengarkan pembicaraan mereka berdua, walaupun mamanya meminta tetap di dapur."Kapan rencana kamu nikah? Hubungan kalian akan ke pernikahan, kan?" tanya Rahmad.Aryo menganggukkan kepalanya "Saya sudah mengajak Syifa menikah, om. Pernikahan bukan hanya tentang cinta dan nafsu, banyak hal yang harus dipertimbangkan termasuk kerja. Saya baru keterima kerja dimana hasilnya belum terlihat, sedangkan Syifa sendiri masih ingin menggapai impiannya." "Lalu?" "Mungkin setelah Syifa dapat pekerjaan, om." "Syifa sudah kerja di tempat om, apa kamu keberatan?" Aryo menggelengkan kepalanya "Kamu tahu apa yang diinginkan Syifa?" Aryo ke
"Aku kemarin datangi suaminya Tante Neni buat minta invest.""Lalu?" Syifa menatap penasaran.Syifa belum bertemu dengan Teddy, tapi rencananya mereka akan melakukan speda bersama menggunakan sepeda tandem. Syifa hanya mengikuti saja keinginan dan rencana Teddy, tampaknya hal ini akan menjadi topik pembahasan mereka, dimana Syifa akan meminta tolong juga."Dia ngatain aku. Aku cuman diam karena bagaimanapun aku pernah salah. Dia kasih aku kesempatan buat jelasin secara detail karena dia yang akan pegang sendiri nantinya kalau cocok dan paham sama penjelasanku. Menurut kamu ini dia bakal invest nggak?" "Mungkin, kalau dari ceritamu dia akan melakukan apa yang dikatakan." Aryo menganggukkan kepalanya "Sayang, sebenarnya...waktu kita ketemuan terakhir kemarin...aku ketemu...Tante Neni....""Lalu? Kamu nggak..."Aryo menggelengkan kepalanya "Waktu kita ketemu sebenarnya aku merasa bersalah sama kamu, sayang. Dia mau bantui







