LOGIN"Aku setuju untuk menikah dengan Larissa asal papa mau menerima syarat dariku."
"Apalagi itu?" "Aku ingin menikah sederhana, tidak perlu dipublikasikan. Tak perlu mengundang banyak orang." "Kenapa? Kamu pikir pernikahanmu itu aib?" Desis Demian tidak suka. "Aku hanya belum siap saja.." "Kalau begitu tidak usah menikah." Maka warisan dan jabatan juga hilang. Paskal berdecak. "Siapa yang mendesak untukku menikah?" Demian hanya geleng-geleng kepala. "Kamu memang duplikatku. Terserahlah." "Aku mau satu minggu lagi lamaran diadakan. Satu bulan kemudian baru menikah." Paskal langsung pergi setelah mengatakan itu. Satu minggu kemudian, lamaran dilaksanakan dengan sederhana. Sesuai keinginan Paskal. Tukar cincin sebagai tanda lamaran juga sudah dilakukan. Saat ini, cincin ini sebagai pengikat keduanya. Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Untuk urusan gedung, gaun, makanan itu Imelda yang urus. Sementara untuk tamu undangan, ajudan Demian yang akan mengurusnya. Pihak Larissa setuju untuk dilakukan pernikahan secara sederhana. Mengingat mereka juga bukan kalangan yang berada. Bisa menikah di gedung saja sudah membuat derajat mereka seperti terangkat. Tak perduli akan menikah sebentar lagi, Paskal tetap pada kebiasaan lamanya yaitu menghabiskan waktu di klub malam. Menikmati alunan musik serta sentuhan yang membangkitkan gairah. "Jadi tanggal pernikahanmu sudah ditentukan?" Tanya Bram yang menemani Paskal malam itu. "Iya." "Kalau begitu aku harus menyiapkan jas." "Aku nggak banyak mengundang orang. Kami menikah secara sederhana saja." Seseorang memanggil hingga keduanya menoleh. Ternyata teman lama Paskal, Adit juga datang di club Neptunus. Tak sendirian, ia kembali datang dengan tiga rekannya. Dimana ada Elya disana. "Apa kabar Paskal?" Tanya Elya tersenyum sinis. Ia masih ingat kelakuan kasar Paskal waktu itu. Paskal hanya mendelik dan tak mau menjawab. "Sombong!" Gumamnya. Pria ini memang sempat membuatnya kesal, tapi mengingat sikap misteriusnya Elya jadi penasaran. Ingin sekali rasanya Elya memasang perangkap untuk menangkap hati pria dingin ini. Suasana mulai larut, Paskal masih ada disana. Menikmati minuman beralkohol yang membakar tenggorokannya. "Kami mau belum pulang?" Tanya Elya yang mencari posisi duduk di sebelah pria dingin ini. "Kenapa? Mau mengusirku?" "Kami sombong banget. Tapi, aku suka!" Elya tersenyum manis. Paskal hanya meringai. Dia lalu meraih dagu lancip itu dan menyentuh bibir Elya. Memagutnya dengan penuh gairah. "Kita lanjutkan yang kemarin, bagaimana?" Tawar Elya. "Aku nggak bisa menolak." Paskal menarik tubuh Elya dalam dekapannya dengan tangan yang menjelajah tubuh itu. Keduanya saling bersentuhan. Bahkan bisa saling merasakan hembusan nafas. Bibir itu lalu terkait. Elya naik ke pangkuan Paskal dan memberikan jejak cinta itu di leher kekasihnya. Pantaskah disebut kekasih? Ya, kekasih satu malam. *** "Kamu harus fitting baju hari ini." Ucap Imelda. "Bukannya sudah diukur kemarin." Jawab Paskal berat karena dia masih mengantuk. Dia baru pulang pukul 4 pagi setelah menghabiskan satu malam dengan wanitanya. "Beda. Kemarin hanya diukur, sekarang dicoba. Kalau tidak suka, kamu bisa langsung complain." Paskal sedang tak bergairah untuk membantah. Jadilah ia mengikuti ibunya pergi ke butik. Tapi, sebelumnya ke panti asuhan dulu menjemput Larissa. Sengaja juga Paskal tak mau menyetir. Ada sopir yang ikut mereka. Sesampainya di butik, Larissa dan Paskal mencoba pakaian pengantin mereka masing-masing. "Wahh.. kamu tampan sekali. Jas ini cocok untukmu." Ucap Imelda senang. Dia lalu melihat Larissa yang tengah memakai gaun satin berwarna putih. "Itu juga cocok untukmu." "Apa ada yang kurang?" Tanya pegawai butik kepada Larissa. "Aku cuma nggak nyaman di daerah bahu." Ucap Larissa. Itu karena gaun ini terbuka mengekspos bahu jenjangnya. "Kalau begitu kita tambahkan sedikit sayap saja disini." Larissa setuju. Asalkan tak terlalu terbuka, dia tak masalah. Sungguh, dia malu. Biasanya dia selalu memakai pakaian tertutup. Selesai fitting, Imelda mengajak keduanya untuk mencari cincin kawin. Tak ada yang mengutarakan pendapat karena semuanya dipilih oleh Imelda. Wanita ini patut bersyukur karena Larissa tidak banyak menuntut. Sebuah cincin emas putih bertahta berlian kecil dipilih Imelda. Sangat cocok dengan jari manis Larissa yang mungil. Selesai, mencari seluruh barang. Imelda memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran bintang 5 yang memang ada di pusat perbelanjaan ini. Bagi Imelda dan Paskal ini hal yang biasa. Mereka dilayani dan diberikan ruang VIP. Tapi berbeda dengan Larissa yang baru merasakan semua ini untuk pertama kali. "Ini pertama kalinya saya kemari.." ucap Larissa malu-malu. "Benarkah? Kalau begitu kamu harus mencicipi dagingnya. Disini begitu enak." "Terima kasih, Nyonya." "Eh! Jangan panggil dengan sebutan itu. Panggil mama saja. Kan sebentar lagi kalian akan menikah." Imelda tersenyum. Larissa juga ikut tersenyum tapi lain hal dengan pria yang duduk disebelah Imelda. Wajahnya masam sekali dari tadi. "Apa kamu mengundang orang tua kandungmu?" Tanya Paskal. Imelda terlonjak kaget. Ketika Paskal mengeluarkan suara, pertanyaannya begitu menohok. Larissa menggeleng pelan. "Aku nggak tahu orang tua kandungku dimana.." "Mereka nggak pernah melihatmu?" Itu karena Imelda pikir, ada beberapa orang tua yang sengaja menitipkan anaknya di panti asuhan. Larissa hanya menggeleng. Wajahnya jadi tertunduk. "Bagaimana bisa dilihat, kalau memang dibuang." Paskal terkekeh. "Coba ceritakan bagaimana kamu bisa tinggal disana?" Imelda menyenggol siku Paskal. Ia jadi tak enak hati setelah melihat wajah Larissa yang berubah muram. "Aku dibuang oleh seseorang yang bahkan aku nggak tahu itu ayah atau ibuku. Menurut cerita ibu Ana, tubuhku di taruh di semak belukar tanpa selimut. Saat ditemukan, tubuhku sudah dikerumuni semut. Mungkin orang tua kandungku menginginkan aku mati.." "Ya ampun.." Imelda jadi iba. Orang tua macam apa itu yang mencoba membunuh anaknya sendiri. Bahkan binatang saja menyayangi anaknya. "Kamu mengalami hari-hari yang berat, nak.." "Tapi untunglah aku bertemu dengan orang-orang yang baik. Mereka selalu membuatku merasa bahagia.. bahkan bapak dan ibu juga nggak pernah mau membahas masa laluku." Larissa lalu tersenyum. "Sekarang, kamu sudah menjadi bagian dari kami.. jangan sedih lagi!" Imelda menyentuh tangan Larissa dan memegangnya. Sementara Paskal hanya diam. Perkataan Larissa tadi tidak menyentuh relung hatinya. Selesai menghabiskan waktu bersama, mereka kembali ke kediaman masing-masing. Sekarang tinggal menunggu hari pernikahan saja. Paskal juga masih menyempatkan diri untuk bermesraan dengan kekasih gelapnya. Setiap malam, dia selalu keluar untuk menghabiskan waktu bersama Elya di club malam. Keduanya bak saling mencandu dan membutuhkan. "Ku dengar kamu akan menikah.." Elya mengusap rahang kekasihnya setelah pertempuran yang panjang. "Satu minggu lagi.." jawab Paskal sambil memejamkan mata. Mereka menyewa satu kamar khusus untuk bermesraan. "Apa itu artinya, kamu nggak membutuhkanku?" Paskal membuka mata dan menatap wajah yang begitu menggoda. "Kamu yang terbaik." Paskal kembali meraih wajah itu dan mengecupinya. Satu minggu kemudian.. Hari pernikahan sudah tiba. Larissa dipanggil oleh ayah angkatnya menuju altar pernikahan. Sebuah buket lili putihpun, Larissa terima. Bersama Hamdi, ia berjalan menuju altar pernikahan. Menaiki satu per satu tangga yang akan mencapai puncak tempat ia dan Paskal akan mengikat janji. Sayang sekali, Larissa malah menginjak gaunnya yang menjuntai panjang. "Aduh!" Larissa jatuh begitu saja sampai Hamdi tak sanggup menahannya. Larissa berguling-guling di tangga yang disaksikan oleh banyak orang. Tak ada satupun yang menolongnya. Sampai, tubuh ini terjatuh di lantai. Tubuh Larissa tak sengaja membentur tiang dekorasi bunga. Brak! Tiang tersebut menimpa Larissa yang baru saja terjatuh dari tangga.Paskal naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut dan mencium perut Larissa yang membukit. Larissa menggeliat. Matanya terbuka perlahan."Mas Paskal.." mata Larissa memerah."Masih malam. Tidurlah."Paskal menaruh satu tangannya ke bawah tubuh Larissa. Wanita yang masih terbaring di ranjang pesakitan ini dibawanya dalam pelukan.Dengan penuh kasih sayang, Paskal mengusap punggung istrinya dengan nyaman. Larissa menyenderkan kepalanya di atas dada bidang itu. Menjadikan tubuh Paskal sebagai sandaran tidurnya.Pagi ini, Larissa bangun dalam keadaan lebih segar. Tidur semalam nyenyak. Aroma parfum maskulin suaminya menjadi pengantar tidur yang menyejukkan.Paskal sendiri sudah lebih dulu terbangun. Dengan cekatan, ia menata makanan di atas meja dan menghidangkannya pada Larissa."Makan ini, sayang." Sebuah mangkuk berisi sup diberikan."Mana bi Ira?""Pulang sejak semalam.""Kamu pasti cape
"Halo. Ya?"Erica merapatkan ponsel itu ke telinga dan mendengar perintah secara seksama. Senyum tersungging di bibir manisnya."Ah, baiklah. Di hotel biasa. Pukul 8 malam."Tut. Sambungan itu dimatikan. Erica bangkit dari duduknya dan menghadap cermin.Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, ia akan bersiap menuju hotel dimana ia memiliki pekerjaan sampingan.Rambut pendek itu ia sisir rapi dan diberikan spray. Wajah yang mulus diberikan riasan bold. Jangan lupakan lipstik yang berwarna merah maroon itu sungguh bergairah di bibirnya yang tebal.Gaun bertali sejari dengan punggung setengah terbuka ia pilih. Wanita ini memutar tubuhnya untuk memeriksa penampilannya."Kecantikanku memang tak pernah gagal." Gumam Erica percaya diri.Wanita ini mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar. Dia harus bekerja malam ini bersama dengan teman-teman satu "profesi" nya. Ah, apa itu? Pasti ada alasan kenapa Erica bisa b
"Pak Teguh??" Sekretaris wanita ini nampak ketakutan saat melihat dua pria tampan yang gagah sedang menatapnya.Di belakang dua pria itu ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Mereka berbaris seperti pengawal."Iya. Apa ada pak Teguh disini?" Tanya Farhan mengambil alih situasi."A-ada.. tapi anda berdua siapa?" Sekretaris ini jadi terbata-bata.Paskal tersenyum. "Malaikat maut."Tanpa menunggu persetujuan, Paskal yang tak sabar melewati wanita itu begitu saja. Ia lalu pergi ke ruangan yang menjadi ruang kerja Teguh."Saya tidak terima dikalahkan. Gara-gara Paskal Alvaro, saya tidak bisa menjadi politisi lagi!" Seru Teguh.Gara-gara skandal anaknya di masa lalu yang membuat namanya tercemar karena korupsi, Teguh jadi mundur dari pemilihan anggota dewan. Dan sialnya, Paskal Alvaro malah menang dalam pemilihan ini.Oh.. Teguh tak terima! Ia pun menyuap seorang jurnalis agar membuat berita palsu mengenai
"Saya sudah tidur bersama tuan Alvaro." Erica tersenyum tipis. Dengan anggun dan lembut ia mengambil beberpaa lembar foto yang ada di tas tangannya lalu memberikan pada Larissa.Larissa mengambil foto tersebut dan menatap nanar. Disana ada foto Paskal dan Erica yang tengah beradu kasih di tempat tidur. Terlihat Paskal yang tidak memakai pakaian tidur memeluk Erica dengan erat."Anda pasti tahu mengenai gosip yang beredar, kan? Benar sekali, nyonya. Saya dan tuan memang memiliki hubungan sejak lama. Yaitu ketika kalian belum rujuk kembali."Bi Ira yang mendengar itu jadi meradang. Ia lalu menghardik Erica."Itu semua pasti tidak benar, nyonya! Wanita ini mengada-ngada!" Bi Ira jijik sekali melihat Erica.Sementara, Erica tak perduli dengan ucapan wanita paruh baya itu. Hanya pelayan, ia tak berniat meladeninya.Larissa memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengusap perutnya."Lalu anda mau
Pagi ini, Paskal izin bekerja. Larissa kembali dijaga oleh bi Ira. Keduanya bersikap biasa seprti tak ada masalah. Paskal tak menyinggung berita negatif yang mengenai dirinya. Pun begitu Larissa yang mengantungi kesetiaan suaminya. Ya, anggaplah begitu. Dokter wanita datang lagi untuk memeriksa keadaan Larissa. Kali ini nyonya Alvaro dipindahkan ke ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin. Semuanya normal dalam keadaan baik. Namun yang tak baik adalah denyut jantung Larissa. "Tekanan darah anda sedikit naik, nyonya." Ucap dokter tersebut. "Apa anda tidur nyenyak semalam?" Larissa mengangguk. "Ya. Saya tidur dengan nyenyak.." "Oke. Kalau begitu kita lihat dulu tekanan darahnya sampai besok. Jika masih tinggi kita bisa pertimbangkan alternatif lain." Sambung dokter wanita ini lagi. Selesai diperiksa, Larissa dibawa lagi pulang ke kamar dengan bantuan kursi roda. Daritadi
"Ini tidak benar." Paskal memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.Berita disana mengabarkan jika Paskal telah berselingkuh dengan seorang model bernama Erica. Terlihat dari cuplikan foto ketika mereka berpelukan.Narasi negatif makin tergiring karena track record Paskal yang gelap. Yaitu pernah mendua saat di pernikahannya yang pertama dengan orang yang sama."Mereka sepertinya ingin menjebak tuan." Balas Farhan."Atau mungkin wanita itu. Harusnya aku tahu kalau dia memang wanita penghibur." Paskal lalu meminta tolong pada pengacaranya."Bersihkan semua berita negatif itu. Cari media yang menerbitkannya. Temukan dalang dari semua ini. Jangan sampai Larissa mendengarkan berita ini."Farhan mengangguk. "Akan saya lakukan."Farhan bergegas menelusuri asal muasal berita ini tercipta. Paskal yang merasa semuanya beres lantas pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, Paskal dihubungi oleh Triwan. Anggota dewan ini me







