LOGINMulai detik itu juga, Larissa disuruh kembali ke kamar asalnya. Baju pelayan itu ditanggalkan. Bi Ira membantu nona muda pindah lagi ke lantai atas dimana Paskal beristirahat.
"Bibi bersyukur tuan dan nyonya pulang.." ucap bi Ira lega."Aku juga, bi." Sahut Larissa datar."Dengan begitu, nona Larissa nggak akan disiksa sama tuan muda lagi." Terlebih melihat wajah Lila itu membuatnya muak.Pantas saja jika Demian dan istrinya tidak menyukai Lila. Bi Ira sudaLila yang kesal lekas memakai pakaiannya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah sambil menggerutu."Sepertinya pesona mantan pembantu itu sudah membuat Paskal bertekuk lutut!" Lila mendumal. "Suamiku yang penurut sekarang benar-benar berubah. Kalau begitu, aku harus mempercepat ini semua."Lila yang geram lalu meletakkan hair dryernya dengan kasar ke atas meja. Saat matanya beralih. Tak sengaja, ia menatap ponsel Paskal yang tertinggal di atas nakas.Wanita ini lalu tersenyum miring."Malam ini adalah waktu milik kita." Lila tersenyum penuh arti.Ia lalu mengambil ponsel Paskal tersebut dan melemparkannya begitu saja ke kolam renang. Persetan dengan kecanggihan ponsel itu! Lila tak perduli. Sekarang, dia tak akan memiliki gangguan lagi.Hari mulai gelap, Lila menuju dapur yang terletak di bagian belakang. Dapur terbuka yang memiliki view pantai yang indah. Wanita ini berencana untuk membuat makan malam.Paskal sendiri tel
"Sudah mandi pasti kamu tidur." Bi Ira dengan gemas mencium pipi ranum Chiara. Bidadari kecil cantik yang memberi warna pada hidupnya."Sekarang tidur di box ya, sayang. Bibimu ini masih ada kerjaan di dapur."Bi Ira merebahkan Chiara ke box bayi dengan hati-hati. Setelah itu, bayi berusia tiga bulan ini diberikannya selimut. Sekarang, bi Ira akan kembali ke dapur untuk membuat makan malam.Pukul sudah menunjukkan empat sore. Jika Larissa pulang nanti, dia tak perlu repot-repot membantu bi Ira di dapur."Aku mulai darimana dulu? Ah, mengeluarkan sayurnya saja dulu."Bi Ira membuka kulkas dan mengeluarkan sayuran hijau darisana. Oleh karena Larissa yang masih menyusui, bi Ira harus rajin memberikannya sayur-sayuran hijau.Setelah sayuran, bi Ira juga mengeluarkan ikan dari freezer. Ikan tersebut ia bawa ke kran air untuk dicuci. Namun sayup-sayup bi Ira mendengar suara pintu rumah yang terbuka."Siapa itu? Apa mungkin non
Setelah melewati perjalanan udara dan laut. Pasangan tidak harmonis ini tiba di sebuah pulau pribadi yang jauh dari pusat kota. Pulau pribadi yang bisa disewa oleh orang-orang kaya saja.Sesampainya disana, Paskal mengernyit. Hanya ada lautan, pasir dan juga hutan. Di tengah sana ada sebuah villa yang berdiri tegak.Kebingungan Paskal semakin menjadi-jadi saat menemukan tak ada satu pun manusia yang berada di dalam villa. Itu artinya hanya ada Paskal dan Lila seorang disini."Aku senang sekali akhirnya kita bisa berbulan madu, sayang.." Lila memeluk suaminya dari belakang. "Terakhir kita berlibur saat orang tuamu meninggal. Ketika kita berjalan-jalan ke Maldives. Ah, bagaimana setelah ini kita bulan madu kesana? Sepertinya kita harus memberikan Azka adik.""Hmm.. kemana perginya semua orang?" Tanya Paskal."Siapa?" Tanya Lila tak mengerti. Sekian detik, wanita ini tertawa dan melepaskan pelukannya. Ia lalu membalik tubuh kekar suaminya.
"Aku sudah mendapatkan tiket liburan kita, sayang.. di sebuah pulau sewa yang tidak jauh dari kota ini. Nanti kita naik pesawat selama satu jam lalu meluncur menggunakan kapal untuk sampai kesana." Lapor Lila malam itu."Hmm.. atur saja."Lila memeluk Paskal. "Aku sudah tidak sabar lagi. Kira-kira aku harus membawa apa, ya? Ngngng sepertinya aku perlu membeli baju renang, Paskal.""Terserah kamu saja."Wajah Lila berubah cemberut. Tapi dia tak bisa meluapkan kekesalannya. Dia harus bersikap manis agar Paskal tidak curiga."Azka akan kita tinggal selama 4 hari.""Selama itu?" Paskal baru menoleh ke arah istrinya."Iya. Kamu bisa libur dulu dari kantor, kan?""Bukannya anakmu butuh ASI?""Aku sudah tidak menyusuinya lagi.""Kenapa?" Tanya Paskal baru tahu."Aku tidak ingin dadaku kendor, Paskal. Biarkan saja dia meminum susu formula.""Kamu ini ada-ada saja." Paskal sampai meng
"Maaf, tuan.." Larissa dengan gugup menyerahkan ponsel milik Paskal. Dia sudah lancang karena tak sengaja membaca pesan mesra tersebut.Paskal menerima ponselnya sambil mengernyit. Ternyata pesan tak penting dari Lila. Istrinya itu mengatakan sudah menemukan destinasi yang tepat untuk berbulan madu.Pria ini lalu bangkit dari duduknya setelah bercengkrama dengan Chiara."Aku pulang dulu. Nanti malam ada pak Farhan yang kemari untuk menemuimu. Kamu bisa meminta tolong padanya untuk mendaftar di universitas." Larissa mengangguk. "Terima kasih, tuan."Setelah Paskal pergi barulah Larissa bisa tenang. Sejak tadi ia gugup bukan karena sikap Paskal yang berubah lunak. Melainkan karena status pria itu yang tak mungkin Larissa jangkau lagi."Apa yang aku harapkan darinya?" Larissa menggeleng sedih. Ia lalu beralih menatap putrinya yang sedang tersenyum."Maafin mama, sayang. Mama belum bisa jujur mengatakan siapa papamu sebenar
Lila pulang ke rumah. Menunggu dengan manis kepulangan Paskal bekerja. Ketika pria itu datang, Lila menyambut. Wanita ini tersenyum manis dan mengambil tas kerja Paskal."Aneh sekali." Gumam Paskal."Apa yang aneh?" Tanya Lila."Biasanya kamu selalu di kamar dan tidak pernah menyambutku."Lila tergelak. "Aku hanya ingin belajar menjadi istri yang baik."Paskal terkekeh sinis. Ia melewati Lila begitu saja."Sial! Benar dia sudah berubah!" Geram Lila. Gara-gara wanita bernama Larissa itu, Paskal jadi berubah total. Sikapnya tak lagi sama.Lila menyusul suaminya ke kamar tidur. Di dalam kamar mandi, Paskal membersihkan diri. Lila bergegas menyiapkan pakaian ganti. Saat Paskal keluar kamar mandi, pria ini sedikit terkejut karena sikap lain dari istrinya."Aku memilihkan pakaian tidur yang lembut untukmu, sayang.." ucap Lila.Paskal berdeham. Ia mengganti pakaian dan keluar dari kamar tanpa mengucapkan satu







