Accueil / Romansa / Cinta yang Angkuh / Bab 6: Musuh Masa Kecil 2

Share

Bab 6: Musuh Masa Kecil 2

Auteur: Salju Berterbangan
“Bukannya kamu yang paling suka itu? Dulu kamu sangat menikmatinya, sekarang kamu mengeluh gadis-gadis itu seperti lintah. Bukankah lintah-lintah ini yang membuatmu bahagia setiap hari?” Kevin menggelengkan kepala pada adiknya. Ia sangat mengerti hubungan main-main dan tidak terikat antara para sosialita cantik dengan adiknya.

“Aku akui itu, tapi lama-lama, mereka jadi membosankan. Kamu tahu, Kevin, aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika Rosie selalu mengikutimu seperti bayangan.” Theo tak bisa menahan diri untuk tidak menyebut gadis dari rumah sebelah itu. Kakaknya terdiam sejenak ketika mendengar nama Rosie.

“Kenapa kamu tampak sangat tertarik pada Rosie?”

“Aku nggak tertarik secara khusus, jangan konyol.” Bahkan sekarang, ekspresi Theo tampak geli dengan cara yang membuat kakaknya mengangkat alis karena terkejut.

“Kamu pergi ke mana tadi? Aku melihatmu masuk dari pintu depan,” Kevin mengganti pertanyaan.

“Aku pergi untuk menemui Rosie.” Kata Theo yang membuat Kevin segera berbalik menghadap adik laki-lakinya.

“Kamu bilang kamu nggak tertarik.”

“Aku hanya ingin melihat anak itu. Kita sudah lama nggak bertemu. Dia seharusnya berusia sekitar…” Theo menghitung dengan jarinya saat berbicara.

“Dua puluh tahun.”

“Dua puluh lima,” kakak laki-lakinya mengoreksinya. Theo terdiam sejenak, terkejut bahwa orang yang mengingat usia Rosie paling akurat adalah kakaknya sendiri.

“Kamu benar-benar mengingatnya dengan akurat… iya benar dua puluh lima.” Theo berpikir lagi. Semua yang dikatakan kakaknya benar. Ia bersandar di sofa, menatap langit-langit seolah ada sesuatu di pikiran untuk direnungkan.

“Dan apakah kamu bertemu dengannya?” Kevin butuh jeda waktu cukup lama untuk bertanya, karena ia sebenarnya menunggu, tapi adiknya tak angkat bicara.

“Aku hanya melihat Tante Ambar. Katanya Rosie sedang tidur—rupanya lelah dengan pekerjaannya sehari sebelumnya. Orang seperti dia bisa membersihkan juga. Aku nggak tahu apakah dia berbohong, mungkin Tante Ambar yang membersihkan sendirian.”

“Rosie benar-benar membersihkan sendiri,” Kevin membenarkan.

“Oh, kamu juga ada di rumah. Ngomong-ngomong, apakah dia sama seperti dulu? Masih menempel padamu terus-menerus?” Theo tampak sangat tertarik pada rival mudanya. Ada sedikit kebencian di matanya.

“Kenapa kamu harus menunggu Kevin untuk berenang? Kamu bisa pergi denganku. Kevin sedang nggak ada waktu, dan aku ada waktu hari ini.”

“Aku nggak mau pergi denganmu. Aku hanya mau pergi dengan Kevin.”

Berapa kali Theo dipermalukan oleh Rosie, dan berapa kali niat baiknya berubah menjadi sumber hiburan baginya? Keinginan untuk memenangkannya seketika menambah warna dalam hidup Theo.

“Aku hanya melihatnya sebentar. Aku nggak bisa benar-benar mengatakan seperti apa Rosie sekarang, Aku perlu waktu.” Kata Kevin datar.

“Aku rasa Rosie akan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya segera. Saat ini, dia mungkin masih berpura-pura. Orang nggak benar-benar mengubah siapa diri mereka. Kevin, jangan lunak. Aku nggak ingin punya kakak ipar nakal seperti dia itu.”

“Itu tak akan pernah terjadi, Theo.” Kevin cukup yakin tentang hal ini, yang kebetulan sangat selaras dengan harapan adik laki-lakinya.

“Bagus, sangat bagus.” Theo mengedipkan mata pada Kevin sebelum bersiul dan berjalan ke atas dengan suasana hati yang ceria.

---

Di sisi lain, Rosie, yang bangun terlambat, sedang meregangkan tubuh di tempat tidurnya untuk menghilangkan kekakuan. Ketika ia melihat ke bagian bawah pada dirinya sendiri, ia sedikit tersentak, karena kausnya melorot cukup rendah hingga memperlihatkan dadanya yang penuh. Ia ingat bahwa ia benar-benar mengantuk dan langsung tidur. Jika ia memakai bra saat tidur, Rosie tidak akan bisa beristirahat, jadi ia selalu melepaskannya sebelum tidur. Tetapi karena kaus panjang yang ia suka pakai saat tidur, garis lehernya telah melar, sehingga saat bangun tidur hampir memperlihatkan semuanya. Meskipun begitu, ia masih menyukai pakaian tidur khusus ini. Keadaannya yang usang dan longgar membuatnya tidur jauh lebih nyaman daripada piyama barunya.

Ia turun dari tempat tidur dan membuka jendela lebar-lebar. Ia suka melihat keluar ke halaman rumah tetangga, di mana semua pohon, besar dan kecil, tampak rimbun dan hijau. Ia tidak sengaja mendongak ke lantai dua rumah dan tahu bahwa kamar dengan jendela tertutup rapat dan tirai yang tidak pernah disingkap adalah kamar Kevin. Jika Kevin membuka jendela dan menjulurkan kepala sekarang, mata mereka mungkin akan bertemu.

‘Pikiran konyol lagi, Rosie. Kevin nggak punya waktu luang untuk bermain tatap-tatapan seperti saat masih kecil.’

Dulu, rumah-rumah itu sejajar tingginya, tidak berundak seperti ini. Seringkali, ketika Kevin membuka jendelanya, ia akan melihat Rosie memasang wajah jahil, menunggu tepat di jendelanya sendiri. Memikirkan itu, ia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya yang lebat dan bergelombang.

Dan sampai pembantu rumah tangga Paula kembali, Supeni dan Ella, ia dan ibunya harus membersihkan rumah itu dua kali lagi. Ia cepat-cepat mandi dan berganti pakaian sebelum menuju ke bawah untuk menemui ibunya.

“Kamu sudah di sini? Ibu sudah siapkan beberapa kue sebelum makan utama,” kata Ambar saat ia menyiapkan meja sarapan dan menyajikan makanan manis untuk putrinya.

“Aku pikir aku akan membantumu sedikit, Bu, tapi aku bangun terlambat.”

“Nggak apa-apa, Rosie. Ibu sudah terbiasa. Hari ini, nggak banyak pesanan kue, jadi Ibu selesai cepat. Ayo, mari kita makan.”

“Oke, Bu. Aku ambilkan telur untuk Ibu.” Ia bergegas meletakkan telur di piring ibunya sambil juga melirik puding kelapa.

“Bu, apa Ibu membuat puding kelapa lagi?”

“Ya, hanya ada pesanan puding kelapa, jadi hanya itu yang Ibu buat. Tapi Ibu mengubah isian di dalamnya.”

“Ini, telurmu, Bu.” Rosie meletakkan piring di depan ibunya. Ia menatap masakan ibunya dengan kagum sebelum menutup mata dan menghirup aromanya dalam-dalam.

“Seperti belum pernah makan masakan Ibu saja, Rosie. Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?” Kata-kata ibunya menimbulkan rasa bersalah pada Rosie.

“Sudah lama sekali aku nggak datang menemuimu, Bu. Apa Ibu marah padaku?”

“Ibu nggak marah. Kita kan masih akan bertemu setiap hari.” Saat Rosie masih tinggal bersama Ayahnya, Ambar dan putrinya tetap berhubungan secara teratur melalui panggilan video. Hanya sesekali ia mengunjungi putrinya, tetapi ia tidak pernah menginap di rumah mantan suaminya. Sebaliknya, ia menginap di hotel dan membiarkan Rosie yang mengajaknya keluar, tidak ingin menimbulkan ketidaknyamanan bagi keluarga baru mantan suaminya.

“Oh ya, Theo datang mencarimu barusan.”

“Theo? Theo yang itu?” Rosie menyipitkan matanya dengan curiga. Biasanya, ia dan Theo tidak akur sama sekali, jadi mengapa Theo ingin menemuinya hari ini?

“Ya. Dia bilang dia ingin melihatmu, tapi Ibu bilang kamu masih tidur, jadi dia pamit dan pergi.”

“Dia mungkin datang untuk mencari gara-gara denganku,” gumam Rosie.

“Kalian sudah nggak bertemu selama tujuh tahun, dan kamu masih berpikir dia datang untuk mencari gara-gara? Ibu rasa tidak.”

“Ibu nggak tahu. Theo benar-benar membenciku. Jika dia datang ke sini, itu pasti berarti dia berniat membuat masalah.” Rosie cukup yakin dengan pikiran negatifnya.

“Jangan berpikir seperti itu. Theo mungkin hanya ingin mengunjungimu. Ibu bahkan mengundangnya untuk makan kue bersama kita, tapi dia bilang dia sibuk dan ada urusan.”

“Bagus kalau begitu. Aku juga nggak terlalu ingin melihatnya.”

“Baiklah. Jika tak ingin melihatnya, maka kamu tak perlu melakukannya. Mari kita lanjutkan makan.”

“Baiklah, Bu.”

Makan pagi itu dipenuhi dengan kehangatan ibu dan anak. Sudah lama Rosie tidak tersenyum dari hati seperti hari ini. Ia sudah memutuskan bahwa mulai sekarang, ia akan menjalani hidupnya dengan menjaga ibunya dan mempertahankan kebahagiaan ini selama ia bisa.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Tjatur Budiyanti
suka dengan karakter Rosie
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Cinta yang Angkuh   Bab 200: Episode Spesial 6 (Tamat)

    Dengan wajah sedikit terkejut, Puput buka pintu kamar untuk kakaknya, meskipun sebenarnya dia sudah duga kalau Pasha pasti akan datang tanya tentang Nico.“Cerita ke aku, kenapa kamu begitu percaya ke dia?”“Pasha, gimana bisa kamu tanyakan itu? Malu banget, tahu.”Puput jalan ke arah tempat tidur lalu jatuhkan dirinya ke atas ranjang. Kakaknya ikut mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil usap rambut adiknya perlahan.“Nggak perlu malu. Ceritakan saja semuanya supaya aku bisa lihat itu dari sudut pandang yang berbeda.”Meskipun semuanya sudah jadi jelas, tetap ada sedikit keraguan yang tersisa di hati Pasha.“Pasha, kamu tahu nggak kalau Nico buat tato baru di sisi kiri dadanya?”“Hm? Oh yah?”“Iya.”“Terus?”Pasha masih belum ngerti apa hubungannya dengan semua ini. Puput segera bangkit dari tempat tidur, ambil HP nya, buka foto yang sempat dia ambil, lalu kasih kakaknya lihat.“Ini Nico?”“Iya.”Puput tersenyum aneh, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam foto itu. Pasha perh

  • Cinta yang Angkuh   Bab 199: Episode Spesial 5

    Di tengah kicauan lembut burung-burung pagi, Puput yang masih tertidur pulas bergerak mendekat, cari kehangatan. Dia peluk tubuh di sampingnya erat-erat, seolah itu adalah bantal favoritnya. Namun, kenapa bantal lembutnya bisa gerak? Dengan cepat Puput buka mata.“Nico.”Puput menatap Nico yang sudah bersandar dengan sikunya, pandangi dia dengan senyum hangat. Seketika, hatinya ikut terasa hangat.“Sekarang jam berapa? Aku nggak sadar kapan aku ketiduran.”“Kamu tidur sangat nyenyak. Kamu pasti capek banget tadi malam.”Mata Nico berkilau nakal ketika dia usap pipi lembut Puput dengan penuh kasih.“Nico, seluruh tubuhku rasanya pegal-pegal.”Gadis kecil itu tampak lelah sekaligus merajuk. Nico tahan tawanya penuh sayang. Gimana mungkin tubuh Puput nggak pegal? Tadi malam dia benar-benar kerahkan seluruh tenaganya nggak tahan diri lagi.Tok … tok … tok.“Sarapan sudah datang.”Nico segera bangkit dari tempat tidur dan tarik selimut hingga tutupi tubuh Puput sepenuhnya. Dia nggak mau sia

  • Cinta yang Angkuh   Bab 198: Episode Spesial 4

    Nico angkat kedua telapak tangannya dan tangkup wajah Puput dengan lembut. Dia dekatkan bibirnya perlahan, lalu cium gadis itu berulang kali, lembut, manis, dan penuh kerinduan, hingga Puput hampir kehabisan napas.Napasnya semakin terputus ketika sesuatu di bawah permukaan air tekan tubuhnya. Sebuah hasrat keras yang tertahan oleh kain menempel erat pada tubuh Puput.“Puput .…”Suara Nico terdengar serak, jelas tunjukkan perasaannya saat itu. Nggak tunggu lama, Nico tarik pergelangan tangan Puput, bawa dia menuju tangga di sudut kolam yang tersembunyi. Sudut itu benar-benar gelap, tertutup papan kayu yang halangi pemandangan tebing.“Nico … ah!”Puput yang terus-menerus dihujani ciuman tanpa sempat bersiap langsung melemah. Nico duduk di anak tangga paling bawah. Dia tarik Puput untuk duduk di pangkuannya, jaga tubuh bagian atasnya tetap berada di atas air. Puput peluk dia erat, sementara tali bra-nya terlepas. Telapak tangan Nico yang besar menyelinap ke dalam tank top kecil yang dik

  • Cinta yang Angkuh   Bab 197: Episode Spesial 3

    Begitu Puput tutup teleponnya, Nico langsung tertawa keras. Dia benar-benar terhibur oleh kepandaian Puput untuk bohong. Dia hampir nggak percaya gadis itu berani katakan semua itu.“Kamu ini benar-benar licik.”“Tunggu dulu, kenapa kamu sebut aku gitu, Puput? Aku nggak pernah suruh kamu bohong ke ibumu. Kamu sendiri yang pikirkan semuanya.”“Itu karena kamu, Nico, aku jadi sampai harus bohong.”Puput pasang wajah cemberut, seolah semua kesalahan sepenuhnya miliknya.“Sudah, sudah. Jangan gitu. Jangan ngambek.”“Aku bukan anak kecil. Kamu selalu bilang aku ngambek.”“Tapi itu cocok untuk kamu, Puput. Kamu memang suka ngambek dan juga gampang nangis, tapi semua tentang kamu tetap terlihat manis dan menggemaskan.”Senyum Nico sampai ke matanya. Puput yang duduk di atas tempat tidur hanya sedikit putar tubuhnya karena malu.“Menurutmu ibumu percaya dengan yang barusan kamu bilang?”“Aku nggak tahu. Sebelum tutup telepon, aku sempat dengar dia menghela napas pelan.”“Kalau dia percaya, itu

  • Cinta yang Angkuh   Bab 196: Episode Spesial 2

    “Makasih. Ngomong-ngomong, kita bisa makan malam di mana?”“Dapur kami buka sampai pukul 22.00. Kamu juga bisa telepon untuk pesan makanan dan nikmatin itu di balkon dekat kolam renang, atau makan langsung di restoran. Nomor teleponnya ada di samping telepon.”“Makasih.”Setelah staf itu pergi, Nico kunci pintu kamar sambil cari sosok yang tadi sudah masuk lebih dulu. Ternyata Puput sudah buka pintu balkon dan duduk di sana, nikmati keindahan kolam renang yang berpadu dengan pemandangan hutan dan pegunungan di depannya.Kamar mereka hampir tepat di tepi lereng gunung yang curam. Untungnya ada pagar pembatas di depan kolam renang.“Udara setelah hujan benar-benar segar, Nico.”Puput yang duduk di kursi rotan bundar menoleh ke arah Nico yang baru saja buka pintu geser dan duduk di hadapannya.“Kamu nggak lapar, Puput? Aku mulai lapar. Sejak kita sepedaan tadi kita belum makan malam. Kita cuma setir bolak-balik saja.”Nico pegang menu makanan yang ada di kursi santai dekatnya.“Aku juga l

  • Cinta yang Angkuh   Bab 195: Episode Spesial 1

    Mereka berdua terus mengayuh sepeda kelilingi waduk hingga selesaikan satu putaran penuh, sebelum akhirnya kembalikan sepeda itu ke tempat sewa. Nico kemudian beli sebuah kelapa utuh dari kios kecil di dekat sana untuk Puput minum, biar dia nggak haus lagi.Mereka duduk berdampingan untuk istirahat, menyeruput air kelapa sambil pulihkan tenaga setelah naik sepeda cukup lama.“Tadi itu pesan apa kok sampai buat kamu senang banget, Puput? Sepanjang tadi kita naik sepeda, aku lihat kamu senyum-senyum sendiri,” tanya Nico, nggak mampu sembunyikan rasa penasarannya. Sejak terima pesan itu, pipi Puput terus mengembang karena senyumnya.“Nggak ada apa-apa.”“Hei, Puput, nggak boleh main rahasia-rahasiaan dari aku.”“Kalau begitu gimana dengan kamu, Nico? Apa kamu juga punya rahasia?”“Nggak ada. Sama sekali nggak ada, Puput.” Nico menggeleng cepat.“Yakin?”“Tentu saja. Ngapain aku bohong ke kamu?”Mereka saling tersenyum, masing-masing merasa telah simpan rahasia mereka dengan sangat baik. W

  • Cinta yang Angkuh   Bab 153: Tukar Pasangan 3

    Kemudian mereka berdua tertawa lepas, seolah-olah semua air mata yang sebelumnya basahi pipi Patricia telah benar-benar terhapus.Andi dengan lembut usap sisa-sisa air mata di wajahnya, lalu cium kedua kelopak matanya dengan lembut sebelum tarik Patricia ke dalam pelukan erat.“Jadilah istriku selam

  • Cinta yang Angkuh   Bab 152: Tukar Pasangan 2

    Keesokan harinya mereka kembali untuk selesaikan masalah, terakhir sekali dan untuk selamanya.Agung masih coba cari kesempatan ketika Patricia sendirian untuk mohon agar dia ubah keputusannya, tetapi yang dia dapatkan hanyalah senyum dingin.Hati Patricia sudah kebal terhadap cintanya.“Kalau aku m

  • Cinta yang Angkuh   Bab 151: Tukar Pasangan 1

    Hari yang nggak terelakkan itu akhirnya tiba, hari ketika keempat orang itu harus berdiri berhadapan.Andi duduk menatap Agung dan wanita yang dulu dia sebut sebagai istrinya dengan sorot mata penuh kebencian.Sementara itu, Patricia merasa seolah rumah ini bukan miliknya lagi, meskipun sebenarnya m

  • Cinta yang Angkuh   Bab 150: Selesaikan Masalah 2

    “Kalau begitu kita mulai sekarang saja. Biar kamu cepat hamil.”“Eek! Nggak, jangan .…”Protes Patricia tentu saja langsung teredam. Andi cium dan sentuh dia di mana-mana.Nggak lama kemudian, baju mereka sudah berserakan di lantai.Patricia terbaring telentang dengan kepala mengarah ke kaki tempat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status