Mag-log inZheydan mengulas senyum tipis, menatap Reygan yang kini memandangnya dengan raut wajah bingung. Reygan Valero jelas dirundung sejuta tanda tanya, baik tentang isi percakapan mereka yang janggal, maupun tentang identitas asli pria asing yang berdiri di hadapannya ini. "Aku akan menemuimu lagi setelah masalah dalam keluargaku selesai," ucap Zheydan tenang. "Dan setelah hari itu tiba... aku pastikan kita akan sering bertemu." "Siapa namamu?" potong Reygan cepat. Suaranya meninggi, jelas tidak puas dengan jawaban Zheydan yang menggantung dan penuh teka-teki. Zheydan menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya menghadap Reygan. Dengan posisi tubuh tegap dan pandangan lurus, ia menjawab singkat, "Zheydan..." Ia menjeda sejenak, memberikan penekanan dingin pada baris kalimat berikutnya, "...Zheydan von Graffenried." Mata Reygan berkilat kaget. "Graffenried? Kamu putra dari Moreno Graffenried? Sepupu Zhelara?" Zheydan tertawa kecil. "Sepupu?" Ia mengangguk-angguk pelan, me
Gedung Valero Tower menjulang megah menembus langit Jakarta, berlapis kaca gelap yang memantulkan sinar matahari pagi. Di balik kemewahan arsitekturnya, gedung itu adalah benteng pertahanan pengusaha besar Valero. Sebuah Maybach hitam berhenti tepat di depan loby utama. Pengawal pribadi Zheydan bergegas turun dan membukakan pintu. Dengan kemeja hitam yang tergulung hingga siku dan jas yang disampirkan di lengan, Zheydan melangkah keluar. Ketampanannya memancar kuat dari setiap helai napasnya. Tatapannya lurus, tajam, dan penuh perhitungan. "Warted im Auto" (Tunggu di mobil), perintah Zheydan singkat pada pengawalnya, lalu melangkah lebar menembus pintu kaca otomatis loby Valero Tower. Suasana loby yang riuh seketika mendadak hening. Para staf dan resepsionis menatap asing pada pria tegap berwajah tampan khas Eropa-Asia itu. Sebelum resepsionis sempat menyapa, Zheydan sudah berjalan lurus menuju area lift khusus eksekutif. "Maaf, Tuan! Anda tidak bisa masuk tanpa reservasi—"
"Maafkan aku ya, sudah membawamu pergi cukup lama," ucap Zheydan seraya mengecup lembut punggung tangan Kinan saat mobil Maybach miliknya berhenti tepat di depan kafe Le Moka. Kinan tersenyum penuh arti. Reaksi itu membuat Zheydan memiringkan kepala, menatap gemas ke arahnya. "Kenapa?" "Tidak apa-apa. Aku nggak nyangka aja punya pacar setampan kamu. Dan kalau diculik pacar sendiri, aku rela walau berjam-jam," ujar Kinan dengan wajah berseri, memancing tawa kecil dari bibir Zheydan. "Tapi lain kali, beritahu aku dulu kalau mau mengajak jalan-jalan. Jangan sampai aku salah kostum seperti hari ini," lanjut Kinan. Tawa Zheydan membahana. Ia memandangi penampilan Kinan yang memang tampak sedikit berantakan akibat ulahnya. "Tentu, Sayang. Bahkan bukan cuma jalan, mulai hari ini aku akan terus menghubungimu. Aku harus tahu kamu pergi ke mana saja." "Zheydan! Jangan seperti Bang Lingga. Aku sudah lelah dikekang terus. Bisakah kamu memberiku sedikit kebebasan?" "Tidak!" jawab Zheyd
"Bagaimana bisa... kamu dan Zhelara..." Kinan terbata, tak mampu menuntaskan kalimatnya. Berita mengejutkan itu memukul kesadarannya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia buru-buru membenahi kancing kemejanya yang sempat terbuka dan merapikan rambutnya yang berantakan, lalu beranjak bangun, melepaskan diri dari pangkuan Zheydan untuk kembali ke kursinya sendiri. Zheydan tidak menahannya, namun tatapannya kini berubah menjadi sangat mendesak. "Kinan... bantu aku bertemu dengan Zhelara. Dia dalam bahaya besar. Aku harus membawanya pergi dari negara ini sebelum semuanya terlambat." "Apa? Zhelara dalam bahaya?" Kinan membelalak, kepalanya mendadak pening menyerap rentetan informasi ini. "Apa maksudmu? Dia... dia bahkan sedang bedrest di rumah sakit karena—" Kinan mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Merutuki kebodohannya sendiri, ia baru saja secara tak sengaja membocorkan kondisi dan keberadaan Zhelara. Zheydan menegakkan punggungnya seketika. Manik matanya menyipit tajam
Kinan terhanyut sesaat oleh ciuman lembut Zheydan. Sensasi hangat yang membakar itu perlahan mengikis benteng pertahanannya. Dalam keheningan mobil, Kinan tanpa sadar membalas ciuman itu, membuka sedikit celah bibirnya dan memberikan ruang bagi Zheydan untuk memperdalam lumatannya. Jemari mungil Kinan terangkat, meremas kaus yang melekat di dada tegap Zheydan. Tindakan kecil itu seketika meruntuhkan akal sehat Zheydan. Pemuda Graffenried itu terhanyut sepenuhnya, melupakan ancaman sang paman, hingga tujuan utamanya membawa Kinan keluar dari perlindungan Lingga di Le Moka. "Ngghh..." Satu desahan lirih lolos begitu saja dari sela bibir Kinan ketika pergerakan Zheydan makin menuntut dan tak memberi jeda. Pria itu terus mengikis jarak hingga posisi Kinan kian terhimpit ke dinding pintu mobil. Telapak tangan besar Zheydan terangkat, menapak pada kaca jendela yang mulai tertutup embun tipis yang disebabkan oleh pendingin mobil, mengunci tubuh Kinan sepenuhnya dalam dekapannya seak
Suara rintikan AC di dalam kabin Maybach yang dingin mendadak terasa mencekam. Pengawal pribadi di kursi depan masih memegang ponselnya dengan tangan yang agak gemetar, menantikan reaksi dari pemuda di belakangnya. Di samping Zheydan, Kinan menahan napas. Meskipun sama sekali tidak mengerti bahasa asing yang diucapkan pengawal itu, Kinan bisa merasakan perubahan drastis pada raut wajah Zheydan, dari yang semula usil dan santai, mendadak berubah menjadi amarah. Zheydan menyipitkan mata. Urat-urat di lehernya menegang, membuktikan betapa murkanya ia ketika kebebasannya kembali diusik oleh sang paman. "Das isch mir scheissegal! Ich gah sicher nöd hei!" (Aku tidak peduli sama sekali! Aku pasti tidak akan pulang!) bentak Zheydan dengan intonasi rendah penuh ancaman. Pengawal itu menelan ludah dengan susah payah. "Aber Herr Zheydan, der Herr Reno het gseit—" (Tapi Tuan Zheydan, Tuan Reno mengatakan—) "Heb d'Schnure!" (Tutup mulutmu!) potong Zheydan, memajukan tubuhnya dan men







