Share

Bab 2

Author: Puspa
Malam itu juga, aku meninggalkan Jaraya dan tiba di ibu kota lima hari sebelum rombongan kaisar yang dipimpin Kalendra kembali.

Begitu tiba di Istana Kencana, aku langsung menyuruh Kiara membuka gudang pribadiku.

Tiga peti tua dikeluarkan dan diletakkan di bawah cahaya lampu.

Bukan perhiasan yang tersimpan di dalamnya, melainkan barang-barang yang kusiapkan untuk tiga kali rencana keberangkatanku ke selatan.

Peti pertama berisi pakaian yang belum pernah kukenakan dan daftar perjalanan yang kertasnya telah menguning.

Peti kedua menyimpan peta jalur air Jaraya. Aku telah menandai setiap tempat pemberhentian dengan tinta merah.

Peti ketiga paling ringan. Di dalamnya hanya ada selembar surat jalan yang sudah dibubuhi stempel.

Jemariku menyusuri stempel yang telah lama tertera di sana.

"Selidiki lagi catatan pengobatan tabib istana yang merawat Ibu Suri waktu itu, dokumen bantuan bencana di Jinggara, dan kasus kakakku."

Kiara sempat tertegun.

"Yang Mulia, semua itu sudah lama berlalu."

"Justru karena sudah lama berlalu, mereka tidak lagi merasa perlu menutupi jejak."

Dua hari kemudian, hasil penyelidikan sudah memenuhi meja kerjaku.

Ternyata, sepuluh hari sebelum pertama kali batuk darah, Ibu Suri sudah mulai meminum obat.

Namun, Istana Senjani, tempat tinggal Ibu Suri, baru menyatakan kondisinya kritis dan memanggilku untuk merawatnya setelah aku mengajukan permohonan untuk pergi ke selatan.

Padahal, rencana bantuan bencana di Jinggara sudah disusun lebih dahulu oleh Kementerian Keuangan bersama pejabat setempat.

Baru setelah aku kembali mengajukan permohonan untuk ikut ke selatan, Kalendra mengeluarkan titah tertulis yang ditandatanganinya sendiri untuk menyerahkan urusan pengadaan bahan pangan kepada pihak istana yang kupimpin.

Ayah pun ternyata sudah mengetahui laporan tuduhan pengkhianatan terhadap kakakku sejak setengah bulan sebelumnya.

Namun, dia sengaja menunggu sampai surat jalanku selesai diurus sebelum berlutut di luar Istana Kencana, memohon agar aku menyelamatkan Keluarga Senjaya.

Tapi setiap kali, waktunya selalu dipilih dengan cermat.

Mereka memang tidak pernah berbohong secara terang-terangan kepadaku.

Setiap kali aku hendak berangkat ke Jaraya, selalu ada yang tanggung jawab membuatku harus tinggal.

Mereka tahu aku pasti akan memilih untuk tinggal.

Siang itu, aku pergi ke Istana Senjani.

Ibu Suri sedang berdoa di sana. Ayah dan kakakku juga ada di sana.

Mereka duduk di bawah tempat duduk Ibu Suri, seolah sudah sepakat untuk membujukku agar terus menjalankan peranku sebagai permaisuri yang berbudi luhur.

Aku melemparkan tiga berkas dokumen lama ke atas tumpukan kitab.

"Catatan pengobatan tabib istana sudah menjelaskan semuanya."

"Sepuluh hari sebelum pertama kali batuk darah, Ibu Suri sudah mulai minum obat. Tapi, Istana Senjani baru menyatakan kondisinya kritis setelah aku mengajukan permohonan untuk pergi ke selatan."

Aku meletakkan dokumen lama dari Kementerian Keuangan di atas meja.

"Urusan bantuan bencana di Jinggara sebenarnya sudah ada pejabat yang mengurusnya. Tapi, setelah tahu aku akan ikut, Paduka justru menyerahkan urusan pengadaan bahan pangan padaku."

Dokumen terakhir adalah surat tuduhan terhadap kakakku yang dibuat saat itu.

"Ayah sudah lihat surat ini setengah bulan sebelumnya."

"Tapi, Ayah baru memohon di luar Istana Kencana setelah surat jalanku selesai diurus."

Aku menatap mereka.

"Kalian sengaja nunggu sampai aku hampir berangkat ke Jaraya, baru menggunakan semua ini buat nahan aku."

"Benar, bukan?"

Ayah terdiam sesaat, lalu menjawab, "Benar."

Kakakku langsung mengangkat kepala.

"Ayah!"

"Apa lagi yang perlu disangkal?"

Ayah menjawab dingin, "Kaisar sudah mengeluarkan titah yang melarangmu pergi ke Jaraya. Kami semua tahu sifatmu. Selama Ibu Suri, para korban bencana, atau Keluarga Senjaya membutuhkanmu, kamu pasti memilih untuk tinggal."

Aku menatapnya cukup lama.

"Jadi, kalian mengetahui suamiku punya istri dan anak lain di Jaraya, tapi tetap bisa bekerja sama menyembunyikan semuanya itu dariku tanpa merasa bersalah?"

Ayah dan kakakku menunduk, tak seorang pun menjawab.

Ibu Suri memainkan gelang manik di pergelangan tangannya, suaranya tetap tenang.

"Jika keberadaan Miana dan anaknya sampai terbongkar, para pejabat istana akan menjadikan kehormatan keluarga kerajaan dan garis keturunan pewaris takhta sebagai senjata untuk menyerang kita."

"Saat itu, membiarkan kamu tetap di ibu kota itu pilihan paling aman."

"Lagi pula, aku tidak akan mencabut kedudukanmu sebagai permaisuri, dan Keluarga Senjaya juga tetap memiliki pengaruh."

"Asal kamu mau mengakui anak itu sebagai anakmu sendiri, kelak saat dia naik takhta, kamu akan menjadi Ibu Suri yang sah."

Aku tertawa.

Rupanya, bagi mereka, menyembunyikan kebenaran selama tujuh tahun dan tiga kali menghalangi keberangkatanku hanyalah soal menunggu waktu yang tepat untuk memberitahuku.

Bahkan sisa hidupku pun sudah mereka atur.

Hanya saja, tak seorang pun pernah bertanya apakah aku menginginkan semua itu.

Melihatku terdiam, Ibu Suri mengira aku mulai menerima perkataannya.

Dia menyuruh seorang dayang mengambil kotak kayu cendana ungu.

"Kaisar bukannya tidak menghargai kebaikanmu."

"Selama bertahun-tahun ini, setiap kali pergi ke selatan, dia selalu mengirim surat ke istana."

Di dalam kotak itu tersimpan surat-surat rahasia dari Kalendra.

Di bagian paling bawah, aku menemukan sepucuk surat yang ternoda darah.

Surat itu kutulis untuknya setelah kehilangan anakku.

[Anak kita sudah tiada.]

[Tabib bilang rahimku mengalami kerusakan. Kemungkinan besar, aku akan sulit mengandung lagi.]

Amplopnya masih utuh. Surat itu tak pernah dikirim keluar istana.

Aku mengangkat kepala dan menatap Ibu Suri.

"Kenapa?"

"Waktu itu, nyawamu sudah di ujung tanduk, dan Kaisar pun baru berhasil mengamankan takhtanya."

"Kalau dia tahu soal ini, bukankah itu hanya akan mengalihkan perhatiannya?"

Dia mengambil sepucuk surat rahasia lainnya.

Tulisan tangan Kalendra tertera di atasnya.

[Kalau Shanira tiba di Jaraya, dia pasti akan bertemu Miana dan anaknya.]

[Tahan dia di ibu kota terlebih dahulu. Setelah aku kembali, aku akan bujuk sampai dia luluh.]

Aku menatap surat itu lama sekali. Namun, air mataku tak kunjung jatuh.

Ternyata, sejak awal, Kalendra sendirilah yang memerintahkan mereka menghalangiku pergi.

Setelah kembali ke Istana Kencana, aku menyuruh Kiara membereskan barang-barang maharku, peninggalan ibuku, dan daftar barang bawaan pernikahanku.

Kiara memiringkan kepala, tampak bingung.

"Yang Mulia, apakan Anda akan meninggalkan istana?"

Aku menatap stempel permaisuri di atas meja.

"Tidak."

"Aku akan melepaskan kedudukanku sebagai permaisuri, menghapus namaku dari silsilah Keluarga Satrio, dan kembali menjadi Shanira Senjaya."

Kiara tertegun.

"Tapi, pencabutan gelar permaisuri dan pemulihan status Yang Mulia sebagai anggota Keluarga Senjaya harus disahkan dengan stempel kerajaan. Mana mungkin Kaisar menyetujuinya?"

"Dia tidak akan setuju."

Karena itulah, aku tidak berniat meminta izinnya.

Aku menulis sepucuk surat rahasia, lalu menyerahkannya kepada Kiara.

"Antar surat ini ke Kantor Urusan Keluarga Kerajaan dan berikan pada Pak Surya, pejabat yang dulu menyusun dokumen pengangkatanku sebagai permaisuri."

"Minta dia menyiapkan dokumen pencabutan gelar permaisuri sekaligus pemulihan statusku sebagai anggota Keluarga Senjaya."

Kiara menggenggam amplop itu erat-erat.

"Lalu, bagaimana dengan stempel kerajaan?"

Aku mengembalikan stempel permaisuri ke tempatnya semula.

"Setelah putra sulung Kaisar diakui sebagai anaknya dan selir agung resmi dapat gelar, Kementerian Adat akan segera mengirim sejumlah dokumen resmi yang tinggal menunggu pengesahan dengan stempel kerajaan."

"Kalendra percaya kalau aku akan mengurus semua itu dengan baik untuknya."

"Kali ini, aku akan memanfaatkan kepercayaannya agar dia sendiri yang melepaskan aku."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 22

    Pada musim semi tahun berikutnya, akhirnya aku tiba di Jaraya.Tak ada iring-iringan kebesaran, tak ada jalan yang ditutup, dan tak ada penghuni istana yang sibuk memilih pemandangan mana yang layak dinikmati seorang permaisuri dalam perjalanan.Aku menaiki kapal penumpang biasa. Kapal itu singgah di kota-kota kecil sepanjang perjalanan, dan dua kali aku melewatkan musim bunga mekar karena hujan.Kiara sempat menyayangkan hal itu.Namun, menurutku justru begini lebih baik.Aku bisa berhenti kapan saja dan melanjutkan perjalanan kapan saja. Jika melewatkan mekarnya bunga di satu pohon, masih ada musim mekar berikutnya.Saat tiba di dekat bekas istana peristirahatan yang pernah kukunjungi, Kalendra benar-benar hanya mengantarku sampai dermaga.Sepanjang perjalanan, dia tidak ikut berlayar bersamaku. Dia menunggang kuda menyusuri tepian sungai. Setiap kali tiba di suatu tempat, dia menyuruh orang mengirimkan peta daerah setempat dan bekal makanan, tanpa pernah bertanya ke mana aku akan pe

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 21

    Setahun kemudian, sebuah titah kerajaan kembali tiba di Linau.Kalendra berhasil menyelinap kembali ke ibu kota dengan menumpang kapal pengangkut barang melalui jalur air. Dari dalam dan luar istana, dia bekerja sama dengan pasukan pengawal yang masih setia kepadanya, lalu menyelamatkan Arkan pada malam itu juga.Para kerabat kerajaan yang terlibat dalam upaya merebut takhta diadili satu per satu. Ibu Suri juga diasingkan ke istana peristirahatan karena membiarkan kerabat dari pihak ibunya memanfaatkan putra sulung Kaisar demi merebut kekuasaan. Dia dilarang kembali ke istana seumur hidup.Dalam berkas perkara yang dikirim kemudian, tertulis bahwa ketika Kalendra menerobos masuk ke kediaman para pangeran, Arkan sedang dipaksa membubuhkan cap jari pada titah pengangkatan wali pemerintahan. Begitu melihat ayahnya, anak itu tidak meminta sang kaisar membunuh orang-orang yang menyiksanya. Sebaliknya, dia justru bertanya apakah dirinya telah berbuat salah lagi.Kalendra memeluknya dan menje

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 20

    Tiga hari setelah tanggul yang jebol berhasil diperbaiki, kurir kilat membawa kabar darurat dari ibu kota.Setelah Ibu Suri dikurung di kediamannya, Keluarga Senjaya kehilangan kekuasaan, dan gelar Miana dicabut, beberapa kerabat kerajaan memanfaatkan ketidakhadiran Kaisar yang terlalu lama di Jinggara untuk menuduhnya mengabaikan pemerintahan. Mereka bersekutu dengan mantan anggota Pasukan Pengawal Kekaisaran untuk melancarkan kudeta.Mereka menculik Arkan dari kediaman para pangeran dan menyebarkan klaim bahwa Kaisar telah kehilangan akal sehat demi mantan permaisurinya. Mereka berencana mengangkat putra sulung Kaisar yang baru berusia tujuh tahun sebagai penguasa sementara.Pengawal yang membawa surat itu datang dengan berlumuran darah."Paduka, gerbang istana sudah ditutup. Jika terlambat, semuanya akan terlambat."Luka di bahu Kalendra belum sembuh. Begitu mendengar Arkan disandera, wajahnya langsung menggelap.Dia melirikku, lalu segera mengalihkan pandangan.Dulu, setiap kali me

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 19

    Kalendra akhirnya tak bisa meninggalkan Linau keesokan harinya.Hujan deras mengguyur sepanjang malam. Banjir bandang dari hulu menerjang tanggul tua hingga jebol, merendam lebih dari sepuluh desa di tepi timur Kabupaten Linau sekaligus.Ketika gong perunggu di kantor pemerintahan kabupaten bergema di sepanjang jalan utama, para korban luka mulai berdatangan ke klinik.Aku menugaskan dua tabib untuk menangani para korban, lalu meminta murid sekolah perempuan yang bisa menulis untuk mendata nama para pengungsi. Para pengawal Kalendra akhirnya mengungkapkan jati diri mereka. Barulah kepala daerah menyadari bahwa pria yang menginap di penginapan itu ternyata Kaisar. Dia langsung berlutut ketakutan.Kalendra tidak menerima stempel resmi yang disodorkannya."Siapa yang paling memahami aliran sungai di Linau?"Kepala daerah secara refleks menoleh kepadaku.Dahulu, aku pasti langsung mengambil alih dan mengatur semuanya untuk semua orang.Kali ini, aku lebih dahulu bertanya kepada kepala daer

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 18

    Kalendra meletakkan titah kerajaan di atas meja.Aku tidak mengambilnya."Menurut Paduka, setelah menghukum Ibu Suri, Keluarga Senjaya, dan Miana, semua kesalahan di masa lalu sudah terbayar lunas?""Tidak akan pernah lunas.""Bagaimana jika aku tidak pergi?"Dia mengangkat pandangan.Aku menatapnya dan bertanya dengan jelas, kata demi kata, "Jika aku tetap menerima upacara penobatan seperti dulu, membantu mempersiapkan jalan Arkan menjadi pewaris takhta, lalu berkata bahwa aku tidak menyalahkanmu, apakah kamu akan tahu bahwa setiap kali cuaca mendung dan hujan, perutku terasa sakit? Apa kamu akan tahu bahwa setiap kali melihat nama itu, yang terbayang olehku adalah seorang anak yang sudah memiliki tangan dan kaki, tetapi tak pernah sempat kulahirkan?"Wajah Kalendra kian pucat."Tidak."Dia tak lagi berusaha mencari alasan untuk membela diri."Aku akan terus menganggapmu sebagai perempuan bijaksana yang tahu mana yang harus didahulukan. Aku akan terus berpikir bahwa kedudukan sebagai

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 17

    Di puncak musim panas, Kalendra tiba di Linau.Empat bulan telah berlalu sejak badai salju di Dermaga Aruni.Selama empat bulan itu, tak satu pun surat yang dikirimnya mendapat balasan. Klinik terus berkembang, sekolah perempuan menerima murid baru, dan Keluarga Senjaya menjalani persidangan. Hidupku terus berjalan seperti biasa. Aku tak pernah berhenti menjalani hidup hanya untuk menunggu penyesalannya sampai dari ibu kota.Dia tidak datang dengan iring-iringan kebesaran kaisar. Hanya dua pengawal yang menemaninya, dan dia memilih menginap di penginapan tepat di seberang klinik.Pada hari pertama, dia meminta Kiara mengantarkan tiga benda kepadaku.Surat berdarah yang dahulu ditahan Ibu Suri, dokumen penyelesaian seluruh perkara lama, serta sepasang liontin batu yang kutinggalkan di Paviliun Sandika.Kali ini, tak ada surat ataupun permintaan agar aku menerimanya kembali yang menyertai liontin itu.Kiara berkata bahwa pesannya hanya satu. Semua benda itu memang milikku, dan aku bebas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status