Share

3

Author: nura0484
last update publish date: 2025-12-07 10:46:11

"Seyakin itu kamu? Hans dulu perlu waktu lama buat kamu cinta, sekarang? Sehebat apa dia? Kamu udah tahu ortunya?"

"Nggak tahu yakin atau nggak...aku ngerasa nyambung dan nyaman aja. Aku belum ketemu ortunya, waktu Hans juga aku nggak ketemu ortunya."

"Tapi kamu ketemu mamanya setiap ambil raport."

"Mama aku yang ketemu mamanya, aku nggak pernah." Syifa mengoreksi kalimat Maya "Aku nggak tahu, May. Aku cuman nyaman aja. Sekarang harusnya ketemu tapi aku alasan, rasanya kayak apa gitu ketemu."

"Halah...pret." Maya memutar bola matanya malas "Sana ketemuan aja, lagian habis ini ngapain? Kampus? Tugas akhir udah ACC dan tinggal nunggu sidang aja."

Syifa mengerucutkan bibirnya "Aku itu yakin nggak yakin sama dia. Dia partner yang enak diajak diskusi apapun."

"Terus si Wildan gimana? Kamu nggak lupa sama dia, kan? Kalian udah jalan lama loh, walaupun terjebak friendzone." Maya mengingatkan tentang keberadaan pria yang selama ini menemani sewaktu masa kuliah.

Syifa mengangkat bahunya "Wildan nggak maju, masak aku harus yang maju? Kalau dia memang suka bilang, aku malah ngerasa dia manfaatin aku aja buat ngerjain tugasnya."

"Ya udah kalau kamu yakin sama si Aryo itu jalanin aja, toh kalian juga nggak langsung nikah." Maya mengatakan dengan nada santainya yang diangguki Syifa "Ketemuan aja sekarang, daripada begini."

"Kayaknya dia sibuk sama kegiatannya, mungkin agak siang deh ketemunya." Syifa membuka pesan terakhir dengan Aryo.

Mereka membahas hal lain termasuk kegiatan Maya yang akan mencoba melamar menjadi pramugari, mendengar hal itu membuat Syifa harus siap berjauhan dengan sahabatnya dari putih biru ini. Mereka berdua terbiasa bersama dalam hal apapun, andaikan Maya menjadi pramugari secara otomatis akan tidak bertemu dalam waktu lama.

"Aku balik dulu ya." Maya berdiri meninggalkan Syifa yang menikmati minumannya di kantin.

Beranjak tidak lama kemudian setelah mendapatkan pesan dari Aryo jika dirinya sedang berjalan menuju kampusnya, memberitahukan letak mobilnya berada agar mereka langsung bertemu disana. Kejauhan Syifa bisa melihat punggung Aryo, berjalan sedikit cepat agar bisa mengimbanginya.

"Mas, godain saya dong." Syifa mengatakan tepat disamping Aryo yang langsung melihatnya.

"Kamu lari? Keringatan begini." Aryo menyeka keringat Syifa yang jatuh di kening dan seketika membuatnya membeku "Cewek cantik begini nggak boleh ada yang godain, aku cemburu." Aryo menggenggam tangan Syifa setelah memastikan keringatnya berkurang "Kita ke tempat gym aku gimana?"

"Astaga! Kamu kenapa pengen banget aku kesana sih? Aku nggak mau kalau disuruh olahraga." Syifa mengeluarkan nada memelas kearah Aryo.

"Aku janjian sama orang buat konsultasi, bukan minta kamu olahraga."

"Cewek atau cowok?"

"Cowok, dia mau ngurusin berat badan. Gimana?" Syifa menganggukkan kepalanya karena tidak tahu mau kemana.

Tempat gym yang dipakai bukan seperti dalam mall, tempatnya kecil dari luar tapi dalamnya lengkap dan bersih. Kedatangan mereka menjadi tatapan beberapa pria, tangan Aryo menggenggam tangan Syifa dan membawanya ke suatu tempat.

"Kamu disini dulu, aku nggak akan lama." Syifa menganggukkan kepalanya.

Tempat Syifa berada bisa melihat keadaan dibawah sana, meskipu tidak semuanya. Syifa bahkan bisa melihat calon klien Aryo, mereka berbicara serius dan tempat ini adalah tempat Syifa pertama kali masuk. Selama menjalin hubungan para kekasihnya tidak ada yang pernah mengajak ke tempat ini, Wildan pernah kesini tapi tidak pernah mengajak dirinya.

"Kekasihnya Aryo?" Syifa mengalihkan pandangan menatap pria yang membuka pintu "Baru ini dia bawa kekasihnya kesini, Aryo udah lama disini sejak kuliah. Gabung jadi personal trainer kalau nggak salah juga baru, dia membiayai semuanya sendiri bahkan sering tantenya ikut bantuin dia, makanya dia selalu nurutin apa kata tantenya karena biayai kehidupan dia dan adiknya."

"Orang tuanya?" Syifa sedikit penasaran.

"Uang mereka hanya cukup untuk sehari-hari dan biaya pendidikan, kalau lebih dari itu Aryo harus cari sendiri."

Pembicaraan terhenti ketika pria itu keluar, Syifa melihat Aryo mengantar kliennya keluar dari gym dan tidak lama berbicara dengan pria lain dengan ekspresi seriusnya. Tampaknya pembahasan mereka tidak lama karena Aryo langsung menghilang dan mendatangi Syifa dengan senyum lebarnya, melihat itu Syifa seketika membentangkan kedua tangan dan Aryo tidak menyiakan masuk kedalam pelukannya.

"Berhasil dapat, lumayan duitnya." Syifa menepuk punggung Aryo pelan "Mau aku traktir?"

"Boleh."

Aryo mengajak ke tempat makan kecil tapi ramai, Syifa sama sekali belum pernah datang kesini, padahal keluarganya terkenal suka beli apapun. Melihat menu dan porsi makanan di meja lain membuat Syifa membelalakkan matanya, mengalihkan pandangan kearah Aryo yang menatap menu seakan mempertimbangkan pesan apa.

"Nasi dan mie goreng. Kamu mau fuyunghai atau koloke atau capcay?" Aryo menatap Syifa yang akan membuka mulutnya "Makanku banyak karena aku butuh tenaga."

"Jangan capcay, aku nggak suka sayur. Minumnya es jeruk aja." Syifa memilih keinginan Aryo.

Syifa rasanya gatal bertanya banyak hal pada Aryo, tapi bibirnya seakan terkunci dengan banyak pertimbangan. Selama makan Aryo yang lebih banyak bicara dibandingkan dirinya, Syifa hanya diam dan sesekali menanggapi cerita Aryo tentang apapun itu, kali ini mereka membahas hal yang berhubungan dengan tempat kerja Aryo.

"Makan kamu dikit banget, tambah porsinya ini banyak." Aryo mengambilkan nasi dan mie ke piring Syifa "Badan kamu nggak gemuk, aku ajak olahraga bukan untuk diet tapi demi kesehatan kamu sendiri."

"Kamu akan tetap di gym itu nanti kalau udah dapat kerja?"

Aryo mengangkat bahu "Selama waktunya cocok mungkin iya, tapi aku harus tahu keadaan tubuhku sendiri. Jangan sampai malah tumbang, nggak lucu personal asistent malah jatuh sakit."

"Betul itu."

"Syif, aku boleh bicara serius?" Aryo mengeluarkan nada seriusnya yang membuat Syifa berdetak kencang "Kita mungkin baru kenal tapi namanya perasaan nggak bisa dicegah sama sekali. Pertemuan kita kedua aku sudah meyakinkan jika perasaan ke kamu beda dengan Rania, awalnya aku merasa waktu kita di cafe tapi aku nggak yakin sama sekali. Pembicaraan kita nyambung dan nggak ada alasan lagi aku mengulur waktu, aku sudah sangat yakin sama perasaanku ke kamu ini. Syif, mau nggak kita bukan hanya sebagai teman kursus? Aku bukan cowok romantis, tapi aku akan berusaha romantis buat kamu. Aku akan mencoba meluangkan waktu kalau memang nggak sibuk, kamu tahu sendiri keadaanku. Aku ingin kita melangkah lebih dalam dengan ikatan yang personal, bukan hanya sebagai teman." Aryo mengatakan dengan menatap kedua mata Syifa.

"Ajakan kencan atau menyatakan perasaan ini?" tanya Syifa setelah berhasil menenangkan dirinya.

"Keduanya." Aryo tersenyum tanpa melepaskan tatapan pada Syifa.

"Aku nggak tahu harus tanggapin apa. Aku sendiri juga nggak yakin sama perasaan ini, hal yang baru pertama kali aku alami. Dengar kamu bilang tadi buat aku terkejut dan nggak menyangka sama sekali..."

"Jadi? Kamu terima atau tolak?" potong Aryo sebelum Syifa melanjutkan kalimatnya.

"Kita jalanin pelan-pelan, gimana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pria Panggilan   44

    "Kamu baik-baik saja?" "Ya. Hubungan kami sudah selesai." Teddy memicingkan mata mendengar jawaban Syifa "Selesai? Putus? Yakin?" Syifa menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya, om. Maaf kemarin nggak jadi ketemu. Om padahal sudah datang, tapi aku nggak mau Aryo berpikir yang tidak-tidak." "Nggak masalah. Kenapa putus? Kita bertemu setelah kamu luar kota nggak ada pembicaraan itu, apa dia milih cewek itu?" Teddy masih fokus dengan jawaban Syifa yang mengatakan hubungannya dengan Aryo berakhir. "Memang aku belum bilang karena aku ingin bicara lebih dulu sama papa dan mama. Aku butuh support mereka saat mengambil keputusan apapun, bagaimanapun aku masih tanggung jawab mereka berdua terutama papa. Maafkan kalau selama ini...nggak percaya sama apa yang om bilang...mungkin bukan nggak percaya tapi dibutakan cinta." Syifa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah! Penting sekarang

  • Cinta Pria Panggilan   43

    "Mengakhiri hubungan kita? Rencana pernikahan? Apa ini ada hubungannya sama pertemuan kemarin?" "Seharusnya kejadian Neni saat itu memang hubungan kita berakhir, tapi aku memberi kesempatan..." "Kamu tahu kalau aku sudah nggak hubungan sama dia, kalaupun sekarang hubungan sama dia murni masalah trading. Sayang, kamu nggak lagi bercanda, kan? Pernikahan kita beberapa bulan lagi, masa kamu tega batalin gitu aja?" Aryo menatap penuh ketakutan pada Syifa yang memilih diam "Kamu tahu kalau aku sayang sama kamu. Kamu mau kita nggak ngapa-ngapain pas ketemu? Kamu pengen..." "Kamu memang nggak melakukan sama aku dan Neni, tapi melakukannya sama wanita lain." Syifa memotong kalimat Aryo yang seketika membelalakkan matanya "Bukan Gary yang memberitahu aku, bukan juga teman-temanmu yang di tempat gym. Aku tahu sendiri, bahkan apartemen itu juga ada wanita itu disana." Syifa menarik dan menghembuskan napas panjang "Kamu menempati janji dengan Neni, w

  • Cinta Pria Panggilan   42

    "Om nggak lagi bercanda, kan? Om bilang gini bukan karena...""Buat kamu sama aku? Aku bukan orang begitu! Apa pernah aku berbuat sesuatu sama kamu? Aku menahan diri selama ini!"Syifa membenarkan kalimat Teddy, kedekatan mereka selama ini hanya saling berbicara tidak lainnya, walaupun Syifa menyadarinya tapi berpura-pura tidak sadar dengan perasaan pria dihadapannya. Menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan memejamkan matanya. "Kamu boleh tidak percaya. Semua pilihan yang kamu ambil." Teddy membuka suaranya memecah keheningan, tanpa melepaskan tatapan pada Syifa."Om, aku mau tidur sini. Om pulang aja, aku baik-baik saja disini." Syifa beranjak dari tempat duduknya.Langkah kakinya menuju kamar yang selama ini dipakai untuk istirahat, membaringkan tubuhnya setelah menutup pintu. Semua kalimat mereka masuk dalam pikiran Syifa, bukan hanya Miko dan Teddy saja tapi kedua pria yang mengingatkannya dulu. Satu pertanyaan

  • Cinta Pria Panggilan   41

    "Aku nggak nyangka kalau kamu kuat." Syifa menatap kesal kearah Miko yang tertawa melihat ekspresinya "Maksudnya apa ya, mas? Aku memang kelihatan manja?" Miko mengangkat bahunya "Kamu itu polos tapi ternyata...nggak sepolos apa yang ada dalam pikiranku. Aku sama sekali nggak menyangka kalau berani dalam kamar berduaan dengan cowok, kenapa sekarang nggak berani dikamar sama aku saja?" "Nggak usah aneh-aneh, mas! Mas itu orangnya lurus, datar dan menjengkelkan." Syifa masih memberikan tatapan kesalnya "Tapi aku salah...mas ini perhatian. Ceweknya mas pasti senang dapat perhatian dan perlakuan mas ini." "Cowok kamu nggak begitu?" Miko menatap penasaran "Apa dia perhatian kalau lagi pengen aja?" "Nggak! Dia memang perhatian dan memperlakukan aku selayaknya putri." Syifa semakin tidak terima dengan tuduhan Miko. "Kamu percaya sama cowok kamu?" Syifa mengerutkan kening mendengar pertanyaan Miko

  • Cinta Pria Panggilan   40

    "Perjanjian kita sudah jelas..." "Mereka berdua nggak ada disini, perjanjian itu nggak berlaku." Neni memotong kalimat Aryo dengan berjalan mendekatinya "Rumah ini aku beli buat kita, tanpa uang dari Teddy. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan." "Mereka memang tidak ada disini, tapi aku tetap nggak mau." "Kamu yakin dia setia?" Neni mengangkat sudut bibirnya. "Kalaupun Syifa nggak setia aku akan tetap bersama dia, kamu tahu perasaanku ke dia. Tapi...tampaknya kamu yang nggak mendapatkan sentuhan dari Teddy, benar? Bukankah lebih baik kalian memperjelas hubungan?" Aryo menyingkir dari hadapan Neni "Aku nggak bisa menjadi instruktur pribadimu, kamu bisa mencari orang lain." "Aku lebih percaya sama kamu." Neni menyentuh lengan Aryo kembali "Aku akan bayar berapapun yang kamu minta." Aryo menggelengkan kepalanya "Aku nggak mau kedekatan ini membuat

  • Cinta Pria Panggilan   39

    "Syifa tahu tentang ini?" "Syifa akan tahu setelah kamu menyetujuinya. Kamu pasti tahu jika saya belum percaya sepenuhnya sama kamu. Tantangan melamar itu ingin melihat keseriusan kamu pada Syifa, jangan dikira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan bahkan mengubah Syifa." Rahmad mengatakan dengan nada datar "Saya diam karena saya lihat Syifa cinta sama kamu, sedangkan kamu? Memang terlihat kamu sayang sama Syifa, tapi sayang saja tidak cukup. Orang tua kamu orang baik-baik, saya tidak meragukan mereka yang menyayangi Syifa dan akan menganggap sebagai anak sendiri, saya malah meragukan kamu yang bisa setia dengan Syifa." Aryo sedikit terkejut dengan semua yang dikatakan pria dihadapannya, tidak lain adalah papanya Syifa "Om menyelidiki saya?" Rahmad menggeleng dan menganggukkan kepalanya bergantian "Kamu akan tahu kalau punya anak perempuan. Saya mengetahuinya secara tidak langsung. Kalian sudah bertindak terlalu jauh dan saya tidak mau

  • Cinta Pria Panggilan   22

    "Semangat ya, sayang. Semoga lancar di hari pertama kerja." Aryo menarik Syifa kedalam pelukan, tangan Syifa membelai punggung Aryo pelan tanda jika dirinya mendukung apapun yang dilakukan. Melepaskan pelukan, tangan Aryo membelai pipi Syifa dengan mencium lembut bibirnya, mencari kekua

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Cinta Pria Panggilan   20

    "Kamu kemana weekend kemarin?""Aku kerumah saudara, nggak tahu kalau ponsel mati karena memang nggak buka sama sekali." Aryo memberikan tatapan penyesalan.Syifa menghela napas panjang mendengarnya "Kenapa nggak kasih kabar sebelumnya? Bukannya kamu lagi latih orang ya? Memang

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Cinta Pria Panggilan   23

    "Apa kabar kamu, sayang?" "Bagaimana bisa kamu keluar dan bisa ada disini? Bagaimana kamu tahu aku disini?" Aryo terkejut melihat keberadaan Neni di lobby kantornya."Aku nggak sengaja tadi lihat kamu, Teddy nggak melarang aku keluar sekarang. Ketemu kamu nggak sengaja dan mung

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Cinta Pria Panggilan   24

    "Apa yang kamu lakukan di kost itu?" Syifa menatap terkejut dengan pertanyaan Miko "Kamu kemarin ke kost sama cowok, kan? Ngapain kamu kesitu? Kamu nggak lagi aneh-aneh, kan?""Mas tinggal disana?" "Ya. Jadi? Bapak tahu menghabiskan waktu sama cowok di kost?" Miko memicingkan m

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status