เข้าสู่ระบบRestoran Evan malam itu terlihat berbeda.Lampu-lampu temaram menggantung rapi. Musik instrumental mengalun pelan, tidak mengganggu, justru menenangkan. Meja-meja tertata dengan jarak yang nyaman. Tidak ramai. Tidak terlalu berisik. Semuanya terasa bersih, tenang, dan terkonsep.“Bagus banget,” gumam Andin kagum, di balik maskernya.Siska hanya mengangguk. Ia berdiri di samping sahabatnya, mengenakan dress sederhana berwarna krem, masker menutupi setengah wajahnya. Rambutnya dibiarkan terurai, tanpa riasan berlebih.Siska datang bukan sebagai istri pemilik restoran ini. Ia hanya tamu.Sebelum menemukan tempat duduk seseorang datang menghampiri mereka. “Maaf, apa anda keluarga, Chef Evan?&
“Wa, Sai! Siska, kau sangat beruntung!”Andin berseru sambil mengitari mobil baru milik Siska. Tak henti-hentinya wanita itu berdecak kagum menatap mobil putih yang bahkan belum mampu ia beli dalam waktu dekat.Siska hanya tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan.Setelah Evan berangkat bekerja pagi tadi, Siska memilih keluar apartemen untuk menemui Andin. Sejak semalam, pikirannya tidak tenang. Ia bahkan tak mampu memejamkan mata. Siska baru tertidur ketika jarum jam hampir menyentuh angka dua.Bayangan tentang wanita seperti apa yang Evan sukai terus menghantui kepalanya. Ia tidak bisa memendam semuanya sendiri. Ia butuh seseorang untuk berbagi.Andin menghampiri Siska yang berdiri diam bersandar di tembok depan rumahnya. Dari raut wajah sahabatnya itu, Andin sudah bisa menebak, Siska sedang tidak baik-baik saja.“Kau kenapa?” tanya Andin pelan.Siska menghela napas panjang. “Evan menyukai wanita lain.”“Hah?” Andin ternganga.“Tapi … sebenarnya tidak ada yang salah,” ucap Andin kemud
Siska mengamati Evan dari ujung kepala hingga kaki. Tangannya terulur di kening Evan guna untuk memeriksa suhu tubuh Evan.“Tidak panas.” Siska mundur perlahan. Namun matanya tak pernah benar-benar lepas dari Evan. Sejak pengakuan semalam jika keluar dari rumah Heriawan, bebas melakukan apapun dan hidup nyaman di apartemen merupakan hal yang sangat Siska impikan selama ini, sikap Evan jadi tidak terkendali. Padahal tidak ada yang spesial dengan jawabannya, tetapi kenapa Evan sepertinya sangat senang mendengarnya. Siska menjadi bingung sendiri. Perubahan sikap Evan terlalu tiba-tiba. Tadi pagi saja, Evan membuatkan sarapan sendiri untuk Siska. Sekarang malam tiba, suaminya itu kembali berulah dan membuat Siska terkejut setengah mati. “Ini apa, Evan?”“Mobil.” Evan menjawab dengan entengnya. “Aku tahu ini mobil, tapi untuk apa aku harus melihatnya?” “Mobil ini untukmu.”“What?” Siska ternganga. “You are serious? For me?” Siska berseru tidak percaya. Siska sangat tahu jika Evan sel
Siang hari di apartemen. Evan dan Siska baru saja tiba.Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya dokter mengizinkan Siska pulang. Selama dua hari itu, Siska tidak pernah merasa sendirian. Edgar dan Aiden hampir setiap hari datang menjenguk, membuat kamar rumah sakit seperti pasar malam. Meski Evan selalu terlihat kesal dengan kelakuan mereka, kemarahannya tak pernah benar-benar berarti. Edgar dan Aiden selalu punya banyak cara untuk membuat Evan bungkam dan akhirnya pasrah.“Maaf, merepotkan kamu,” ucap Siska pelan sambil mendudukkan diri di sofa.Akhirnya bisa pulang.“Santai saja,” jawab Evan seraya mengeluarkan makan siang yang tadi ia pesan dari restorannya.Siska memperhatikan satu per satu kotak makanan di meja.“Oh iya,” katanya tiba-tiba, “mobil kamu di mana?”Evan menoleh, baru menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatiannya.“Kamu tidak punya mobil?” tebaknya.Siska terdiam sesaat, lalu tersenyum kaku.“Disita.”Evan mengerutkan alis. “Heriawan?”Siska me
Hujan turun tipis saat Evan berdiri di depan rumah Heriawan.Tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya datar, tapi rahangnya mengeras. Mobil hitam di belakangnya masih menyala. Dua orang anak buahnya berdiri tidak jauh, memilih menjaga jarak. Evan sedang menunggu hasil penyelidikan tentang Siska selama ini.“Jadi selama ini seperti itu?” suara Evan rendah.“Iya, Pak,” jawab salah satu anak buahnya. “Sejak Sisil masuk ke rumah itu, Nyonya Siska selalu disisihkan. Makan terakhir, disuruh mengalah, disalahkan apapun yang terjadi. Bahkan soal … jebakan untuk Tuan Vero, itu adalah permintaan Heriawan.”Evan menghembuskan napas panjang. Tangannya terkepal kuat. Dadanya terasa panas. Jadi, itu bukan keinginannya? Tapi kenapa dia tidak membela diri?Evan tak tahan lagi, ia segera masuk.Pintu rumah terbuka.Heriawan terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya. “Evan?”Tanpa basa-basi, Evan melangkah masuk. Tatapannya menyapu ruang tamu besar itu. “Kita bicara,” ucap Evan singkat. Tak ada
“Edgar, kau menyukai Siska?”Edgar menoleh, ekspresinya tampak menyeramkan. Spontan dia menginjak kaki Aiden.“Edgar, sialan!” Aiden meringis, mengangkat kakinya yang terasa sakit.“Dia itu istri orang,” ucap ketus Edgar. “Nanti kalau dia sudah jadi janda, baru aku pertimbangkan,” tambahnya lagi dengan gaya acuh. Kemudian masuk melihat Siska setelah dokter selesai memeriksanya.“Aku tidak percaya,” cicit Aiden ikut masuk.***Evan dan Fatin berada di dalam lift yang sama. Usai pulang dari rumah sakit menjenguk salah satu karyawan Fatin, mereka memutuskan untuk pulang, namun sebelum itu Evan dan Fatin singgah di sebuah restoran, untuk makan malam.Setelah Evan jujur dengan perasaannya kepada Fatin, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu memberikan kesempatan kepada Evan. Mereka sepakat untuk saling mengenal lebih jauh. “Kamu tinggal sendiri?” tanya Evan, menoleh ke Fatin yang sedang berdiri sejajar dengannya.Fatin mengangguk. “Tapi kadang-kadang adikku datang, kalau dia lagi ke Ja







