LOGIN
"Gimana penampilanku?"
"Baik, mau kemana? Ada cowok yang kamu suka?" Syifa tersenyum malu kearah sahabatnya, Maya. "Aku lagi suka sama cowok yang di tempat kursus. Papa lagi suruh aku pelajari tentang saham, padahal aku sama sekali nggak ada minat kearah sana." "Bagus ada yang kamu pelajari bukan hanya psikologi aja, kamu nggak cocok jadi psikolog." Syifa mengerucutkan bibirnya mendengar kalimat Maya berulang kali "Udah, aku berangkat." "Cowoknya cakep nggak?" tanya Maya dengan nada menggoda. "Biasa, kamu tahu kalau aku nggak pernah lihat wajah. Buat aku terpenting hatinya bukan lainnya." "Duit juga kali, Syif." Maya menggelengkan kepalanya "Udah sana...aku juga mau siap-siap ke tempat kerja." Lahir dari keluarga pebisnis, papanya adalah perintis di dunia kontraktor dan perusahaannya sekarang sudah terkenal di kalangan kontraktor sendiri dan masuk dalam pemerintahan. Tidak ada yang mempunyai jiwa kearah sana diantara saudaranya, termasuk dirinya sendiri. Setidaknya papanya memiliki karyawan kepercayaan, karyawan yang bisa diandalkan dan menjadi kaki tangannya. Menghela napas panjang saat mobil sudah berada di tempat parkir salah satu bank, dimana didalamnya ada tempat mempelajari saham. Syifa tidak tahu alasan dibalik papanya meminta belajar tentang saham, walaupun tahu jika papanya sudah memasukkan beberapa nominal uang untuk bermain saham. Jiwa bisnisnya akan selalu datang setiap melihat peluang sekecil apapun, walaupun Syifa sendiri tidak terlalu paham. "Kosong?" Syifa bertanya sopan pada salah satu gadis yang duduk sendiri. "Kosong, silakan. Rania." "Syifa." Syifa membalas uluran tangan Rania dengan senyum lebarnya "Baru?" Rania menganggukkan kepalanya "Kayaknya nggak banyak yang ikut." "Kayaknya gitu." Mereka memilih diam karena tidak tahu harus berbicara apa, beberapa orang masuk dan kelas dimulai. Syifa mencatat apa yang diajarkan dan mungkin hanya sebagai catatan tidak lebih, dimana tidak akan membuka catatan itu sampai kapanpun. Tepukan di bahu membuat Syifa menatap ke belakang, tampak cowok yang ingin berbicara dengannya. "Kamu sudah dapat kelompok?" Syifa mengerutkan keningnya "Kita berempat jadi satu kelompok, gimana? Aryo. Dia Ranu." Syifa menatap cowok satunya yang mengulurkan tangan. "Syifa dan Rania." Syifa menerima uluran tangan mereka dan memperkenalkan Rania yang disampingnya "Kita satu kelompok?" Aryo menganggukkan kepalanya "Ran, gimana?" "Terserah, aku ngikut." Berempat mulai membahas tentang tugas yang diberikan, mereka diminta membuat akun untuk bisa masuk dalam program belajar saham. Kelompok dibuat agar mereka bisa diskusi tentang keadaan ekonomi secara global dan dalam negeri, selanjutnya mereka memutuskan untuk membeli saham dari perusahaan apa beserta alasannya. Syifa sedikit malas jika harus membaca tentang berita global dan dalam negeri, dimana artinya harus sering berbicara dengan papanya tentang hal ini. Syifa bukan tidak suka atau tidak pernah berbicara dengan papanya, hanya saja topik ini adalah hal yang sangat dibenci dan alasan dirinya mengambil psikologi agar pembahasan dengan papanya bisa beraneka bahan. "Sebenarnya bagus kamu ambil ini, hubungannya dengan psikologi ada." Aryo membuka suara saat mereka hanya berdua. "Apa hubungannya?" Syifa mengerutkan keningnya. "Kondisi psikologis orang tersebut saat mengambil keputusan membeli saham perusahaan A, tapi setelah berapa lama ternyata perusahaan itu nggak mendapatkan untung malah rugi." Aryo mengatakan dengan nada serius. "Kamu kayak ahli banget tentang saham, kamu suka dengan dunia ini?" Aryo menganggukkan kepalanya "Aku pengen jadi broker kayak yang di WTC gitu, tahu kan filmnya?" Syifa menggelengkan kepalanya "Kamu tonton dulu aja baru kita bahas." Syifa akan menonton film tentang broker nanti, nanti yang tidak tahu kapan. Mereka memilih membahas hal lain sampai jam pulang dimana langit sudah berganti warna, melangkah berempat menuju tempat parkir. Langkah Syifa dan Aryo sedikit menjauh dari kedua temannya, pembicaraan mereka semakin menarik dan dalam. "Mau lanjut atau udahan?" tanya Aryo yang membuat Syifa menatap langit. "Lanjut? Nggak papa?" "Aku nggak masalah, kamu gimana? Siapa tahu dicari sama mama papa." "Ih...aku udah dewasa." Syifa mengerucutkan bibirnya. "Dewasa? Yakin? Lanjut dimana? Aku nggak bawa kendaraan, tadi diantar sama adik karena motor cuman satu." Syifa tahu harusnya tidak semudah itu percaya pada lelaki, tapi tidak tahu kenapa dirinya bisa dengan mudah langsung dekat dan nyaman dengan Aryo dan seketika mempercayainya. Mereka menggunakan mobil Syifa dengan dirinya yang menyetir, memilih cafe yang tidak terlalu jauh dari tempat kursus, selama perjalanan selalu saja ada hal yang mereka bahas. Aryo bisa membuat Syifa seketika tertarik dengan saham, padahal ketika berbicara dengan papanya sama sekali tidak ada ketertarikan sama sekali. Hal yang membuat Syifa tertarik adalah cara Aryo yang seakan memahami tentang saham adalah hal menyenangkan, terutama ketika mengetahui perkembangan dunia dimana bukan hanya ekonomi tapi keseluruhan. "Kamu ini anak teknik tapi paham banget, mulai selesai kursus terus perjalanan bahkan di cafe ini kamu mengemas cerita dengan sangat menarik." Syifa mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. "Memang anak teknik nggak boleh tahu tentang saham?" "Nggak juga, aneh aja. Memang yang buat kamu tertarik itu hanya ingin jadi broker? Pasti ada alasan lainnya." "Alasannya ya itu. Tante aku yang dukung keinginanku ini, dia yang biayain." "Kuliah kamu?" "Biaya kuliah nggak terlalu mahal, kuliah di negeri biayanya nggak sebesar swasta. Sekarang udah lulus secara otomatis harus mulai cari uang sendiri." Aryo menjelaskan keadaannya yang diangguki Syifa "Kamu enak semua sudah terpenuhi. Kamu harusnya bersyukur karena papa kamu masih biayain. Beda sama aku yang anak cowok, harus bisa cari uang sendiri setelah lulus ini." "Kamu tinggal dimana? Masih rumah orang tua, kan?" Aryo menganggukkan kepalanya "Ya, belum bisa kalau tinggal sendiri." Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai melupakan waktu, bisa saja terus berlanjut jika ponsel Syifa tidak berbunyi dimana sang mama menanyakan keberadannya dan membuat mereka memutuskan mengakhiri pertemuan dan berjanji akan bertemu besok. Syifa seketika merasa nyaman berada dekat dengan Aryo, meskipun mereka baru bertemu beberapa jam. Syifa seakan mendapatkan teman diskusi yang bisa membuka pikiran dan pandangannya terhadap saham, mungkin kedepan akan ada topik pembahasan dengan papanya tentang saham. "Kita ketemu lusa," ucap Aryo yang diangguki Syifa "Hati-hati di jalan." Pertemuan pertama dengan pembicaraan serius, belum pernah Syifa alami selama ini. Pria-pria dari masa lalunya tidak pernah membahas hal yang terlalu serius, biasanya mereka akan membahas hal ringan, semua itu lebih karena Syifa yang malas. Aryo adalah pria pertama yang membuat Syifa tertarik membahas hal yang berhubungan dengan keuangan dan keadaan global, walaupun dirinya masih meraba dengan bekal mengingat apa yang dikatakan papanya. "Gimana semalam? Suka kamu disana? Apa ada yang dipelajari?""Siapa?" "Tante, minta tolong antar." "Kenapa minta ke kamu? Memang anak-anaknya?" "Masih kecil, sayang. Aku yang fleksibel, sedangkan adikku juga masih sekolah. Kita jadi jalan-jalan ini?" "Jadi. Kamu nggak mau kenalin aku sama tante?" Syifa mengatakan dengan nada ragu."Kamu kenalan sama orang tua aku dulu baru sama tante, sayang. Kamu cemburu? Maaf ya, mau gimana lagi soalnya tante yang biayai kehidupan sehari-hariku." Aryo menggenggam tangan Syifa lembut "Kita ke pantai aja ya, sayang.""Aku ngikut, lagian kamu yang nyetir. Aku udah pamit kalau nginep, aku bilang jalan-jalan sama teman kuliah dan nginap kalau terlalu malam." Mengingat kalimat yang dikatakan mentor itulah membuat Syifa seketika curiga tentang wanita yang dipanggil tante, pikirannya langsung mengarah jika tante itu adalah wanita yang membayar untuk mendapatkan kepuasan. Aryo selalu mengatakan hal yang sama tentang tante tersebut, meyakinkan kalau wanita itu memang tantenya."Tante tahu kamu punya kekasih?" tany
"Perjanjiannya nggak gitu, Aryo!" "Aku nggak mungkin sama tante terus? Tante udah punya suami." "Aku lebih butuh kamu dibandingkan kekasihmu." "Tante Neni, aku juga harus menjalani kehidupan. Kita nggak mungkin terus bersama, aku menemani tante saat kesepian seperti ini dan memberikan apa yang suami tante nggak kasih." "Aku takut kamu akan tinggalin. Apalagi dia cewek yang kamu suka, kalau di perawan pastinya kamu akan milih dia." Neni menatap sedih kearah Aryo."Tante sekarang juga milih sama suami, aku harus melihat kemesraan kalian." "Kamu balas dendam?" Aryo menggelengkan kepalanya "Apa salah aku mencintai seorang wanita? Apa hidupku hanya seputar tante saja? Kita nggak mungkin bersama, tante. Tugasku hanya memuaskan tante di ranjang, hal yang tidak tante dapatkan dari suami." Neni mengangkat sudut bibirnya keatas "Kamu yakin dia cewek baik-baik? Siapa tahu dia udah pernah melakukannya dengan pria lain, apa bedanya sama aku." "Tante nggak usah khawatir. Aku tahu siapa dia.
"Seyakin itu kamu? Hans dulu perlu waktu lama buat kamu cinta, sekarang? Sehebat apa dia? Kamu udah tahu ortunya?" "Nggak tahu yakin atau nggak...aku ngerasa nyambung dan nyaman aja. Aku belum ketemu ortunya, waktu Hans juga aku nggak ketemu ortunya." "Tapi kamu ketemu mamanya setiap ambil raport." "Mama aku yang ketemu mamanya, aku nggak pernah." Syifa mengoreksi kalimat Maya "Aku nggak tahu, May. Aku cuman nyaman aja. Sekarang harusnya ketemu tapi aku alasan, rasanya kayak apa gitu ketemu." "Halah...pret." Maya memutar bola matanya malas "Sana ketemuan aja, lagian habis ini ngapain? Kampus? Tugas akhir udah ACC dan tinggal nunggu sidang aja." Syifa mengerucutkan bibirnya "Aku itu yakin nggak yakin sama dia. Dia partner yang enak diajak diskusi apapun." "Terus si Wildan gimana? Kamu nggak lupa sama dia, kan? Kalian udah jalan lama loh, walaupun terjebak friendzone." Maya mengingatkan tentang keberadaan pria yang selama ini menemani sewaktu masa kuliah.Syifa mengangkat bahunya
"Sampai jam berapa sama Aryo?" "Nggak lama kita langsung pulang." "Pembicaraan kalian menarik banget sampai-sampai kita mau masuk jadi bingung." Ranu mengangguk setuju.Syifa menggelengkan kepalanya "Kalian bisa langsung gabung kok." "Perhatian semua! Hari ini kita tandem dengan berpasangan." Syifa menatap Rania dan Ranu yang langsung memilih bersama, melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Menatap sekitar tampaknya Aryo tidak datang, bisa saja dirinya memang sibuk dengan pekerjaan atau urusannya, tampaknya memang Syifa akan melakukannya sendiri."Maaf saya terlambat." Aryo melangkah masuk dan langsung mengambil tempat disamping Syifa "Tandem ya?" "Kok tahu?" tanya Syifa mengerutkan kening."Jadwalnya begitu, kamu nggak baca?" Syifa tersenyum tidak enak "Kamu udah paham atau belum?" Syifa memilih menggelengkan kepalanya."Kamu naik apa kesini?" tanya Syifa mengeluarkan tissue yang langsung diterima Aryo."Rencananya motor tapi adik lupa isi bensin, makanya telat karena naik an
"Gimana penampilanku?" "Baik, mau kemana? Ada cowok yang kamu suka?" Syifa tersenyum malu kearah sahabatnya, Maya. "Aku lagi suka sama cowok yang di tempat kursus. Papa lagi suruh aku pelajari tentang saham, padahal aku sama sekali nggak ada minat kearah sana." "Bagus ada yang kamu pelajari bukan hanya psikologi aja, kamu nggak cocok jadi psikolog." Syifa mengerucutkan bibirnya mendengar kalimat Maya berulang kali "Udah, aku berangkat." "Cowoknya cakep nggak?" tanya Maya dengan nada menggoda."Biasa, kamu tahu kalau aku nggak pernah lihat wajah. Buat aku terpenting hatinya bukan lainnya." "Duit juga kali, Syif." Maya menggelengkan kepalanya "Udah sana...aku juga mau siap-siap ke tempat kerja." Lahir dari keluarga pebisnis, papanya adalah perintis di dunia kontraktor dan perusahaannya sekarang sudah terkenal di kalangan kontraktor sendiri dan masuk dalam pemerintahan. Tidak ada yang mempunyai jiwa kearah sana diantara saudaranya, termasuk dirinya sendiri. Setidaknya papanya memi







