LOGIN"Sialan! Wanita itu!"
Tak henti-hentinya Elya mengumpat. Sialan sekali wanita bernama Larissa itu. Elya pikir bisa menipu daya wanita yang tampak polos itu. Namun rupanya, pengalaman hidup malah memberikannya pelajaran.Alih-alih membenci dan menggugat Paskal. Larissa malah balik menyerang Elya dengan kata-kata sindiran. Kurang ajar sekali!"Aku butuh hiburan." Elya menyugar rambutnya ke belakang. Dia penat dan membutuhkan senang-senang.Wanita ini lantas"Kami pulang.." Ana menyambut kepulangan Larissa dan Azka. Saat melihat ibu asuhnya, Azka langsung memeluk dengan erat."Azka takut.." ucap anak itu bergetar."Ada apa, sayang?" Tatapan Ana beralih pada Larissa. Wanita itu hanya tersenyum."Azka, masuklah ke kamar. Kamu pasti lelah." Ujar Larissa pada anak itu.Azka patuh dan masuk ke kamarnya. Sementara Ana tampak kebingungan."Apa yang terjadi, Larissa?" Tanyanya."Dia beranggapan orang-orang yang ada di penjara itu jahat, bu.""Itu memang benar, kan? Dan pelaku kejahatan itu adalah ibunya sendiri." Ironi."Aku hanya ingin mempertemukan mereka berdua. Lila tampak menyesal. Dia meminta maaf dan Lila ingin aku mengasuh putranya.""Lalu kamu kabulkan?"Larissa menggeleng. "Ternyata aku tidak sebaik itu."Ana tersenyum dan memeluk Larissa. Sejak kecil anak ini di didiknya dengan penuh kasih sayang. Ia tahu betul sikap
"Lila! Ada yang mencarimu."Lila menoleh. Seorang sipir wanita memanggil namanya. Wanita ini bangkit dari duduknya dengan susah payah. Tenaganya tak sama seperti dulu. Tubuh ini sudah ringkih termakan sel penjara. Ia berjalan tertatih menuju kran air. Membersihkan tangannya yang berlumuran tanah.Di tempat merenung ini, Lila tak hanya dikurung di balik jeruji. Dia diberikan aktivitas setiap paginya.Lila yang sombong dan menganggap semua orang sebagai pelayannya kini harus bergelut dengan asap dapur, tanah liat dan benang jarum. Dia ditugaskan memasak di dapur. Merapikan tanaman dan juga menjahit. Semua keterampilan yang ia dapatkan dari penjara.Wanita ini lalu mengelap tangannya yang basah di lap tangan yang tergantung. Setelah itu, ia menghadap sipir wanita yang tadi memanggilnya."Siapa yang mencari saya, bu?" Tanyanya."Nyonya Alvaro."Deg!Lila seperti dipukul sampai membeku. Nyonya Alvaro? Bukan
Tidak hanya kamar utama. Setiap ruangan di rumah megah ini sudah dirubah oleh Paskal. Jangan sampai ada kenangan buruk atau jejak Lila yang masih tersisa.Larissa sudah kembali nenjadi istrinya. Dia adalah nyonya Alvaro yang sebenarnya. Sebab itulah, Paskal rela merombak habis rumah ini untuk membuat Larissa nyaman. Luka hati yang diberikan oleh Paskal masih berbekas. Dan Paskal tak mau menciptakan trauma di hati Larissa karena jejak wanita lain masih tertinggal disana.Selesai makan malam, Farhan yang menjadi tangan kanan Paskal berkunjung. Pria ini membawa koper kecil berwarna hitam yang akan menjadi kejutan untuk Larissa."Saya kemari atas perintah tuan Paskal, nyonya." Ucap Farhan tersenyum penuh arti.Pria ini mengambil koper kecil itu dan ditaruhnya di atas meja. Koper itu terbuka hingga memperlihatkan satu kertas.Larissa menerima kertas tersebut dan membacanya dengan seksama. Wanita ini terperanjat dan menatap suaminya tak percaya
Larissa menggeliat. Ia meraba sisi tempat tidurnya. Mencari selimut untuk menutupi tubuhnya yang terhampar hawa dingin. Larissa sampai meringkuk, dia mencoba mencari selimut dengan matanya yang terpejam.Uh, Larissa membuka mata ketika tubuh kekar itu menindihnya lagi. Kepala Paskal masuk ke dalam ceruk lehernya. Menghisap dan meninggalkan jejak cinta berwarna kemerahan.Pria ini lalu turun lagi ke bawah. Mencium tulang selangka dengan bibir yang terus turun ke bawah. Larissa melipat bibir menahan desahan. Paskal tengah mencicipi benda ranum yang mampu menghilangkan dahaga."Sayang...." Larissa memelas.Paskal tersenyum dan menegakkan kepalanya. Setiap pagi, antena itu selalu mencari sinyal. Lantang berdiri dan ingin menerobos ke sarangnya."Oh.." Paskal menggigit bibir. Ini sangat nikmat. Ia lalu memeluk Larissa dengan erat. Menghentak dari ritme pelan hingga cepat.Kuku-kuku Larissa tertanam di punggung Paskal. Wanita ini menje
Waktu berdenting dengan baik. Rasa yang dipupuk perlahan bersemi menjadi cinta yang menggelora. Tak terasa, inilah harinya. Tiba dimana Paskal akan menikahi Larissa dengan segenap rasa. Tanpa paksaan. Tidak ada rasa benci hingga tatapan mata yang menunjukkan emosi.Semuanya hancur bersama dengan kokohnya benteng kesombongan. Paskal sekarang sangat mencintai Larissa. Wanita yang sudah memberikannya satu orang putri yang cantik jelita.Paskal berdiri di altar. Berhadapan dengan pria yang akan mengambil janji setianya.Di taman sederhana ini, semua orang hadir dengan suka cita. Orang-orang yang menjadi saksi dari peliknya kisah cinta mereka berdua.Chiara membuka jalan untuk mempelai wanita. Anak yang akan berusia empat tahun itu menebarkan bunga di jalan yang akan dilewati oleh Larissa.Paskal mengulurkan tanganya saat Chiara selesai dengan tugasnya. Tak lupa tangan serta dahi itu diberi hadiah kecupan.Chiara tersenyum.
Paskal membuka sedikit jendelanya pada pria yang baru saja keluar dari club malam. Pria tinggi yang memiliki paras rupawan. Bertubuh tinggi dan atletis. Dia tersenyum tipis saat melihat mobil Paskal yang telah menunggunya.Pria ini lalu masuk dan duduk ke kursi belakang dimana ada Paskal yang menunggu."Ini untukmu." Paskal memberikan segepok uang pada pria itu."Yes!" Frans tersenyum lebar dan menghitung uangnya. Belasan juta rupiah sudah ada di tangan. "Terima kasih, tuan!""Kerja yang bagus. Simpan video live kalian tadi, jika wanita itu bertingkah kamu bisa mengunggahnya di situs jual beli video dewasa.""Tenang saja, tuan. Aku sudah menyimpannya." Sahut pria itu tersenyum penuh arti.Paskal mengangguk. "Terima kasih. Sekarang pergilah."Frans menganggukan sedikit kepalanya pada Paskal dan berpamitan pada dua pria yang duduk di depan. Setelah itu, ia keluar dari mobil dan menghilangkan jejak pertemuan ini.F







