ログイン"Apa-apaan ini?" Paskal mulai menggeram.
Demian hanya tersenyum dan meminta Effendi untuk menjelaskan kembali. "Surat ahli waris yang baru saja Pak Demian tanda tangani. Menuliskan secara sah jika Tuan Paskal bukan lagi pewaris tunggal keluarga Alvaro. Tak hanya itu, jabatan Tuan sebagai direktur utama juga akan di non aktifkan." "Papa nggak bisa ngelakuin ini ke aku, pa!" "Kenapa? Kamu lupa kalau papamu ini yang memiliki tali kendali semuanya?" "Tapi, apa papa lupa kalau aku ini anak papa satu-satunya?" Jika bukan Paskal, lalu siapa lagi yang akan mendapatkan warisan keluarga Alvaro. Apalagi mengenai perusahaan. "Betul sekali." Demian tersenyum. Ia memberi kode kepada Effendi untuk melanjutkan kata-katanya. "Tuan Paskal Alvaro bisa mendapatkan warisan dan jabatannya kembali jika mau menikah dengan wanita pilihan Pak Demian." "Apa??" Alis Demian sampai terangkat sedikit melihat keterkejutan anaknya. Paskal yang kesal lalu keluar dari kamar kerja ayahnya. Tak lama ponselnya berdering. "Ada apa, Bram?" "Pak Anthony merubah beberapa kebijakan yang sudah kamu terapkan. Dia juga menghapus beberapa peraturan milikmu." Astaga. Apa lagi ini? Paskal sampai mengusap wajahnya. "Jadi, bagaimana? Apa Pak Anthony selamanya akan menjadi direktur disini?" Bram sendiri adalah sekretaris yang merangkap menjadi teman bagi Paskal. "Aku tidak tahu, nanti aku kabari. Dan Bram, jika ada terjadi sesuatu di Perusahaan, jangan lupa untuk juga kabari aku." "Akan aku lakukan." Sambungan lalu dimatikan. Sekitar 1 jam menunggu sampai Effendi pulang, barulah Paskal kembali ke kamar kerja Demian dan menemukan Imelda juga sudah ada disana. "Sebenarnya apa yang sedang papa rencanakan?" Tanya Paskal tanpa basa-basi. "Lihatlah putramu, sayang. Masuk tanpa mengetuk dan langsung bertanya tanpa memberi salam." Ucap Demian sambil meneliti laporan perusahaan. Imelda hanya menggeleng. Selama 8 tahun di Amerika sepertinya Paskal lupa akan sopan santun. "Aku cuma ingin tahu kenapa papa lakukan ini padaku? Aku dipecat dari jabatanku, tidak mendapat warisan. Lalu apalagi ini? Kalau aku menikah, baru papa akan memberikan warisan." "Memang kamu nggak sadar umur, nak? Seusiamu harusnya sudah membina rumah tangga dan memberi kami cucu." Paskal sampai menggeleng. "Ini ibukota, ma. Bukan di desa. Apa salah umurku? Aku baru berusia 33 tahun." Kedua orang tuanya saling melirik dan tersenyum. Nah, kalau begini Paskal yakin tebakannya tidak salah. "Papa dan mama sengaja melakukan ini agar bisa mendesakku menikah, kan?" "Itu kamu tahu!" "Aku belum mau menikah." Ucap Paskal mantap. "Ya nggak apa-apa. Selama itu pula kamu akan menjadi pengangguran." Jawab Demian santai. "Sayang.. bagaimana kalau kita coret saja Paskal dari kartu keluarga?" "Papa! Ini sama sekali nggak lucu!" Paskal berdecak. "Aku hanya ingin memintamu menikah, apa salahnya?" "Dan aku ingin memimpin perusahaan, apa salahnya?" Tanya balik Paskal. "Lalu akan kamu hancurkan seperti perusahaan kita di Amerika." Demian sampai menggeleng. "Kamu bodoh, Paskal! Kamu mau tahu kenapa aku mengatakanmu lelaki bodoh? Karena otakmu hanya diisi oleh wanita itu! Wanita yang sama sekali bahkan nggak mau melihat wajahmu itu!" Paskal memalingkan wajah memerahnya. Yang dikatakan Demian memang benar. Selama di Amerika, bukannya bekerja dan kuliah dengan benar. Paskal malah sibuk mengejar cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sakit hati akan cinta, Paskal melampiaskan kekecewaannya dengan kehidupan malam. Sampai akhirnya perusahaan itu hancur. Paskal terpaksa kembali ke negaranya. "Nggak ada yang salah dari pernikahan. Coba saja dulu." Sambung Imelda. "Terserah kalian!" Paskal lansung pergi dari ruangan begitu saja sampai membuat orang tuanya geleng-geleng kepala. "Sial! Ini yang aku tidak suka menjadi seorang pewaris!" Paskal melemparkan barang-barang di kamarnya karena kesal. Jika tahu ujungnya begini, lebih baik dia bersekolah dengan benar dan membangun perusahaannya sendiri. Sementara sedari kecil dia sudah dituntut untuk memiliki mental pewaris. Tapi, sebenarnya bukan itu yang membuat Paskal geram. Melainkan desakan orangtuanya untuk menikah. Ponsel kembali berdering. Melihat nama yang ada disana, Paskal mengambil jaket kulitnya dan keluar dari rumah. Biar saja, dia ingin pulang sampai pagi hari ini. Sesampanya di Neptunus, ada Bram yang sudah menunggunya. Padahal masih siang bolong, sekretaris Paskal ini berkeliaran di luar jam kantor. "Aku bukan sekretaris Anthony. Tenang saja!" Paskal sampai berdecak. Bram ini seperti tahu jalan pikirannya. "Bagaimana? Aman?" Tanya Bram lagi. "Papaku sudah memutuskan semuanya. Aku bukan lagi pewaris mereka." "Apa?" Bram terlonjak kaget. "Kenapa bisa begitu?" "Aku juga nggak ngerti jalan pikiran mereka." "Apa mungkin kamu bukan anak kandung?" "Diamlah!" Paskal menatap tajam. Bram terkekeh. "Mungkin mereka masih kecewa padamu." Paskal menarik nafas. "Betul. Dan kamu tahu apa yang terparah, mereka ingin aku menikah dulu baru mereka akan memberikan warisan serta perusahaan padaku." "Kalau begitu menikah saja." "Aku belum mau menikah." "Menikah saja apa susahnya sih?" Bram sampai heran. "Aku nggak bisa menikah dengan wanita yang nggak aku cinta." "Astaga!" Bram sampai menepuk jidat. Di balik pribadinya yang keras, Paskal ini begitu melankolis. "Lakukan pernikahan bisnis aja. Yang penting warisan serta perusahaan ada di tanganmu. Sekarang apa kamu pikir cinta itu penting? Tidak, Paskal." Paskal kembali menghela nafas panjang. Cinta itu memang tidak penting. Buktinya, mereka malah saling menyakiti. "Akan kupikirkan." Sahut Paskal datar. Dia lalu mengambil segelas air dihadapannya. "Mau kubantu mencari wanitanya? Lihat sekelilingmu. Disini banyak wanita." "Ya jangan dari club juga! Aku ingin menikah dengan wanita baik-baik!" Setidaknya dengan anak dari rekan bisnis ayahnya. Bram jadi tertawa. "Mau kupanggil wanita?" "Panggil lah!" Paskal lalu meletakkan gelasnya dengan kasar setelah meneguk minuman beralkohol itu. Wanita panggilan Bram datang. Cantik. Tapi standar. Tidak menggugah selera. Memakai pakaian dresscon berwarna merah menyala dengan rambut bergelombang sebahu. "Senangkan hati Tuanku. Dia sedang kesal." Perintah Bram, sementara dia sudah merengkuh wanita berambut panjang di sisinya. "Itu keahlianku." Wanita itu tersenyum manis. Ia duduk di sebelah Paskal sambil melingkari leher lelaki itu. "Siapa namamu?" "Apa itu penting?" Tanya Paskal menatap tajam. Sementara jari lentik wanita itu mengukir wajah indah Paskal. "Namaku, Stella." Bisik Stella menggoda sambil mengecup pipi dan telinga Paskal. "Selamat bersenang-senang. Kami cari tempat lain." Bram mengajak wanitanya ke ruangan yang berada di sebelah. Sedangkan jari Stella sudah membelai kemana-mana. Paskal memejamkan mata menikmati sentuhan wanita penggoda itu. "Apa kau bersih?" Gumam Paskal. "Kalau kamu mau, kamu bisa pakai pengaman." Paskal tergelak. "Kalau begitu lakukan tanpa aku harus menyentuhmu." Stella mengangguk mengerti. Dia lalu berlutut di hadapan pria itu. "Langsung saja. Aku tidak punya waktu." Paskal kembali memejamkan mata. Sekali lagi wanita itu tersenyum dan melaksanakan tugasnya. *** "Jam berapa pulang semalam?" Paskal baru saja duduk di kursi makan bergabung dengan orang tuanya untuk sarapan. Sebab tidak ke kantor, Paskal hanya memakai setelan kaos santai. "Papa kan sudah tahu, kenapa masih bertanya lagi.." Jawab Paskal cuek. "Biarkan saja, Pa. Dia kan sudah jadi pengangguran sekarang." Sindir Imelda yang mendapat senyuman dari suaminya. Paskal jadi kehilangan rasa laparnya kalau begini. Orang tuanya tak henti memberi sindiran telak. "Aku sudah mempertimbangkannya." Ucap Paskal. "Aku mau menikah." Demian menatap putranya. "Aku tidak salah dengar, kan?" "Aku akan menikah." Dengan begitu Paskal bisa kembali menjadi pewaris dan menjalankan perusahaan. Demian terkekeh dan melihat istrinya. "Kamu lihat.. anakmu tidak bisa hidup miskin! Kalau begitu bersiaplah, sebelum makan siang kita akan pergi." "Kemana?" "Bertemu calon istrimu." "Apa? Maksud papa, aku dijodohkan?" "Apa kamu lupa yang dikatakan Effendi kemarin? Kamu harus menikah dengan wanita pilihan papa." Paskal mendengkus kesal. "Baiklah." Dia memang tak memiliki pilihan.Imelda mengatakan ada hadiah yang menunggu Paskal. Hadiah apa? Buat penasaran saja.Dengan ekspresi datar, Paskal masuk ke kamarnya tepat saat Larissa juga baru keluar dari kamar mandi."Mama.. bajunya tipis." Oh, Larissa ingin menangis. Dia mencoba menutupi bagian dada yang memiliki belahan rendah itu.Namun saat wajahnya terangkat, yang menatapnya bukanlah Imelda melainkan Paskal. Apalagi tatapan mata itu tidak menyenangkan."Oh.. jadi ini kata mama hadiah untukku?" Paskal menatap istrinya dari atas ke bawah.Larissa tertunduk dengan wajah yang memerah."Sama sekali tidak menarik. Apa yang sedang kau pikirkan, Larissa?" Geram Paskal. "Apa kamu yang mempengaruhi mama untuk membeli baju itu untukmu? Astaga! Bentuk tubuhmu saja tidak menarik. Bagaimana mama berpikir aku bisa memakaimu?"Larissa mengerjap. Reflek ia memundurkan langkah setelah mendengar suara sepatu Paskal yang berjalan mendekat."Sini kamu!" Pask
Untung saja Larissa belum mengucapkan satu katapun. Atau bisa jadi pria yang baru datang ini akan melahap habis dirinya.Paskal datang sambil meregangkan dasi miliknya. Sebagai istri yang baik, Larissa menyambut tas kerja dan membuka jas kerja milik suaminya. Ia juga menarik kursi untuk Paskal duduk dan membantunya menyiapkan makan malam."Dari mana saja? Bukannya pulang kantor jam 4?" Tanya Demian."Besok ada rapat. Jadi aku harus membuat laporan.""Oh, ya? Membuat dimana?""Papa menaruh mata-mata untukku? Yang benar saja.""Sudah!" Imelda menengahi. "Makan malam dulu. Ini semua masakan Larissa."Paskal mendengkus dan menyendokkan makanan. Kebetulan perutnya lapar karena tadi baru saja selesai berolahraga bersama Elya."Papa dan mama akan ke Amerika.""Kapan?""Mungkin dua minggu lagi.""Ada apa? Liburan?""Membangun kembali bisnis yang kamu hancurkan."Paskal menghe
Paskal melenggang santai masuk ke perusahaan Sandhya. Perusaahan milik keluarga Alvaro dimana Demian adalah pemiliknya. Jika dulu, Paskal adalah direktur perusahaan kini dia datang dengan jabatan baru. Yang katanya manajer tetapi rupanya kepala divisi.Kesal pasti. Demian dinilainya plin plan. Tapi daripada tidak bekerja sama sekali. Paskal harus menerima dan kembali bekerja."Selamat pagi, Tuan." Sapa satu per satu pegawai.Paskal hanya berdeham dan masuk ke ruang kerjanya yang sempit. Untung saja, dia tidak menjadi karyawan biasa. Pasti Paskal akan bergabung dengan karyawan lain di luar sana.Pintu diketuk.Seorang wanita muda masuk sambil membawa beberapa laporan. Kebetulan, kepala divisi di bagian ini sudah pensiun dan Paskal menggantinya."Masuklah.""Ini berkas laporan yang biasa Pak Erwin minta per bulannya." Ucapnya sopan."Ya. Pergilah."Wanita muda itu menundukkan sedikit badannya sebagai tan
Mata Larissa menggelepar ketakutan. Telinganya terasa bedenging akibat kuatnya pukulan yang diberikan oleh suaminya."Mas..." gumam Larissa pelan. Matanya sudah berair.Melihat Paskal yang menampar Larissa, Gabriel bernafas lega. Dia bahkan tersenyum sinis saat melihat wajah kemarahan temannya."Dia pantas dipecat! Berani sekali menggoda teman majikannya sendiri!" Ucap Gabriel sinis."Keluarlah dulu, Gabriel!" Jawab Paskal tanpa menoleh. Matanya masih menguliti Larissa.Gabriel berdeham. Dia lalu keluar dari kamar dengan rasa puas. Setidaknya, Paskal tak akan curiga apa yang telah dilakukannya."Apa yang kamu katakan? Berani-beraninya kamu!" Paskal hendak memukul Larissa lagi karena geram.Larissa langsung menutup mata dan memalingkan wajah."Aku nggak berbohong, mas.. dia sungguh ingin menodaiku!" Larissa terisak."Kamu!" Paskal meraih wajah Larissa dan mencengkram kuat pipinya. "Sudah kubilang jangan
Selesai makan malam, Larissa juga yang harus membersihkan bekas makan mereka. Wanita itu membawa piring kotor ke tempat cuci dan mencuci semuanya.Tak lama terdengar suara riuh dari tangga, ternyata tiga sahabat tadi sedang bercengkrama sambil menuruni anak tangga. Mereka menuju pintu keluar tanpa mengucapkan satu katapun."Aku memang nggak seharusnya disini," Larissa menghela nafas. Jika punya pilihan, dia jelas tak mau berada disini. "Setelah ini, aku harus tidur."Tubuh Larissa lelah, entah apa lagi selanjutnya yang akan dilakukan mereka padanya. Dia harus istirahat sekarang.Selesai membersihkan semuanya, Larissa masuk kamar dan beristirahat di kamar yang kecil.Sementara Paskal, Gabriel dan Catline pergi menuju club malam yang memang terkenal di daerah ini."Sayang sekali istrimu nggak ikut!" Gabriel terkekeh. Dia sungguh penasaran dengan istri Paskal. "Apa dia seorang anak kolongmerat juga?"Paskal hanya berdeham. "Aku nggak mau membahas masalah pribadi.""Ups! Sorry!" Gabriel l
Sakit hati Larissa mendengarnya tapi bibir ini membisu untuk menjawab. Bagaimana tidak? Paskal malah memperkenalkannya sebagai pembantu bukan seorang istri."Alih-alih bawa istri kamu malah bawa pembantu," Catline tertawa geli."Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sudah lama nggak bertemu." Tawar Gabriel."Betul juga. Sudah lama kita nggak berbincang." Sahut Paskal."Kita ke restoran seafood disana saja." Ajak Catline.Kedua pria setuju dan berjalan bersama. Sementara Larissa bingung, dia harus ikut atau kembali ke hotel."Kamu mau disini atau ikut?" Tanya Catline pada Larissa. "Pas, asistenmu gimana?"Paskal menoleh dan menatap Larissa. "Ikut saja."Larissa lalu ikut ketiga orang yang tengah asik berbincang itu dari belakang. Ketika masuk ke restoran, Paskal memberi kode agar Larissa menunggu saja di luar.Larissa menghela nafas. "Kalau begitu, harusnya aku pulang saja." Dia lalu duduk di kursi yang tersedia diluar restoran."Asistenmu tadi nggak diajak makan bersama?" Catline







