แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Kesya
"Ini bukan masalah mau atau nggak! Berani-beraninya kamu menyakiti penyelamatku, kamu harus mendonorkan darahmu hari ini! Kalian, seret Frida ke rumah sakit!"

Tomas membentakku dengan murka. Detik berikutnya, dua orang satpam langsung masuk dan mengunci pergerakan tubuhku.

Aku benar-benar tidak menyangka dia tega bertindak sejauh ini demi Lidia.

Dengan suara panik, aku berseru, "Tomas, aku punya kanker lambung! Sisa hidupku tinggal satu minggu lagi! Aku nggak bisa mendonorkan darah, kalau dipaksa, aku akan langsung mati saat itu juga!"

Aku memang sudah di ambang kematian.

Selama tiga tahun ini, aku bekerja keras dan memaksakan diri meminum alkohol. Lambungku sudah hancur lebur sejak lama, dan aku telah didiagnosis menderita kanker lambung stadium akhir sejak tiga bulan lalu.

Sebenarnya, tujuanku menemui Tomas hari ini bukan hanya untuk melaporkan progres pekerjaan, tetapi juga untuk memutuskan hubungan dengannya.

Bagaimana mungkin seorang penderita kanker lambung stadium akhir, yang sisa hidupnya tinggal satu minggu, pantas bersanding dengan CEO yang hebat?

Aku tidak ingin menjadi batu sandungan bagi masa depan Tomas.

Selama tiga bulan ini, satu-satunya keyakinan yang membuatku bertahan hidup adalah melunasi utang 200 miliar itu, agar masa depan Tomas menjadi lebih mudah.

Namun, siapa yang menyangka, aku justru mendengarkan kenyataan yang sekeji ini?

Lebih menyakitkan lagi, ketika mengetahui bahwa hati Tomas sudah lama tidak lagi menjadi milikku.

Meski begitu, aku tetap tidak berniat memberi tahu Tomas bahwa ajalku sudah dekat.

Sebelumnya, aku merahasiakannya karena tidak ingin membebani masa depannya. Namun sekarang, aku merasa dia memang tidak sudi untuk mengetahuinya.

Aku bukanlah wanita yang suka mengemis cinta dan mengusik hidup orang lain.

Begitu menyadari hati Tomas telah condong kepada Lidia, aku tidak ingin memiliki keterikatan apa pun dengannya, ataupun menuntut keadilan yang sia-sia.

Bagi orang yang hampir mati, segala rasa penderitaan, kepedihan, dan amarah menjadi tidak berarti lagi.

Namun, aku masih belum ingin mati hari ini.

Sebelum bersama Tomas, aku hidup sebatang kara tanpa orang tua. Aku adalah seorang anak yatim piatu yang bekerja mati-matian demi menyambung hidup.

Setelah bersama Tomas, aku mendampinginya merintis bisnis dari bawah, membantunya mewujudkan mimpi agar perusahaan bisa melantai di bursa efek. Tiga tahun ini, demi melunasi utang fiktif itu, aku seolah-olah tidak pernah memiliki kehidupan sendiri.

Aku ingin menggunakan sisa waktu satu minggu terakhir ini untuk menjalani kehidupan yang selalu kuidamkan. Aku ingin melihat hamparan laut, menatap deretan gunung, dan menikmati indahnya dunia ini.

Namun kini, Tomas memaksaku untuk mendonorkan darah demi Lidia. Tidak ada pilihan lain, aku terpaksa menyuarakan kebenaran yang sesungguhnya.

"Tomas, aku kena kanker lambung! Sisa hidupku tinggal satu minggu lagi! Aku nggak bisa donor darah. Kalau dipaksa, aku akan langsung mati saat itu juga!"

"Benarkah?"

Secercah keraguan sempat melintas di mata Tomas.

Tepat pada saat itu, Lidia kembali berpura-pura dan menjerit kesakitan dengan dramatis.

"Aku sudah nggak kuat ... rasanya aku mau mati. Pak Tomas, aku nggak mau mati, tolong selamatkan aku!"

Keraguan di mata Tomas seketika sirna tanpa bekas.

Dia menyunggingkan senyum sinis. "Frida, kamu benar-benar wanita licik! Setiap kamu lembur, menjamu klien di luar, energi tubuhmu masih sekuat sapi. Mana mungkin kamu bisa sakit? Demi nggak donor darah untuk Lidia, kamu bahkan tega mengutuk dirimu sendiri akan mati! Sia-sia saja aku tulus mencintaimu selama ini!"

"Biar kukatakan padamu, walaupun kamu harus mati sekalipun, hari ini kamu tetap harus mendonorkan darahmu! Kamu sudah mencelakai Lidia sampai terluka, ini adalah tanggung jawab dan kewajiban yang harus kamu bayar!"

"Lagi pula, setelah donor darah ini selesai, kita putus! Orang picik sepertimu nggak pantas menerima cintaku!"

Meskipun aku sudah paham bahwa hati Tomas bukan lagi milikku, ketika dia mengucapkan kata-kata itu, jantungku tetap saja berdenyut nyeri. Seakan-akan dihunjam oleh belasan ribu anak panah sekaligus.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Sejati Tanpa Jalan Pulang   Bab 10

    Namun, sejak kemunculan Lidia, semua janji itu menguap begitu saja bagai asap, dan dia tidak pernah lagi mengungkitnya walau hanya sekali.Kini setelah kesalahpahaman itu runtuh dan aku telah tiada, dia justru mengungkit kembali kisah lama itu. Alih-alih tersentuh, aku justru merasa hal ini sangat menggelikan.Tiba-tiba saja aku teringat sebuah kalimat, “Tidak akan ada orang yang terus menunggumu di tempat yang sama.”Kalimat itu, kini terasa sangat pas jika ditujukan kepada Tomas.Tadinya kukira Tomas hanya akan meratapi kematianku dalam waktu singkat.Bagaimanapun juga, dia telah menjelma menjadi seorang miliarder yang memiliki masa depan cerah. Kehidupan seperti apa pun atau wanita mana pun yang dia inginkan, semuanya berada di dalam jangkauan tangannya.Namun, hal yang membuatku terkejut adalah dia tidak pernah memulai lembaran hidup yang baru.Dia melepaskan seluruh urusan perusahaan, lalu mulai menapaki jalanan penuh memori masa lalu kami.Dia mendatangi setiap tempat yang pernah

  • Cinta Sejati Tanpa Jalan Pulang   Bab 9

    Di dalam rekaman CCTV, terlihat jelas bagaimana Lidia dengan wajah penuh kemenangan menghinaku, sambil menceritakan segala rencana busuknya dengan bangga.Setelah menyaksikan rekaman itu, wajah Tomas seketika berubah muram.Dia tidak pernah menyangka "penyelamat nyawa" yang selama ini dia sayangi ternyata palsu, bahkan memiliki niat yang begitu keji untuk menghancurkannya."Lidia, kamu benar-benar bukan manusia!"Tomas menendang tubuh Lidia dengan keras hingga wanita itu tersungkur."Pak Tomas, aku mengatakan kata-kata itu hanya untuk memprovokasi Frida! Aku nggak pernah berniat merebut hartamu, juga nggak berniat membunuhmu. Aku pura-pura jadi penyelamatmu karena aku terlalu mencintaimu! Aku mohon, ampuni aku!"Lidia menangis tersedu-sedu sambil berlutut memohon belas kasihan."Pak Tomas, dia bohong! Dia memang berniat membunuh Anda demi menguasai harta Anda! Di dalam HP saya ada rekaman videonya, kalau nggak percaya, Anda bisa melihatnya sendiri!"Dokter itu sudah pasrah, dia memilih

  • Cinta Sejati Tanpa Jalan Pulang   Bab 8

    "Benarkah?"Cengkeraman tangan Tomas di leher Lidia sedikit melonggar. Dia menoleh ke arah dokter di sampingnya dengan tatapan setengah tidak percaya.Dokter yang memang sudah disuap oleh Lidia itu, mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Benar, Pak. Frida yang menyuap saya dan menyuruh saya mengambil darahnya lebih banyak."Sorot mata Tomas seketika mendingin. "Kalau Frida menyuruhmu begitu, kamu langsung menurutinya begitu saja? Kamu ini dokter, apa kamu nggak punya akal sehat? Mengambil darah sebanyak 5.000 ml itu bisa membunuh orang!""Aku mau kamu membayar nyawa Frida!"Bersamaan dengan kalimat itu, Tomas melambaikan tangan. Dua satpam langsung merangsek masuk dari luar dan mengunci pergerakan dokter itu."Sebanyak apa dia mengambil darah Frida, sedot keluar darahnya dalam jumlah yang sama!""Pak Tomas, ampuni saya! Saya nggak sengaja melakukannya, semuanya adalah ide Frida!"Wajah dokter itu seketika pucat pasi karena ketakutan. Dia berlutut di lantai sambil memohon ampun."Cepat amb

  • Cinta Sejati Tanpa Jalan Pulang   Bab 7

    "Frida, aku salah! Aku sudah tahu sekarang, kamu yang menyelamatkan nyawaku!""Tapi kenapa kamu nggak mengatakannya dari dulu? Ini semua salahmu, aku jadi salah orang dan menghukummu lama! Apa kamu tahu seberapa besar luka yang harus kutanggung karena semua ini?""Ini semua salahmu! Kita nggak usah donor darah lagi, sekarang juga kita ke KUA!"Tomas merangsek maju, lalu mencopot selang transfusi darah yang menancap di tubuhku.Dia akhirnya tahu siapa penyelamat nyawanya yang asli.Namun, mengapa tidak ada sedikit pun rasa bahagia di dalam hatiku?Mungkin karena aku memang sudah di ambang maut.Atau mungkin karena dia telah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, tapi dia masih menyalahkanku sampai sekarang!Seketika itu juga, aku tersadar sepenuhnya.Hatinya tidak pernah benar-benar berpaling kepada Lidia. Buktinya, dia memeriksa rekam medis donor darah, yang berarti dia tidak sepenuhnya percaya pada wanita itu. Namun, hatinya juga tidak pernah berada di sisiku. Sejak awal, sosok yang

  • Cinta Sejati Tanpa Jalan Pulang   Bab 6

    Tak lama kemudian, aku mendengar langkah kaki Tomas yang beranjak pergi, disusul oleh suara pintu yang tertutup rapat.Setelah itu, sayup-sayup terdengar suara Lidia dengan nada kemenangan. "Nggak nyangka, ‘kan? Pria yang kamu cintai selama sepuluh tahun, ternyata bisa lebih membelaku?""Aku merebut jasamu sebagai penyelamat nyawanya, dan dia langsung bertekuk lutut untuk balas budi padaku. Kamu memotong bonus kinerjaku cuma 2 ribu, aku cuma pura-pura sok menderita, dan dia langsung menghukummu selama tiga tahun penuh!""Kamu memperlihatkan sertifikat donor darah tepat di depan wajahnya, tapi dia bahkan nggak mau melihatnya sedikit pun. Sebaliknya, aku cuma perlu ngomong, dan dia langsung percaya pada semua kebohonganku!""Sekarang, padahal aku cuma kena anemia ringan, dia tega memaksamu mendonorkan darah sebanyak 3.000 ml untukku! Dia sama sekali nggak percaya pada omonganmu yang mengaku kena kanker lambung stadium akhir dan hampir mati.""Padahal tubuhmu sudah selemah ini, bahkan kam

  • Cinta Sejati Tanpa Jalan Pulang   Bab 5

    "Di dalam sakuku ada surat rumah sakit, kamu bisa ambil dan melihatnya sendiri!"Aku mencoba melakukan perlawanan terakhir yang sia-sia."Bawa dia pergi!"Tomas bahkan tidak sudi melirikku lagi. Dia memberikan perintah tegas kepada satpam untuk menyeretku keluar.Heh! Sungguh menggelikan!Pria yang telah kujaga selama hampir sepuluh tahun, yang kubantu mewujudkan mimpi besarnya hingga mempertaruhkan nyawaku sendiri, ternyata memperlakukanku begini.Anggap saja Lidia memang benar-benar penyelamat nyawanya, aku memang seorang wanita picik yang menghalalkan segala cara, tetapi kami telah bersama selama sepuluh tahun penuh!Kami pernah saling menopang di masa-masa sulit, berjuang bersama dari nol, bahkan pernah makan sepiring mie goreng di pinggir jalan saat sedang berhemat. Kami ....Benakku mulai memutar kembali rekaman masa lalu yang getir sekaligus manis bersama Tomas.Kami sebenarnya memiliki banyak sekali kenangan indah.Namun, sejak kapan hubungan asmara kami mulai membusuk?Mungki

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status