MasukMeilissa benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya, matanya dengan lancang terus melirik ke arah lelaki dewasa yang kini berjalan setengah langkah di depannya.
Lionel bukan tidak menyadari kalau Meilissa terus melirik padanya. Hanya saja saat Lionel menoleh, gadis itu berpura-pura melihat ke tempat lain. Menggemaskan sekali.
Begitu Meilissa tertangkap basah melirik untuk kesekian kalinya, Lionel langsung menghentikan langkah. Lelaki itu berdiri menghadap Meilissa, lalu menatap gadis di hadapannya dengan bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang berhasil membuat jantung Meilissa terasa jumpalitan.
“Ada apa dengan wajahku?” tanya Lionel tiba-tiba. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, lalu lanjut bertanya, “Apa aku terlihat menyeramkan, sampai-sampai kamu selalu tegang kalau sedang bersamaku?”
Meilissa tersentak. “Eh? O-om, tidak! Bukan begitu!” cicitnya gugup. Suaranya seperti tercekik di tenggorokan, kedua tangannya bergoyang bersamaan ke kiri dan kanan seperti orang berkata tidak. Canggung dan panik yang tidak bisa dia sembunyikan.
Lionel terkekeh. Ada kesenangan tersendiri setiap kali melihat Meilissa salah tingkah.
“Ayo, masuk!” perintahnya lembut.r
Kebetulan mereka sudah tiba di tempat parkir mobil, maka Lionel memencet remote mobil yang baru saja dikeluarkan dari saku celana. Lampu hazard mobil menyala dua kali, diikuti dengan bunyi pintu terbuka yang halus khas mobil mewah.
Tindakan Lionel yang santai justru membuat Meilissa makin gugup. Dia menggigit bibir dan tampak berpikir sejenak.
“Om..., kerja paruh waktunya masih nanti. Jadi, tidak perlu diantar. Aku… bisa pulang naik bus," jujur Meilissa. Nadanya sedikit terbata dan ragu. Dia sengaja tidak mengatakan kalau tadi sedikit berbohong pada Liora. Biar bagaimana pun Lionel adalah ayah sahabatnya.
"Kalau begitu, kebetulan sekali. Ayo makan ice cream," ajak Lionel ringan. Jujur saja dia penasaran dengan masker di wajah Meilissa.
"Mmm..., Om...--"
"Masuk!" potong Lionel.
“Ha?"
Sebelum Meilissa sempat protes, Lionel sudah membuka pintu mobil. Tangan kanan Lionel menutupi bagian atas pintu supaya kepala Meilissa tidak terbentur, sedangkan tangan satunya lagi mendorong lembut punggung Meilissa, mengarahkan gadis itu masuk.
“Om—”
Tapi, cuma itu yang yang sanggup terucapkan dari bibir Meilissa. Dia kehilangan kata-kata. Getaran-getaran halus menguasainya, menjalar dari punggung hingga keseluruh tubuh. Ada ketegangan bercampur sensasi yang sulit untuk diterjemahkan.
Akhirnya, Meilissa masuk kedalam mobil dan duduk dengan pose serba kaku. Di balik masker, bibirnya mengatup kuat.
Lionel menutup pintu, lalu masuk ke sisi kemudi. Begitu duduk, dia mencondongkan tubuh sembari melempar senyum iseng.
“Mei, ini bukan pertama kalinya aku mengantarmu. Santai saja,” kata Lionel santai.
Tangannya terulur untuk meraih sabuk pengaman dan tubuhnya membungkuk lebih dekat ke Meilissa. Tentu saja Meilissa panik.
"Om, aku bisa pasang sendiri! Aku bisa pasang sendiri!" seru Meilissa, gagal menutupi kepanikannya.Lionel tertawa keras dan menjauh. "Kamu berteriak seperti akan diterkam oleh hewan buas."
Celetukan Lionel membuat Meilissa ingin menghilang dari dunia ini. Malu luar biasa. Dia menundukkan kepala, menyibukkan diri dengan seatbeltnya.
"Iya juga ya. Kenapa aku bisa sepanik ini?" gerutu Meilissa dalam hati, heran pada dirinya sendiri.
Mobil pun melaju, Lionel menyetir sambil mengulum senyum. Sesekali matanya melirik pada gadis disampingnya. Meilissa tidak berani menoleh. Sepanjang perjalanan, dia terus melihat keluar jendela.
Tiba di kedai ice cream, Lionel memesan dua macam ice cream untuk mereka. Setelah itu, dia membawa Meilissa serta dua cup es krim berukuran jumbo ke meja di sudut kedai. Tempat yang sepi dan private.
Sudut kedai itu hangat oleh lampu kuning lembut. Meja kayu kecil di depan mereka hanya diisi dua cup ice cream jumbo—vanilla bean yang tampak mengilap dan dark chocolate dengan warna pekat yang menggugah selera.
Meilissa memandangi ice cream bagiannya sambil meneguk air liur. Dia ingin segera menikmati ice cream kesukaannya, makanan yang sangat jarang dia beli. Tapi, masker di wajah menjadi penghalang.
Lionel bersandar ke kursinya sambil menyilangkan tangan. Matanya tidak lepas dari Meilissa yang tampak galau.
“Mei, tolong kasih aku tutorial makan ice cream dengan wajah tertutup masker," celetuknya dengan nada bergurau. Dia bukan Liora yang bisa langsung memaksa Meilissa membuka masker.
Meilissa tersentak. Jelas sekali Lionel sedang mengingatkannya—halus tapi tepat sasaran.
"Eh, iya, Om," gagapnya.
Perlahan, dia menggeser posisi duduk, sedikit memiringkan tubuhnya ke arah dinding kedai. Tangannya menurunkan masker sampai dagu, tapi tidak benar-benar dilepas.
Setelahnya, Meilissa cepat-cepat meraih sendok dan menundukkan kepala dalam-dalam. Rambut panjangnya langsung jatuh menutupi sisi wajah, menjadi tirai alami yang menyembunyikannya dari pandangan Lionel.
Lionel menikmati ice creamnya sambil mengamati gerak gerik Meilissa. Semakin dilihat semakin yakin, ada yang janggal.
Penasaran, Lionel berpindah tempat ke sebelah Meilissa. Gerakannya begitu cepat dan tanpa suara. Tiba-tiba saja Lionel sudah ada di samping Meilissa, seketika gadis itu menegang. Tangannya menggenggam erat sendok ice cream.
Mengabaikan reaksi Meilisa, Lionel merogoh saku jasnya, lalu menarik keluar selembar sapu tangan bersih berwarna gelap. Dengan cekatan, Lionel menyatukan rambut Meilissa dan mengikatnya dengan sapu tangan.
Lionel mundur sedikit, untuk hasil karyanya sambil berkata pelan, “Dengan begini rambutmu tidak akan terkena es krim.”
Meilissa mengerjapkan mata. Seumur-umur, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Mungkin bagi Lionel sepele, tapi sangat berarti untuknya.
"Ehm, terima kasih, Om," gumamnya, tersipu.
Lionel tersenyum lembut, sembari tangannya terulur perlahan menyentuh tali masker di telinga Meilissa.
"Aku lebih suka melihat wajahmu tanpa penutup apa pun."
Kata-kata Lionel menyentak batin Meilissa. Dia mencoba mundur, tapi Lionel lebih cepat. Lelaki itu membuka masker dengan gerakan sangat yang sangat cepat hingga Maureen tidak sempat mengelak.
Masker itu terlepas perlahan—hingga akhirnya jatuh ke pangkuan Meilissa.
Dan, Lionel terkesiap.
Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang menyakitkan hati.
"Siapa yang melakukan ini?" desisnya. Dia ingat benar kalau tadi pagi wajah gadis ini masih baik-baik saja.
Meilissa tahu dia harus berbohong dengan pintar. Maka, dia memaksa dirinya menatap Lionel, meski pupil matanya bergetar.
“A-aku terantuk…—”
Kata-kata itu terhenti seketika.
Lionel memang tidak berkata apa pun, tapi sorot matanya mengatakan banyak hal. Sedih, iba dan bercampur marah.
Semua itu membuat Meilissa goyah. Matanya berkaca-kaca tanpa bisa dia cegah. Meilissa menarik napas panjang, dan susah payah bersuara, "Om, sungguh aku tidak... -- hhhh..."
Suara Meilissa terputus oleh sebuah tindakan tidak terduga yang dilakukan oleh Lionel.
Pagi harinya, Meilissa merasakan sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Hawa hangat yang tadi malam membungkus tubuhnya kini berganti dengan udara kamar yang lebih dingin.Ia terduduk perlahan dan mengucek mata."Om?" panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur."Ya?" Lionel yang sedang mengenakan kemejanya menoleh. Sorot matanya langsung melembut. "Selamat pagi, Sayang."Cahaya matahari menyusup melalui tirai otomatis yang terbuka setengah, memantulkan kilau lembut pada cermin besar di depan Lionel."Om mau kerja?" tanya Meilissa sambil menguap kecil. Ia melirik jam digital yang menempel di dinding. Pukul enam pagi tepat.Sebagai dokter sekaligus pemilik Rumah Sakit Sinclair, jam segini memang waktunya dia berangkat kerja."Aku mau ke kamar Liora, lalu pergi ke rumah sakit." Lionel merapikan manset kemejanya di depan cermin. "Aku khawatir dia terbangun dan mencari kamu duluan.""Oh, aku juga akan bersiap. Hari ini seharusnya aku mulai bekerja lagi." Meilissa mengepit selimut dan
Lionel menarik tangan Meilissa menuju pintu keluar kamar Liora.Begitu pintu tertutup pelan di belakang mereka, suasana berubah. Hening koridor dari kamar Liora ke kamar Lionel terasa kontras dengan detak jantung mereka yang mendadak tidak beraturan.Detik berikutnya, Lionel merengkuh pinggang Meilissa dan menariknya ke dalam pelukan hangatnya."Mari kita selesaikan urusan kita malam ini," bisiknya rendah di dekat telinga sang istri.Nada suaranya tidak hanya menggoda, tapi juga tersirat sebuah desakan yang berhasil membuat napas Meilissa tertahan sesaat.Kedua tangan Lionel mencengkeram lembut pinggul Meilissa. Jarak yang begitu dekat membuat Meilissa merasakan gairah yang tidak lagi disembunyikan.Dia tersenyum, sambil mengerlingkan mata. Wajahnya mendekat perlahan, sengaja menyisakan jarak tipis di antara bibir mereka."Ayo, Om. Tunggu apa lagi?" tantangnya kemudian. Meilissa tidak lagi malu-malu. Dia juga menginginkan Lionel.Sorot mata Lionel semakin berkabut. Semua beban hari ini
"Bangunkan aku di kamar Liora, Om."Pesan itu dikirim Meilissa beberapa menit sebelum dia tertidur. Hingga saat ini, dia sengaja menggunakan panggilan Om untuk mempermudah kamuflase hubungan mereka.Setidaknya sampai pernikahan mereka terbuka, dia akan terus memakai panggilan itu.Sekitar satu jam kemudian, Lionel berdiri di depan pintu kamar Liora. Dia langsung membuka pintu kamar dan masuk ke dalam tanpa suara.Suasana di dalam kamar terasa hangat dan tenang, kontras dengan perasaan hatinya yang bergolak akibat percakapannya dengan Beatrice. karena pertemuan dengan Beatrice.Bayangan wajah Beatrice yang tenang tapi menghanyutkan. Lalu, pesan terakhir sebelum pulang yang penuh tekanan. Semuanya silih berganti muncul di kepalanya.Tapi, pemandangan di hadapannya membuat ketegangan di wajahnya perlahan mengendor.Di atas tempat tidur, Meilissa dan Liora sedang tidur sambil berpelukan. Liora meringkuk di sisi kanan, wajahnya separuh tersembunyi di balik selimut.Meilissa memeluknya deng
"Tadi aku sudah bilang kalau aku yang akan menentukan waktu pertemuan kalian kan?"Lionel menjawab pertanyaan Beatrice dengan tenang. Nada suaranya tidak meninggi, tetapi ada ketegasan yang tidak bisa ditawar.Terdiam, Beatrice menatap lekat-lekat pada wajah putranya, menelusuri setiap perubahan ekspresi yang berusaha disembunyikan.Kerutan tipis di sudut mata Lionel, garis rahang yang mengeras seperti sedang menahan emosi. Dari kesemuanya itu, ada satu yang tampak berbeda. Ada aura berbeda yang terpancar dari Lionel. Sebuah kebahagiaan tersirat di dalam bola mata puteranya itu."Kamu tahu, Lion?" suara Beatrice melunak, sepertinya wanita itu benar-benar membahagiakan Lionel. "Besar harapan Mama untuk melihatmu menikah. Begitu kamu menikah, Mama mau pensiun. Rumah sakit Mama serahkan sepenuhnya padamu."Lionel mengangguk pelan. Dia sudah berkali-kali mendengar kalimat itu. Sayangnya, dia merasa tidak nyaman ketika kata pensiun dan menikah dirangkai dalam satu kalimat."Aku tahu. Tapi
Makan malam berakhir lebih cepat dari biasanya.Bukan karena hidangannya kurang menggugah selera, tetapi karena memang Lionel tidak pernah selera makan kalau makan malam berdua saja dengan Mamanya.Selain itu, Beatrice pun hanya mencicipi sedikit. Seperti kebiasaannya setiap malam.Tidak menunggu lama, pelayan datang dan pergi tanpa suara. Piring-piring porselen mahal itu disingkirkan dengan cepat. Dentingan halus sendok dan garpu menjadi bunyi terakhir sebelum meja panjang itu kembali lengang.Yang tersisa hanya satu gelas berisi air putih di hadapan masing-masing. Lionel dan Beatrice memang tidak pernah minum selain air putih di malam hari.Jarak tempat duduk antara Lionel dan Meilissa tidak lebih dari satu meter. Tapi, perasaan yang terbentang di antara mereka terasa jauh lebih panjang dari yang sebenarnya.Beatrice mengangkat gelasnya, menyesap air dengan tenang, lalu meletakkannya kembali tanpa suara."Mama dengar Clara sudah menyerah denganmu. Dia mengundurkan diri dari klinik."
"Iya, Papa. Namanya Tante Elara. Beliau bilang kalau mengenal Papa waktu SMA. Dan, nama anaknya sama seperti aku. Liora."Suara Liora terdengar ringan, polos, tanpa beban. Dia menyampaikannya seperti sedang menceritakan guru baru di sekolah atau teman sekelas yang pindah bangku.Gadis itu tidak menyadari kalau ceritanya akan menimbulkan efek yang luar biasa bagi Meilissa dan Lionel.Baik Meilissa mau pun Lionel sama-sama tegang untuk alasan yang berbeda.Di seberang telepon, Lionel kehilangan kata-kata. Elara. Nama yang sudah lama dia lupakan. Tanpa sadar tangannya mencengkeram ponselnya erat.Ada jeda yang terasa lama untuk ukuran percakapan biasa."Papa?!""Hm..., sepertinya Papa tidak ingat dia," jawab Lionel akhirnya. Nada suaranya dibuat seakan dia sudah berusaha mengingat-ingat.Kalimat itu membuat Liora melirik dengan perasaan sungkan kearah Elara yang duduk di hadapan mereka."Ooo..., aku pikir...," Liora menggantung ucapannya.Dia tidak berani melanjutkan karena takut menyingg







