Beranda / Romansa / Cinta di Puncak Dunia / BAB 18 : SIAPA KAMU, ZHE?

Share

BAB 18 : SIAPA KAMU, ZHE?

Penulis: Yoongina
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 12:41:03

Elara membeku. Pertanyaan Lingga yang tiba-tiba itu bagaikan hantaman keras yang membuat wajahnya seketika pucat pasi. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan asal-usulku? Apa dia mulai mencurigaiku? batin Elara cemas, jantungnya berdetak cepat.

​"Zhe?" panggil Lingga sekali lagi. Suaranya naik satu oktav, menyentak kesadaran gadis itu dari lamunan yang membuyarkan konsentrasinya.

​"A—aku... aku sudah menceritakan semuanya pada Kinan. Iya, kan, Kinan?" sahut Elara terbata, secepat mungkin mengalihk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 71 : KONFRONTASI

    Pendar matahari pagi menyinari gedung pencakar langit berdesain futuristik dan elegan. Gedung megah bertuliskan logo emas murni Graffenried Commodities Asia itu berdiri menjulang tinggi bersama dengan gedung-gedung pencakar langit di kawasan pusat bisnis Sudirman. ​Sebuah mobil limousine hitam mengilap berhenti tepat di depan lobi utama. ​Pintu mobil terbuka. Reygan melangkah keluar dengan perlahan. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna charcoal yang menutupi tubuh tegapnya, memancarkan aura wibawa seorang calon pimpinan tertinggi Valero Corps. ​Di belakangnya, Lingga mengekor dengan langkah waspada. Tanpa membuang waktu, Reygan melangkah masuk membelah pintu kaca otomatis lobi, mengabaikan tatapan dari para karyawan yang membungkuk hormat saat tahu siapa pria berwibawa yang baru saja masuk. ​"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang manajer resepsionis dengan nada sangat sopan saat Reygan tiba di meja utama. ​"Aku ingin bertemu dengan Moreno von Graf

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 70 : TERTARIK

    Kinan bergerak cepat merebut kembali ponsel dari genggaman Zheydan, membuat pria itu terperanjat kaget. ​"Halo, Zhe? Nanti aku telepon lagi, ya. Ini ada pelanggan yang minta pesanannya dipercepat," ujar Kinan terburu-buru pada seberang telepon. ​"Oke, Kinan. Aku tunggu, ya. Bye..." ​"Bye, Zhe..." ​Setelah panggilan terputus, Kinan bertolak pinggang. Matanya menatap tajam Zheydan yang masih membeku dengan wajah tegang. ​"Maksud kamu apa, main ambil ponsel orang sembarangan?" cecar Kinan kesal. ​"Itu... aku..." Zheydan terbata, kehabisan kata-kata. ​Kinan menghela napas panjang. "Apa? Kalau udah enggak sabar mau minum kopi, bilang aja, Zheydan! Tunggu di sini, aku buatkan dulu." ​Baru saja Kinan membalikkan badan, Zheydan mendadak mendaratkan cengkeraman kuat di pergelangan tangannya. Pria itu bertindak refleks tanpa sadar betapa besarnya tenaga yang ia keluarkan. ​"Aww! Sakit! Lepasin, Zheydan!" ringis Kinan seraya berusaha menarik lengannya dari genggaman kekar pria

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 69 : ZHELARA!

    ​Aroma sangrai biji kopi yang pekat berselimut uap panas memenuhi udara kafe yang siang itu merayap naik menuju puncak kesibukannya. Denting cangkir porselen yang beradu, derak mesin espresso yang bekerja tanpa henti, serta derai tawa dan gumam percakapan para pengunjung menciptakan keramaian di dalam kafe Le Moka. ​Di balik meja kasir dan area barista, Kinan berdiri dengan pelipis yang mulai dibasahi bulir keringat. Jemarinya bergerak cepat namun tampak kewalahan mencatat pesanan yang terus mengalir tanpa jeda. Antrean pelanggan memanjang hingga mendekati pintu masuk utama, sementara dua staf kafe lainnya berlarian kesana-kemari mengantarkan nampan berisi makanan dan minuman. ​Di sudut ruangan dekat pintu belakang, Vanda berdiri mematung. Matanya menatap cemas ke arah Kinan yang tampak makin terdesak oleh tumpukan pesanan. ​Gadis itu meremas pinggiran apron polos yang terikat di pinggangnya. Ia merasa serba salah. Ia tahu kalau Kinan membencinya, membenci fakta bahwa ia masih b

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 68 : KEPINGAN JAWABAN

    "Kenapa lo masih menampung Vanda di kafe, Lingga?" ​Bisikan dingin Reygan menyambut Lingga tepat saat pria itu baru saja melangkah melewati pintu kamar VIP. Reygan melirik sekilas ke arah Elara yang tertidur lelap di brankar, memastikan suara pelannya tak mengusik tidur sang kekasih. ​Lingga mendengus lelah, mengusap wajahnya yang tampak kusam sebelum melangkah menuju sofa. "Gue baru sampai, Rey, dan pertanyaan itu yang langsung lo ajukan?" ​"Jangan bilang lo suka sama gadis itu?" tumpah Reygan, menekan intonasi suaranya agar tetap menjadi bisikan. Matanya menatap Lingga penuh tuntutan sebuah penjelasan. "Kenapa lo malah meragukan Kinan? Baru kali ini gue lihat lo menolak penjelasan adik kandung lo sendiri." ​Lingga menghentikan gerakannya yang hendak duduk. Ia mengembuskan napas panjang, menatap Reygan dengan mata merah kurang tidur. "Gue cuma berusaha melakukan hal yang benar, Rey. Kinan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah dia pingsan dibius." ​Kening Reygan ber

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 67 : KISAH ZHEYDAN, ZHELARA

    "Zheydan, wie geht’s dir?" Suara berat sang Kakek di seberang telepon mendadak memecah keheningan. "Pamanmu bilang kamu berkelahi sendirian sampai dapat jahitan di kepala. Jangan macam-macam di sana, Zhey, Paman mu sudah menyiapkan anak buahnya untuk membantumu, tapi kamu justru bergerak sendirian. Kalau kamu seperti ini lagi, Grand-papa akan menjemputmu pulang ke Swiss." Zheydan mengembuskan napas panjang, memutar kemudi mobil dengan satu tangan sementara ponselnya tertempel di telinga. Sorot matanya yang dingin menatap lurus ke jalanan Jakarta yang mulai padat, sama sekali tak gentar oleh nada bicara sang Kakek. ​"Ich bin ok, Grand-papa (Aku baik-baik saja)," sahut Zheydan santai, suaranya berat dan nyaris tanpa ekspresi. "Hanya insiden kecil. Lagipula, aku memang harus menyelamatkannya bukan?" ​"Es ist nie ein kleines Problem, wenn du verletzt bist! (Bukan masalah kecil kalau kamu sampai terluka!)" bentak sang Kakek dari seberang telepon, nadanya yang tegas terdengar bergetar

  • Cinta di Puncak Dunia   BAB 66 : TAMPAN SEKALI!

    "Jangan bergerak dulu, El!" seru Kinan cepat, menahan bahu Elara yang hendak memaksakan tubuhnya untuk duduk di atas brankar. ​Elara menghela napas panjang seraya menyandarkan kembali kepalanya di atas bantal. Wajah cantiknya ditekuk muram. "Aku bosan banget, Kinan. Sudah seminggu penuh aku cuma bisa berbaring di sini. Reygan bahkan nggak mengizinkan aku bedrest di apartemen." ​Kinan terkekeh pelan melihat ekspresi merajuk sahabatnya itu seraya merapikan letak selimut Elara. "Ya mau bagaimana lagi? Ini kan demi menjaga keselamatan dua bayi kembar kamu. Sabar sedikit ya... tinggal dua minggu lagi, kok." ​Elara mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar VIP yang tertutup rapat, lalu menatap Kinan dengan pendar cemas yang tak bisa disembunyikan. "Tapi Reygan ke mana, sih, Nan? Sudah dua hari ini dia sama sekali nggak kelihatan di rumah sakit." ​"Bang Reygan kan harus bolak-balik mengurus proyek kerja sama kalian yang sempat tertunda," sahut Kinan menenangkan, memberikan senyuma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status