LOGINPaskal tiba dengan mobilnya seorang diri. Menggunakan jaket tebal berqarna hitam. Dia melirik jam yang ada di tangannya. Hampir pukul 4 pagi. Sebuah perjalanan hari ini yang begitu berat.
Baru saja dia diselamatkan dari pulau, sekarang dia harus menjadi penyelamat untuk Chiara. Anak perempuan yang nyatanya menjadi anak kandungannya.Sesuai kehendak si penculik, Paskal harus datang sendiri. Dengan tangan kosong. Tanpa pendamping maupun siapapun. Paskal berjalan menembus sepin"Lila!!" Teriak Paskal dengan mata berkobar kemarahan.Bram tertawa meremehkan. Lila tersenyum sinis. Di pelukan wanita itu Chiara meronta menangis kejar.Paskal yang tak terima berusaha melewati para pria bertubuh besar yang membawa tongkat bisbol."Ingin mengulangi kejadian setahun yang lalu, tuan?" Ucap pria berkumis memukul tongkat bisbolnya di udara.Bram merengkuh Lila, sembari membawa map berisi surat yang sudah ditanda tangani oleh Paskal. Ia akan pergi bersama Lila melarikan diri."Berhenti disana." Semua orang terkesiap. Langkah Bram dan Lila bahkan berhenti. Para pria penjagal juga gemetar.Beberapa pria baru yang memakai baju hitam naik ke lantai dua dan mengepung gedung."Siapa mereka, Paskal? Kamu ingkar janji!" Teriak Lila ketakutan.. jumlah pengawal yang dibawa Paskal lebih banyak daripada orang suruhan mereka.Paskal tersenyum sinis. "Bukannya kalian yang ingkar janji? Dasar pengkhiana
Paskal tiba dengan mobilnya seorang diri. Menggunakan jaket tebal berqarna hitam. Dia melirik jam yang ada di tangannya. Hampir pukul 4 pagi. Sebuah perjalanan hari ini yang begitu berat.Baru saja dia diselamatkan dari pulau, sekarang dia harus menjadi penyelamat untuk Chiara. Anak perempuan yang nyatanya menjadi anak kandungannya.Sesuai kehendak si penculik, Paskal harus datang sendiri. Dengan tangan kosong. Tanpa pendamping maupun siapapun. Paskal berjalan menembus sepinya daerah pergudangan yang ada di utara kota ini. Tepatnya di sebuah pelabuhan dimana banyak kontainer kapal yang diletakkan disana.Paskal mengikuti petunjuk. Pria ini berjalan ke sebuah bangunan tua yang ada di bagian timur pelabuhan. Ke sebuah bangunan yang tak terpakai lagi. Sangat tua hingga minim pencahayaan.Demi buah hatinya, Paskal menguatkan langkahnya. Ia berjalan masuk ke gedung ini.Sepi. Hanya ada kegelapan.Ponsel Paskal berdering. Pesan masuk y
Duarrr!!Ledakan yang barusan terjadi membuat Lila terkejut. Begitu juga dengan tawanan wanita lainnya. Malam ini, tanpa banyak berbasa basi Lila dipindahkan ke lapas setelah diputuskan bersalah.Belum ada satu jam Lila terduduk di kamar pesakitannya. Sebuah ledakan terjadi di daerah belakang lapas ini."Ah, sial! Apa yang terjadi?" Seorang sipir yang berjaga berteriak."Tabung gas di dapur meledak, bos! Api menjalar kemana-mana!" Seru yang lain."Apa??" Tak hanya sipir yang terkejut. Tapi juga para tawanan wanita."Apa? Ada kebakaran? Astaga pak sipir tolong lepaskan kami!" Ujar wanita bertato."Diam! Kalian tenang saja dulu. Cuma kebakaran kecil!" Bentak sipir tersebut. Pria itu lalu menuju dapur setelah mengunci terali depan sel Ia bergegas ke dapur dan melihat rekannya berbondong-bondong menuju dapur. Dua diantara mereka membawa alat pemadam api. Namun ledakan selanjutnya membuat mereka melompat."
"Tuan.." Larissa duduk bersimpuh di hadapan pria itu. Kedua tangannya menangkup. Matanya memelas dan memandang dengan penuh pengharapan. Air mata terjun bebas ke wajahnya."Tolong selamatkan putriku.." lirihnya."Larissa." Paskal terhenyak. Mendapat kekuatan, pria ini bangun dari duduknya. Berjalan mendekati Larissa dan menyamakan posisinya. Ia memegang kedua bahu wanita itu."Aku tidak tahu kepada siapa lagi aku meminta pertolongan. Hanya tuan yang bisa menyelamatkan putriku. Kumohon.. tuan.. selamatkan putriku.." pintanya terisak.Paskal menatap Larissa dengan mata yang memerah. Tak pernah ia melihat Larissa sehancur ini sebelumnya. Ketika pernikahan mereka.. dimana Paskal masih suka bermain dan menyiksanya.. Larissa selalu menampilkan wajah tegarnya.Namun tidak kali ini..Pertahanan itu telah runtuh. Larissa hancur ketika putrinya diculik oleh pria sialan itu."Aku berjanji akan membawa
"Apa yang..???" Lila melotot. Nafasnya terengah. Paskal mencekiknya dengan kuat.Tangan Lila memukul kuat tangan Paskal. Wanita ini meronta-ronta."Le... pas!!" Paskal menarik tangannya saat wajah Lila sudah berubah merah. Lila terbatuk-batuk. Ia muntah tepat di bawah Paskal."Kamu mencoba membunuhku, Lila?""Apa yang kamu katakan, Pas?!" Lila hampir menangis. "Kamu yang baru saja mencekikku!""Dan kamu berusaha meracuniku dengan air minum ini! Kenapa, Lila? Apa yang kamu inginkan?""Brengsek kamu, Pas! Kamu sembarangan bicara!!""Kamu berani mengumpatku?" Paskal sampai terperangah ketika Lila berani melawan. Tak ayal, ia menarik rambut Lila dan mencengkram rahang wanita itu."Paskal!" Jerit Lila memukul tangan Paskal."Selama ini aku diam bukan berarti aku tak tahu. Diam-diam kamu membuat rencana untuk melenyapkanku! Apa kamu pikir aku pria yang bisa kau bodohi lagi?"Plak!!
Lila yang kesal lekas memakai pakaiannya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah sambil menggerutu."Sepertinya pesona mantan pembantu itu sudah membuat Paskal bertekuk lutut!" Lila mendumal. "Suamiku yang penurut sekarang benar-benar berubah. Kalau begitu, aku harus mempercepat ini semua."Lila yang geram lalu meletakkan hair dryernya dengan kasar ke atas meja. Saat matanya beralih. Tak sengaja, ia menatap ponsel Paskal yang tertinggal di atas nakas.Wanita ini lalu tersenyum miring."Malam ini adalah waktu milik kita." Lila tersenyum penuh arti.Ia lalu mengambil ponsel Paskal tersebut dan melemparkannya begitu saja ke kolam renang. Persetan dengan kecanggihan ponsel itu! Lila tak perduli. Sekarang, dia tak akan memiliki gangguan lagi.Hari mulai gelap, Lila menuju dapur yang terletak di bagian belakang. Dapur terbuka yang memiliki view pantai yang indah. Wanita ini berencana untuk membuat makan malam.Paskal sendiri tel







