登入Paskal keheranan ketika mobil mewah mereka malah masuk ke sebuah panti asuhan. Padahal tadi sebelum pergi, Demian mengatakan ingin memperkenalkan Paskal dengan salah satu anak temannya. Tapi untuk apa kemari?
"Papa mau memberikan santunan?" Tanya Paskal sambil melepas sabuk pengaman. Demian hanya berdeham dan meminta semua anggota keluarga untuk turun. Disana, tertulis Panti Asuhan Bunda Kasih dimana sepasang paruh baya menunggu kedatangan keluarga kaya ini. "Selamat datang.." Hamdan menjabat tangan Demian lalu menyambut dalam pelukan. "Sudah lama tidak bertemu." "Terima kasih sambutannya," Demian terkekeh. "Perkenalkan ini istriku, Imelda dan yang ini anakku, Paskal." "Wah.." Hamdan tampak takjub melihat pria dengan postur tinggi yang memiliki paras rupawan. "Ternyata ini pewaris Alvaro yang selalu dibangga-banggakan." Terpaksa Paskal menerbitkan senyuman di wajahnya dan menjabat tangan pria ini. "Kalau begitu masuk dulu. Kami sudah menyiapkan makan siang." Ujak Ana, istri Hamdan. "Kalian jadi repot karena kedatangan kami.." sahut Imelda. "Ah, tidak masalah.." Ana tertawa. Mereka pun masuk ke rumah yang berada dalam lingkungan panti asuhan. Paskal baru tahu kalau rumah ini terpisah dengan rumah lainnya. "Anak-anak tinggal di rumah bagian depan. Sedangkan, ini rumah kami sendiri." Ucap Ana menjawab keheranan Paskal. "Begitu rupanya." "Baik, silahkan duduk dulu.." Hamdan mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu. "Aku sangat senang sekali. Kemarin tiba-tiba Demian menghubungiku.. biasanya dia nggak pernah melakukan itu. Selalu anak buahnya yang akan menjadi perwakilan untuk memberi santunan." Hamdan jadi tertawa. "Kamu memang tidak berubah, Hamdan!" Sahut Demian. "Jadi, aku tidak perlu mengulang perkataanku lagi. Aku datang kemari untuk menjodohkan anakku, Paskal." Yang disebut namanya menoleh. Paskal ternyata tak bisa menebak jika ia datang kemari memang benar untuk bertemu dengan calon istrinya. "Kami merasa tersanjung mendapat lamaran seperti ini.." Ana jadi merasa senang. "Apa boleh kita panggilkan wanitanya?" "Ya, panggil saja." Imelda jadi penasaran. Ana bangkit dari duduknya ke arah belakang. Tak lama, ia muncul dengan seorang wanita muda yang membawa satu nampan dengan 5 cangkir di atasnya. Dengan sopan, wanita muda yang memakai dress floral itu menaruh cangkir serta tatakannya di atas meja. "Kemari sebentar, nak." Pinta Ana setelah wanita itu menghidangkan minuman. "Perkenalkan, ini Larissa. Wanita pilihan kami yang akan dijodohkan dengan Paskal." Demian, Imelda dan Paskal memandang Larissa. Apalagi tatapan Paskal yang begitu tajam seakan ingin menguliti Larissa. Dalam sekejap dia menilai wanita ini. Wanita sederhana, tidak terlalu cantik malah kurang dari standar. Tubuhnya kecil, mungkin jika disandingkan tingginya hanya mencapai dagu Paskal saja. Tapi, dia memiliki alis tebal dan bulu mata yang lentik. Ketika ia menunduk seperti ini, bulu mata panjangnya itu seakan meneduhkan matanya. Ana berbisik pada Larissa. Wanita ini maju sedikit memberi salam pada ketiganya. Hanya Paskal yang tak ingin menerima jabatan tangan Larissa. "Manis sekali." Puji Imelda. "Ayo, duduk dulu." Larissa akhirnya ikut duduk bersama orang dewasa lainnya. "Berapa umurmu?" Tanya Imelda. "25 tahun, Nyonya." Imelda tersenyum. Wanita bernama Larissa ini manis sekali, terutama sikapnya begitu sopan. "Jadi, apa pekerjaaanmu sehari-hari?" Giliran Demian yang bertanya. "Saya membantu ibu dan bapak untuk mengurus panti asuhan ini." "Betul." Sambut Hamdan. "Larissa memegang kendali untuk area dapur karena dia pintar memasak." "Ngomong-ngomong soal itu, bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu?" Tawar Ana. Pas sekali waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. "Ide bagus juga. Mari Demian, ibu Imel dan Paskal. Kita makan dulu di ruang makan." Keenamnya lalu beranjak menuju meja makan dan menempati posisinya masing-masing. Kecuali Larissa yang menghidangkan makanan. "Jadi semua masakan ini kamu yang memasak?" Tanya Demian. Larissa tersenyum. "Benar, Tuan." Demian mencicipi sedikit sayuran yang ada di depannya hingga mengeluarkan suara. Larissa tersenyum tapi Paskal menggeleng. Ayahnya pasti pura-pura memuji masakan wanita ini. "Jadi kamu sudah selesai kuliah?" Tanya Paskal dingin pada Larissa. Wanita itu baru duduk di meja makan dan berhadapan dengannya. "Saya tidak kuliah." "Tidak kuliah?" Paskal keheranan lalu menatap orang tua disebelahnya. Apa mungkin Hamdan dan Ana ini kesulitan biaya sehingga tidak bisa memberikan pendidikan pada Larissa? "Larissa terkenal cerdas di sekolah, dia selalu mendapat peringkat tiap semester. Tapi, dia tidak mau melanjutkan pendidikan di universitas." Jelas Hamdan. "Kenapa? Kamu nggak suka kuliah?" Paskal bertanya tajam sehingga mendapat dehaman keras dari Demian. "Saya cuma ingin mengabdi di panti untuk anak-anak saja." Larissa tertunduk sambil mengulum senyum. Tak berani ia menegakkan kepala sambil membalas pandangan pria ini. "Tidak berkembang." Gumam Paskal pelan. "Tapi itu bagus sekali.. zaman sekarang jarang seorang wanita yang suka berdiam di rumah dan mengurus anak-anak, kan?" Imelda mengambil alih situasi. "Betul sekali." Sahut Demian cepat. "Seperti istriku ini. Dia berpendidikan tinggi tapi lebih memilih sebagai ibu rumah tangga. Dia memilih mengabdi untuk suami dan anaknya." Mendengar pujian dari suaminya, Imelda jadi tersipu malu. Keenamnya lalu menyelesaikan masing-masing. Setelah selesai makan siang, Larissa kembali ke dapur dan membawa kudapan ke ruang tamu di tempat mereka berkumpul. "Nak!" Panggil Hamdan. "Ajak Paskal ke taman belakang." "Tidak perlu." Sahut Paskal. Untuk apa juga dia kesana? Lebih baik disini mendengar cerita orang tua yang terkadang tak penting baginya. "Pergi saja. Kalian harus saling berkenalan." Ucap Demian. "Betul.. mungkin mereka malu untuk berbicara karena ada kita." Ana jadi tertawa. Paskal mendengkus dan berusaha mati-matian menutupi raut wajahnya yang kesal. Ia lalu pamit dan mengikuti Larissa sampai ke taman belakang. Sebuah taman yang menjadi pembatas antara dapur panti dan juga rumah ini. "Kamu setuju dengan perjodohan ini?" Tanya Paskal tiba-tiba. Larissa tertegun sejenak. "Iya.. jika itu memang pilihannya." Jelas sekali mereka tidak akan menolak. Apalagi dijodohkan dengan Paskal yang merupakan pewaris perusahaan besar. Siapa yang mau menolak? Pikir Paskal begitu. Lalu, suasana kembali hening. Seakan mereka tak tahu apa lagi yang ingin mereka bincangkan. "Jadi, mas bekerja di perusahaan Sandya?" Tanya Larissa ragu-ragu. "Ya." Jawab Paskal seadanya. "Aku seperti pernah melihatmu.. tapi aku lupa dimana.." "Jelas kamu pernah melihatku. Aku sering muncul di majalah bisnis dan juga televisi." Kalau majalah bisnis, Larissa tak pernah membaca tapi televisi.. mungkin saja. Sebabnya, ia merasa wajah Paskal ini tak asing. "Jadi kamu punya berapa saudara?" Tanya Paskal. "Saudara kandung aku nggak punya. Tapi semua orang disini adalah saudaraku." "Jadi kamu anak tunggal?" "Bisa dikatakan begitu.. aku sudah menganggap ibu dan bapak seperti orang tuaku sendiri." Paskal tampak mencerna kalimat Larissa. "Kamu bukan anak kandung mereka?" "Bukan. Aku hanya anak yang beruntung diselamatkan mereka." Larissa tersenyum getir. Paskal menghela nafas panjang, tak habis pikir dengan ide orangtuanya yang ingin menjodohkannya dengan wanita ini. Apalagi statusnya tidak jelas seperti ini! Sebenarnya Demian ini sedang mencarikan Paskal jodoh atau pembantu sih! Buat Paskal jadi kesal saja.Larissa kembali lagi ke kamar pelayan ini. Menggunakan baju hitam putih khas yang memang disediakan untuk para pelayan. Namun, Larissa tak berniat untuk keluar. Sambil menekuk kakinya, ia menahan tangis."Non." Tegur Bi Ira jadi sedih. "Nona belum makan apa-apa dari semalam. Mau bibi buatin sesuatu?"Larissa mengeleng sembari mengusap air matanya. "Makasih, bibi. Tapi aku nggak butuh apa-apa.""Kalau begitu bibi keluar dulu. Nanti kalau nona ingin sesuatu bisa panggil bibi aja."Larissa hanya mengangguk dan menatap kepergian bi Ira. Wanita ini melanjutkan lamunannya lagi.Bi Ira kembali ke dapur dan menjadi komando untuk memasak makan malam. Hari sudah sore, jam makan siang sudah terlewat. Dia harus menyiapkan makanan untuk orang yang tinggal disini."Pelayan!" Panggil Lila tak sopan. "Paskal belum makan apapun sejak tadi pagi. Bagaimana kalian ini? Apa sih kerjaannya?"Bi Ira hanya bisa melipat bibir menahan e
"Paskal!" Lila berlari dan memeluk Paskal dengan erat. Suaranya terdengar terisak tapi tak ada satupun air mata yang di tumpahkannya."Lila." Gumam Paskal sembari menatap tajam ke depan.Beberapa pelayat terutama karyawan Sandhya baru sedikit yang keluar dari area rumahnya. Ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka. Termasuk Anthony yang menatap dingin."Aku dengar kalau papa dan mamamu kecelakaan. Oh.. Paskal.. bagaimana itu bisa terjadi?" Lila menarik diri dan menatap iba kekasihnya."Kita bicara di dalam saja." Paskal menarik tangan kekasihnya dan membawanya masuk ke dalam rumah."Hhhh..." Bi Ira sampai mendengkus. Si ratu drama telah kembali. "Kemarin memangnya kemana aja Nona Lila itu? Padahal udah lima hari tuan dan nyonya meninggal!""Bi Ira.." tegur Larissa lembut. Dari sorot matanya tersirat kesedihan. Dan ia tak ingin ada keributan.Bi Ira yang pengertian lalu merangkul bahu nona muda."Mari k
Paskal dan Larissa tiba di bandara international. Kedatangan mereka sudah disambut puluhan wartawan yang sudah menunggu.Keluarga Alvaro adalah salah satu nama keluarga yang terkenal di negeri ini. Terlebih Demian merupakan pebisnis handal yang amat dipercaya memimpin perusahaan multi nationalnya. Sontak saja jika berita buruk ini menjadi perhatian utama dunia."Permisi. Saya mau lewat!" Paskal membelah kerumunan yang sedang menodongnya dengan banyak pertanyaan.Bersama Larissa yang berjalan di belakang, keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada petugas berwajib, pihak maskapai dan juga tim bencana."Pak Paskal Alvaro." Sapa pihak berwajib memperkenalkan diri."Bagaimana? Apa ada kabar? Orang tua saya tidak ikut dalam penerbangan ini, kan?" Paskal memberi pertanyaan beruntun."Tenang dulu, pak. Silahkan duduk." Paskal duduk. Larissa ikut duduk di samping pria ini. Lupakan saja dulu mengenai kebencian antar kedua
Melupakan soal pekerjaan, Paskal pulang ke rumahnya. Hampir saja dia terkena serangan jantung setelah melihat penampilan baru Larissa. "Benar-benar tidak bisa dibanggakan." Paskal berdecih saat melihat Larissa memakai gaun satinnya. Gaun yang dibelikan oleh Imelda. Mendengar cibiran Paskal, Larissa hanya tertunduk. Ia lalu keluar dari kamar dan menyiapkan makan malam. "Kira-kira papa dan mama sudah dimana, ya?" Tanya Larissa pada pelayan. "Mungkin masih diperjalanan, Nona. Biasanya dari Amerika ke Indonesia bisa memakan waktu 20 jam lebih." "Oh.. selama itu?" Larissa baru tahu. Pelayan itu mengangguk. Ia kembali ke dapur sedangkan Larissa menata makan malam di meja. Suara sepatu terdengar turun dari lantai atas, Larissa melihat suaminya mendekat ke arah meja makan. "Selamat malam, mas." Wajah Paskal langsung pecah seribu. "Mau aku puk
Mulai detik itu juga, Larissa disuruh kembali ke kamar asalnya. Baju pelayan itu ditanggalkan. Bi Ira membantu nona muda pindah lagi ke lantai atas dimana Paskal beristirahat."Bibi bersyukur tuan dan nyonya pulang.." ucap bi Ira lega."Aku juga, bi." Sahut Larissa datar."Dengan begitu, nona Larissa nggak akan disiksa sama tuan muda lagi." Terlebih melihat wajah Lila itu membuatnya muak.Pantas saja jika Demian dan istrinya tidak menyukai Lila. Bi Ira sudah tahu sekejam apa sifat asli wanita itu.Larissa menghela nafas panjang. Dia bersyukur karena mertuanya akan segera pulang ke rumah ini. Tapi di sisi lain, Larissa merasa tak beruntung.Ya, mereka akan tinggal berdua dalam satu kamar. Larissa sudah membayangkan banyaknya cacian yang akan dilontarkan oleh suaminya itu."Mari, nona. Saya bantu bersihkan badannya. Lihat wajah nona mulai kering. Belum lagi luka karena perbuatan mereka." Bi Ira iba sekali.Larissa
Paskal bersama Lila mencari apartement yang bisa wanita itu tinggali sementara. Sesuai rencana, Paskal hanya meminta Lila bersabar sedikit lagi. Setelah dia mendapatkan posisinya di perusahaan, Paskal berjanji akan menyingkirkan Larissa secepatnya."Aku nggak mau lama-lama pisah dari kamu, Pas." Ucap Lila bergelayut manja. Bahu itu ia jadikan sandarannya.Sekarang mereka berada di sebuah apartement mewah yang dekat dengan perusahaan Sandhya. Jika Paskal penat bekerja maka dia bisa langsung kemari untuk memadu kasih dengan cintanya."Aku juga tidak bisa berpisah darimu." Tidak lagi. Paskal akan mencengkram wanita ini untuk menjadi miliknya selamanya.Dagu Lila diambil. Kedua mata itu saling menatap. Paskal mendekatkan diri. Sejenak keduanya menautkan bibir. Lila sudah lama menunggu saat-saat ini. Dimana ia dan Paskal bisa bersama. Terbebas dari gangguan.Paskal menarik pinggang wanitanya. Lila melenguh saat tangan Paskal menurunkan gaun ya







