แชร์

7. Malam Pengantin

ผู้เขียน: Stary Dream
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-17 17:07:14

Larissa terbangun dari mimpinya sambil terengah-engah. Peluh membasahi sekujur tubuhnya.

Mimpi itu seolah jelas sekali.. mungkinkah itu sebuah pertanda?

Ia terjatuh dari tangga dimana ada satu tiang yang menimpanya. Kenapa? Apa maksudnya? Besok adalah hari pernikahannya. Kenapa mimpi ini tiba-tiba datang. Apa mungkin ini sebuah pertanda agar Larissa mundur saja? Pernikahan ini mungkin tak bisa membawa kebahagiaan untuknya.

Larissa mengusap wajahnya. Sepertinya, ia tak memiliki pilihan selain melanjutkan pernikahan ini. Jelas sekali keluarga Alvaro akan murka jika Larissa tiba-tiba membatalkan pernikahan sepihak.

Malam berganti pagi, Larissa sudah diantar menuju gedung tempat ia akan melakukan janji suci pernikahan.

Gaun satin putih sudah dipakai.. gaun yang memiliki ekor putih panjang terjuntai. Rambut ini juga dibiarkan tergerai. Rambut coklat kehitaman lurus melebihi dada. Rambutnya di tata ikatan setengah ke belakang. Tak lupa mahkota bunga kecil ditaruh di atas kepala.

Untuk riasan wajah, Larissa hanya dipoles tipis. Sebab wajah kecil Larissa tak cocok jika memakai make up yang terlalu tebal.

"Sudah siap, nak?" Tanya Ana.

Larissa tersentak kaget.

"Kamu melamun? Sampai kaget gitu.."

Larissa menampilkan senyum tak enak.

"Bersiaplah. Sebentar lagi bapak akan menjemputmu."

"Apa pengantin pria nya sudah datang?"

"Sebentar lagi sampai." Ana tersenyum.

Sementara Larissa jadi gugup tak karuan. Otak dan hati ini mengajak ia melarikan diri, tapi kaki ini terasa kaku. Rasanya untuk bangkit saja ia tak bisa.

Oh, Larissa ingin bersembunyi. Kalau tidak, menghilang saja! Rasanya dia ingin mundur dari pernikahan ini. Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu pada biduk rumah tangganya.

"Larissa.. bapak sudah datang."

Larissa menoleh tepat dimana Hamdi masuk ke ruangan.

"Ayo, nak. Pengantinmu sudah menunggu."

Mata Larissa berkaca-kaca. Ia lalu menerima uluran tangan Hamdi yang mengajaknya ke altar pernikahan.

Ternyata mimpi Larissa berbeda dengan kenyataan. Tidak ada anak tangga yang menjulang disini. Dengan hati-hati, Larissa melangkah sampai akhirnya ia bisa melihat seorang pria yang berdiri tegap disana.

Menggunakan jas berwarna putih, Paskal berdiri tegap disana menunggunya. Wajahnya begitu tegas dan tampan. Tapi tak ada senyum haru terbit di bibirnya.

Hamdi mengantar Larissa sampai ke tempat seharusnya. Ia lalu menyerahkan Larissa pada Paskal.

Pria itu mengulurkan tangannya. Ada senyum tipis menghiasi wajah rupawan itu. Larissa menyambut. Keduanya kini berdiri di depan pendeta. Saling memandang dan berjanji untuk sehidup semati di depan Tuhan.

Sah! Paskal dan Larissa menjadi suami istri.

Paskal melingkarkan cincin bertahta berlian kecil di jari manis istrinya. Begitu juga Larissa yang melakukan hal sama.

Keduanya sempat saling memandang. Harusnya ada kecupan sebagai penanda mereka menjadi sepasang suami istri. Keduanya saling memandang sebentar, terutama Larissa yang terlihat ragu.

Terpaksa Paskal melakukan itu, mengambil dagu dan mengecup kilat bibir mungil itu. Keduanya lalu saling memalingkan wajah.

Tak ada perayaan mewah karena pernikahan ini dilakukan dengan sederhana. Tamu yang diundang hanya kalangan terbatas dan keluarga saja.

Sampai akhirnya acara selesai, Paskal membawa Larissa menuju kediaman Alvaro dimana seluruh keluarga sudah menyambutnya.

Imelda memberikan pelukan kepada keduanya. Begitu juga Demian yang bersikap biasa saja walau ia tahu Paskal sedari tadi ingin bicara padanya.

Hari berganti malam, Larissa dibawa menuju kamar pengantin. Kamar dimana Paskal tidur disini.

Sebuah gaun tidur pun disiapkan untuk Larissa. Ini adalah malam pertama, Larissa harus memakai ini sebagai bentuk penyerahan dirinya. Rambut panjang Larissa di sanggul ke atas untuk memperlihatkan leher jenjangnya.

"Kami permisi." Ucap pelayan yang sudah mendandani Larissa.

"Terima kasih."

Sekali lagi, Larissa bercermin. Ia meratapi keputusannya.

Pintu kamar kerja Demian diketuk, lalu muncul seorang pria dengan wajah penuh kesal.

"Aku sudah menikah. Sekarang papa bisa merubah semuanya."

"Tidak semudah itu, Paskal."

"Apa lagi? Bukankah syarat dari papa aku harus menikah dengan wanita pilihanmu?"

"Betul."

"Lalu tunggu apa lagi? Ubah surat wasiat dan aku ingin kembali ke Perusahaan."

"Tidak semudah itu." Jawab Demian santai.

Paskal tergelak. Dia lalu tertawa sinis. "Papa ingin bermain denganku?"

"Buktikan dulu dirimu. Jika mampu, maka papa akan memberikan semuanya untukmu!"

"Caranya?"

"Gunakan otakmu!"

Paskal memalingkan wajah.

"Mamamu sudah memesan tiket liburan untuk kalian. Anggaplah ini sebagai kado pernikahan. Bersenang-senanglah selama satu minggu disana!"

"Aku tidak mau pergi!"

"Jangan keras kepala, Paskal!" Desis Demian tak suka.

"Terserah kalian saja!"

Paskal keluar dari kamar kerja ayahnya dengan perasaan marah.

"Sial! Apa aku sedang dipermainkan?"

Paskal membuka pintu kamarnya dan terkesiap. Seorang wanita sedang duduk di depan meja rias. Rambut panjangnya diikat sanggul dan tubuh itu dibalut gaun tidur berwarna merah muda.

"Aku lupa kalau aku sudah menikah." Gumam Paskal.

Paskal membuka jas pengantin begitu juga yang lainnya dan dilempar begitu saja ke sembarangan arah.

Larissa meneguk ludah ketika melihat Paskal hanya memakai celana pendek saja. Tubuh itu begitu kekar berotot, baru pertama Larissa mendapatkan pemandangan seperti itu.

Larissa bangkit dari duduknya dan mengambil baju yang dilempar sembarangan lalu menaruhnya di tempat yang kotor.

Paskal sendiri langsung merebahkan dirinya di tempat tidur sambil memejamkan mata. Begitu juga Larissa yang ikut duduk di tepi pembaringan.

"Setidaknya kamu mandi dulu.." ucap Larissa pelan.

Mata yang terpejam tadi terbuka lebar dan memandang Larissa tajam.

"Baru hari pertama kamu sudah berani mengaturku.." desis Paskal dingin.

"Maaf.. aku nggak maksud. Tidurlah aja." Larissa menyingkap selimut dan menaikkan satu kakinya namun ia mendapat tendangan dari Paskal.

"Aduh!" Larissa mengadu. Pinggulnya membentur lantai.

"Siapa yang menyuruhmu tidur di tempat tidurku?"

Larissa mengerjap.

"Maaf."

Ia lalu bangkit dan pergi ke sofa yang ada di kamar ini.

"Siapa juga yang menyuruhmu tidur disana?"

"Terus aku tidur dimana?" Tanya Larissa polos.

"Tidur di luar!" Bentak Paskal.

Larissa kembali mengerjap. "Di kamar tamu?"

"Di kamar pembantu!"

Apa? Apa Larissa tak salah dengar?

"Kamu dengar Larissa. Aku menikahimu hanya demi warisan dan posisiku di perusahaan. Bukan karena aku mencintaimu! Jadi jangan berharap lebih padaku!"

"Baik." Larissa meneguk ludah. "Aku mengerti."

Larissa lalu bangkit dari duduknya menuju pintu keluar. Setelah keluar dia malah bingung. Dia belum home tour, belum tahu dimana posisi kamar pelayan.

Dengan langkah berat, Larissa turun dari tangga menuju dapur. Mungkin saja kamar pelayan ada disana.

"Larissa!"

Larissa terlonjak kaget. Rupanya Imelda ada disana.

"Mama.."

"Kamu belum tidur, nak?"

"I-iya. Mau ambil minum." Jawab Larissa tergagap.

"Sayang!" Keduanya menoleh. Ternyata Paskal muncul. Dia sudah memakai kaos dan celana panjang.

"Paskal.." tegur Imelda.

"Kamu sudah ambil minumnya?" Tanya Paskal yang lalu beralih pada Imelda. "Tadi aku menyuruhnya mengambil minum."

Imelda lalu melirik Larissa.

"Iyaa tadi aku mau ambil minum untuk mas Paskal."

Imelda lalu tersenyum.

"Sudah ambil minumnya? Ayo, kita ke kamar sekarang." Paskal lalu menarik tangan istrinya menaiki tangga dimana kamar mereka berada.

Sementara Imelda heran. "Bukannya tadi bilang mau mengambil minum?"

Sesampainya di kamar, tubuh Larissa dihempas ke dinding dengan kedua tangan yang dicengram kuat. Terlebih, Paskal malah mendesaknya.

"Berani sekali kamu!" Paskal memandang tajam.

"Apa salahku?" Mata Larissa mengelepar ketakutan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   142. Setia Selamanya

    Paskal naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut dan mencium perut Larissa yang membukit. Larissa menggeliat. Matanya terbuka perlahan."Mas Paskal.." mata Larissa memerah."Masih malam. Tidurlah."Paskal menaruh satu tangannya ke bawah tubuh Larissa. Wanita yang masih terbaring di ranjang pesakitan ini dibawanya dalam pelukan.Dengan penuh kasih sayang, Paskal mengusap punggung istrinya dengan nyaman. Larissa menyenderkan kepalanya di atas dada bidang itu. Menjadikan tubuh Paskal sebagai sandaran tidurnya.Pagi ini, Larissa bangun dalam keadaan lebih segar. Tidur semalam nyenyak. Aroma parfum maskulin suaminya menjadi pengantar tidur yang menyejukkan.Paskal sendiri sudah lebih dulu terbangun. Dengan cekatan, ia menata makanan di atas meja dan menghidangkannya pada Larissa."Makan ini, sayang." Sebuah mangkuk berisi sup diberikan."Mana bi Ira?""Pulang sejak semalam.""Kamu pasti cape

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   141. Masalah Terakhir

    "Halo. Ya?"Erica merapatkan ponsel itu ke telinga dan mendengar perintah secara seksama. Senyum tersungging di bibir manisnya."Ah, baiklah. Di hotel biasa. Pukul 8 malam."Tut. Sambungan itu dimatikan. Erica bangkit dari duduknya dan menghadap cermin.Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, ia akan bersiap menuju hotel dimana ia memiliki pekerjaan sampingan.Rambut pendek itu ia sisir rapi dan diberikan spray. Wajah yang mulus diberikan riasan bold. Jangan lupakan lipstik yang berwarna merah maroon itu sungguh bergairah di bibirnya yang tebal.Gaun bertali sejari dengan punggung setengah terbuka ia pilih. Wanita ini memutar tubuhnya untuk memeriksa penampilannya."Kecantikanku memang tak pernah gagal." Gumam Erica percaya diri.Wanita ini mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar. Dia harus bekerja malam ini bersama dengan teman-teman satu "profesi" nya. Ah, apa itu? Pasti ada alasan kenapa Erica bisa b

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   140. Dalang Masalah

    "Pak Teguh??" Sekretaris wanita ini nampak ketakutan saat melihat dua pria tampan yang gagah sedang menatapnya.Di belakang dua pria itu ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Mereka berbaris seperti pengawal."Iya. Apa ada pak Teguh disini?" Tanya Farhan mengambil alih situasi."A-ada.. tapi anda berdua siapa?" Sekretaris ini jadi terbata-bata.Paskal tersenyum. "Malaikat maut."Tanpa menunggu persetujuan, Paskal yang tak sabar melewati wanita itu begitu saja. Ia lalu pergi ke ruangan yang menjadi ruang kerja Teguh."Saya tidak terima dikalahkan. Gara-gara Paskal Alvaro, saya tidak bisa menjadi politisi lagi!" Seru Teguh.Gara-gara skandal anaknya di masa lalu yang membuat namanya tercemar karena korupsi, Teguh jadi mundur dari pemilihan anggota dewan. Dan sialnya, Paskal Alvaro malah menang dalam pemilihan ini.Oh.. Teguh tak terima! Ia pun menyuap seorang jurnalis agar membuat berita palsu mengenai

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   139. Ketegasan Larissa

    "Saya sudah tidur bersama tuan Alvaro." Erica tersenyum tipis. Dengan anggun dan lembut ia mengambil beberpaa lembar foto yang ada di tas tangannya lalu memberikan pada Larissa.Larissa mengambil foto tersebut dan menatap nanar. Disana ada foto Paskal dan Erica yang tengah beradu kasih di tempat tidur. Terlihat Paskal yang tidak memakai pakaian tidur memeluk Erica dengan erat."Anda pasti tahu mengenai gosip yang beredar, kan? Benar sekali, nyonya. Saya dan tuan memang memiliki hubungan sejak lama. Yaitu ketika kalian belum rujuk kembali."Bi Ira yang mendengar itu jadi meradang. Ia lalu menghardik Erica."Itu semua pasti tidak benar, nyonya! Wanita ini mengada-ngada!" Bi Ira jijik sekali melihat Erica.Sementara, Erica tak perduli dengan ucapan wanita paruh baya itu. Hanya pelayan, ia tak berniat meladeninya.Larissa memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengusap perutnya."Lalu anda mau

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   138. Disuap

    Pagi ini, Paskal izin bekerja. Larissa kembali dijaga oleh bi Ira. Keduanya bersikap biasa seprti tak ada masalah. Paskal tak menyinggung berita negatif yang mengenai dirinya. Pun begitu Larissa yang mengantungi kesetiaan suaminya. Ya, anggaplah begitu. Dokter wanita datang lagi untuk memeriksa keadaan Larissa. Kali ini nyonya Alvaro dipindahkan ke ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin. Semuanya normal dalam keadaan baik. Namun yang tak baik adalah denyut jantung Larissa. "Tekanan darah anda sedikit naik, nyonya." Ucap dokter tersebut. "Apa anda tidur nyenyak semalam?" Larissa mengangguk. "Ya. Saya tidur dengan nyenyak.." "Oke. Kalau begitu kita lihat dulu tekanan darahnya sampai besok. Jika masih tinggi kita bisa pertimbangkan alternatif lain." Sambung dokter wanita ini lagi. Selesai diperiksa, Larissa dibawa lagi pulang ke kamar dengan bantuan kursi roda. Daritadi

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   137. Membersihkan Nama

    "Ini tidak benar." Paskal memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.Berita disana mengabarkan jika Paskal telah berselingkuh dengan seorang model bernama Erica. Terlihat dari cuplikan foto ketika mereka berpelukan.Narasi negatif makin tergiring karena track record Paskal yang gelap. Yaitu pernah mendua saat di pernikahannya yang pertama dengan orang yang sama."Mereka sepertinya ingin menjebak tuan." Balas Farhan."Atau mungkin wanita itu. Harusnya aku tahu kalau dia memang wanita penghibur." Paskal lalu meminta tolong pada pengacaranya."Bersihkan semua berita negatif itu. Cari media yang menerbitkannya. Temukan dalang dari semua ini. Jangan sampai Larissa mendengarkan berita ini."Farhan mengangguk. "Akan saya lakukan."Farhan bergegas menelusuri asal muasal berita ini tercipta. Paskal yang merasa semuanya beres lantas pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, Paskal dihubungi oleh Triwan. Anggota dewan ini me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status