Short
Di Hari Bunga Begonia Mekar

Di Hari Bunga Begonia Mekar

By:  KatzeCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
311views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tahun ketiga pernikahanku, raja yang baru naik takhta merebutku secara paksa dan membawaku ke istana. Namun anehnya, dia tak pernah memaksaku melakukan apa pun. Saat aku merindukan Ibu, dia mengizinkanku pulang ke rumah setiap bulan. Saat tanganku kedinginan di musim dingin, dia memindahkan semua berkas kerjanya ke paviliun hangat. Ketika aku jatuh sakit parah, dialah yang berjaga semalaman di sisi ranjangku. Dua tahun bersama, hatiku akhirnya luluh juga. Namun, sehari sebelum aku dinobatkan sebagai ratu, cinta masa kecilnya yang sudah bertahun-tahun menghilang, tiba-tiba kembali. Ternyata, selama ini dia sengaja merebut istri bawahannya sendiri, memanjakanku seorang diri, semata-mata agar para pemberontak percaya bahwa hatinya sudah berpaling, bahwa dia tak akan lagi mencari wanita yang pernah diculik itu. Sekarang, setelah wanita itu kembali dengan selamat, aku pun tak lagi berguna. Dia meletakkan obat penghenti napas di telapak tanganku, lalu menenangkanku dengan suara lembut. "Obat ini hanya membuatmu berhenti bernapas selama enam jam." "Nanti setelah pemakaman, aku akan menyuruh orang mengeluarkanmu, lalu mengantarkanmu ke Wanasari." Aku memohon agar dia memberiku waktu satu hari untuk pulang dan berpamitan. Suami lamaku datang menjemputku sendiri. Dia masih ingat aku gampang mabuk kendaraan, jadi dia sengaja menyiapkan plum asam di dalam kereta kuda. Ayah dan Ibu juga memelukku sambil menangis. Mereka berkata bahwa selama bertahun-tahun ini, tak sehari pun mereka berhenti merindukanku. Kupikir, setidaknya masih ada orang yang tak ingin kehilanganku. Namun, malam itu juga, suamiku menulis sendiri naskah duka cita, Ibu membantuku mengenakan pakaian jenazah, dan Ayah memilihkan peti mati untukku di halaman rumah. Mereka semua membujukku. "Ini 'kan cuma pura-pura mati. Di Wanasari sana, kamu tetap bisa hidup enak, kok." Aku menatap panji-panji putih yang memenuhi ruangan. Tiba-tiba, aku merasa mereka semua memang benar. Raja baru ingin menyambut kekasih hatinya. Suamiku ingin memulihkan kehormatannya setelah istrinya dirampas. Ayah dan Ibu ingin menjaga nama baik kedua keluarga. Aku cuma perlu mati sekali, dan semua orang akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, tak pernah ada satu orang pun yang bertanya, apakah aku mau atau tidak. Sudahlah. Aku mengambil obat itu dan meneguknya sampai habis. Sepanjang hidupku, mereka menyerahkanku dari rumah suamiku ke istana, lalu dari istana ke dalam peti mati. Toh, di dunia yang seluas ini, tak ada satu pun tempat yang benar-benar menjadi rumahku. Jadi, aku takkan pergi ke mana-mana lagi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah Bagas Kusuma pergi, aku duduk cukup lama di depan meja.

Botol obat itu tergeletak tepat di sampingku.

Efeknya akan membuatku berhenti bernapas selama enam jam. Setelah peti matiku dibawa keluar dari ibu kota, seseorang akan datang menyelamatkanku dan menyadarkanku.

Dia bahkan sudah memikirkan nama baru untukku.

Nawang Endra.

Seorang janda pedagang teh di Wanasari, tak punya sanak saudara, dan tak perlu lagi kembali ke ibu kota.

Ratri menatap surat jalan itu, matanya sembab karena menangis.

"Yang Mulia, Baginda bahkan sudah menentukan nama baru untuk Anda."

Aku melipat surat jalan itu.

"Malah bagus, 'kan? Jadi, aku tak perlu pusing memikirkannya sendiri."

"Tapi, Anda adalah Sekar Sambara."

"Mulai besok, aku bukan dia lagi."

Semua orang tahu, tak lama setelah naik takhta, raja baru merebut istri bawahannya secara paksa dan membawaku ke istana.

Demi aku, dia menanggung cercaan seisi istana, mengampuni dosa Keluarga Sambara dan Jayengrat, bahkan memanjakanku sedemikian rupa sampai membuat para selir di enam istana gelisah.

Hanya ada satu hal yang tak pernah mau dilakukannya.

Dia tak pernah sekali pun benar-benar menyentuhku.

Dulu kupikir, itu karena dia menghormatiku.

Baru kini kutahu, alasannya karena dia sudah menjanjikan segenap hidupnya untuk kekasih hati yang sesungguhnya.

Aku hanyalah sebuah sandiwara yang dia pertontonkan di depan umum.

Lakonnya sudah usai, wajar jika yang berada di panggung harus segera turun.

Tiba-tiba terdengar suara pelayan istana dari luar ruangan.

"Nona Laras telah tiba."

Laras Arkana melangkah masuk dengan mengenakan jubah bulu rubah, diikuti oleh pelukis istana di belakangnya.

Dia mendongak menatap lukisan yang tergantung di dinding.

Di dalam lukisan itu, aku berdiri di bawah pohon plum, sementara Bagas menunduk, merapikan jubah di bahuku.

Lukisan itu dibuat atas perintahnya pada musim dingin tahun lalu.

Saat itu, aku diam-diam merasa bahagia sepanjang malam setelah melihat diriku dalam lukisan itu.

Laras tersenyum.

"Lukisannya bagus, sayang orangnya saja yang keliru."

Sang pelukis segera menyuruh pelayan menyiapkan meja panjang, lalu mulai meracik warna cat.

Aku memperhatikan mereka menurunkan lukisan itu.

"Kalian mau melakukan apa?"

"Tentu saja mengubahnya."

Laras menjawab dengan nada lembut.

"Hutan plum ini adalah tempat aku dan Bagas saling jatuh cinta."

"Dia berjanji, begitu aku jadi ratu, dia akan menyuruh orang melukis momen itu."

"Waktu itu aku kena musibah, makanya lukisan ini diganti jadi kamu."

Ternyata bahkan salju yang turun hari itu, jubah yang memelukku, dan sepasang mata yang menatapku, semuanya bukan milikku.

Sang pelukis mengusap alis dan mataku di lukisan dengan kain basah.

Tinta melebar, wajah di dalam lukisan itu perlahan menjadi kabur.

Ratri gemetar karena marah.

"Kalau Nona menginginkannya, buat saja lukisan yang baru! Kenapa harus merusak lukisan Yang Mulia?"

"Karena Laras suka."

Bagas berjalan masuk dari luar ruangan.

Dia menghampiri Laras dan begitu melihat ujung jari wanita itu terkena cat, dia langsung mengeluarkan sapu tangan untuk mengelapnya.

Di sapu tangan itu, terbordir motif bambu hijau.

Aku menghabiskan tiga malam untuk menyulamnya sendiri.

Saat menerimanya, dia sempat memujinya indah, sebuah pujian yang jarang sekali terucap dari bibirnya.

Aku pun merasa bahagia karenanya selama berhari-hari.

Baru hari ini aku tahu, ternyata Laras sangat menyukai bambu hijau.

Laras menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.

"Tapi sepertinya, Kakak masih tidak rela."

Bagas melirik lukisan itu sekilas, mengikuti arah pandangku.

"Itu hanyalah sebuah lukisan."

"Laras telah menderita dan tertawan selama lima tahun demi diriku. Sekarang dia cuma menginginkan satu hal. Apa kamu masih hendak merebutnya darinya?"

Kutundukkan pandanganku.

"Hamba tidak berani."

Dia tampak cukup puas dengan jawabanku.

"Aku tahu hatimu sedang sedih."

"Tapi selama dua tahun ini, aku telah mengizinkanmu pulang sesering mungkin, memberikan banyak perlindungan bagi Keluarga Sambara dan Jayengrat, serta tidak pernah benar-benar memaksamu."

"Meski nanti kamu pergi ke Wanasari, aku akan memastikan kebutuhan hidupmu tetap tercukupi."

Bagas terdiam sejenak.

"Sekar, jadi orang itu harus tahu bersyukur."

Aku menatap sang pelukis yang kembali menggoreskan kuasnya.

Raut wajah Laras perlahan-lahan menggantikan wajahku di atas kanvas.

Bagas benar.

Aku seharusnya bersyukur.

Selama dua tahun ini, dia telah melindungiku dari angin, menjagaku saat sakit, bahkan di malam hari setelah usai menelaah tumpukan berkas, dia sendiri yang merapikan selimutku.

Meski semua itu hanyalah sandiwara untuk mengelabui para pemberontak, setidaknya pada saat itu aku tidak mengetahuinya.

Aku bahkan pernah benar-benar jatuh hati padanya.

Namun, ketika aku bersandar dalam pelukannya, dengan bahagia mengira akhirnya menemukan tempat untuk pulang, bagaimana sebenarnya dia memandangku?

Mungkin baginya, bidak catur ini akhirnya menjadi penurut.

Sang pelukis meletakkan kuasnya.

Laras berdiri di bawah pohon plum, sementara Bagas memayunginya.

Mereka tampak begitu serasi.

Seolah-olah aku tak pernah ada di dalam lukisan itu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status