Kupinang Dia Tanpa Restu Ibu

Kupinang Dia Tanpa Restu Ibu

last updateLast Updated : 2026-11-07
By:  Evhy AyuUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
65Chapters
448views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tiara Putri, wanita sederhana yang bukan berasal dari keluarga terpandang. Demi menghidupi kedua orang tuanya, dia rela menjalani pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata. Hidupnya berubah ketika dia dipertemukan kembali dengan Mahesa, teman masa SMA yang kini telah sukses. Melihat perjuangan Tiara, Mahesa mengulurkan tangan dan menawarkan sebuah pernikahan. Namun, cinta mereka tidak semudah yang dibayangkan. Perbedaan status sosial dan masa lalu Tiara membuat keluarga Mahesa menolak hubungan mereka. Bahkan, ibu Mahesa rela menawarkan uang dalam jumlah besar agar Tiara meninggalkan putranya. Mampukah Mahesa mempertahankan rumah tangganya di tengah penolakan keluarganya? Ataukah tekanan dan kebencian akan memisahkan cinta yang telah mereka perjuangkan?

View More

Chapter 1

Bab 1 Bertemu Kembali

**

Dentuman musik elektronik menggema di seluruh bar. Di balik meja, seorang gadis berpakaian minim tengah meracik minuman beralkohol dengan gerakan terampil.

Pemilik bar yang selalu dipanggil Mami itu, menghampiri Tiara dan menyuruh gadis itu untuk datang keruangannya. Namun, tanpa disadari seseorang di ujung sana memperhatikan Tiara yang menurutnya begitu familiar dibenaknya, lalu dia mengikuti Tiara dari belakang. 

Sesampainya di ruangan, Mami menyuruhnya masuk sembari tersenyum penuh arti. Di sana Tiara melihat ada dua pria berbadan tegap dan tinggi duduk sambil menatap dirinya dengan lekat.

"Ada apa Mih, memanggil Tiara?" Tiara melihat kedua pria itu bergantian, entah kenapa tengkuknya terasa begitu kaku dan dadanya terasa sesak.

Mami tersenyum dan menyuruh Tiara untuk duduk. “Duduk dulu, Tiara.”

Meski diliputi rasa penasaran Tiara tetap menurut. Dia duduk di kursi yang ditunjukkan Mami, sambil sesekali melirik kedua pria itu.

"Gini Tiara, mereka teman-teman Mami. Dan ... mereka ingin berkenalan dengan kamu, Tiara.” 

Tiara mengangguk pelan, kerutan tipis muncul di dahinya. "Oh iya Mih."

Salah satu pria berwajah blasteran segera mengulurkan tangannya. Dia mencoba berkenalan dengan Tiara yang menurutnya terlihat mempesona.

Sedikit ragu, tapi Tiara mencoba menyalami tangan tersebut sesopan mungkin dan melirik ke arah pria itu. Namun, tangannya malah diusap lembut, bahunya menegang, segera dia menariknya dengan paksa.

"Kalau begitu saya tinggal dulu, ya.” Mami berdiri melangkah menuju pintu ruangan, senyum simpul sedikit tercetak di wajahnya.

Wajah Tiara langsung pucat. "Mami mau ke mana?"

"Mami ada urusan, kalian berbicang saja dulu.”

Warna wajah Tiara langsung berubah, jemarinya mengepal tanpa sadar ketika melihat Mami berdiri diambang pintu. Tiara berusaha segera keluar dari ruangan itu.

Pria belasteran itu tertawa, dirasa tawaan itu membuat tubuh Tiara merinding. Apalagi tatapan mereka sudah terlihat buas.

"Maaf Mih, Tiara harus menjaga bar, sepertinya di sana tidak ada yang melayani." Tanpa menunggu jawaban, Tiara segera melangkah mencoba keluar dari ruangan tersebut.

Namun baru saja dia hendak melangkah tiba-tiba sebuah tangan besar menahannya. Napasnya kian memburu, segera dia menarik lengannya berkali- kali sambil melepaskan diri.

"Lepas!" Rasa panik mulai menguasai dirinya ketika cengkraman tangan itu tidak juga mengendur.

Mereka berdua benar-benar menahan Tiara untuk tidak pergi dari ruangan itu. Meskipun tubuhnya penuh ketakutan, dia mencoba melepaskan diri. Namun sangat sulit.

Tatapan mereka, gerak-gerik mereka membuat pikirannya sudah tidak karuan. Suaranya bergetar hebat, meminta untuk dilepaskan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting cukup keras membuat semua orang yang ada di ruangan menoleh, terlihat seorang pria berdiri di ambang pintu. Sorot matanya tajam, seakan sedang mencari seseorang.

"Lepaskan dia!" Suaranya rendah dan penuh penekanan.

Tiara membeku, jantungnya berdetak dengan cepat." Suara itu,” gumamnya pelan, lalu matanya membesar karena dia mengenali wajah itu. “Mahesa?"

Mahesa langsung membawa Tiara keluar dari Bar, pria itu segera melepas jaket dan memakaikannya ke tubuh Tiara yang sedikit terbuka. Terlihat tangan Tiara masih bergetar hebat, keringat pun membanjiri telapak tangan.

"Makasih," ucap Tiara sambil menundukan pandangan.

Mahesa mengangguk."Kenapa kamu ada di sini, Ra? Bukannya kamu ikut Bapak sama Ibu ke kampung setelah lulus sekolah?"

Tiara tersenyum miris."Aku mau pulang." Dia mengabaikan pertanyaan Mahesa dan hampir melangkah jauh, tapi pria itu langsung menahan Tiara.

"Biar aku antar." Mahesa mencoba memberikan tumpangan, karena tidak ingin membiarkan Tiara pulang seorang diri.

Tiara menggelengkan kepala."Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri."

Tiara menggenggam ujung jaket yang dipakaikan Mahesa.

"Kalau mereka kejar kamu gimana, Ra? mau ya aku antar pulang." Mahesa mencoba memelankan suaranya supaya Tiara tidak merasa ketakutan.

Tiara terdiam sejenak, tapi ada sedikit anggukan, sebenarnya dia malu harus bertemu kembali dengan Mahesa. Dan anehnya setelah bertahun tidak bertemu suara pria itu mampu membuat jantungnya kembali berdebar.

Mahesa paham dengan anggukkan kecil itu, dia pun tersenyum dan membawa Tiara masuk ke dalam mobil. Di perjalanan pulang Mahesa mencoba membuka obrolan baru.

"Sejak kapan kamu ada di Jakarta, Ra?" tanya Mahesa perlahan.

"Baru satu tahun, Sa," jawabnya sambil menundukan kepala, lalu beralih menatap keluar jendela mobil, sembari menutupi pakaian kerjanya yang masih melekat di tubuh dengan jaket yang dia kenakan.

"Kenapa kamu nggak kabarin aku?" Mahesa masih mencoba membuka topik obrolan di sepanjang jalan.

"Sepertinya kamu bukan keluargaku, Sa. Yang harus aku beri kabar." Tiara menatap Mahesa sekilas, lalu mengalihkan kembali pandangan sebelum pria itu menjawab.

Mahesa terdiam sejenak."Maaf jika membuatmu tidak nyaman."

"Tidak apa. Di pertigaan depan turunkan aku,Sa."

Mahesa mengangguk mengerti."Apa itu rumah kamu?"

Tiara mengangguk. "Aku ngkos di situ, terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."

Saat Tiara membuka pintu mobil, Mahesa mencegah dengan memegang bahu Tiara. Gadis itu langsung menoleh.

"Aku ingin meminta nomor telpon mu, Ra." Ada sedikit keraguan dari hatinya karena ini kali pertamanya bertemu dengan Tiara.

Tiara hanya terdiam dan mereka saling berhadapan, setelah sekian lamanya mereka tak berkomunikasi kali ini Mahesa seakan membawanya kembali masuk ke dalam hidupnya.

Selepas mandi dan beristirahat, Tiara menatap ponselnya yang sejak tadi berdering. Beberapa pesan masuk dari nomor yang dia kenal, Mahesa.

"Apa kamu sudah makan,Ra?"

Pertanyaan simple itu membuat dada Tiara menghangat. Dengan sedikit keraguan Tiara membalas pesan Mahesa.

"Aku sudah makan. Apa kamu sudah sampai rumah?"

Mahesa yang tengah membuka baju kemeja segera duduk dan membalas pesan Tiara. Jemarinya begitu lihai membalas pesan Tiara.

Mereka larut dalam pembicaraan ringan. Pesan demi pesan terus bertukar, membahas hal-hal sederhana hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan larut malam. 

"Aku enggak pernah lupa sama kamu,Ra." 

Hanya membaca tanpa membalas, Tiara sadar diri tidak pantas berdekatan dengan Mahesa yang sudah terlihat lebih baik kehidupannya dibandingkan dirinya.

"Boleh, aku bertemu kamu lagi?"

Pesan kembali masuk, tiba-tiba detak jantung Tiara tak beraturan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan sembari menggenggam ponselnya semakin erat.

"Bagaimana, Ra?" tanya Mahesa yang sudah gugup menunggu balasan Tiara.

Tiara menarik napas panjang sebelum mengetik balasan pesan Mahesa. Namun, hati kecilnya tidak bisa bohong dia juga ingin kembali bertemu Mahesa.

"Untuk apa kamu ingin bertemu denganku, Sa?"

Tak lama Mahesa membalas. " aku cuma ingin mengobrol."

Balasan singkat itu membuat senyum kecil yang sejak tadi dia sembunyikan, akhirnya muncul di sudut bibir mungilnya. Tiara mencoba memberi peluang untuk mereka bertemu kembali.

"Jemput aku di depan gang, sore hari."

Senyum lebar langsung menghiasi wajah Mahesa. Dia segera membalas pesan Tiara dengan penuh semangat.

"Oke Ra, aku akan jemput kamu besok."

Tiara mematikan ponselnya, terlihat senyumannya tak kunjung hilang. Di ujung kamar sana ada Mahesa yang bahagia karena Tiara mengiyakan ajakan dirinya untuk bertemu.

"Untung aku bertemu kembali denganmu, Ra," gumam Mahesa sembari menatap profil Tiara.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
65 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status