Compartilhar

5. Terpaksa

Autor: Stary Dream
last update Data de publicação: 2026-06-29 21:44:56

"Jadi papa mau menjodohkanku dengan wanita yang statusnya nggak jelas?" Desis Paskal ketika dalam perjalanan pulang.

"Ngomong apa sih kamu!"

"Jangan pura-pura nggak tahu, pa. Larissa itu hanya anak pungut."

"Cukup, Paskal. Kita sedang di jalan. Kamu mau mengulangi kisah 8 tahun yang lalu?" Tegur Imelda yang berhasil membungkam mulut Paskal.

Sambil mencengkram setir, Paskal hanya diam. Tapi mobilnya melaju lesat sampai tujuan.

Sesampainya di rumah, Paskal masih tak terima.

"Papa dan mamamu menyukai Larissa."

"Tapi aku nggak suka." Jawab Paskal lantang.

"Dia wanita yang lembut dan juga penurut. Dia juga penyayang dan pintar memasak. Sempurna jika dijadikan istri."

"Kalau hanya itu saja syaratnya, pembantu di rumah ini juga bisa. Kenapa tidak pilih salah satu dari mereka?"

"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, hah?" Demian jadi kesal.

"Setidaknya nikahkan aku dengan wanita yang jelas bibit bebet dan bobotnya. Bukan dia." Padahal, tadinya Paskal pikir dia akan dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya.

"Jadi kamu memandang status?"

"Bukannya papa yang mengajarkan itu?" Paskal menatap tajam.

"Jangan kamu pikir aku akan kalah darimu! Tidak, Paskal. Jika aku bilang kamu harus menikah dengan Larissa. Maka kamu harus menikahinya!" Demian tak ingin menerima bantahan. Ia berlalu ke kamar.

Saat Paskal ingin mengejar, Ia dicegah oleh Imelda.

"Ma.. mama pasti mengerti maksudku, kan? Jika dijodohkan dengan wanita lain aku nggak akan menolak. Asal jangan dia."

"Memang apa kurangnya dia? Istri seperti itu yang harus dicari Paskal. Bukan wanita yang suka melenggak lenggok dan memamerkan tubuhnya pada pria lain."

"Astaga!" Paskal sambak berdecak.

"Setidaknya Larissa lebih baik."

"Tapi.."

"Jangan membantah Paskal!" Mata Imelda melotot lalu melewati anaknya begitu saja.

Besoknya, Larissa kembali menjadi komando di dapur dalam hal memasak makanan untuk anak-anak panti.

"Aku dengar kamu mau dijodohkan.. beruntung sekali kamu.." Riana jadi iri.

"Kamu tahu darimana?"

"Kemarin aku lihat si Paskal Alvaro itu.. ya ampun, ternyata dia lebih ganteng aslinya." Riana sampai takjub.

"Tapi.. dia sedikit angkuh."

"Baru kenal aja kali!"

Larissa hanya tersenyum. Ketampanan fisik memang seperti mengalahkan segala hal. Tapi sayang, Larissa tak terbuai akan itu. Hal pertama yang dinilainya dari Paskal, pria itu sangat angkuh, dingin dan begitu sombong. Mungkin karena benar dia anak orang kaya.

"Tapi, aku kayak ngerasa pernah ketemu dia.. tapi dimana, ya?" Larissa mengingat-ngingat.

"Paskal Alvaro?" Riana menggeleng. "Kamu keluar rumah cuma ke pasar. Mana mungkin ketemu dia. Mungkin kamu sering nonton televisi."

"Bisa jadi.." tapi entah kenapa Larissa merasa, ia memang pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Tapi, dimana?

"Mbak Larissa.." panggil seorang pengasuh dari luar.

Riana dan Larissa sendiri sedang memotong sayuran.

"Ada yang nyariin diluar.."

"Siapa?"

"Katanya namanya, Paskal,"

Deg!

Mata Larissa jadi membulat.

"Duh! Baru aja kita bergosip tentang dia. Eh.. dia langsung datang! Apa mungkin ini jodoh?" Goda Riana.

"Aku lihat dulu. Kamu selesaikan ini, Riana. Jangan ngobrol aja."

Riana mendengkus. "Baiklah!"

Larissa mencuci tangan dan menemui pria yang sudah menunggunya di ruang tamu. Untuk sesaat, Larissa terkesiap. Pria itu menggunakan setelah jas lengkap. Jas mahal berwarna hitam, lengkap dengan jam tangan mewahnya.

"Mas Paskal.." tegur Larissa.

Dahi Paskal mengernyit. "Mas?" Apa dia tidak salah dengar tadi?

"Larissa." Paskal menatap tajam wanita di hadapannya. Larissa menguncir rambutnya kebelakang dan hanya memakai kaos panjang rumahan dengan celana panjang lusuhnya. Semakin yakin saja dia.

"Mas cari saya? Atau cari bapak? Kebetulan bapak lagi ke rumah sakit."

"Saya cari kamu." Situasi tiba-tiba menjadi formal gara-gara setelan jas yang dipakai Paskal. "Kita harus bicara. Tapi tidak disini."

"Soal apa?"

"Perjodohan ini. Saya nggak mau ada yang mencuri dengar."

"Kalau begitu, saya ganti baju dulu."

"Tidak usah. Kita bicara dalam mobil saja."

Paskal bangkit dari duduknya diikuti Larissa. Mereka bersama-sama menuju mobil hitam yang terparkir di halaman rumah.

"Masuklah!" Perintah Paskal.

Larissa masuk dan duduk disamping kemudi. Ternyata ia salah. Paskal tidak menghidupkan mesin mobil dan mengajak bicara dalam sini. Ia pikir tadi Paskal akan mengajaknya keluar.

"Saya tidak terima perjodohan ini." Ucap Paskal tanpa basa-basi.

"Baik, nggak apa-apa."

"Kamu bicara sama orang tua angkatmu. Bilang kalau kamu menolakku."

Dahi Larissa mengernyit. "Kenapa harus saya yang bilang menolak, mas? Kenapa bukan mas saja yang mengatakan pada orang tuamu."

"Karena orang tua saya tetap memaksa untuk menjodohkan kita, dan mereka tidak menerima alasan. Jadi, kamu yang harus menolak saya."

Larissa hanya berdeham. Bukan karena sakit tenggorokan, tapi ia merasa canggung karena pria ini memandangnya begitu tajam dan mengintimidasi.

"Atau sebenarnya kamu memang mau dijodohkan sama saya?" Paskal jadi curiga.

"Saya cuma nggak punya pilihan." Jawab Larissa tersendat.

"Sekarang kamu punya. Beri tahu orang tua angkatmu kalau kamu menolakku dan kita terbebas dari perjodohan ini."

"Terus alasan apa yang harus saya katakan?"

"Bilang saja kamu belum mau menikah, sudah punya pacar atau apalah.. yang penting mereka mempercayaimu."

"Saya akan usahakan."

Dahi Paskal mengernyit. Apa maksud perkataan wanita ini?

"Harus diusahakan!" Paskal lalu mengambil ponselnya dari saku kemeja dan memberinya pada Larissa. "Ketik nomor ponselmu disini dan misscall menggunakan ponselku. Jikalau semuanya sudah selesai, kamu hubungi saya."

Larissa menarik nafas panjang dan mengetik nomornya disana. "Nanti kalau sudah, saya kabari."

Paskal tak berekspresi. Dia sedang membuat nama untuk nomor yang baru saja disimpannya. Yaitu, "Si Pungut."

"Apa ada yang ingin dibacarakan lagi?" Karena Larissa harus lanjut memasak.

"Tidak ada. Keluarlah!" Ucap Paskal tanpa menoleh.

"Permisi."

"Eh, tunggu dulu! Kenapa kamu memanggil saya dengan sebutan mas?"

Larissa heran dengan pertanyaan yang diberikan Paskal. "Memang saya harus memanggil apa? Bukannya mas Paskal lebih tua dari saya 8 tahun?"

Paskal mendengkus. "Keluarlah!"

Larissa menahan nafasnya lalu keluar dari mobil. Setelah Larissa keluar, Paskal menghidupkan mesin mobil dan keluar dari halaman rumah.

Setelah melihat mobil itu menjauh, barulah Larissa bernafas lega.

"Sungguh mengerikan."

Malamnya, Larissa akhirnya mengutarakan keinginannya di hadapan Hamdi dan Ana bahwa ia menolak perjodohan ini. Alasannya, karena Larissa belum mau menikah.

"Bukannya kemarin kamu bilang udah siap menikah?" Tanya Ana.

"Itu kemarin, bu. Setelah aku berpikir.. sepertinya aku belum bisa. Mental aku belum siap, bu.."

"Jadi kamu menolak perjodohan ini?" Tanya Hamdi menatap lekat.

"Maaf sekali, bapak, ibu.." Larissa sampai tertunduk.

Tak lama, kabar itu sampai juga ke telinga Demian. Jelas saja dia tak percaya karena Larissa yang tiba-tiba menolak perjodohan. Siapa yang tak mau menjadi bagian dari keluarga Alvaro, kan? Itu artinya Larissa menyia-nyiakan kesempatan.

"Besok kita temui mereka, ma. Aku yakin Larissa sudah diancam." Ucap Demian yakin.

Besoknya, Demian dan Imelda kembali mengunjungi kediaman Hamdi. Larissapun disuruh bergabung.

"Apa ada yang menyuruhmu melakukan ini, nak?" Tanya Demian.

"Tidak ada, Tuan. Ini jujur dari saya."

"Kamu berbohong.."

Imelda dan lainnya hanya saling memandang.

"Jika kamu jujur, kamu akan berani menatap mata saya. Tapi nyatanya kamu berbohong.. saya yakin ada orang yang berusaha menekanmu." Demian lalu beralih pada Hamdi. "Kami tidak menerima penolakan. Maaf sekali, Larissa dan Paskal akan tetap menikah."

Mendengar ketegasan Demian, Hamdi tidak bisa menolak. Begitu juga Larissa yang hanya diam.

Yang tak terima tetaplah Paskal. Mau dia marah dan merajuk pun, Demian akan tetap menikahkannya.

"Pasti ulah wanita itu yang nggak bisa meyakinkan keluarganya!" Tangan Paskal jadi mengepal.

Tepat pukul 10 malam, setelah menidurkan anak-anak, Larissa berangkat tidur. Tapi ponselnya berdering dan melihat nama yang tertera disana membuatnya bergidik.

"Halo."

["Keluar sekarang!"]

Larissa meneguk ludah. Suara yang barusan menelponnya ini begitu menyeramkan dan penuh penekanan. Yakin sekali jika pria ini tengah marah.

Larissa mengambil jaket rajutnya dan keluar diam-diam dari rumah. Ternyata Paskal menunggu di depan pagar.

"Ada apa, mas?" Larissa mencoba bersikap biasa saja.

"Nggak perlu bertanya karena aku tahu kamu yang sudah merencanakan ini. Aku sudah bilang untuk menolak perjodohan, kenapa kamu malah bilang sebaliknya?"

"Maksudnya?" Larissa jadi tak mengerti.

"Dasar bodoh!" Geram Paskal yang berhasil membuat Larissa terkejut. "Orang tuaku masih ingin menjodohkan kita."

"Aku sudah mengatakan sesuai apa yang kamu suruh, mas. Tapi mereka nggak percaya."

"Yakin, kamu?" Paskal menatap tajam.

Larissa sampai meneguk ludah. "Aku bisa bersumpah."

"Aku nggak butuh sumpahmu. Harusnya kamu sadar posisi. Siapa kamu dibanding aku? Sampai orang tuaku malah menjodohkan kita.. lihat statusmu. Kamu hanya anak pungut. Statusmu tidak jelas!" Desis Paskal sinis.

Memerah mata Larissa mendengarnya. Tega sekali pria ini menghinanya seperti ini. Padahal, orang-orang disini begitu menjaga perasaannya.

"Kalau begitu aku akan bicara lagi sama orang tuaku."

"Percuma! Mereka nggak akan percaya!"

"Jadi, sekarang bagaimana?"

"Kita akan tetap menikah.."

"Apa? Bukannya tadi mas bilang kalau kamu menolak perjodohan ini.."

"Jangan menyela saat aku bicara!" Bentak Paskal yang membuat Larissa terdiam.

"Ma-af," Larissa tertunduk.

"Kita akan menikah. Tapi hanya untuk status saja.. aku menikahimu hanya karena untuk mengembalikan posisiku di perusahaan dan menjadi pewaris keluarga Alvaro. Tidak lebih dari itu. Jadi jangan harap aku bisa menjadi suami yang baik untukmu!"

Larissa menerjap menahan tangis.

"Kalau begitu kita nggak usah menikah saja, mas.." untuk apa menikah kalau begitu? Itu sama saja membuat Larissa menjadi alat pernikahan.

"Kamu berani menolakku? Silahkan! Tapi kamu tahu siapa keluargaku, kan? Alvaro menjadi donatur tetap dan tertinggi di panti ini. Bayangkan, jika kamu menolak ini. Maka panti ini akan tinggal nama. Kalian akan jatuh dalam kemiskinan dan anak-anak disini akan terlantar."

Larissa terkesiap akan ucapan Paskal. Dalam hatinya bingung, sebenarnya apa yang diinginkan pria ini?

Tadi, dia marah-marah sekarang malah mengancam untuk tidak menolak perjodohan.

"Yang mana terbaik saja.." jawab Larissa pelan. Otaknya sudah tidak bisa berpikir. Baru kali ini dia melihat pria sekasar ini.

"Minggu depan kami akan melamarmu. Tunggu saja."

Paskal langsung masuk mobil ketika selesai mengatakan itu. Namun, ia terkejut ketika melihat Larissa yang juga masuk dan mengunci pagar.

"Wanita itu! Berani sekali!" Tangan Paskal mengepal. "Tapi.. kenapa baju rajut itu seperti familiar.."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   142. Setia Selamanya

    Paskal naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut dan mencium perut Larissa yang membukit. Larissa menggeliat. Matanya terbuka perlahan."Mas Paskal.." mata Larissa memerah."Masih malam. Tidurlah."Paskal menaruh satu tangannya ke bawah tubuh Larissa. Wanita yang masih terbaring di ranjang pesakitan ini dibawanya dalam pelukan.Dengan penuh kasih sayang, Paskal mengusap punggung istrinya dengan nyaman. Larissa menyenderkan kepalanya di atas dada bidang itu. Menjadikan tubuh Paskal sebagai sandaran tidurnya.Pagi ini, Larissa bangun dalam keadaan lebih segar. Tidur semalam nyenyak. Aroma parfum maskulin suaminya menjadi pengantar tidur yang menyejukkan.Paskal sendiri sudah lebih dulu terbangun. Dengan cekatan, ia menata makanan di atas meja dan menghidangkannya pada Larissa."Makan ini, sayang." Sebuah mangkuk berisi sup diberikan."Mana bi Ira?""Pulang sejak semalam.""Kamu pasti cape

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   141. Masalah Terakhir

    "Halo. Ya?"Erica merapatkan ponsel itu ke telinga dan mendengar perintah secara seksama. Senyum tersungging di bibir manisnya."Ah, baiklah. Di hotel biasa. Pukul 8 malam."Tut. Sambungan itu dimatikan. Erica bangkit dari duduknya dan menghadap cermin.Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, ia akan bersiap menuju hotel dimana ia memiliki pekerjaan sampingan.Rambut pendek itu ia sisir rapi dan diberikan spray. Wajah yang mulus diberikan riasan bold. Jangan lupakan lipstik yang berwarna merah maroon itu sungguh bergairah di bibirnya yang tebal.Gaun bertali sejari dengan punggung setengah terbuka ia pilih. Wanita ini memutar tubuhnya untuk memeriksa penampilannya."Kecantikanku memang tak pernah gagal." Gumam Erica percaya diri.Wanita ini mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar. Dia harus bekerja malam ini bersama dengan teman-teman satu "profesi" nya. Ah, apa itu? Pasti ada alasan kenapa Erica bisa b

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   140. Dalang Masalah

    "Pak Teguh??" Sekretaris wanita ini nampak ketakutan saat melihat dua pria tampan yang gagah sedang menatapnya.Di belakang dua pria itu ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Mereka berbaris seperti pengawal."Iya. Apa ada pak Teguh disini?" Tanya Farhan mengambil alih situasi."A-ada.. tapi anda berdua siapa?" Sekretaris ini jadi terbata-bata.Paskal tersenyum. "Malaikat maut."Tanpa menunggu persetujuan, Paskal yang tak sabar melewati wanita itu begitu saja. Ia lalu pergi ke ruangan yang menjadi ruang kerja Teguh."Saya tidak terima dikalahkan. Gara-gara Paskal Alvaro, saya tidak bisa menjadi politisi lagi!" Seru Teguh.Gara-gara skandal anaknya di masa lalu yang membuat namanya tercemar karena korupsi, Teguh jadi mundur dari pemilihan anggota dewan. Dan sialnya, Paskal Alvaro malah menang dalam pemilihan ini.Oh.. Teguh tak terima! Ia pun menyuap seorang jurnalis agar membuat berita palsu mengenai

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   139. Ketegasan Larissa

    "Saya sudah tidur bersama tuan Alvaro." Erica tersenyum tipis. Dengan anggun dan lembut ia mengambil beberpaa lembar foto yang ada di tas tangannya lalu memberikan pada Larissa.Larissa mengambil foto tersebut dan menatap nanar. Disana ada foto Paskal dan Erica yang tengah beradu kasih di tempat tidur. Terlihat Paskal yang tidak memakai pakaian tidur memeluk Erica dengan erat."Anda pasti tahu mengenai gosip yang beredar, kan? Benar sekali, nyonya. Saya dan tuan memang memiliki hubungan sejak lama. Yaitu ketika kalian belum rujuk kembali."Bi Ira yang mendengar itu jadi meradang. Ia lalu menghardik Erica."Itu semua pasti tidak benar, nyonya! Wanita ini mengada-ngada!" Bi Ira jijik sekali melihat Erica.Sementara, Erica tak perduli dengan ucapan wanita paruh baya itu. Hanya pelayan, ia tak berniat meladeninya.Larissa memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengusap perutnya."Lalu anda mau

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   138. Disuap

    Pagi ini, Paskal izin bekerja. Larissa kembali dijaga oleh bi Ira. Keduanya bersikap biasa seprti tak ada masalah. Paskal tak menyinggung berita negatif yang mengenai dirinya. Pun begitu Larissa yang mengantungi kesetiaan suaminya. Ya, anggaplah begitu. Dokter wanita datang lagi untuk memeriksa keadaan Larissa. Kali ini nyonya Alvaro dipindahkan ke ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin. Semuanya normal dalam keadaan baik. Namun yang tak baik adalah denyut jantung Larissa. "Tekanan darah anda sedikit naik, nyonya." Ucap dokter tersebut. "Apa anda tidur nyenyak semalam?" Larissa mengangguk. "Ya. Saya tidur dengan nyenyak.." "Oke. Kalau begitu kita lihat dulu tekanan darahnya sampai besok. Jika masih tinggi kita bisa pertimbangkan alternatif lain." Sambung dokter wanita ini lagi. Selesai diperiksa, Larissa dibawa lagi pulang ke kamar dengan bantuan kursi roda. Daritadi

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   137. Membersihkan Nama

    "Ini tidak benar." Paskal memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.Berita disana mengabarkan jika Paskal telah berselingkuh dengan seorang model bernama Erica. Terlihat dari cuplikan foto ketika mereka berpelukan.Narasi negatif makin tergiring karena track record Paskal yang gelap. Yaitu pernah mendua saat di pernikahannya yang pertama dengan orang yang sama."Mereka sepertinya ingin menjebak tuan." Balas Farhan."Atau mungkin wanita itu. Harusnya aku tahu kalau dia memang wanita penghibur." Paskal lalu meminta tolong pada pengacaranya."Bersihkan semua berita negatif itu. Cari media yang menerbitkannya. Temukan dalang dari semua ini. Jangan sampai Larissa mendengarkan berita ini."Farhan mengangguk. "Akan saya lakukan."Farhan bergegas menelusuri asal muasal berita ini tercipta. Paskal yang merasa semuanya beres lantas pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, Paskal dihubungi oleh Triwan. Anggota dewan ini me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status