تسجيل الدخول"Jadi papa mau menjodohkanku dengan wanita yang statusnya nggak jelas?" Desis Paskal ketika dalam perjalanan pulang.
"Ngomong apa sih kamu!" "Jangan pura-pura nggak tahu, pa. Larissa itu hanya anak pungut." "Cukup, Paskal. Kita sedang di jalan. Kamu mau mengulangi kisah 8 tahun yang lalu?" Tegur Imelda yang berhasil membungkam mulut Paskal. Sambil mencengkram setir, Paskal hanya diam. Tapi mobilnya melaju lesat sampai tujuan. Sesampainya di rumah, Paskal masih tak terima. "Papa dan mamamu menyukai Larissa." "Tapi aku nggak suka." Jawab Paskal lantang. "Dia wanita yang lembut dan juga penurut. Dia juga penyayang dan pintar memasak. Sempurna jika dijadikan istri." "Kalau hanya itu saja syaratnya, pembantu di rumah ini juga bisa. Kenapa tidak pilih salah satu dari mereka?" "Sebenarnya apa yang kamu inginkan, hah?" Demian jadi kesal. "Setidaknya nikahkan aku dengan wanita yang jelas bibit bebet dan bobotnya. Bukan dia." Padahal, tadinya Paskal pikir dia akan dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya. "Jadi kamu memandang status?" "Bukannya papa yang mengajarkan itu?" Paskal menatap tajam. "Jangan kamu pikir aku akan kalah darimu! Tidak, Paskal. Jika aku bilang kamu harus menikah dengan Larissa. Maka kamu harus menikahinya!" Demian tak ingin menerima bantahan. Ia berlalu ke kamar. Saat Paskal ingin mengejar, Ia dicegah oleh Imelda. "Ma.. mama pasti mengerti maksudku, kan? Jika dijodohkan dengan wanita lain aku nggak akan menolak. Asal jangan dia." "Memang apa kurangnya dia? Istri seperti itu yang harus dicari Paskal. Bukan wanita yang suka melenggak lenggok dan memamerkan tubuhnya pada pria lain." "Astaga!" Paskal sambak berdecak. "Setidaknya Larissa lebih baik." "Tapi.." "Jangan membantah Paskal!" Mata Imelda melotot lalu melewati anaknya begitu saja. Besoknya, Larissa kembali menjadi komando di dapur dalam hal memasak makanan untuk anak-anak panti. "Aku dengar kamu mau dijodohkan.. beruntung sekali kamu.." Riana jadi iri. "Kamu tahu darimana?" "Kemarin aku lihat si Paskal Alvaro itu.. ya ampun, ternyata dia lebih ganteng aslinya." Riana sampai takjub. "Tapi.. dia sedikit angkuh." "Baru kenal aja kali!" Larissa hanya tersenyum. Ketampanan fisik memang seperti mengalahkan segala hal. Tapi sayang, Larissa tak terbuai akan itu. Hal pertama yang dinilainya dari Paskal, pria itu sangat angkuh, dingin dan begitu sombong. Mungkin karena benar dia anak orang kaya. "Tapi, aku kayak ngerasa pernah ketemu dia.. tapi dimana, ya?" Larissa mengingat-ngingat. "Paskal Alvaro?" Riana menggeleng. "Kamu keluar rumah cuma ke pasar. Mana mungkin ketemu dia. Mungkin kamu sering nonton televisi." "Bisa jadi.." tapi entah kenapa Larissa merasa, ia memang pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Tapi, dimana? "Mbak Larissa.." panggil seorang pengasuh dari luar. Riana dan Larissa sendiri sedang memotong sayuran. "Ada yang nyariin diluar.." "Siapa?" "Katanya namanya, Paskal," Deg! Mata Larissa jadi membulat. "Duh! Baru aja kita bergosip tentang dia. Eh.. dia langsung datang! Apa mungkin ini jodoh?" Goda Riana. "Aku lihat dulu. Kamu selesaikan ini, Riana. Jangan ngobrol aja." Riana mendengkus. "Baiklah!" Larissa mencuci tangan dan menemui pria yang sudah menunggunya di ruang tamu. Untuk sesaat, Larissa terkesiap. Pria itu menggunakan setelah jas lengkap. Jas mahal berwarna hitam, lengkap dengan jam tangan mewahnya. "Mas Paskal.." tegur Larissa. Dahi Paskal mengernyit. "Mas?" Apa dia tidak salah dengar tadi? "Larissa." Paskal menatap tajam wanita di hadapannya. Larissa menguncir rambutnya kebelakang dan hanya memakai kaos panjang rumahan dengan celana panjang lusuhnya. Semakin yakin saja dia. "Mas cari saya? Atau cari bapak? Kebetulan bapak lagi ke rumah sakit." "Saya cari kamu." Situasi tiba-tiba menjadi formal gara-gara setelan jas yang dipakai Paskal. "Kita harus bicara. Tapi tidak disini." "Soal apa?" "Perjodohan ini. Saya nggak mau ada yang mencuri dengar." "Kalau begitu, saya ganti baju dulu." "Tidak usah. Kita bicara dalam mobil saja." Paskal bangkit dari duduknya diikuti Larissa. Mereka bersama-sama menuju mobil hitam yang terparkir di halaman rumah. "Masuklah!" Perintah Paskal. Larissa masuk dan duduk disamping kemudi. Ternyata ia salah. Paskal tidak menghidupkan mesin mobil dan mengajak bicara dalam sini. Ia pikir tadi Paskal akan mengajaknya keluar. "Saya tidak terima perjodohan ini." Ucap Paskal tanpa basa-basi. "Baik, nggak apa-apa." "Kamu bicara sama orang tua angkatmu. Bilang kalau kamu menolakku." Dahi Larissa mengernyit. "Kenapa harus saya yang bilang menolak, mas? Kenapa bukan mas saja yang mengatakan pada orang tuamu." "Karena orang tua saya tetap memaksa untuk menjodohkan kita, dan mereka tidak menerima alasan. Jadi, kamu yang harus menolak saya." Larissa hanya berdeham. Bukan karena sakit tenggorokan, tapi ia merasa canggung karena pria ini memandangnya begitu tajam dan mengintimidasi. "Atau sebenarnya kamu memang mau dijodohkan sama saya?" Paskal jadi curiga. "Saya cuma nggak punya pilihan." Jawab Larissa tersendat. "Sekarang kamu punya. Beri tahu orang tua angkatmu kalau kamu menolakku dan kita terbebas dari perjodohan ini." "Terus alasan apa yang harus saya katakan?" "Bilang saja kamu belum mau menikah, sudah punya pacar atau apalah.. yang penting mereka mempercayaimu." "Saya akan usahakan." Dahi Paskal mengernyit. Apa maksud perkataan wanita ini? "Harus diusahakan!" Paskal lalu mengambil ponselnya dari saku kemeja dan memberinya pada Larissa. "Ketik nomor ponselmu disini dan misscall menggunakan ponselku. Jikalau semuanya sudah selesai, kamu hubungi saya." Larissa menarik nafas panjang dan mengetik nomornya disana. "Nanti kalau sudah, saya kabari." Paskal tak berekspresi. Dia sedang membuat nama untuk nomor yang baru saja disimpannya. Yaitu, "Si Pungut." "Apa ada yang ingin dibacarakan lagi?" Karena Larissa harus lanjut memasak. "Tidak ada. Keluarlah!" Ucap Paskal tanpa menoleh. "Permisi." "Eh, tunggu dulu! Kenapa kamu memanggil saya dengan sebutan mas?" Larissa heran dengan pertanyaan yang diberikan Paskal. "Memang saya harus memanggil apa? Bukannya mas Paskal lebih tua dari saya 8 tahun?" Paskal mendengkus. "Keluarlah!" Larissa menahan nafasnya lalu keluar dari mobil. Setelah Larissa keluar, Paskal menghidupkan mesin mobil dan keluar dari halaman rumah. Setelah melihat mobil itu menjauh, barulah Larissa bernafas lega. "Sungguh mengerikan." Malamnya, Larissa akhirnya mengutarakan keinginannya di hadapan Hamdi dan Ana bahwa ia menolak perjodohan ini. Alasannya, karena Larissa belum mau menikah. "Bukannya kemarin kamu bilang udah siap menikah?" Tanya Ana. "Itu kemarin, bu. Setelah aku berpikir.. sepertinya aku belum bisa. Mental aku belum siap, bu.." "Jadi kamu menolak perjodohan ini?" Tanya Hamdi menatap lekat. "Maaf sekali, bapak, ibu.." Larissa sampai tertunduk. Tak lama, kabar itu sampai juga ke telinga Demian. Jelas saja dia tak percaya karena Larissa yang tiba-tiba menolak perjodohan. Siapa yang tak mau menjadi bagian dari keluarga Alvaro, kan? Itu artinya Larissa menyia-nyiakan kesempatan. "Besok kita temui mereka, ma. Aku yakin Larissa sudah diancam." Ucap Demian yakin. Besoknya, Demian dan Imelda kembali mengunjungi kediaman Hamdi. Larissapun disuruh bergabung. "Apa ada yang menyuruhmu melakukan ini, nak?" Tanya Demian. "Tidak ada, Tuan. Ini jujur dari saya." "Kamu berbohong.." Imelda dan lainnya hanya saling memandang. "Jika kamu jujur, kamu akan berani menatap mata saya. Tapi nyatanya kamu berbohong.. saya yakin ada orang yang berusaha menekanmu." Demian lalu beralih pada Hamdi. "Kami tidak menerima penolakan. Maaf sekali, Larissa dan Paskal akan tetap menikah." Mendengar ketegasan Demian, Hamdi tidak bisa menolak. Begitu juga Larissa yang hanya diam. Yang tak terima tetaplah Paskal. Mau dia marah dan merajuk pun, Demian akan tetap menikahkannya. "Pasti ulah wanita itu yang nggak bisa meyakinkan keluarganya!" Tangan Paskal jadi mengepal. Tepat pukul 10 malam, setelah menidurkan anak-anak, Larissa berangkat tidur. Tapi ponselnya berdering dan melihat nama yang tertera disana membuatnya bergidik. "Halo." ["Keluar sekarang!"] Larissa meneguk ludah. Suara yang barusan menelponnya ini begitu menyeramkan dan penuh penekanan. Yakin sekali jika pria ini tengah marah. Larissa mengambil jaket rajutnya dan keluar diam-diam dari rumah. Ternyata Paskal menunggu di depan pagar. "Ada apa, mas?" Larissa mencoba bersikap biasa saja. "Nggak perlu bertanya karena aku tahu kamu yang sudah merencanakan ini. Aku sudah bilang untuk menolak perjodohan, kenapa kamu malah bilang sebaliknya?" "Maksudnya?" Larissa jadi tak mengerti. "Dasar bodoh!" Geram Paskal yang berhasil membuat Larissa terkejut. "Orang tuaku masih ingin menjodohkan kita." "Aku sudah mengatakan sesuai apa yang kamu suruh, mas. Tapi mereka nggak percaya." "Yakin, kamu?" Paskal menatap tajam. Larissa sampai meneguk ludah. "Aku bisa bersumpah." "Aku nggak butuh sumpahmu. Harusnya kamu sadar posisi. Siapa kamu dibanding aku? Sampai orang tuaku malah menjodohkan kita.. lihat statusmu. Kamu hanya anak pungut. Statusmu tidak jelas!" Desis Paskal sinis. Memerah mata Larissa mendengarnya. Tega sekali pria ini menghinanya seperti ini. Padahal, orang-orang disini begitu menjaga perasaannya. "Kalau begitu aku akan bicara lagi sama orang tuaku." "Percuma! Mereka nggak akan percaya!" "Jadi, sekarang bagaimana?" "Kita akan tetap menikah.." "Apa? Bukannya tadi mas bilang kalau kamu menolak perjodohan ini.." "Jangan menyela saat aku bicara!" Bentak Paskal yang membuat Larissa terdiam. "Ma-af," Larissa tertunduk. "Kita akan menikah. Tapi hanya untuk status saja.. aku menikahimu hanya karena untuk mengembalikan posisiku di perusahaan dan menjadi pewaris keluarga Alvaro. Tidak lebih dari itu. Jadi jangan harap aku bisa menjadi suami yang baik untukmu!" Larissa menerjap menahan tangis. "Kalau begitu kita nggak usah menikah saja, mas.." untuk apa menikah kalau begitu? Itu sama saja membuat Larissa menjadi alat pernikahan. "Kamu berani menolakku? Silahkan! Tapi kamu tahu siapa keluargaku, kan? Alvaro menjadi donatur tetap dan tertinggi di panti ini. Bayangkan, jika kamu menolak ini. Maka panti ini akan tinggal nama. Kalian akan jatuh dalam kemiskinan dan anak-anak disini akan terlantar." Larissa terkesiap akan ucapan Paskal. Dalam hatinya bingung, sebenarnya apa yang diinginkan pria ini? Tadi, dia marah-marah sekarang malah mengancam untuk tidak menolak perjodohan. "Yang mana terbaik saja.." jawab Larissa pelan. Otaknya sudah tidak bisa berpikir. Baru kali ini dia melihat pria sekasar ini. "Minggu depan kami akan melamarmu. Tunggu saja." Paskal langsung masuk mobil ketika selesai mengatakan itu. Namun, ia terkejut ketika melihat Larissa yang juga masuk dan mengunci pagar. "Wanita itu! Berani sekali!" Tangan Paskal mengepal. "Tapi.. kenapa baju rajut itu seperti familiar.."Larissa kembali lagi ke kamar pelayan ini. Menggunakan baju hitam putih khas yang memang disediakan untuk para pelayan. Namun, Larissa tak berniat untuk keluar. Sambil menekuk kakinya, ia menahan tangis."Non." Tegur Bi Ira jadi sedih. "Nona belum makan apa-apa dari semalam. Mau bibi buatin sesuatu?"Larissa mengeleng sembari mengusap air matanya. "Makasih, bibi. Tapi aku nggak butuh apa-apa.""Kalau begitu bibi keluar dulu. Nanti kalau nona ingin sesuatu bisa panggil bibi aja."Larissa hanya mengangguk dan menatap kepergian bi Ira. Wanita ini melanjutkan lamunannya lagi.Bi Ira kembali ke dapur dan menjadi komando untuk memasak makan malam. Hari sudah sore, jam makan siang sudah terlewat. Dia harus menyiapkan makanan untuk orang yang tinggal disini."Pelayan!" Panggil Lila tak sopan. "Paskal belum makan apapun sejak tadi pagi. Bagaimana kalian ini? Apa sih kerjaannya?"Bi Ira hanya bisa melipat bibir menahan e
"Paskal!" Lila berlari dan memeluk Paskal dengan erat. Suaranya terdengar terisak tapi tak ada satupun air mata yang di tumpahkannya."Lila." Gumam Paskal sembari menatap tajam ke depan.Beberapa pelayat terutama karyawan Sandhya baru sedikit yang keluar dari area rumahnya. Ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka. Termasuk Anthony yang menatap dingin."Aku dengar kalau papa dan mamamu kecelakaan. Oh.. Paskal.. bagaimana itu bisa terjadi?" Lila menarik diri dan menatap iba kekasihnya."Kita bicara di dalam saja." Paskal menarik tangan kekasihnya dan membawanya masuk ke dalam rumah."Hhhh..." Bi Ira sampai mendengkus. Si ratu drama telah kembali. "Kemarin memangnya kemana aja Nona Lila itu? Padahal udah lima hari tuan dan nyonya meninggal!""Bi Ira.." tegur Larissa lembut. Dari sorot matanya tersirat kesedihan. Dan ia tak ingin ada keributan.Bi Ira yang pengertian lalu merangkul bahu nona muda."Mari k
Paskal dan Larissa tiba di bandara international. Kedatangan mereka sudah disambut puluhan wartawan yang sudah menunggu.Keluarga Alvaro adalah salah satu nama keluarga yang terkenal di negeri ini. Terlebih Demian merupakan pebisnis handal yang amat dipercaya memimpin perusahaan multi nationalnya. Sontak saja jika berita buruk ini menjadi perhatian utama dunia."Permisi. Saya mau lewat!" Paskal membelah kerumunan yang sedang menodongnya dengan banyak pertanyaan.Bersama Larissa yang berjalan di belakang, keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada petugas berwajib, pihak maskapai dan juga tim bencana."Pak Paskal Alvaro." Sapa pihak berwajib memperkenalkan diri."Bagaimana? Apa ada kabar? Orang tua saya tidak ikut dalam penerbangan ini, kan?" Paskal memberi pertanyaan beruntun."Tenang dulu, pak. Silahkan duduk." Paskal duduk. Larissa ikut duduk di samping pria ini. Lupakan saja dulu mengenai kebencian antar kedua
Melupakan soal pekerjaan, Paskal pulang ke rumahnya. Hampir saja dia terkena serangan jantung setelah melihat penampilan baru Larissa. "Benar-benar tidak bisa dibanggakan." Paskal berdecih saat melihat Larissa memakai gaun satinnya. Gaun yang dibelikan oleh Imelda. Mendengar cibiran Paskal, Larissa hanya tertunduk. Ia lalu keluar dari kamar dan menyiapkan makan malam. "Kira-kira papa dan mama sudah dimana, ya?" Tanya Larissa pada pelayan. "Mungkin masih diperjalanan, Nona. Biasanya dari Amerika ke Indonesia bisa memakan waktu 20 jam lebih." "Oh.. selama itu?" Larissa baru tahu. Pelayan itu mengangguk. Ia kembali ke dapur sedangkan Larissa menata makan malam di meja. Suara sepatu terdengar turun dari lantai atas, Larissa melihat suaminya mendekat ke arah meja makan. "Selamat malam, mas." Wajah Paskal langsung pecah seribu. "Mau aku puk
Mulai detik itu juga, Larissa disuruh kembali ke kamar asalnya. Baju pelayan itu ditanggalkan. Bi Ira membantu nona muda pindah lagi ke lantai atas dimana Paskal beristirahat."Bibi bersyukur tuan dan nyonya pulang.." ucap bi Ira lega."Aku juga, bi." Sahut Larissa datar."Dengan begitu, nona Larissa nggak akan disiksa sama tuan muda lagi." Terlebih melihat wajah Lila itu membuatnya muak.Pantas saja jika Demian dan istrinya tidak menyukai Lila. Bi Ira sudah tahu sekejam apa sifat asli wanita itu.Larissa menghela nafas panjang. Dia bersyukur karena mertuanya akan segera pulang ke rumah ini. Tapi di sisi lain, Larissa merasa tak beruntung.Ya, mereka akan tinggal berdua dalam satu kamar. Larissa sudah membayangkan banyaknya cacian yang akan dilontarkan oleh suaminya itu."Mari, nona. Saya bantu bersihkan badannya. Lihat wajah nona mulai kering. Belum lagi luka karena perbuatan mereka." Bi Ira iba sekali.Larissa
Paskal bersama Lila mencari apartement yang bisa wanita itu tinggali sementara. Sesuai rencana, Paskal hanya meminta Lila bersabar sedikit lagi. Setelah dia mendapatkan posisinya di perusahaan, Paskal berjanji akan menyingkirkan Larissa secepatnya."Aku nggak mau lama-lama pisah dari kamu, Pas." Ucap Lila bergelayut manja. Bahu itu ia jadikan sandarannya.Sekarang mereka berada di sebuah apartement mewah yang dekat dengan perusahaan Sandhya. Jika Paskal penat bekerja maka dia bisa langsung kemari untuk memadu kasih dengan cintanya."Aku juga tidak bisa berpisah darimu." Tidak lagi. Paskal akan mencengkram wanita ini untuk menjadi miliknya selamanya.Dagu Lila diambil. Kedua mata itu saling menatap. Paskal mendekatkan diri. Sejenak keduanya menautkan bibir. Lila sudah lama menunggu saat-saat ini. Dimana ia dan Paskal bisa bersama. Terbebas dari gangguan.Paskal menarik pinggang wanitanya. Lila melenguh saat tangan Paskal menurunkan gaun ya







