Share

6. Setuju Menikah

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-07-17 17:03:24

"Aku setuju untuk menikah dengan Larissa asal papa mau menerima syarat dariku."

"Apalagi itu?"

"Aku ingin menikah sederhana, tidak perlu dipublikasikan. Tak perlu mengundang banyak orang."

"Kenapa? Kamu pikir pernikahanmu itu aib?" Desis Demian tidak suka.

"Aku hanya belum siap saja.."

"Kalau begitu tidak usah menikah." Maka warisan dan jabatan juga hilang.

Paskal berdecak. "Siapa yang mendesak untukku menikah?"

Demian hanya geleng-geleng kepala. "Kamu memang duplikatku. Terserahlah."

"Aku mau satu minggu lagi lamaran diadakan. Satu bulan kemudian baru menikah." Paskal langsung pergi setelah mengatakan itu.

Satu minggu kemudian, lamaran dilaksanakan dengan sederhana. Sesuai keinginan Paskal. Tukar cincin sebagai tanda lamaran juga sudah dilakukan. Saat ini, cincin ini sebagai pengikat keduanya.

Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Untuk urusan gedung, gaun, makanan itu Imelda yang urus. Sementara untuk tamu undangan, ajudan Demian yang akan mengurusnya.

Pihak Larissa setuju untuk dilakukan pernikahan secara sederhana. Mengingat mereka juga bukan kalangan yang berada. Bisa menikah di gedung saja sudah membuat derajat mereka seperti terangkat.

Tak perduli akan menikah sebentar lagi, Paskal tetap pada kebiasaan lamanya yaitu menghabiskan waktu di klub malam. Menikmati alunan musik serta sentuhan yang membangkitkan gairah.

"Jadi tanggal pernikahanmu sudah ditentukan?" Tanya Bram yang menemani Paskal malam itu.

"Iya."

"Kalau begitu aku harus menyiapkan jas."

"Aku nggak banyak mengundang orang. Kami menikah secara sederhana saja."

Seseorang memanggil hingga keduanya menoleh. Ternyata teman lama Paskal, Adit juga datang di club Neptunus. Tak sendirian, ia kembali datang dengan tiga rekannya. Dimana ada Elya disana.

"Apa kabar Paskal?" Tanya Elya tersenyum sinis. Ia masih ingat kelakuan kasar Paskal waktu itu.

Paskal hanya mendelik dan tak mau menjawab.

"Sombong!" Gumamnya. Pria ini memang sempat membuatnya kesal, tapi mengingat sikap misteriusnya Elya jadi penasaran. Ingin sekali rasanya Elya memasang perangkap untuk menangkap hati pria dingin ini.

Suasana mulai larut, Paskal masih ada disana. Menikmati minuman beralkohol yang membakar tenggorokannya.

"Kami mau belum pulang?" Tanya Elya yang mencari posisi duduk di sebelah pria dingin ini.

"Kenapa? Mau mengusirku?"

"Kami sombong banget. Tapi, aku suka!" Elya tersenyum manis.

Paskal hanya meringai. Dia lalu meraih dagu lancip itu dan menyentuh bibir Elya. Memagutnya dengan penuh gairah.

"Kita lanjutkan yang kemarin, bagaimana?" Tawar Elya.

"Aku nggak bisa menolak."

Paskal menarik tubuh Elya dalam dekapannya dengan tangan yang menjelajah tubuh itu.

Keduanya saling bersentuhan. Bahkan bisa saling merasakan hembusan nafas. Bibir itu lalu terkait. Elya naik ke pangkuan Paskal dan memberikan jejak cinta itu di leher kekasihnya.

Pantaskah disebut kekasih? Ya, kekasih satu malam.

***

"Kamu harus fitting baju hari ini." Ucap Imelda.

"Bukannya sudah diukur kemarin." Jawab Paskal berat karena dia masih mengantuk. Dia baru pulang pukul 4 pagi setelah menghabiskan satu malam dengan wanitanya.

"Beda. Kemarin hanya diukur, sekarang dicoba. Kalau tidak suka, kamu bisa langsung complain."

Paskal sedang tak bergairah untuk membantah. Jadilah ia mengikuti ibunya pergi ke butik. Tapi, sebelumnya ke panti asuhan dulu menjemput Larissa.

Sengaja juga Paskal tak mau menyetir. Ada sopir yang ikut mereka. Sesampainya di butik, Larissa dan Paskal mencoba pakaian pengantin mereka masing-masing.

"Wahh.. kamu tampan sekali. Jas ini cocok untukmu." Ucap Imelda senang. Dia lalu melihat Larissa yang tengah memakai gaun satin berwarna putih. "Itu juga cocok untukmu."

"Apa ada yang kurang?" Tanya pegawai butik kepada Larissa.

"Aku cuma nggak nyaman di daerah bahu." Ucap Larissa. Itu karena gaun ini terbuka mengekspos bahu jenjangnya.

"Kalau begitu kita tambahkan sedikit sayap saja disini."

Larissa setuju. Asalkan tak terlalu terbuka, dia tak masalah. Sungguh, dia malu. Biasanya dia selalu memakai pakaian tertutup.

Selesai fitting, Imelda mengajak keduanya untuk mencari cincin kawin. Tak ada yang mengutarakan pendapat karena semuanya dipilih oleh Imelda. Wanita ini patut bersyukur karena Larissa tidak banyak menuntut.

Sebuah cincin emas putih bertahta berlian kecil dipilih Imelda. Sangat cocok dengan jari manis Larissa yang mungil.

Selesai, mencari seluruh barang. Imelda memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran bintang 5 yang memang ada di pusat perbelanjaan ini.

Bagi Imelda dan Paskal ini hal yang biasa. Mereka dilayani dan diberikan ruang VIP. Tapi berbeda dengan Larissa yang baru merasakan semua ini untuk pertama kali.

"Ini pertama kalinya saya kemari.." ucap Larissa malu-malu.

"Benarkah? Kalau begitu kamu harus mencicipi dagingnya. Disini begitu enak."

"Terima kasih, Nyonya."

"Eh! Jangan panggil dengan sebutan itu. Panggil mama saja. Kan sebentar lagi kalian akan menikah." Imelda tersenyum.

Larissa juga ikut tersenyum tapi lain hal dengan pria yang duduk disebelah Imelda. Wajahnya masam sekali dari tadi.

"Apa kamu mengundang orang tua kandungmu?" Tanya Paskal.

Imelda terlonjak kaget. Ketika Paskal mengeluarkan suara, pertanyaannya begitu menohok.

Larissa menggeleng pelan. "Aku nggak tahu orang tua kandungku dimana.."

"Mereka nggak pernah melihatmu?" Itu karena Imelda pikir, ada beberapa orang tua yang sengaja menitipkan anaknya di panti asuhan.

Larissa hanya menggeleng. Wajahnya jadi tertunduk.

"Bagaimana bisa dilihat, kalau memang dibuang." Paskal terkekeh. "Coba ceritakan bagaimana kamu bisa tinggal disana?"

Imelda menyenggol siku Paskal. Ia jadi tak enak hati setelah melihat wajah Larissa yang berubah muram.

"Aku dibuang oleh seseorang yang bahkan aku nggak tahu itu ayah atau ibuku. Menurut cerita ibu Ana, tubuhku di taruh di semak belukar tanpa selimut. Saat ditemukan, tubuhku sudah dikerumuni semut. Mungkin orang tua kandungku menginginkan aku mati.."

"Ya ampun.." Imelda jadi iba. Orang tua macam apa itu yang mencoba membunuh anaknya sendiri. Bahkan binatang saja menyayangi anaknya. "Kamu mengalami hari-hari yang berat, nak.."

"Tapi untunglah aku bertemu dengan orang-orang yang baik. Mereka selalu membuatku merasa bahagia.. bahkan bapak dan ibu juga nggak pernah mau membahas masa laluku." Larissa lalu tersenyum.

"Sekarang, kamu sudah menjadi bagian dari kami.. jangan sedih lagi!" Imelda menyentuh tangan Larissa dan memegangnya.

Sementara Paskal hanya diam. Perkataan Larissa tadi tidak menyentuh relung hatinya.

Selesai menghabiskan waktu bersama, mereka kembali ke kediaman masing-masing. Sekarang tinggal menunggu hari pernikahan saja.

Paskal juga masih menyempatkan diri untuk bermesraan dengan kekasih gelapnya. Setiap malam, dia selalu keluar untuk menghabiskan waktu bersama Elya di club malam. Keduanya bak saling mencandu dan membutuhkan.

"Ku dengar kamu akan menikah.." Elya mengusap rahang kekasihnya setelah pertempuran yang panjang.

"Satu minggu lagi.." jawab Paskal sambil memejamkan mata. Mereka menyewa satu kamar khusus untuk bermesraan.

"Apa itu artinya, kamu nggak membutuhkanku?"

Paskal membuka mata dan menatap wajah yang begitu menggoda. "Kamu yang terbaik."

Paskal kembali meraih wajah itu dan mengecupinya.

Satu minggu kemudian..

Hari pernikahan sudah tiba. Larissa dipanggil oleh ayah angkatnya menuju altar pernikahan.

Sebuah buket lili putihpun, Larissa terima. Bersama Hamdi, ia berjalan menuju altar pernikahan. Menaiki satu per satu tangga yang akan mencapai puncak tempat ia dan Paskal akan mengikat janji.

Sayang sekali, Larissa malah menginjak gaunnya yang menjuntai panjang.

"Aduh!"

Larissa jatuh begitu saja sampai Hamdi tak sanggup menahannya. Larissa berguling-guling di tangga yang disaksikan oleh banyak orang. Tak ada satupun yang menolongnya.

Sampai, tubuh ini terjatuh di lantai. Tubuh Larissa tak sengaja membentur tiang dekorasi bunga.

Brak!

Tiang tersebut menimpa Larissa yang baru saja terjatuh dari tangga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   89. Bekerja Sama

    "Ka-kamu??"Tubuh Lila menegang seketika. Raut wajahnya berubah panik. Matanya menggelepar hebat.Pria yang ada di hadapannya telah bangkit dari kematian. Kebakaran besar itu tak membunuh Bram. Tidak! Pria itu muncul kembali setelah memberikan banyak ancaman. Separuh wajah Bram terluka parah. Seakan menjadi saksi dia bisa menyelamatkan diri dari musibah yang ingin merenggut nyawanya."Apa kabar, Nyonya Alvaro?" Bram memandang sinis.Pria ini bergerak dan menampar Lila.Plak!Lila menjerit memalingkan wajahnya. Tercetak lima jari pada pipi kiri Lila."Bram.. kamu?""Terkejut karena aku masih hidup, huh? Pasti." Bram terkekeh. "Satu bulan ini anak buahmu mencariku. Sepertinya mereka belum yakin jika aku sudah mati. Jadi daripada membuat mereka penasaran, lebih baik aku muncul dan mencekik langsung otak dari mereka.""Jangan, Bram!" Jerit Lila ketakutan. "Kumohon jangan bunuh aku.. kasihanilah putramu."

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   88. Diculik

    "Dia.. tidak mungkin!" Lila menatap tak percaya. Wanita yang memakai gaun merah muda yang sedang berjalan di belakang suaminya adalah Larissa."Sial! Sedang apa wanita itu?" Lila terkepal marah. Apalagi suaminya itu! Apa yang sedang ia lakukan, hah?Paskal tampak menggendong seorang bayi yang memakai baju merah muda. Bayi perempuan dimana Paskal terlihat sangat menyayanginya.Beberapa kali Paskal mencium dahi dan pipi bayi tersebut. Pria itu juga tersenyum. Sebuah kasih sayang yang bahkan Azka tak pernah dapatkan."Apa mungkin anak itu adalah anak dari Paskal dan Larissa? Oh, bajingan kamu, Pas!" Lila menggertak marah.Lupakan dulu ke toilet, Lila mengejar tiga orang itu yang berjalan ke arah luar rumah sakit.Sialan! Padahal Lila sangat senang saat mengetahui bi Ira mengundurkan diri bekerja di rumahnya. Tapi rupanya, dia malah menjadi pelayan setia Larissa.Tak diragukan lagi. Ini adalah alasan kena

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   87. Ketahuan

    Pagi ini, Chia sudah cantik memakai baju berwarna pink dengan sepatu dan topi senada. Ucapkan terima kasih pada Paskal karena memberikan oleh-oleh pakaian bayi dari desainer termahal."Nona Chiara sudah siap? Aduh lucunya.. kamu cantik sekali seperti mamamu.." puji bi Ira tersenyum lebar.Larissa tertawa pelan. "Bi Ira pandai memuji. Kalau begitu kita pergi sekarang saja. Aku sudah memesan taksi online."Sama dengan Chiara, Larissa juga memakai gaun berwarna merah muda yang dibelikan oleh Paskal. Kedua bidadari ini sangat serasi dalam balutan yang sama."Nona. Sepertinya taksinya sudah tiba." Seru bi Ira saat mendengar suara deru mobil dari luar."Oh, iya. Kemari sayangku.."Larissa menggendong Chiara dalam pelukannya. Bi Ira bertugas membawa tas ransel berisi perlengkapan nona muda.Saat menuju pintu depan, bi Ira terkejut. Bukan taksi yang datang melainkan Paskal."Pagi, tuan." Sapa bi Ira."Pagi. Kal

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   86. Curiga

    Larissa meringankan langkah kakinya menuju sofa tidur Paskal dan Chiara. Dengan perlahan, ia mengambil Chia yang sedang tertidur tengkurap di atas Paskal. Larissa tersenyum saat bayi manis itu menggeliat. Chia seperti menemukan kenyamanan saat tertidur dalam dekapan Paskal. Dalam satu pegangan, Larissa berhasil menyentuh punggung putrinya. Namun saat wanita ini ingin menggendong Chiara, Larissa jadi terkesiap saat Paskal menahan tangannya. "Larissa!" Paskal terkejut. Tangan pria ini berada di atas tangan Larissa yang tengah memegang punggung putrinya. "Ma-maf.." Larissa lekas menarik tangannya. "Aku cuma ingin mengambil Chia. Dia sudah tertidur." "Oh.." Paskal ikut tersadar jika sudah tertidur bersama bayi ini. Ia pun menggendong Chiara lagi dan menyerahkannya pada Larissa. "Kamu ketiduran, sayang. Maaf mama terlalu lama." Larissa mencium pipi anaknya. "Bagaimana k

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   85. Teror

    Brakk!! Lila membanting satu kardus itu ke taman samping rumah. Dengan percikan korek api, kardus itu terbakar bersama dengan hal yang ada di dalamnya. Wajah wanita itu memerah. Hampir sama dengan kobaran api yang terpantul di manik matanya. Tangan Lila mengepal dengan erat. Berani sekali orang tersebut meneror Lila, hah? Sudah lebih dari satu bulan. Ada empat paket yang datang dan menerornya. Mulai dari bangkai, gaun tidur, foto-foto dan yang terakhir.. transkrip pembicaraan mesra Lila dengan seseorang. Sial! Siapa yang berani melakukan ini padanya? Sambil menekan nomor di ponselnya. Lila memaki lagi. Kali ini lebih keras. "Mau sampai kapan ini terjadi, huh?? Aku tidak mau dengar cerita kalian tak bisa mendapatkan pelakunya! Singkirkan orang-orang yang mengancamku!" Tut. Sambungan dimatikan secara sepihak. Giliran penjaga yang terkena kemarahan Lila. Wanita ini pe

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   84. Perhatian

    Pelan-pelan Larissa membuka matanya. Tangan kanan itu dibuat mengusap ke pembaringan. Aman. Artinya Larissa tengah tertidur di atas ranjang yang empuk. Tangan satu lagi ia angkat ke atas. Mengusap wajahnya yang lekat karena mengantuk. Namun seperkian detik Larissa membuka bulat matanya. Ternyata ada satu selang infus yang terikat di tangan kirinya. Sontak Larissa memandang itu dengan terkejut. "Nona sudah sadar?" Larissa menoleh ke samping saat mendengar suara wanita menyapa. "Saya dokter Andrea." Ucap dokter wanita berambut coklat ini tersenyum. "Tadi nona pingsan dan terjatuh di tangga. Tuan Paskal memanggil saya untuk mengobati nona." Larissa terdiam. Wanita ini mengingat. Rupanya kejadian jatuh tadi bukanlah mimpi semata. "Anda mengalami demam tinggi. Sebab itulah saya memberikan obat lewat cairan infus. Syukurlah sekarang demam nona sudah turun." Sambungnya. "Terima kasih, d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status