Mag-log in"Kamu!"
Mata Paskal sampai melotot melihat wanita yang tengah melenggok di depannya.Lila memamerkan bakatnya sebagai seorang model internasional. Ralat. Lebih tepatnya sebagai wanita penghibur.Dengan gaun tidur bertali spageti itu. Ia berjalan meliukkan tubuhnya. Gaun tidur berwarna putih transpara membuat lekuk tubuhnya tercetak. Kacamata dan kain segitiga berwarna hitam nampak terlihat menantang.Rambut wanita ini diikat tinggi ke belakang. Wajah tirusMobil yang ditumpangi Paskal melaju menembus jalan raya yang mulai ramai. Pria ini menatap nanar keluar jendela. Meratapi nasibnya. Kenapa bisa hidup Paskal terhempaskan seperti ini?Ditinggal orang tua. Dikhianati oleh wanita yang dicintai dan juga sahabat sendiri. Apa mungkin ini balasan karena Paskal yang dulunya sangat angkuh dan kasar?Paskal yang suka sekali menyakiti hati dan fisik orang lain melalui lisan dan tindakannya. Pasti ini semua adalah balasan pahit yang sedang Paskal tuai.Farhan yang berada di kursi depan melirik Paskal sesekali. Wajah pewaris Alvaro itu nampak memerah. Pasti Paskal sangat terpukul dengan apa yang terjadi."Tuan.. anda ingin langsung pulang ke rumah atau ke rumah sakit?" Tawar Farhan."Ke rumah sakit saja. Aku ingin melihat Chiara.""Baik, tuan." Farhan lalu memerintahkan sopir untuk membawa mereka ke rumah sakit."Terima kasih, pak Farhan."Farhan lantas menoleh.
"Chiara!" Teriak Larissa histeris. Wanita itu melemparkan Azka ke samping.Melihat putranya yang menangis saat jatuh ke tanah membuat naluri keibuan Lila memanggil. Wanita ini ikut menjerit memanggil nama anaknya."Oh, anakku! Azka!" Teriak Lila terkejut.Wanita ini melompat dari dermaga untuk menyelamatkan Azka yang bergulingan di tanah. Tapi secepat kilat Larissa menahannya.Wanita itu ditampar. Larissa menendang kaki kedua kaki Lila. Wanita itu terjatuh. Larissa menarik dan menjambak rambut Lila hingga wanita itu berteriak kesakitan."Kamu iblis! Berani sekali kamu menyakiti anakku!" Balas Larissa bertubi-tubi. Wajah Lila yang mulus dicakarnya habis-habisan.Farhan bergegas menolong Azka yang terjatuh. Sementara dua polisi mengambil dan memisahkan dua wanita yang bersiteru."Azka.." Lila menangis tersedu-sedu saat melihat Azka terluka. Kedua tangannya kini telah diborgol polisi.Sementara Larissa berlari ke a
"Lila!!" Teriak Paskal dengan mata berkobar kemarahan.Bram tertawa meremehkan. Lila tersenyum sinis. Di pelukan wanita itu Chiara meronta menangis kejar.Paskal yang tak terima berusaha melewati para pria bertubuh besar yang membawa tongkat bisbol."Ingin mengulangi kejadian setahun yang lalu, tuan?" Ucap pria berkumis memukul tongkat bisbolnya di udara.Bram merengkuh Lila, sembari membawa map berisi surat yang sudah ditanda tangani oleh Paskal. Ia akan pergi bersama Lila melarikan diri."Berhenti disana." Semua orang terkesiap. Langkah Bram dan Lila bahkan berhenti. Para pria penjagal juga gemetar.Beberapa pria baru yang memakai baju hitam naik ke lantai dua dan mengepung gedung."Siapa mereka, Paskal? Kamu ingkar janji!" Teriak Lila ketakutan.. jumlah pengawal yang dibawa Paskal lebih banyak daripada orang suruhan mereka.Paskal tersenyum sinis. "Bukannya kalian yang ingkar janji? Dasar pengkhiana
Paskal tiba dengan mobilnya seorang diri. Menggunakan jaket tebal berqarna hitam. Dia melirik jam yang ada di tangannya. Hampir pukul 4 pagi. Sebuah perjalanan hari ini yang begitu berat.Baru saja dia diselamatkan dari pulau, sekarang dia harus menjadi penyelamat untuk Chiara. Anak perempuan yang nyatanya menjadi anak kandungannya.Sesuai kehendak si penculik, Paskal harus datang sendiri. Dengan tangan kosong. Tanpa pendamping maupun siapapun. Paskal berjalan menembus sepinya daerah pergudangan yang ada di utara kota ini. Tepatnya di sebuah pelabuhan dimana banyak kontainer kapal yang diletakkan disana.Paskal mengikuti petunjuk. Pria ini berjalan ke sebuah bangunan tua yang ada di bagian timur pelabuhan. Ke sebuah bangunan yang tak terpakai lagi. Sangat tua hingga minim pencahayaan.Demi buah hatinya, Paskal menguatkan langkahnya. Ia berjalan masuk ke gedung ini.Sepi. Hanya ada kegelapan.Ponsel Paskal berdering. Pesan masuk y
Duarrr!!Ledakan yang barusan terjadi membuat Lila terkejut. Begitu juga dengan tawanan wanita lainnya. Malam ini, tanpa banyak berbasa basi Lila dipindahkan ke lapas setelah diputuskan bersalah.Belum ada satu jam Lila terduduk di kamar pesakitannya. Sebuah ledakan terjadi di daerah belakang lapas ini."Ah, sial! Apa yang terjadi?" Seorang sipir yang berjaga berteriak."Tabung gas di dapur meledak, bos! Api menjalar kemana-mana!" Seru yang lain."Apa??" Tak hanya sipir yang terkejut. Tapi juga para tawanan wanita."Apa? Ada kebakaran? Astaga pak sipir tolong lepaskan kami!" Ujar wanita bertato."Diam! Kalian tenang saja dulu. Cuma kebakaran kecil!" Bentak sipir tersebut. Pria itu lalu menuju dapur setelah mengunci terali depan sel Ia bergegas ke dapur dan melihat rekannya berbondong-bondong menuju dapur. Dua diantara mereka membawa alat pemadam api. Namun ledakan selanjutnya membuat mereka melompat."
"Tuan.." Larissa duduk bersimpuh di hadapan pria itu. Kedua tangannya menangkup. Matanya memelas dan memandang dengan penuh pengharapan. Air mata terjun bebas ke wajahnya."Tolong selamatkan putriku.." lirihnya."Larissa." Paskal terhenyak. Mendapat kekuatan, pria ini bangun dari duduknya. Berjalan mendekati Larissa dan menyamakan posisinya. Ia memegang kedua bahu wanita itu."Aku tidak tahu kepada siapa lagi aku meminta pertolongan. Hanya tuan yang bisa menyelamatkan putriku. Kumohon.. tuan.. selamatkan putriku.." pintanya terisak.Paskal menatap Larissa dengan mata yang memerah. Tak pernah ia melihat Larissa sehancur ini sebelumnya. Ketika pernikahan mereka.. dimana Paskal masih suka bermain dan menyiksanya.. Larissa selalu menampilkan wajah tegarnya.Namun tidak kali ini..Pertahanan itu telah runtuh. Larissa hancur ketika putrinya diculik oleh pria sialan itu."Aku berjanji akan membawa







