Share

Cinta untuk Perempuan Lain
Cinta untuk Perempuan Lain
Author: Puspa

Bab 1

Author: Puspa
Perempuan itu bertanya, "Terus, kalau di hatimu, siapa sebenarnya istrimu? Aku atau dia?"

Kalendra tersenyum sambil menggenggam tangannya.

"Dia itu permaisuri Kerajaan Delmara. Tugasnya menjaga pemerintahan dan negeri ini untukku."

"Sedangkan kamu, kamu perempuan yang ingin aku nikahi bahkan dari sebelum aku naik takhta."

Angin menerbangkan kelopak-kelopak begonia hingga satu per satu menutupi jalan setapak berbatu yang tadi kulewati.

Tiba-tiba, aku teringat delapan tahun lalu, ketika dia menggandeng tanganku menaiki tangga menuju singgasana. Saat itu, dia berjanji akan membiarkan istana selir tetap kosong dan setia kepadaku hingga akhir hayat.

Ternyata, yang kujaga untuknya adalah seluruh wilayah kekuasaan Keluarga Satrio, sedangkan perempuan itulah yang menjaga hati Kalendra, sang kaisar.

….

Gelang batu mulia di pergelangan tanganku membentur tiang koridor, menimbulkan bunyi nyaring.

Kalendra langsung menoleh.

Saat melihatku, senyum di wajahnya belum sepenuhnya sirna.

"Shanira?"

Dia bangkit dan berjalan ke arahku, spontan merentangkan tangan seolah hendak memelukku, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali pulang dari inspeksi ke selatan.

Namun, anak itu lebih dahulu menarik lengan bajunya.

"Papa, siapa dia?"

Langkah Kalendra terhenti.

Semangkuk mi panjang umur di tangan Miana Laksono bergoyang hingga kuahnya tumpah. Wajahnya pun seketika pucat.

Aku menatap anak itu dan hanya mengajukan satu pertanyaan.

"Sekarang, berapa usiamu?"

Tanpa memahami rumitnya urusan orang dewasa, anak itu mendongak dan menjawab dengan suara jernih, "Tahun ini umurku tujuh tahun."

Tujuh tahun.

Tujuh tahun lalu, saat kandunganku berusia enam bulan, aku melindungi Kalendra dari panah beracun yang dilepaskan seorang pembunuh.

Luka akibat panah itu tidak dalam, tetapi racunnya telah masuk ke dalam darah.

Saat anakku gugur, tangan dan kakinya sudah terbentuk.

Tabib istana mengatakan bahwa dia seorang anak laki-laki.

Malam itu, Kalendra berjaga di sisi ranjangku. Matanya merah padam, dan berulang kali dia berkata bahwa kami masih bisa memiliki anak lagi.

Aku takut dia menyalahkan dirinya sendiri. Karena itu, justru akulah yang menggenggam tangannya.

"Asal kamu selamat, itu sudah cukup."

Kini, setelah kupikir-pikir, anak yang dikandung Miana saat itu pasti juga sudah hampir lahir.

Aku kembali bertanya dengan suara pelan, "Siapa namamu?"

Anak laki-laki itu mendongak dari pelukan Kalendra.

"Namaku Rahyan Satrio. Papa yang memberinya."

Angin berembus melewati pohon begonia. Kelopak-kelopak bunga berjatuhan dan menempel di ujung rokku.

Rahyan.

Saat aku mengandung, Kalendra pernah membungkuk di samping perutku dan menghabiskan setengah bulan membaca kitab-kitab kuno.

Katanya, jika anak kami laki-laki, dia akan diberi nama Rahyan.

Semoga negeri ini damai, sungainya jernih, dan rakyatnya hidup tenteram.

Aku pernah menertawakannya karena membebani anak yang bahkan belum lahir dengan harapan sebesar itu.

Namun, dia menggenggam tanganku dan berkata, "Anak kita, anak Shanira dan aku, tentu sanggup mengemban harapan itu."

Setelah anak itu meninggal, tak seorang pun pernah menyebut nama Rahyan lagi.

Kalendra jelas teringat akan hal itu.

Sekilas kepanikan melintas di matanya.

"Dulu, waktu aku terluka parah dan demam tinggi, Miana yang menyelamatkanku. Dia dengar aku menyebut nama itu saat mengigau."

"Miana tidak tahu apa arti nama itu bagiku. Jadi, dia hanya ...."

Miana segera menyela, "Kalau Permaisuri keberatan, aku bisa mengganti namanya."

Kalendra justru lebih dahulu berbalik untuk menopangnya.

"Luka lamamu membuatmu tidak tahan dingin. Jangan berdiri di tempat yang berangin."

Setelah memastikan perempuan itu berdiri dengan mantap, barulah dia kembali menatapku.

"Rahyan sudah pakai nama itu selama tujuh tahun. Kalau diganti begitu, hanya akan membuat anak itu berpikir macam-macam."

"Shanira, dia sama sekali tidak tahu apa-apa."

Aku menatap Kalendra.

"Anak itu tidak bersalah. Aku tidak menyalahkannya."

"Aku hanya ingin tahu, saat aku kehilangan anak kita, Paduka ada di mana?"

Tangannya terhenti di udara.

Setelah terdiam lama, akhirnya dia berkata, "Miana pernah menyelamatkan nyawaku."

"Waktu aku diburu pasukan pemberontak, dia yang menyembunyikan aku di pondok pengobatan. Dia bahkan sampai tiga kali mencoba racun untukku."

"Lalu?"

Wajahnya tetap tenang.

"Setelah itu, kami punya Rahyan."

Aku mengangguk.

"Karena dia sudah menyelamatkan nyawa Paduka dan sekarang bahkan sudah melahirkan seorang putra, Paduka tidak perlu lagi menjelaskan apa pun padaku."

"Setelah kembali ke ibu kota, aku akan menyerahkan segel permaisuri."

"Mulai sekarang, siapa pun yang ingin Paduka bawa masuk ke istana atau ingin Paduka pertemukan kembali dengan keluarganya, Paduka tidak perlu lagi pedulikan perasaanku."

Wajah Kalendra seketika menggelap.

"Shanira, apa kamu harus bicara setega ini?"

"Supaya kamu nggak berpikir macam-macam, Miana dan anaknya terpaksa hidup susah di Jaraya selama tujuh tahun. Ibu Suri, ayahmu, bahkan kakakmu pun tahu soal ini."

"Mereka semua paham kalau keberadaan Miana dan anak ini tidak akan mengancam kedudukanmu sebagai permaisuri. Terus, kenapa hanya kamu yang …."

Dia mendadak berhenti di tengah kalimat.

Aku menatapnya.

"Jadi, mereka semua sudah tahu."

Sekilas penyesalan melintas di mata Kalendra.

"Shanira, bukan itu maksudku."

"Ibu Suri tahu, Ayah tahu, bahkan Kakak pun tahu."

Aku mengulangi kata-kata itu satu per satu.

"Semua orang membantu Paduka menyembunyikan istri dan anak Paduka di Jaraya. Hanya aku, permaisuri Paduka sendiri, yang dibohongi selama tujuh tahun penuh."

Akhirnya aku mengerti sekarang, mengapa tiga kali rencanaku untuk ikut dengannya selalu gagal.

Penyakit, bencana, dan tuduhan pengkhianatan yang muncul tepat pada waktunya itu bukanlah kehendak takdir.

Kalendra menggenggam pergelangan tanganku, lalu melunakkan suaranya.

"Shanira, sebenarnya aku mau beri tahu kamu sendiri setelah kita kembali ke ibu kota."

"Miana tidak akan merebut kedudukanmu sebagai permaisuri. Rahyan akan dicatat atas namamu sehingga dia sah menjadi putra sulung yang lahir dari permaisuri."

"Kamu akan tetap jadi satu-satunya permaisuri Kerajaan Delmara."

Miana berlutut dengan sikap lemah lembut. Dia menundukkan kepala dan memohon dengan suara lirih, "Aku hanya berharap bisa mendampingi Paduka dan anakku. Mana berani aku bersaing dengan Permaisuri."

Tatapan Kalendra kepadanya kembali melembut.

"Kamu sudah menyelamatkan nyawaku dan melahirkan seorang putra buatku. Tidak akan kubiarkan kamu hidup tanpa kedudukan yang jelas."

Setelah itu, dia kembali menatapku.

"Kamu sudah menjaga kerajaan untukku selama delapan tahun. Aku juga tidak akan pernah biarkan kamu dirugikan."

Aku bertanya, "Siapa dia bagimu?"

"Aku berutang budi sama dia."

"Lalu, siapa aku?"

Wajah Kalendra tampak lega, seolah akhirnya aku mengajukan pertanyaan yang paling mudah dijawab.

"Kamu orang yang paling aku percaya."

Aku menarik tanganku dari genggamannya.

Ternyata, setelah delapan tahun menjadi suami istri, pada akhirnya yang tersisa hanyalah kata kepercayaan.

Aku berbalik dan menuruni anak tangga batu.

Kalendra mengejarku beberapa langkah.

"Hari sudah larut. Menginap saja dulu di istana peristirahatan ini. Besok aku akan menemanimu kembali ke ibu kota."

Di belakangku, Rahyan bertanya pelan, "Papa, benarkah dia Permaisuri?"

Setelah sekian lama, barulah Kalendra menjawab, "Benar."

"Dia juga orang yang paling tidak mungkin meninggalkan aku di dunia ini."

Aku melangkah melewati hamparan kelopak begonia dan pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 22

    Pada musim semi tahun berikutnya, akhirnya aku tiba di Jaraya.Tak ada iring-iringan kebesaran, tak ada jalan yang ditutup, dan tak ada penghuni istana yang sibuk memilih pemandangan mana yang layak dinikmati seorang permaisuri dalam perjalanan.Aku menaiki kapal penumpang biasa. Kapal itu singgah di kota-kota kecil sepanjang perjalanan, dan dua kali aku melewatkan musim bunga mekar karena hujan.Kiara sempat menyayangkan hal itu.Namun, menurutku justru begini lebih baik.Aku bisa berhenti kapan saja dan melanjutkan perjalanan kapan saja. Jika melewatkan mekarnya bunga di satu pohon, masih ada musim mekar berikutnya.Saat tiba di dekat bekas istana peristirahatan yang pernah kukunjungi, Kalendra benar-benar hanya mengantarku sampai dermaga.Sepanjang perjalanan, dia tidak ikut berlayar bersamaku. Dia menunggang kuda menyusuri tepian sungai. Setiap kali tiba di suatu tempat, dia menyuruh orang mengirimkan peta daerah setempat dan bekal makanan, tanpa pernah bertanya ke mana aku akan pe

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 21

    Setahun kemudian, sebuah titah kerajaan kembali tiba di Linau.Kalendra berhasil menyelinap kembali ke ibu kota dengan menumpang kapal pengangkut barang melalui jalur air. Dari dalam dan luar istana, dia bekerja sama dengan pasukan pengawal yang masih setia kepadanya, lalu menyelamatkan Arkan pada malam itu juga.Para kerabat kerajaan yang terlibat dalam upaya merebut takhta diadili satu per satu. Ibu Suri juga diasingkan ke istana peristirahatan karena membiarkan kerabat dari pihak ibunya memanfaatkan putra sulung Kaisar demi merebut kekuasaan. Dia dilarang kembali ke istana seumur hidup.Dalam berkas perkara yang dikirim kemudian, tertulis bahwa ketika Kalendra menerobos masuk ke kediaman para pangeran, Arkan sedang dipaksa membubuhkan cap jari pada titah pengangkatan wali pemerintahan. Begitu melihat ayahnya, anak itu tidak meminta sang kaisar membunuh orang-orang yang menyiksanya. Sebaliknya, dia justru bertanya apakah dirinya telah berbuat salah lagi.Kalendra memeluknya dan menje

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 20

    Tiga hari setelah tanggul yang jebol berhasil diperbaiki, kurir kilat membawa kabar darurat dari ibu kota.Setelah Ibu Suri dikurung di kediamannya, Keluarga Senjaya kehilangan kekuasaan, dan gelar Miana dicabut, beberapa kerabat kerajaan memanfaatkan ketidakhadiran Kaisar yang terlalu lama di Jinggara untuk menuduhnya mengabaikan pemerintahan. Mereka bersekutu dengan mantan anggota Pasukan Pengawal Kekaisaran untuk melancarkan kudeta.Mereka menculik Arkan dari kediaman para pangeran dan menyebarkan klaim bahwa Kaisar telah kehilangan akal sehat demi mantan permaisurinya. Mereka berencana mengangkat putra sulung Kaisar yang baru berusia tujuh tahun sebagai penguasa sementara.Pengawal yang membawa surat itu datang dengan berlumuran darah."Paduka, gerbang istana sudah ditutup. Jika terlambat, semuanya akan terlambat."Luka di bahu Kalendra belum sembuh. Begitu mendengar Arkan disandera, wajahnya langsung menggelap.Dia melirikku, lalu segera mengalihkan pandangan.Dulu, setiap kali me

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 19

    Kalendra akhirnya tak bisa meninggalkan Linau keesokan harinya.Hujan deras mengguyur sepanjang malam. Banjir bandang dari hulu menerjang tanggul tua hingga jebol, merendam lebih dari sepuluh desa di tepi timur Kabupaten Linau sekaligus.Ketika gong perunggu di kantor pemerintahan kabupaten bergema di sepanjang jalan utama, para korban luka mulai berdatangan ke klinik.Aku menugaskan dua tabib untuk menangani para korban, lalu meminta murid sekolah perempuan yang bisa menulis untuk mendata nama para pengungsi. Para pengawal Kalendra akhirnya mengungkapkan jati diri mereka. Barulah kepala daerah menyadari bahwa pria yang menginap di penginapan itu ternyata Kaisar. Dia langsung berlutut ketakutan.Kalendra tidak menerima stempel resmi yang disodorkannya."Siapa yang paling memahami aliran sungai di Linau?"Kepala daerah secara refleks menoleh kepadaku.Dahulu, aku pasti langsung mengambil alih dan mengatur semuanya untuk semua orang.Kali ini, aku lebih dahulu bertanya kepada kepala daer

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 18

    Kalendra meletakkan titah kerajaan di atas meja.Aku tidak mengambilnya."Menurut Paduka, setelah menghukum Ibu Suri, Keluarga Senjaya, dan Miana, semua kesalahan di masa lalu sudah terbayar lunas?""Tidak akan pernah lunas.""Bagaimana jika aku tidak pergi?"Dia mengangkat pandangan.Aku menatapnya dan bertanya dengan jelas, kata demi kata, "Jika aku tetap menerima upacara penobatan seperti dulu, membantu mempersiapkan jalan Arkan menjadi pewaris takhta, lalu berkata bahwa aku tidak menyalahkanmu, apakah kamu akan tahu bahwa setiap kali cuaca mendung dan hujan, perutku terasa sakit? Apa kamu akan tahu bahwa setiap kali melihat nama itu, yang terbayang olehku adalah seorang anak yang sudah memiliki tangan dan kaki, tetapi tak pernah sempat kulahirkan?"Wajah Kalendra kian pucat."Tidak."Dia tak lagi berusaha mencari alasan untuk membela diri."Aku akan terus menganggapmu sebagai perempuan bijaksana yang tahu mana yang harus didahulukan. Aku akan terus berpikir bahwa kedudukan sebagai

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 17

    Di puncak musim panas, Kalendra tiba di Linau.Empat bulan telah berlalu sejak badai salju di Dermaga Aruni.Selama empat bulan itu, tak satu pun surat yang dikirimnya mendapat balasan. Klinik terus berkembang, sekolah perempuan menerima murid baru, dan Keluarga Senjaya menjalani persidangan. Hidupku terus berjalan seperti biasa. Aku tak pernah berhenti menjalani hidup hanya untuk menunggu penyesalannya sampai dari ibu kota.Dia tidak datang dengan iring-iringan kebesaran kaisar. Hanya dua pengawal yang menemaninya, dan dia memilih menginap di penginapan tepat di seberang klinik.Pada hari pertama, dia meminta Kiara mengantarkan tiga benda kepadaku.Surat berdarah yang dahulu ditahan Ibu Suri, dokumen penyelesaian seluruh perkara lama, serta sepasang liontin batu yang kutinggalkan di Paviliun Sandika.Kali ini, tak ada surat ataupun permintaan agar aku menerimanya kembali yang menyertai liontin itu.Kiara berkata bahwa pesannya hanya satu. Semua benda itu memang milikku, dan aku bebas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status