LOGINTahun ketiga pernikahanku, raja yang baru naik takhta merebutku secara paksa dan membawaku ke istana. Namun anehnya, dia tak pernah memaksaku melakukan apa pun. Saat aku merindukan Ibu, dia mengizinkanku pulang ke rumah setiap bulan. Saat tanganku kedinginan di musim dingin, dia memindahkan semua berkas kerjanya ke paviliun hangat. Ketika aku jatuh sakit parah, dialah yang berjaga semalaman di sisi ranjangku. Dua tahun bersama, hatiku akhirnya luluh juga. Namun, sehari sebelum aku dinobatkan sebagai ratu, cinta masa kecilnya yang sudah bertahun-tahun menghilang, tiba-tiba kembali. Ternyata, selama ini dia sengaja merebut istri bawahannya sendiri, memanjakanku seorang diri, semata-mata agar para pemberontak percaya bahwa hatinya sudah berpaling, bahwa dia tak akan lagi mencari wanita yang pernah diculik itu. Sekarang, setelah wanita itu kembali dengan selamat, aku pun tak lagi berguna. Dia meletakkan obat penghenti napas di telapak tanganku, lalu menenangkanku dengan suara lembut. "Obat ini hanya membuatmu berhenti bernapas selama enam jam." "Nanti setelah pemakaman, aku akan menyuruh orang mengeluarkanmu, lalu mengantarkanmu ke Wanasari." Aku memohon agar dia memberiku waktu satu hari untuk pulang dan berpamitan. Suami lamaku datang menjemputku sendiri. Dia masih ingat aku gampang mabuk kendaraan, jadi dia sengaja menyiapkan plum asam di dalam kereta kuda. Ayah dan Ibu juga memelukku sambil menangis. Mereka berkata bahwa selama bertahun-tahun ini, tak sehari pun mereka berhenti merindukanku. Kupikir, setidaknya masih ada orang yang tak ingin kehilanganku. Namun, malam itu juga, suamiku menulis sendiri naskah duka cita, Ibu membantuku mengenakan pakaian jenazah, dan Ayah memilihkan peti mati untukku di halaman rumah. Mereka semua membujukku. "Ini 'kan cuma pura-pura mati. Di Wanasari sana, kamu tetap bisa hidup enak, kok." Aku menatap panji-panji putih yang memenuhi ruangan. Tiba-tiba, aku merasa mereka semua memang benar. Raja baru ingin menyambut kekasih hatinya. Suamiku ingin memulihkan kehormatannya setelah istrinya dirampas. Ayah dan Ibu ingin menjaga nama baik kedua keluarga. Aku cuma perlu mati sekali, dan semua orang akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, tak pernah ada satu orang pun yang bertanya, apakah aku mau atau tidak. Sudahlah. Aku mengambil obat itu dan meneguknya sampai habis. Sepanjang hidupku, mereka menyerahkanku dari rumah suamiku ke istana, lalu dari istana ke dalam peti mati. Toh, di dunia yang seluas ini, tak ada satu pun tempat yang benar-benar menjadi rumahku. Jadi, aku takkan pergi ke mana-mana lagi.
View MoreSetelah pemakamanku, Bagas mengeluarkan maklumat pertobatan diri.Isinya tertulis dengan sangat jelas.[Raja baru telah mengancam nyawa dua klan, memaksa membawa istri seorang bawahan ke istana, dan berlindung di balik nama kasih sayang untuk memancing pasukan pemberontak.Sekar Sambara tak pernah sekali pun tergiur oleh kemewahan istana, pun tak pernah mengkhianati keluarga suaminya.Kematiannya bukanlah demi menjaga kesucian bagi Keluarga Jayengrat.Melainkan dia didorong selangkah demi selangkah ke jalan buntu oleh sang Raja, keluarga suami, dan kaum kerabatnya sendiri.]Maklumat itu kini ditempelkan di seluruh penjuru ibu kota.Tulisan dukacita yang sudah disiapkan Apta berubah menjadi lelucon yang menyedihkan.Orang-orang yang dulu memujinya karena sanggup menanggung beban dan penghinaan, kini malah mengutuknya karena mengorbankan istri demi mengejar kemuliaan.Ayah terus-menerus mendapat tuduhan oleh para pengawas istana, hingga akhirnya terpaksa mengundurkan diri dan pulang ke r
Bagas akhirnya memakamkanku di Gunung Cempaka, di luar kota.Tempat itu bukan milik Keluarga Sambara, bukan milik Keluarga Jayengrat, dan juga bukan milik istana.Di atas batu nisanku, tak ada gelar selir kerajaan, pun tiada sebutan istri Keluarga Jayengrat.Hanya terukir namaku.Sekar Sambara.Pada hari pemakaman, hujan gerimis turun di ibu kota.Bagas hendak menggelar upacara pemakaman layaknya seorang ratu, tetapi para pejabat berlutut di depan gerbang istana untuk menentang."Sekar Sambara bagaimanapun juga adalah istri seorang bawahan.""Dia belum pernah dianugerahi gelar. Bagaimana mungkin menggunakan iring-iringan pemakaman seorang Ratu?"Bagas hanya bertanya."Saat aku merampas istri bawahanku dengan paksa, mengapa kalian tak pernah menyinggung soal hukum dan tata krama?"Tak ada yang menjawab.Saat itu, Keluarga Jayengrat sedang mengalami kemunduran, sedangkan Keluarga Sambara takut ikut terseret. Para pejabat istana pun tak sudi memusuhi raja baru hanya demi membela seorang
Setelah fajar menyingsing, Laras tiba di Paviliun Limasari.Dia sudah menanggalkan jubah kebesaran pengantinnya dan kini hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna polos.Saat melihatku, dia berhenti di luar paviliun tanpa melangkah mendekat.Bagas menjagaku semalam suntuk, matanya merah penuh urat darah."Untuk apa kamu datang ke sini?""Semua orang di istana menunggumu."Laras berkata dengan pelan."Upacara penobatan sudah terlewat dari waktu baiknya."Bagas mendongak."Dia sudah tiada."Wajah Laras seketika memucat."Aku tahu.""Tapi, kematiannya tidak ada kaitannya dengan upacara penobatan.""Tidak ada kaitannya?"Bagas menatap Laras seolah baru pertama kali mengenalnya. Laras mencengkeram ujung lengan bajunya erat."Racun itu dia beli sendiri.""Obatnya juga dia minum sendiri.""Bagas, aku tidak menyuruhnya mati.""Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku."Bagas bertanya dengan suara pelan."Apa yang menjadi milikmu?""Takhta ratu, lukisan di hutan plum
Bagas tidak kembali ke istana.Dia memerintahkan pengawal untuk mengepung Paviliun Limasari, lalu memanggil seluruh tabib istana pada malam itu juga.Pelita menyala terang sepanjang malam.Para tabib bergantian menusukkan jarum dan menuangkan ramuan obat ke dalam mulutku.Ibu tak kuasa melihatnya lagi. Dia berlutut di hadapan Bagas sambil menangis."Baginda, biarkan dia beristirahat dengan tenang."Bagas tak kunjung mendongak."Dia hanya keracunan.""Pasti ada cara untuk menetralkan racunnya."Sang tabib berlutut di lantai, dahinya sudah berdarah karena terus bersujud."Racun sudah terlalu lama berada di dalam tubuh. Seluruh organ dalamnya sudah rusak parah.""Bahkan dewa sekali pun takkan mampu menyelamatkannya lagi."Bagas akhirnya terdiam.Dia duduk di sisiku, menghapus sisa air obat yang tertinggal di bibirku.Dulu saat aku sakit parah, dia juga merawatku dengan cara yang sama.Saat itu, demam tinggi membuatku mengigau. Aku mencengkeram tangannya erat-erat sambil bertanya."Apa kam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.