Short
Vonis Terakhir untuk Cinta Kita

Vonis Terakhir untuk Cinta Kita

โดย:  Potatoจบแล้ว
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
17บท
2views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Selama sepuluh tahun, aku menjalani profesi sebagai penyiar radio malam yang berbagi kisah-kisah menyentuh hati. Malam ini adalah episode ke-521 dari acara tersebut. Hari ini bertepatan dengan turunnya salju pertama di musim dingin ibu kota, sekaligus adalah peringatan ulang tahun pernikahan ketujuhku dengan Arden Sorandi, seorang profesor hukum. Di sela jeda iklan selama lima menit, aku menatap laporan pemeriksaan kehamilan yang tergeletak di atas konsol kendali. Senyum tipis tanpa sadar menghiasi wajahku. Di atas kertas itu, tertera dengan jelas kalimat "hamil delapan minggu". Inilah hadiah yang kusiapkan untuk Arden di ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh. Sambil membayangkan raut terkejut yang akan menghiasi wajah pria yang biasanya begitu tenang dan terkendali itu, aku pun meneleponnya. Panggilan pertama berdering selama sepuluh detik sebelum akhirnya terputus. Panggilan kedua langsung ditolak, sedangkan panggilan ketiga langsung menunjukkan ponselnya telah mati .... Arden adalah seorang pakar hukum yang memegang teguh aturan dalam hidupnya. Dia pernah berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa di mana pun dia berada, jika aku menelepon, dia pasti akan mengangkat teleponku. Meskipun sedang rapat, dia juga akan menghentikan rapat. Malam ini, tepat saat aku sedang diliputi kebahagiaan dan bersiap untuk memberitahunya secara langsung bahwa kami akhirnya dikaruniai anak yang selama ini kami dambakan, dia justru tidak bisa dihubungi.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1

"Bu Layla, ada penelepon yang tersambung!"

Yessy, sang produser, membuyarkan rasa gundahku dan memberiku isyarat mendesak.

Aku menarik napas panjang, lalu dengan hati-hati memasukkan laporan pemeriksaan kehamilan itu ke dalam tas. Kemudian, aku menggeser tombol fader mikrofon ke atas.

Terdengar suara seorang gadis yang ceria, dengan sedikit nada bangga yang sama sekali tidak dapat disembunyikan.

"Selamat malam, Bu Layla! Aku jatuh cinta pada seorang profesor di universitasku yang sudah beristri. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan ketujuhnya. Tapi begitu aku kirim pesan yang berisi tanganku terluka saat memotong buah, dia langsung meninggalkan istrinya dan menerjang badai salju demi datang ke tempatku."

Entah kenapa, wajah Arden tiba-tiba terlintas di benakku. Jantungku terasa seakan berhenti sejenak.

"Dik, meski kamu merasa menang, pakai luka ringan untuk menguji sifat manusia dan menghancurkan rumah tangga orang lain sama saja dengan memuaskan dahaga dengan racun."

"Tapi, aku menang telak! Dia pria yang dikenal sangat kaku dan lurus, tapi ... dia perlakukan aku dengan istimewa."

Suamiku juga seperti itu. Di mata orang lain, dia adalah sosok yang dingin dan sulit didekati. Namun, dia mencurahkan semua kesabaran dan kasih sayangnya hanya untukku.

Gadis itu tertawa dan berujar, "Bu Layla, tahu nggak? Baru saja, istrinya menelepon tiga kali berturut-turut untuk tanyakan kabarnya. Coba tebak apa yang terjadi? Dia menolak semua panggilan itu di hadapanku tanpa ragu sedikit pun."

Aku merasa bagaikan disambar petir dan pikiranku mendadak kosong. Tiga panggilan dan semuanya ditolak.

Sebelum aku sempat bereaksi, sambungan telepon sudah terputus. Dengan tubuh gemetar, aku mendongak dan mencoba menelepon balik, tetapi ponselnya sudah tidak aktif.

Tiba-tiba, layar ponselku menyala. Sebuah video berdurasi sepuluh detik tiba-tiba dikirim oleh nomor tak dikenal. Video itu direkam di sebuah restoran privat eksklusif.

Arden adalah pria yang dipandang semua orang sebagai sosok yang menjunjung tinggi moral dan hukum. Namun, dalam video itu, dia duduk dengan pandangan tertunduk dan meletakkan potongan ikan yang sudah dibuang durinya ke piring gadis di sampingnya.

Sementara itu, sebuah mantel hitam tersampir di bahu si gadis. Itu adalah mantel yang dikenakan Arden saat meninggalkan rumah pagi ini.

Di bawah video itu terdapat sebuah pesan.

[ Bu Layla, lihat saja. Dia sudah berhenti mencintaimu sejak lama. ]

Aku telah mengenal Arden selama tujuh tahun. Dia adalah seorang ahli hukum yang sangat mengutamakan efisiensi dalam segala hal. Bahkan saat makan, aku ingat dia pernah mengernyit dan berkata padaku, "Waktu yang terbuang untuk buang duri ikan terlalu banyak. Lebih baik nggak usah makan."

Sekarang, dia justru membuang duri ikan dengan sempurna dan memberikannya kepada gadis lain.

Pemanas ruangan di studio siaran disetel tinggi, tetapi aku justru merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku mencengkeram laporan pemeriksaan kehamilan di dalam tasku begitu erat hingga kertasnya kusut. Tepiannya yang tajam nyaris menggores telapak tanganku.

Aku tidak menelepon balik ataupun mengamuk histeris. Aku hanya mendorong pintu kaca gedung, lalu melangkah keluar dan menyongsong butiran salju pertama ibu kota yang melayang di udara. Saat kepingan salju yang dingin itu menyentuh wajahku, pikiranku tanpa sadar melayang kembali ke tujuh tahun yang lalu.

Tujuh tahun lalu, pada salju pertama, kami bertemu dan jatuh cinta. Saat itu, aku hanyalah penyiar pemula yang baru merintis karier, sedangkan Arden sudah menjadi lektor kepala termuda di universitas hukum dan politik. Dia diundang ke stasiun penyiaran sebagai pakar tamu untuk memberikan edukasi hukum.

Hari itu salju juga turun dengan lebat. Setelah seorang atasan memarahiku habis-habisan karena salah membacakan naskah penting, aku bersembunyi sendirian di tangga darurat di luar studio sambil diam-diam menyeka air mata. Arden-lah yang menyodorkan tisu kepadaku.

Setelah kejadian itu, Arden mulai sering hadir dalam hidupku. Saat aku demam tinggi, dia menjagaku sepanjang malam di apartemen sewaanku, bahkan sambil membawa buku tebal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Saat aku menjadi sasaran perundungan siber yang brutal, Arden menggunakan keahliannya untuk menyusun surat somasi pengacara bagiku.

Pada hari Arden melamarku, tidak ada bunga mawar ataupun makan malam romantis. Dia hanya mengeluarkan surat perjanjian pranikah yang disusunnya sendiri, lengkap dengan daftar seluruh aset atas namanya.

Arden menatap lekat-lekat ke mataku dan berkata kata demi kata, "Layla, hukum adalah standar moralitas paling dasar, tapi kesetiaan dan cintaku padamu akan jadi prinsip tertinggi dalam hidupku. Maukah kamu biarkan aku jalankan kewajiban untuk merawat dan menafkahimu seumur hidup?"

Aku memercayainya. Aku merasa pria yang menjunjung tinggi aturan dan pengendalian diri itu sedang menawarkan cinta paling eksklusif dan tak tergoyahkan di dunia ini. Namun, apa yang disebutnya sebagai "prinsip tertinggi" itu ternyata tak lebih dari sekadar secarik kertas tak berguna yang siap disobek kapan saja.

Pukul 11.30 malam, aku mendengar suara pintu dibuka. Arden sudah pulang. Dia melepas mantelnya, lalu menggantungnya di dekat pintu masuk. Selain aroma cemara khasnya, aku juga menangkap aroma samar parfum buah yang biasanya dipakai wanita muda pada pakaian itu.

Mengira aku sudah tertidur, Arden tidak menyalakan lampu ruang tamu. Dia langsung masuk ke ruang kerja dan membiarkan pintunya sedikit terbuka. Tak lama kemudian, terdengar suara gumamannya yang pelan dari dalam ruang kerja. Sepertinya, dia sedang menelepon Frendy Kurniawan, teman masa kecilnya.

"Arden, apa kamu sudah gila? Bisa-bisanya kamu bawa gadis itu ke restoran privat hari ini! Apa kamu nggak takut ketemu kenalan kalian yang mungkin akan bocorkan hal itu ke Layla?"

Suara Frendy terdengar dari speaker. "Kamu biasanya begitu menjaga reputasi. Kenapa kamu tiba-tiba begitu perhatian pada seorang mahasiswi? Sekalipun cuma sandiwara juga seharusnya ada batasnya!"

Seluruh tubuhku menegang. Aku menggigit punggung tanganku kuat-kuat sambil menahan napas dalam kegelapan.

Ruang kerja hening sejenak, lalu terdengar bunyi pemantik. Suara Arden berubah dingin saat berkata, "Dia bukan cuma mahasiswi biasa. Dia itu Trisha Syahman."

Frendy terdiam, lalu tiba-tiba tersentak. "Trisha Syahman? Tunggu, jangan bilang dia itu gadis yatim piatu dari desa terpencil yang kamu sponsori selama sepuluh tahun terakhir?"

"Benar."

Suara Arden merendah. "Aku melihatnya tumbuh dari gadis kecil yang kurus kering dan kelaparan menjadi seseorang yang berjuang mati-matian untuk masuk ke universitas ternama tempat aku berada. Frendy, kamu nggak tahu gimana tatapannya saat memandangku. Begitu membara, tapi juga malu-malu."

Dalam kegelapan, aku menancapkan kuku-kukuku ke telapak tangan hingga berdarah. Namun, aku sama sekali tidak merasakan sakit.

"Kamu ... kamu lagi main api!" Suara Frendy terdengar gelisah. "Sekalipun kamu peduli padanya, membiayai pendidikannya saja sudah cukup! Apa kamu benar-benar mau ceraikan Layla, lalu nikahi dia cuma untuk puaskan naluri melindungimu yang nggak berguna itu?"

"Cerai? Mana mungkin aku ceraikan Layla?" Arden menjawab tanpa keraguan sedikit pun, "Layla itu istri yang kupilih dengan baik. Dia punya emosi stabil, mandiri, tegar, bisa urus rumah tangga kami dengan baik. Dia itu sosok istri paling sempurna untuk mendampingiku. Nggak perlu ada yang diubah dalam pernikahanku."

"Lalu, gimana dengan Trisha?"

Arden mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan pelan. "Layla dan Trisha berbeda. Layla tegar dan mandiri, bagaikan sebuah pohon. Bahkan tanpa aku, dia mampu hadapi semuanya sendiri di stasiun radio dan jalani kehidupan yang luar biasa."

"Tapi, Trisha nggak bisa. Dia terlalu rapuh dan nggak punya siapa-siapa selain aku. Kalau aku nggak menjaganya, dunia ini akan melahapnya bulat-bulat."

Suara Arden melembut. "Layla mampu hadapi badai, sedangkan Trisha hanya bisa tumbuh di dalam rumah kaca. Aku akan berikan perlindungan yang dibutuhkan Trisha, tapi posisi istriku akan jadi milik Layla selamanya."

Selama ini, aku mengira dia enggan mengajakku ke acara-acara sosial karena sifatnya memang dingin dan lebih menyukai ketenangan. Ternyata, semua pengecualian dan sikap terang-terangan menunjukkan perhatian, justru dia berikan untuk gadis lain yang tidak pernah merasa aman.

Air mataku mengalir tanpa suara, jatuh dari dagu dan menetes ke mantelku. Aku menunduk dan menyentuh perutku yang masih rata. Perasaan mual yang hebat segera melandaku. Sungguh menyedihkan.

Perlahan, aku bangkit dari sofa dan menyeka air mata di sudut mataku. Hasil tes kehamilan di saku ini seharusnya menjadi hadiah ulang tahun pernikahan ketujuh kami malam ini.

Aku duduk dalam kegelapan hingga fajar menyingsing. Aku tidak mengonfrontasi Arden, tidak membuat keributan atau menangis histeris. Seperti kata Arden, aku memang tegar. Begitu tegar hingga kehancuran batinku pun terjadi dalam diam.

Begitu langit terang, aku menyalakan laptop dan melakukan hal pertama, yaitu menyusun surat kesepakatan cerai. Kemudian, aku melakukan hal kedua, yaitu mengirim pesan kepada seorang direktur stasiun radio di luar negeri.

[ Saya sudah memikirkan tawaran Anda sebelumnya. Saya bersedia pergi ke luar negeri untuk menerima program pelatihan lanjutan. ]

Akhirnya, aku melakukan hal ketiga, yaitu membuat janji temu untuk prosedur aborsi. Di dalam aplikasi, aku melewati menu perawatan kehamilan dan membuka bagian keluarga berencana.

Setelah halaman aplikasi diperbarui, aku memesan prosedur aborsi tanpa rasa sakit. Saat melihat pesan hijau bertuliskan "Janji Temu Dikonfirmasi" di layar, air mataku akhirnya jatuh.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
17
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status