Compartir

4. Bertemu Larissa

Autor: Stary Dream
last update Fecha de publicación: 2026-06-29 21:42:32

Paskal keheranan ketika mobil mewah mereka malah masuk ke sebuah panti asuhan. Padahal tadi sebelum pergi, Demian mengatakan ingin memperkenalkan Paskal dengan salah satu anak temannya. Tapi untuk apa kemari?

"Papa mau memberikan santunan?" Tanya Paskal sambil melepas sabuk pengaman.

Demian hanya berdeham dan meminta semua anggota keluarga untuk turun.

Disana, tertulis Panti Asuhan Bunda Kasih dimana sepasang paruh baya menunggu kedatangan keluarga kaya ini.

"Selamat datang.." Hamdan menjabat tangan Demian lalu menyambut dalam pelukan. "Sudah lama tidak bertemu."

"Terima kasih sambutannya," Demian terkekeh. "Perkenalkan ini istriku, Imelda dan yang ini anakku, Paskal."

"Wah.." Hamdan tampak takjub melihat pria dengan postur tinggi yang memiliki paras rupawan. "Ternyata ini pewaris Alvaro yang selalu dibangga-banggakan."

Terpaksa Paskal menerbitkan senyuman di wajahnya dan menjabat tangan pria ini.

"Kalau begitu masuk dulu. Kami sudah menyiapkan makan siang." Ujak Ana, istri Hamdan.

"Kalian jadi repot karena kedatangan kami.." sahut Imelda.

"Ah, tidak masalah.." Ana tertawa.

Mereka pun masuk ke rumah yang berada dalam lingkungan panti asuhan. Paskal baru tahu kalau rumah ini terpisah dengan rumah lainnya.

"Anak-anak tinggal di rumah bagian depan. Sedangkan, ini rumah kami sendiri." Ucap Ana menjawab keheranan Paskal.

"Begitu rupanya."

"Baik, silahkan duduk dulu.."

Hamdan mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu.

"Aku sangat senang sekali. Kemarin tiba-tiba Demian menghubungiku.. biasanya dia nggak pernah melakukan itu. Selalu anak buahnya yang akan menjadi perwakilan untuk memberi santunan." Hamdan jadi tertawa.

"Kamu memang tidak berubah, Hamdan!" Sahut Demian. "Jadi, aku tidak perlu mengulang perkataanku lagi. Aku datang kemari untuk menjodohkan anakku, Paskal."

Yang disebut namanya menoleh. Paskal ternyata tak bisa menebak jika ia datang kemari memang benar untuk bertemu dengan calon istrinya.

"Kami merasa tersanjung mendapat lamaran seperti ini.." Ana jadi merasa senang. "Apa boleh kita panggilkan wanitanya?"

"Ya, panggil saja." Imelda jadi penasaran.

Ana bangkit dari duduknya ke arah belakang. Tak lama, ia muncul dengan seorang wanita muda yang membawa satu nampan dengan 5 cangkir di atasnya.

Dengan sopan, wanita muda yang memakai dress floral itu menaruh cangkir serta tatakannya di atas meja.

"Kemari sebentar, nak." Pinta Ana setelah wanita itu menghidangkan minuman. "Perkenalkan, ini Larissa. Wanita pilihan kami yang akan dijodohkan dengan Paskal."

Demian, Imelda dan Paskal memandang Larissa. Apalagi tatapan Paskal yang begitu tajam seakan ingin menguliti Larissa. Dalam sekejap dia menilai wanita ini. Wanita sederhana, tidak terlalu cantik malah kurang dari standar. Tubuhnya kecil, mungkin jika disandingkan tingginya hanya mencapai dagu Paskal saja. Tapi, dia memiliki alis tebal dan bulu mata yang lentik. Ketika ia menunduk seperti ini, bulu mata panjangnya itu seakan meneduhkan matanya.

Ana berbisik pada Larissa.

Wanita ini maju sedikit memberi salam pada ketiganya. Hanya Paskal yang tak ingin menerima jabatan tangan Larissa.

"Manis sekali." Puji Imelda. "Ayo, duduk dulu."

Larissa akhirnya ikut duduk bersama orang dewasa lainnya.

"Berapa umurmu?" Tanya Imelda.

"25 tahun, Nyonya."

Imelda tersenyum. Wanita bernama Larissa ini manis sekali, terutama sikapnya begitu sopan.

"Jadi, apa pekerjaaanmu sehari-hari?" Giliran Demian yang bertanya.

"Saya membantu ibu dan bapak untuk mengurus panti asuhan ini."

"Betul." Sambut Hamdan. "Larissa memegang kendali untuk area dapur karena dia pintar memasak."

"Ngomong-ngomong soal itu, bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu?" Tawar Ana. Pas sekali waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.

"Ide bagus juga. Mari Demian, ibu Imel dan Paskal. Kita makan dulu di ruang makan."

Keenamnya lalu beranjak menuju meja makan dan menempati posisinya masing-masing. Kecuali Larissa yang menghidangkan makanan.

"Jadi semua masakan ini kamu yang memasak?" Tanya Demian.

Larissa tersenyum. "Benar, Tuan."

Demian mencicipi sedikit sayuran yang ada di depannya hingga mengeluarkan suara. Larissa tersenyum tapi Paskal menggeleng. Ayahnya pasti pura-pura memuji masakan wanita ini.

"Jadi kamu sudah selesai kuliah?" Tanya Paskal dingin pada Larissa. Wanita itu baru duduk di meja makan dan berhadapan dengannya.

"Saya tidak kuliah."

"Tidak kuliah?" Paskal keheranan lalu menatap orang tua disebelahnya. Apa mungkin Hamdan dan Ana ini kesulitan biaya sehingga tidak bisa memberikan pendidikan pada Larissa?

"Larissa terkenal cerdas di sekolah, dia selalu mendapat peringkat tiap semester. Tapi, dia tidak mau melanjutkan pendidikan di universitas." Jelas Hamdan.

"Kenapa? Kamu nggak suka kuliah?" Paskal bertanya tajam sehingga mendapat dehaman keras dari Demian.

"Saya cuma ingin mengabdi di panti untuk anak-anak saja." Larissa tertunduk sambil mengulum senyum. Tak berani ia menegakkan kepala sambil membalas pandangan pria ini.

"Tidak berkembang." Gumam Paskal pelan.

"Tapi itu bagus sekali.. zaman sekarang jarang seorang wanita yang suka berdiam di rumah dan mengurus anak-anak, kan?" Imelda mengambil alih situasi.

"Betul sekali." Sahut Demian cepat. "Seperti istriku ini. Dia berpendidikan tinggi tapi lebih memilih sebagai ibu rumah tangga. Dia memilih mengabdi untuk suami dan anaknya."

Mendengar pujian dari suaminya, Imelda jadi tersipu malu.

Keenamnya lalu menyelesaikan masing-masing. Setelah selesai makan siang, Larissa kembali ke dapur dan membawa kudapan ke ruang tamu di tempat mereka berkumpul.

"Nak!" Panggil Hamdan. "Ajak Paskal ke taman belakang."

"Tidak perlu." Sahut Paskal. Untuk apa juga dia kesana? Lebih baik disini mendengar cerita orang tua yang terkadang tak penting baginya.

"Pergi saja. Kalian harus saling berkenalan." Ucap Demian.

"Betul.. mungkin mereka malu untuk berbicara karena ada kita." Ana jadi tertawa.

Paskal mendengkus dan berusaha mati-matian menutupi raut wajahnya yang kesal. Ia lalu pamit dan mengikuti Larissa sampai ke taman belakang.

Sebuah taman yang menjadi pembatas antara dapur panti dan juga rumah ini.

"Kamu setuju dengan perjodohan ini?" Tanya Paskal tiba-tiba.

Larissa tertegun sejenak. "Iya.. jika itu memang pilihannya."

Jelas sekali mereka tidak akan menolak. Apalagi dijodohkan dengan Paskal yang merupakan pewaris perusahaan besar. Siapa yang mau menolak? Pikir Paskal begitu.

Lalu, suasana kembali hening. Seakan mereka tak tahu apa lagi yang ingin mereka bincangkan.

"Jadi, mas bekerja di perusahaan Sandya?" Tanya Larissa ragu-ragu.

"Ya." Jawab Paskal seadanya.

"Aku seperti pernah melihatmu.. tapi aku lupa dimana.."

"Jelas kamu pernah melihatku. Aku sering muncul di majalah bisnis dan juga televisi."

Kalau majalah bisnis, Larissa tak pernah membaca tapi televisi.. mungkin saja. Sebabnya, ia merasa wajah Paskal ini tak asing.

"Jadi kamu punya berapa saudara?" Tanya Paskal.

"Saudara kandung aku nggak punya. Tapi semua orang disini adalah saudaraku."

"Jadi kamu anak tunggal?"

"Bisa dikatakan begitu.. aku sudah menganggap ibu dan bapak seperti orang tuaku sendiri."

Paskal tampak mencerna kalimat Larissa.

"Kamu bukan anak kandung mereka?"

"Bukan. Aku hanya anak yang beruntung diselamatkan mereka." Larissa tersenyum getir.

Paskal menghela nafas panjang, tak habis pikir dengan ide orangtuanya yang ingin menjodohkannya dengan wanita ini. Apalagi statusnya tidak jelas seperti ini! Sebenarnya Demian ini sedang mencarikan Paskal jodoh atau pembantu sih! Buat Paskal jadi kesal saja.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   142. Setia Selamanya

    Paskal naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut dan mencium perut Larissa yang membukit. Larissa menggeliat. Matanya terbuka perlahan."Mas Paskal.." mata Larissa memerah."Masih malam. Tidurlah."Paskal menaruh satu tangannya ke bawah tubuh Larissa. Wanita yang masih terbaring di ranjang pesakitan ini dibawanya dalam pelukan.Dengan penuh kasih sayang, Paskal mengusap punggung istrinya dengan nyaman. Larissa menyenderkan kepalanya di atas dada bidang itu. Menjadikan tubuh Paskal sebagai sandaran tidurnya.Pagi ini, Larissa bangun dalam keadaan lebih segar. Tidur semalam nyenyak. Aroma parfum maskulin suaminya menjadi pengantar tidur yang menyejukkan.Paskal sendiri sudah lebih dulu terbangun. Dengan cekatan, ia menata makanan di atas meja dan menghidangkannya pada Larissa."Makan ini, sayang." Sebuah mangkuk berisi sup diberikan."Mana bi Ira?""Pulang sejak semalam.""Kamu pasti cape

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   141. Masalah Terakhir

    "Halo. Ya?"Erica merapatkan ponsel itu ke telinga dan mendengar perintah secara seksama. Senyum tersungging di bibir manisnya."Ah, baiklah. Di hotel biasa. Pukul 8 malam."Tut. Sambungan itu dimatikan. Erica bangkit dari duduknya dan menghadap cermin.Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, ia akan bersiap menuju hotel dimana ia memiliki pekerjaan sampingan.Rambut pendek itu ia sisir rapi dan diberikan spray. Wajah yang mulus diberikan riasan bold. Jangan lupakan lipstik yang berwarna merah maroon itu sungguh bergairah di bibirnya yang tebal.Gaun bertali sejari dengan punggung setengah terbuka ia pilih. Wanita ini memutar tubuhnya untuk memeriksa penampilannya."Kecantikanku memang tak pernah gagal." Gumam Erica percaya diri.Wanita ini mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar. Dia harus bekerja malam ini bersama dengan teman-teman satu "profesi" nya. Ah, apa itu? Pasti ada alasan kenapa Erica bisa b

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   140. Dalang Masalah

    "Pak Teguh??" Sekretaris wanita ini nampak ketakutan saat melihat dua pria tampan yang gagah sedang menatapnya.Di belakang dua pria itu ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Mereka berbaris seperti pengawal."Iya. Apa ada pak Teguh disini?" Tanya Farhan mengambil alih situasi."A-ada.. tapi anda berdua siapa?" Sekretaris ini jadi terbata-bata.Paskal tersenyum. "Malaikat maut."Tanpa menunggu persetujuan, Paskal yang tak sabar melewati wanita itu begitu saja. Ia lalu pergi ke ruangan yang menjadi ruang kerja Teguh."Saya tidak terima dikalahkan. Gara-gara Paskal Alvaro, saya tidak bisa menjadi politisi lagi!" Seru Teguh.Gara-gara skandal anaknya di masa lalu yang membuat namanya tercemar karena korupsi, Teguh jadi mundur dari pemilihan anggota dewan. Dan sialnya, Paskal Alvaro malah menang dalam pemilihan ini.Oh.. Teguh tak terima! Ia pun menyuap seorang jurnalis agar membuat berita palsu mengenai

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   139. Ketegasan Larissa

    "Saya sudah tidur bersama tuan Alvaro." Erica tersenyum tipis. Dengan anggun dan lembut ia mengambil beberpaa lembar foto yang ada di tas tangannya lalu memberikan pada Larissa.Larissa mengambil foto tersebut dan menatap nanar. Disana ada foto Paskal dan Erica yang tengah beradu kasih di tempat tidur. Terlihat Paskal yang tidak memakai pakaian tidur memeluk Erica dengan erat."Anda pasti tahu mengenai gosip yang beredar, kan? Benar sekali, nyonya. Saya dan tuan memang memiliki hubungan sejak lama. Yaitu ketika kalian belum rujuk kembali."Bi Ira yang mendengar itu jadi meradang. Ia lalu menghardik Erica."Itu semua pasti tidak benar, nyonya! Wanita ini mengada-ngada!" Bi Ira jijik sekali melihat Erica.Sementara, Erica tak perduli dengan ucapan wanita paruh baya itu. Hanya pelayan, ia tak berniat meladeninya.Larissa memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengusap perutnya."Lalu anda mau

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   138. Disuap

    Pagi ini, Paskal izin bekerja. Larissa kembali dijaga oleh bi Ira. Keduanya bersikap biasa seprti tak ada masalah. Paskal tak menyinggung berita negatif yang mengenai dirinya. Pun begitu Larissa yang mengantungi kesetiaan suaminya. Ya, anggaplah begitu. Dokter wanita datang lagi untuk memeriksa keadaan Larissa. Kali ini nyonya Alvaro dipindahkan ke ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin. Semuanya normal dalam keadaan baik. Namun yang tak baik adalah denyut jantung Larissa. "Tekanan darah anda sedikit naik, nyonya." Ucap dokter tersebut. "Apa anda tidur nyenyak semalam?" Larissa mengangguk. "Ya. Saya tidur dengan nyenyak.." "Oke. Kalau begitu kita lihat dulu tekanan darahnya sampai besok. Jika masih tinggi kita bisa pertimbangkan alternatif lain." Sambung dokter wanita ini lagi. Selesai diperiksa, Larissa dibawa lagi pulang ke kamar dengan bantuan kursi roda. Daritadi

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   137. Membersihkan Nama

    "Ini tidak benar." Paskal memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.Berita disana mengabarkan jika Paskal telah berselingkuh dengan seorang model bernama Erica. Terlihat dari cuplikan foto ketika mereka berpelukan.Narasi negatif makin tergiring karena track record Paskal yang gelap. Yaitu pernah mendua saat di pernikahannya yang pertama dengan orang yang sama."Mereka sepertinya ingin menjebak tuan." Balas Farhan."Atau mungkin wanita itu. Harusnya aku tahu kalau dia memang wanita penghibur." Paskal lalu meminta tolong pada pengacaranya."Bersihkan semua berita negatif itu. Cari media yang menerbitkannya. Temukan dalang dari semua ini. Jangan sampai Larissa mendengarkan berita ini."Farhan mengangguk. "Akan saya lakukan."Farhan bergegas menelusuri asal muasal berita ini tercipta. Paskal yang merasa semuanya beres lantas pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, Paskal dihubungi oleh Triwan. Anggota dewan ini me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status