Compartir

3. Desakan Jodoh

Autor: Stary Dream
last update Fecha de publicación: 2026-06-29 21:41:39

"Apa-apaan ini?" Paskal mulai menggeram.

Demian hanya tersenyum dan meminta Effendi untuk menjelaskan kembali.

"Surat ahli waris yang baru saja Pak Demian tanda tangani. Menuliskan secara sah jika Tuan Paskal bukan lagi pewaris tunggal keluarga Alvaro. Tak hanya itu, jabatan Tuan sebagai direktur utama juga akan di non aktifkan."

"Papa nggak bisa ngelakuin ini ke aku, pa!"

"Kenapa? Kamu lupa kalau papamu ini yang memiliki tali kendali semuanya?"

"Tapi, apa papa lupa kalau aku ini anak papa satu-satunya?" Jika bukan Paskal, lalu siapa lagi yang akan mendapatkan warisan keluarga Alvaro. Apalagi mengenai perusahaan.

"Betul sekali." Demian tersenyum. Ia memberi kode kepada Effendi untuk melanjutkan kata-katanya.

"Tuan Paskal Alvaro bisa mendapatkan warisan dan jabatannya kembali jika mau menikah dengan wanita pilihan Pak Demian."

"Apa??"

Alis Demian sampai terangkat sedikit melihat keterkejutan anaknya.

Paskal yang kesal lalu keluar dari kamar kerja ayahnya. Tak lama ponselnya berdering.

"Ada apa, Bram?"

"Pak Anthony merubah beberapa kebijakan yang sudah kamu terapkan. Dia juga menghapus beberapa peraturan milikmu."

Astaga. Apa lagi ini? Paskal sampai mengusap wajahnya.

"Jadi, bagaimana? Apa Pak Anthony selamanya akan menjadi direktur disini?"

Bram sendiri adalah sekretaris yang merangkap menjadi teman bagi Paskal.

"Aku tidak tahu, nanti aku kabari. Dan Bram, jika ada terjadi sesuatu di Perusahaan, jangan lupa untuk juga kabari aku."

"Akan aku lakukan."

Sambungan lalu dimatikan. Sekitar 1 jam menunggu sampai Effendi pulang, barulah Paskal kembali ke kamar kerja Demian dan menemukan Imelda juga sudah ada disana.

"Sebenarnya apa yang sedang papa rencanakan?" Tanya Paskal tanpa basa-basi.

"Lihatlah putramu, sayang. Masuk tanpa mengetuk dan langsung bertanya tanpa memberi salam." Ucap Demian sambil meneliti laporan perusahaan.

Imelda hanya menggeleng. Selama 8 tahun di Amerika sepertinya Paskal lupa akan sopan santun.

"Aku cuma ingin tahu kenapa papa lakukan ini padaku? Aku dipecat dari jabatanku, tidak mendapat warisan. Lalu apalagi ini? Kalau aku menikah, baru papa akan memberikan warisan."

"Memang kamu nggak sadar umur, nak? Seusiamu harusnya sudah membina rumah tangga dan memberi kami cucu."

Paskal sampai menggeleng. "Ini ibukota, ma. Bukan di desa. Apa salah umurku? Aku baru berusia 33 tahun."

Kedua orang tuanya saling melirik dan tersenyum. Nah, kalau begini Paskal yakin tebakannya tidak salah.

"Papa dan mama sengaja melakukan ini agar bisa mendesakku menikah, kan?"

"Itu kamu tahu!"

"Aku belum mau menikah." Ucap Paskal mantap.

"Ya nggak apa-apa. Selama itu pula kamu akan menjadi pengangguran." Jawab Demian santai. "Sayang.. bagaimana kalau kita coret saja Paskal dari kartu keluarga?"

"Papa! Ini sama sekali nggak lucu!" Paskal berdecak.

"Aku hanya ingin memintamu menikah, apa salahnya?"

"Dan aku ingin memimpin perusahaan, apa salahnya?" Tanya balik Paskal.

"Lalu akan kamu hancurkan seperti perusahaan kita di Amerika." Demian sampai menggeleng. "Kamu bodoh, Paskal! Kamu mau tahu kenapa aku mengatakanmu lelaki bodoh? Karena otakmu hanya diisi oleh wanita itu! Wanita yang sama sekali bahkan nggak mau melihat wajahmu itu!"

Paskal memalingkan wajah memerahnya. Yang dikatakan Demian memang benar. Selama di Amerika, bukannya bekerja dan kuliah dengan benar. Paskal malah sibuk mengejar cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sakit hati akan cinta, Paskal melampiaskan kekecewaannya dengan kehidupan malam. Sampai akhirnya perusahaan itu hancur. Paskal terpaksa kembali ke negaranya.

"Nggak ada yang salah dari pernikahan. Coba saja dulu." Sambung Imelda.

"Terserah kalian!" Paskal lansung pergi dari ruangan begitu saja sampai membuat orang tuanya geleng-geleng kepala.

"Sial! Ini yang aku tidak suka menjadi seorang pewaris!" Paskal melemparkan barang-barang di kamarnya karena kesal.

Jika tahu ujungnya begini, lebih baik dia bersekolah dengan benar dan membangun perusahaannya sendiri. Sementara sedari kecil dia sudah dituntut untuk memiliki mental pewaris.

Tapi, sebenarnya bukan itu yang membuat Paskal geram. Melainkan desakan orangtuanya untuk menikah.

Ponsel kembali berdering. Melihat nama yang ada disana, Paskal mengambil jaket kulitnya dan keluar dari rumah. Biar saja, dia ingin pulang sampai pagi hari ini.

Sesampanya di Neptunus, ada Bram yang sudah menunggunya. Padahal masih siang bolong, sekretaris Paskal ini berkeliaran di luar jam kantor.

"Aku bukan sekretaris Anthony. Tenang saja!"

Paskal sampai berdecak. Bram ini seperti tahu jalan pikirannya.

"Bagaimana? Aman?" Tanya Bram lagi.

"Papaku sudah memutuskan semuanya. Aku bukan lagi pewaris mereka."

"Apa?" Bram terlonjak kaget. "Kenapa bisa begitu?"

"Aku juga nggak ngerti jalan pikiran mereka."

"Apa mungkin kamu bukan anak kandung?"

"Diamlah!" Paskal menatap tajam.

Bram terkekeh. "Mungkin mereka masih kecewa padamu."

Paskal menarik nafas. "Betul. Dan kamu tahu apa yang terparah, mereka ingin aku menikah dulu baru mereka akan memberikan warisan serta perusahaan padaku."

"Kalau begitu menikah saja."

"Aku belum mau menikah."

"Menikah saja apa susahnya sih?" Bram sampai heran.

"Aku nggak bisa menikah dengan wanita yang nggak aku cinta."

"Astaga!" Bram sampai menepuk jidat. Di balik pribadinya yang keras, Paskal ini begitu melankolis. "Lakukan pernikahan bisnis aja. Yang penting warisan serta perusahaan ada di tanganmu. Sekarang apa kamu pikir cinta itu penting? Tidak, Paskal."

Paskal kembali menghela nafas panjang. Cinta itu memang tidak penting. Buktinya, mereka malah saling menyakiti.

"Akan kupikirkan." Sahut Paskal datar. Dia lalu mengambil segelas air dihadapannya.

"Mau kubantu mencari wanitanya? Lihat sekelilingmu. Disini banyak wanita."

"Ya jangan dari club juga! Aku ingin menikah dengan wanita baik-baik!" Setidaknya dengan anak dari rekan bisnis ayahnya.

Bram jadi tertawa.

"Mau kupanggil wanita?"

"Panggil lah!" Paskal lalu meletakkan gelasnya dengan kasar setelah meneguk minuman beralkohol itu.

Wanita panggilan Bram datang. Cantik. Tapi standar. Tidak menggugah selera. Memakai pakaian dresscon berwarna merah menyala dengan rambut bergelombang sebahu.

"Senangkan hati Tuanku. Dia sedang kesal." Perintah Bram, sementara dia sudah merengkuh wanita berambut panjang di sisinya.

"Itu keahlianku." Wanita itu tersenyum manis. Ia duduk di sebelah Paskal sambil melingkari leher lelaki itu. "Siapa namamu?"

"Apa itu penting?" Tanya Paskal menatap tajam. Sementara jari lentik wanita itu mengukir wajah indah Paskal.

"Namaku, Stella." Bisik Stella menggoda sambil mengecup pipi dan telinga Paskal.

"Selamat bersenang-senang. Kami cari tempat lain." Bram mengajak wanitanya ke ruangan yang berada di sebelah.

Sedangkan jari Stella sudah membelai kemana-mana. Paskal memejamkan mata menikmati sentuhan wanita penggoda itu.

"Apa kau bersih?" Gumam Paskal.

"Kalau kamu mau, kamu bisa pakai pengaman."

Paskal tergelak. "Kalau begitu lakukan tanpa aku harus menyentuhmu."

Stella mengangguk mengerti. Dia lalu berlutut di hadapan pria itu.

"Langsung saja. Aku tidak punya waktu." Paskal kembali memejamkan mata.

Sekali lagi wanita itu tersenyum dan melaksanakan tugasnya.

***

"Jam berapa pulang semalam?"

Paskal baru saja duduk di kursi makan bergabung dengan orang tuanya untuk sarapan. Sebab tidak ke kantor, Paskal hanya memakai setelan kaos santai.

"Papa kan sudah tahu, kenapa masih bertanya lagi.." Jawab Paskal cuek.

"Biarkan saja, Pa. Dia kan sudah jadi pengangguran sekarang." Sindir Imelda yang mendapat senyuman dari suaminya.

Paskal jadi kehilangan rasa laparnya kalau begini. Orang tuanya tak henti memberi sindiran telak.

"Aku sudah mempertimbangkannya." Ucap Paskal. "Aku mau menikah."

Demian menatap putranya. "Aku tidak salah dengar, kan?"

"Aku akan menikah." Dengan begitu Paskal bisa kembali menjadi pewaris dan menjalankan perusahaan.

Demian terkekeh dan melihat istrinya. "Kamu lihat.. anakmu tidak bisa hidup miskin! Kalau begitu bersiaplah, sebelum makan siang kita akan pergi."

"Kemana?"

"Bertemu calon istrimu."

"Apa? Maksud papa, aku dijodohkan?"

"Apa kamu lupa yang dikatakan Effendi kemarin? Kamu harus menikah dengan wanita pilihan papa."

Paskal mendengkus kesal. "Baiklah." Dia memang tak memiliki pilihan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   142. Setia Selamanya

    Paskal naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut dan mencium perut Larissa yang membukit. Larissa menggeliat. Matanya terbuka perlahan."Mas Paskal.." mata Larissa memerah."Masih malam. Tidurlah."Paskal menaruh satu tangannya ke bawah tubuh Larissa. Wanita yang masih terbaring di ranjang pesakitan ini dibawanya dalam pelukan.Dengan penuh kasih sayang, Paskal mengusap punggung istrinya dengan nyaman. Larissa menyenderkan kepalanya di atas dada bidang itu. Menjadikan tubuh Paskal sebagai sandaran tidurnya.Pagi ini, Larissa bangun dalam keadaan lebih segar. Tidur semalam nyenyak. Aroma parfum maskulin suaminya menjadi pengantar tidur yang menyejukkan.Paskal sendiri sudah lebih dulu terbangun. Dengan cekatan, ia menata makanan di atas meja dan menghidangkannya pada Larissa."Makan ini, sayang." Sebuah mangkuk berisi sup diberikan."Mana bi Ira?""Pulang sejak semalam.""Kamu pasti cape

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   141. Masalah Terakhir

    "Halo. Ya?"Erica merapatkan ponsel itu ke telinga dan mendengar perintah secara seksama. Senyum tersungging di bibir manisnya."Ah, baiklah. Di hotel biasa. Pukul 8 malam."Tut. Sambungan itu dimatikan. Erica bangkit dari duduknya dan menghadap cermin.Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, ia akan bersiap menuju hotel dimana ia memiliki pekerjaan sampingan.Rambut pendek itu ia sisir rapi dan diberikan spray. Wajah yang mulus diberikan riasan bold. Jangan lupakan lipstik yang berwarna merah maroon itu sungguh bergairah di bibirnya yang tebal.Gaun bertali sejari dengan punggung setengah terbuka ia pilih. Wanita ini memutar tubuhnya untuk memeriksa penampilannya."Kecantikanku memang tak pernah gagal." Gumam Erica percaya diri.Wanita ini mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar. Dia harus bekerja malam ini bersama dengan teman-teman satu "profesi" nya. Ah, apa itu? Pasti ada alasan kenapa Erica bisa b

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   140. Dalang Masalah

    "Pak Teguh??" Sekretaris wanita ini nampak ketakutan saat melihat dua pria tampan yang gagah sedang menatapnya.Di belakang dua pria itu ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Mereka berbaris seperti pengawal."Iya. Apa ada pak Teguh disini?" Tanya Farhan mengambil alih situasi."A-ada.. tapi anda berdua siapa?" Sekretaris ini jadi terbata-bata.Paskal tersenyum. "Malaikat maut."Tanpa menunggu persetujuan, Paskal yang tak sabar melewati wanita itu begitu saja. Ia lalu pergi ke ruangan yang menjadi ruang kerja Teguh."Saya tidak terima dikalahkan. Gara-gara Paskal Alvaro, saya tidak bisa menjadi politisi lagi!" Seru Teguh.Gara-gara skandal anaknya di masa lalu yang membuat namanya tercemar karena korupsi, Teguh jadi mundur dari pemilihan anggota dewan. Dan sialnya, Paskal Alvaro malah menang dalam pemilihan ini.Oh.. Teguh tak terima! Ia pun menyuap seorang jurnalis agar membuat berita palsu mengenai

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   139. Ketegasan Larissa

    "Saya sudah tidur bersama tuan Alvaro." Erica tersenyum tipis. Dengan anggun dan lembut ia mengambil beberpaa lembar foto yang ada di tas tangannya lalu memberikan pada Larissa.Larissa mengambil foto tersebut dan menatap nanar. Disana ada foto Paskal dan Erica yang tengah beradu kasih di tempat tidur. Terlihat Paskal yang tidak memakai pakaian tidur memeluk Erica dengan erat."Anda pasti tahu mengenai gosip yang beredar, kan? Benar sekali, nyonya. Saya dan tuan memang memiliki hubungan sejak lama. Yaitu ketika kalian belum rujuk kembali."Bi Ira yang mendengar itu jadi meradang. Ia lalu menghardik Erica."Itu semua pasti tidak benar, nyonya! Wanita ini mengada-ngada!" Bi Ira jijik sekali melihat Erica.Sementara, Erica tak perduli dengan ucapan wanita paruh baya itu. Hanya pelayan, ia tak berniat meladeninya.Larissa memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengusap perutnya."Lalu anda mau

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   138. Disuap

    Pagi ini, Paskal izin bekerja. Larissa kembali dijaga oleh bi Ira. Keduanya bersikap biasa seprti tak ada masalah. Paskal tak menyinggung berita negatif yang mengenai dirinya. Pun begitu Larissa yang mengantungi kesetiaan suaminya. Ya, anggaplah begitu. Dokter wanita datang lagi untuk memeriksa keadaan Larissa. Kali ini nyonya Alvaro dipindahkan ke ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin. Semuanya normal dalam keadaan baik. Namun yang tak baik adalah denyut jantung Larissa. "Tekanan darah anda sedikit naik, nyonya." Ucap dokter tersebut. "Apa anda tidur nyenyak semalam?" Larissa mengangguk. "Ya. Saya tidur dengan nyenyak.." "Oke. Kalau begitu kita lihat dulu tekanan darahnya sampai besok. Jika masih tinggi kita bisa pertimbangkan alternatif lain." Sambung dokter wanita ini lagi. Selesai diperiksa, Larissa dibawa lagi pulang ke kamar dengan bantuan kursi roda. Daritadi

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   137. Membersihkan Nama

    "Ini tidak benar." Paskal memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.Berita disana mengabarkan jika Paskal telah berselingkuh dengan seorang model bernama Erica. Terlihat dari cuplikan foto ketika mereka berpelukan.Narasi negatif makin tergiring karena track record Paskal yang gelap. Yaitu pernah mendua saat di pernikahannya yang pertama dengan orang yang sama."Mereka sepertinya ingin menjebak tuan." Balas Farhan."Atau mungkin wanita itu. Harusnya aku tahu kalau dia memang wanita penghibur." Paskal lalu meminta tolong pada pengacaranya."Bersihkan semua berita negatif itu. Cari media yang menerbitkannya. Temukan dalang dari semua ini. Jangan sampai Larissa mendengarkan berita ini."Farhan mengangguk. "Akan saya lakukan."Farhan bergegas menelusuri asal muasal berita ini tercipta. Paskal yang merasa semuanya beres lantas pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, Paskal dihubungi oleh Triwan. Anggota dewan ini me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status