ログイン"Seyakin itu kamu? Hans dulu perlu waktu lama buat kamu cinta, sekarang? Sehebat apa dia? Kamu udah tahu ortunya?"
"Nggak tahu yakin atau nggak...aku ngerasa nyambung dan nyaman aja. Aku belum ketemu ortunya, waktu Hans juga aku nggak ketemu ortunya." "Tapi kamu ketemu mamanya setiap ambil raport." "Mama aku yang ketemu mamanya, aku nggak pernah." Syifa mengoreksi kalimat Maya "Aku nggak tahu, May. Aku cuman nyaman aja. Sekarang harusnya ketemu tapi aku alasan, rasanya kayak apa gitu ketemu." "Halah...pret." Maya memutar bola matanya malas "Sana ketemuan aja, lagian habis ini ngapain? Kampus? Tugas akhir udah ACC dan tinggal nunggu sidang aja." Syifa mengerucutkan bibirnya "Aku itu yakin nggak yakin sama dia. Dia partner yang enak diajak diskusi apapun." "Terus si Wildan gimana? Kamu nggak lupa sama dia, kan? Kalian udah jalan lama loh, walaupun terjebak friendzone." Maya mengingatkan tentang keberadaan pria yang selama ini menemani sewaktu masa kuliah. Syifa mengangkat bahunya "Wildan nggak maju, masak aku harus yang maju? Kalau dia memang suka bilang, aku malah ngerasa dia manfaatin aku aja buat ngerjain tugasnya." "Ya udah kalau kamu yakin sama si Aryo itu jalanin aja, toh kalian juga nggak langsung nikah." Maya mengatakan dengan nada santainya yang diangguki Syifa "Ketemuan aja sekarang, daripada begini." "Kayaknya dia sibuk sama kegiatannya, mungkin agak siang deh ketemunya." Syifa membuka pesan terakhir dengan Aryo. Mereka membahas hal lain termasuk kegiatan Maya yang akan mencoba melamar menjadi pramugari, mendengar hal itu membuat Syifa harus siap berjauhan dengan sahabatnya dari putih biru ini. Mereka berdua terbiasa bersama dalam hal apapun, andaikan Maya menjadi pramugari secara otomatis akan tidak bertemu dalam waktu lama. "Aku balik dulu ya." Maya berdiri meninggalkan Syifa yang menikmati minumannya di kantin. Beranjak tidak lama kemudian setelah mendapatkan pesan dari Aryo jika dirinya sedang berjalan menuju kampusnya, memberitahukan letak mobilnya berada agar mereka langsung bertemu disana. Kejauhan Syifa bisa melihat punggung Aryo, berjalan sedikit cepat agar bisa mengimbanginya. "Mas, godain saya dong." Syifa mengatakan tepat disamping Aryo yang langsung melihatnya. "Kamu lari? Keringatan begini." Aryo menyeka keringat Syifa yang jatuh di kening dan seketika membuatnya membeku "Cewek cantik begini nggak boleh ada yang godain, aku cemburu." Aryo menggenggam tangan Syifa setelah memastikan keringatnya berkurang "Kita ke tempat gym aku gimana?" "Astaga! Kamu kenapa pengen banget aku kesana sih? Aku nggak mau kalau disuruh olahraga." Syifa mengeluarkan nada memelas kearah Aryo. "Aku janjian sama orang buat konsultasi, bukan minta kamu olahraga." "Cewek atau cowok?" "Cowok, dia mau ngurusin berat badan. Gimana?" Syifa menganggukkan kepalanya karena tidak tahu mau kemana. Tempat gym yang dipakai bukan seperti dalam mall, tempatnya kecil dari luar tapi dalamnya lengkap dan bersih. Kedatangan mereka menjadi tatapan beberapa pria, tangan Aryo menggenggam tangan Syifa dan membawanya ke suatu tempat. "Kamu disini dulu, aku nggak akan lama." Syifa menganggukkan kepalanya. Tempat Syifa berada bisa melihat keadaan dibawah sana, meskipu tidak semuanya. Syifa bahkan bisa melihat calon klien Aryo, mereka berbicara serius dan tempat ini adalah tempat Syifa pertama kali masuk. Selama menjalin hubungan para kekasihnya tidak ada yang pernah mengajak ke tempat ini, Wildan pernah kesini tapi tidak pernah mengajak dirinya. "Kekasihnya Aryo?" Syifa mengalihkan pandangan menatap pria yang membuka pintu "Baru ini dia bawa kekasihnya kesini, Aryo udah lama disini sejak kuliah. Gabung jadi personal trainer kalau nggak salah juga baru, dia membiayai semuanya sendiri bahkan sering tantenya ikut bantuin dia, makanya dia selalu nurutin apa kata tantenya karena biayai kehidupan dia dan adiknya." "Orang tuanya?" Syifa sedikit penasaran. "Uang mereka hanya cukup untuk sehari-hari dan biaya pendidikan, kalau lebih dari itu Aryo harus cari sendiri." Pembicaraan terhenti ketika pria itu keluar, Syifa melihat Aryo mengantar kliennya keluar dari gym dan tidak lama berbicara dengan pria lain dengan ekspresi seriusnya. Tampaknya pembahasan mereka tidak lama karena Aryo langsung menghilang dan mendatangi Syifa dengan senyum lebarnya, melihat itu Syifa seketika membentangkan kedua tangan dan Aryo tidak menyiakan masuk kedalam pelukannya. "Berhasil dapat, lumayan duitnya." Syifa menepuk punggung Aryo pelan "Mau aku traktir?" "Boleh." Aryo mengajak ke tempat makan kecil tapi ramai, Syifa sama sekali belum pernah datang kesini, padahal keluarganya terkenal suka beli apapun. Melihat menu dan porsi makanan di meja lain membuat Syifa membelalakkan matanya, mengalihkan pandangan kearah Aryo yang menatap menu seakan mempertimbangkan pesan apa. "Nasi dan mie goreng. Kamu mau fuyunghai atau koloke atau capcay?" Aryo menatap Syifa yang akan membuka mulutnya "Makanku banyak karena aku butuh tenaga." "Jangan capcay, aku nggak suka sayur. Minumnya es jeruk aja." Syifa memilih keinginan Aryo. Syifa rasanya gatal bertanya banyak hal pada Aryo, tapi bibirnya seakan terkunci dengan banyak pertimbangan. Selama makan Aryo yang lebih banyak bicara dibandingkan dirinya, Syifa hanya diam dan sesekali menanggapi cerita Aryo tentang apapun itu, kali ini mereka membahas hal yang berhubungan dengan tempat kerja Aryo. "Makan kamu dikit banget, tambah porsinya ini banyak." Aryo mengambilkan nasi dan mie ke piring Syifa "Badan kamu nggak gemuk, aku ajak olahraga bukan untuk diet tapi demi kesehatan kamu sendiri." "Kamu akan tetap di gym itu nanti kalau udah dapat kerja?" Aryo mengangkat bahu "Selama waktunya cocok mungkin iya, tapi aku harus tahu keadaan tubuhku sendiri. Jangan sampai malah tumbang, nggak lucu personal asistent malah jatuh sakit." "Betul itu." "Syif, aku boleh bicara serius?" Aryo mengeluarkan nada seriusnya yang membuat Syifa berdetak kencang "Kita mungkin baru kenal tapi namanya perasaan nggak bisa dicegah sama sekali. Pertemuan kita kedua aku sudah meyakinkan jika perasaan ke kamu beda dengan Rania, awalnya aku merasa waktu kita di cafe tapi aku nggak yakin sama sekali. Pembicaraan kita nyambung dan nggak ada alasan lagi aku mengulur waktu, aku sudah sangat yakin sama perasaanku ke kamu ini. Syif, mau nggak kita bukan hanya sebagai teman kursus? Aku bukan cowok romantis, tapi aku akan berusaha romantis buat kamu. Aku akan mencoba meluangkan waktu kalau memang nggak sibuk, kamu tahu sendiri keadaanku. Aku ingin kita melangkah lebih dalam dengan ikatan yang personal, bukan hanya sebagai teman." Aryo mengatakan dengan menatap kedua mata Syifa. "Ajakan kencan atau menyatakan perasaan ini?" tanya Syifa setelah berhasil menenangkan dirinya. "Keduanya." Aryo tersenyum tanpa melepaskan tatapan pada Syifa. "Aku nggak tahu harus tanggapin apa. Aku sendiri juga nggak yakin sama perasaan ini, hal yang baru pertama kali aku alami. Dengar kamu bilang tadi buat aku terkejut dan nggak menyangka sama sekali..." "Jadi? Kamu terima atau tolak?" potong Aryo sebelum Syifa melanjutkan kalimatnya. "Kita jalanin pelan-pelan, gimana?""Aku mau ambil hak asuh Tania, sayang. Kamu keberatan?" "Memang kenapa sama Stella?" Syifa mengernyitkan kening mendengar informasi yang Aryo berikan."Kamu keberatan?" Aryo menatap penuh rasa ingin tahu.Syifa menggelengkan kepalanya "Bukan keberatan. Aku tanya memang kenapa dengan Stella? Apa dia nggak masalah?""Menurut hukum dia nggak bisa mengasuh Tania, Stella secara materi kurang dan dia selingkuh selama kita menikah." "Kamu juga selingkuh." Syifa mengingatkan "Kamu berhubungan intim sama aku, menikahi Neni secara siri, jadi apa bedanya? Jangan pakai dasar poligami, apa yang kamu lakukan juga salah jadi jangan menyalahkan Stella saja. Aku nggak masalah kamu ambil hak asuh Tania, tapi pertimbangkan Stella juga. Apa yang buat kamu keberatan? Kamu nggak mau kasih nafkah Stella?" "Salah satunya." Aryo menganggukkan kepalanya "Utamanya adalah aku nggak mau hubungan sama Stella, meskipun tentang anak. Aku berpikir kalau Tania
"Ibu yakin kamu pasti kembali." Syifa tersenyum kearah mantan calon mertua atau mungkin calon mertua, tapi yang pasti Syifa sudah menganggap wanita dihadapannya adalah ibunya sendiri dan kedudukannya tidak jauh berbeda dengan mama yang sekarang memilih tinggal di panti jompo. "Ibu kapan itu lihat mama kamu, dia happy banget disana. Ibu jadi pengen tinggal disana, banyak teman. Sayangnya anak Aryo dari wanita itu butuh pengawasan, mau nggak mau bantuin." Evi mengerucutkan bibirnya."Ibu bisa tinggal disana sekarang." Aryo mengatakan tanpa beban dengan tangannya yang menggendong Akbar "Aww...kok malah dipukul? Aku bilang sebenarnya. Aku sudah ada Syifa, kami akan tinggal bersama dan akan menikah setelah masa iddah selesai.""Kamu langsung buang ibumu setelah pemilik hatimu kembali?" Evi memegang dadanya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat "Kamu lihat, kan? Dia akan melupakan semua kalau sudah ada kamu." Syifa hanya bisa tersenyum meli
Enam tahun lalu (masih dengan Teddy)"Aku kira kalian nggak akan jadi." "Wanita berharga sulit didapat." Teddy melingkarkan tangan di pinggang Syifa."Jadi, kalian sudah menikah?" Teddy mengangguk dengan senyum lebarnya "Syukurlah, semoga cepat hamil.""Semoga." Menghadiri acara yang membosankan, bukan hanya bagi Syifa tapi juga Teddy. Apabila harus memilih, pasti pilihannya adalah ranjang. Mereka tidak bertemu hampir satu minggu, pekerjaan Teddy yang tidak bisa ditinggal dan Syifa yang juga tidak kalah sibuknya. Syifa yang pulang ke kota asalnya, dirinya datang kemarin pagi dan pastinya Teddy tidak akan melepaskannya dan memilih didalam kamar. Sekarang yang mereka lakukan adalah olahraga bersama teman-teman Teddy dulu, Syifa menyetujui ajakan mereka karena sudah lama tidak bertemu dan nostalgia."Aku bosan, sayang." Teddy berbisik tepat di telinga Syifa."Habis ini juga pulang, mas." Syifa membelai paha Teddy perlahan "Sab
"Aku akan pelan-pelan, sayang. Kalau sakit kamu bisa mencakar punggungku, sayang. Aku berusaha tidak menyakitimu." Aryo mencium kening Syifa dengan penuh cinta, mendorong miliknya memasuki rumah yang diharapkan dari dulu. Aryo memejamkan matanya merasakan miliknya masuk perlahan, membuka mata menatap Syifa penuh cinta dimana mantan kekasihnya ini menutup mata, melumat bibir Syifa agar tidak terlalu tegang dan takut. Mendorong sekali lagi, seketika terhenti ketika merasakan sesuatu yang tidak pernah dialami selama ini. Mendorong sekali lagi dengan memagut bibir Syifa dalam, dorongan perlahan dan pasti ketika merasakan sesuatu dibawah dan didalam sana terasa robek, tangan Syifa mencakar punggung Aryo, pagutan bibir mereka tidak terlepas tapi semakin dalam.Mendiamkannya didalam ketika merasa jika miliknya masuk semua, pagutan bibir mereka terlepas dan saling memandang, tatapan cinta tidak pernah hilang dari Aryo pada Syifa. Mengulurkan tangan membelai wajah Aryo per
Satu Tahun setelah kepergian Syifa"Kenapa aku belum hamil ya?""Belum dikasih." Aryo menjawab Stella dengan nada santainya "Memang kamu sudah siap merawat anak?""Kalau aku berharap artinya sudah siap." Stella melingkarkan tangannya di lengan Aryo "Kamu jadi ke ibukota? Apa ketemu...""Nggak. Aku sibuk." Aryo mencium puncak kepala Stella "Kamu tahu kalau hubunganku sama dia berakhir, aku nggak mungkin menemui dia bukan karena dia nggak mau bertemu tapi aku juga. Kamu nggak usah mengkhawatirkan apapun." Ketakutan Stella bisa saja terjadi, menerima tugas di ibukota dengan tujuan melihat Syifa. Perasaan rindu harus segera di obati, menatap dari jauh sudah sangat puas dan mengobati semuanya. Aryo jelas tidak mungkin mengatakan sebenarnya pada Stella, menjaga perasaan wanita yang menjadi istrinya.Perjalanan menggunakan pesawat, begitu sampai tujuannya adalah rumah Syifa. Aryo sangat yakin pemilik hatinya sudah dirumah, jarak bandara den
Enam Tahun Lalu "Aku kira nggak akan jemput." Syifa mengerucutkan bibir mendengar kalimat yang keluar dari bibir Teddy "Kalau nggak jemput memang nggak marah? Udah makin tua masih aja cepat marah." Teddy menarik Syifa kedalam pelukan, mencium puncak kepalanya "Gimana kerjaanmu? Banyak yang harus diurus?" "Pulang sekarang, aku lapar dan malas bahas kerjaan." Syifa meletakkan tangannya di lengan Teddy tampak malas membahas pekerjaan "Jangan lupa ada undangan nikah di Bandung besok." "Kamu sudah pesan tiket keretanya?" Syifa menganggukkan kepalanya "Ok, kita cari makan baru istirahat." Hubungan mereka memang sudah berakhir sebelum Syifa memutuskan ke ibukota, tapi pekerjaan Teddy yang harus bertemu orang dan melebarkan usahanya membuat mereka kembali bertemu. Jarak yang tercipta dulu sudah hilang, tidak tahu siapa yang memulai tapi mereka sudah selayaknya pasangan. Perubahan diantara mereka adalah sta







