MasukBAB 5
Langit masih tampak gelap ketika Siska sudah sibuk di dapur. Semalam, sebelum tidur, ia kembali membuka tutorial “Resep Nasi Goreng Enak dan Simpel.” Kali ini, tekadnya bulat. “Aku pasti bisa!” serunya semangat sambil mengikat rambut tinggi-tinggi dan mengenakan celemek coklat tua.
Wajahnya terlihat serius saat memotong bahan-bahan sederhana. Aroma bawang goreng mulai memenuhi dapur dan senyum kecil terbit di wajahnya. Siska menatap nasi goreng yang kini mulai berwarna kecoklatan. Ia mengambil sendok, meniup pelan, lalu mencicipinya.
“Masya Allah … ini enak!” serunya antusias, menggeleng tak percaya. Akhirnya, nasi goreng buatannya bisa dimakan manusia juga. Ia teringat dulu, saat beberapa kali belajar di rumah Andin, hasilnya malah bikin kucing minggat karena rasanya amburadul. Tetapi pagi ini, Siska merasa bangga pada dirinya sendiri.
“Semoga saja dia menyukainya,” ucapnya lirih, menata piring nasi goreng di meja makan dengan tambahan hiasan sederhana di atasnya. Ia tersenyum puas.
“Nanti malam aku masak apa ya?” gumamnya berpikir. Siska tahu, ia hanya perlu menyiapkan makanan pagi dan malam untuk Evan, karena siang hari mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tetapi pagi ini, semangatnya terasa berbeda.
“Daripada pusing, tanya aja langsung sama gurunya,” katanya pada diri sendiri. Ia menatap jam, buru-buru berlari ke kamar. Hari ini hari pertama ia masuk kerja di bagian produksi. Siska yakin pekerjaannya akan padat, tapi baginya, kesibukan adalah hal baik.
“Lebih baik seperti ini,” ucapnya sambil mengenakan blazer dan mengambil tas.
***
Sementara itu, di apartemen, Evan menatap pantulan dirinya di cermin. Kemeja hitam dengan satu kancing terbuka, menonjolkan sedikit otot dadanya. Lengan digulung sampai siku, rambut tersisir rapi. Ia tampak sempurna, seperti biasanya.
Hari ini Evan akan mengadakan rapat besar dengan tim restoran untuk membahas perubahan konsep usahanya. Tetapi di balik niat profesional itu, ada urusan pribadi yang membuatnya tersenyum kecil. “Aku memang pintar,” ujarnya bangga sambil tertawa pelan.
Turun ke bawah, Evan memerhatikan ruang makan yang sudah rapi. “Kenapa dia berangkat pagi sekali?” gumamnya.
Seketika ia mendesis. “Untuk apa juga aku peduli.” Meski begitu, langkahnya justru mengarah ke dapur.
Ia duduk di kursi, membuka tudung saji, mendapati sepiring nasi goreng. “Nasi goreng?” katanya pelan. “Ini bisa dimakan kan?” Ia menatap curiga, takut rasanya berbahaya. Tetapi setelah mencicipi satu sendok, Evan sedikit mengangguk.
“Masih layak dimakan,” gumamnya. Ia terus melanjutkan dan kali ini, ada senyum samar di wajahnya.
“Ternyata wanita manja seperti dia cepat juga belajarnya,” ucapnya pelan. Dalam hati, Evan tak memungkiri jika Siska cukup cerdas. Ia tahu banyak hal tentang istrinya itu, termasuk prestasinya di perusahaan. Tetapi tetap saja, pernikahan mereka terjadi karena jebakan, dan Evan belum bisa menerima hal itu. Ia bahkan sudah berniat menceraikannya suatu saat nanti.
***
“Ehem!” Suara berat terdengar begitu Evan memasuki ruangannya. Nando sudah berdiri di sana, menatap dengan tatapan menggoda.
“Mau bilang apa lagi kamu?” tanya Evan sambil duduk di sofa.
“Pagi ini kamu kelihatan semangat banget. Istrimu kasih makan apa?” goda Nando, ikut duduk santai.
Evan melirik tajam. “Apa yang bisa diharapkan dari dia?”
“Eh jangan salah, Chef,” balas Nando cepat. “Istrimu itu masuk daftar wanita tercantik dan berprestasi versi lambe turah, tahu? Hanya saja namanya sempat turun gara-gara kasus kemarin. Tapi lihat deh …” Nando membuka I*******m, memperlihatkan foto-foto Siska yang tampak elegan dan menawan.
Evan spontan meraih ponselnya dan melihat sekilas. Ia bahkan sempat menggulir lebih dalam, membuat Nando tersenyum geli.
“Katanya nggak tertarik, tapi wajahmu sudah merah,” sindir Nando sambil merampas ponselnya kembali.
“Siapa juga yang peduli,” jawab Evan ketus. Tetapi dalam hati, ia tak bisa membohongi diri sendiri. Siska memang cantik dan kulit sawo matangnya justru membuatnya berbeda dari gadis lain.
“Cih, katanya nggak tertarik,” celetuk Nando sambil berdiri.
“Sudah, sana! Tiga puluh menit lagi kita rapat,” potong Evan, mendorongnya keluar. Ia mendesah pelan, lalu menggumam, “Kalau aku nggak kenal dia, aku pasti mikir dia naksir istriku sendiri.”
***
Di ruang rapat, suasana mulai serius. Evan duduk di ujung meja bersama tim intinya. Di layar besar, terpampang tulisan besar: Elegant Halal Dining.
“Aku mau bulan depan kita launching konsep baru,” ucap Evan. Semua mata tertuju padanya.
“Halal dining, Chef?” tanya salah satu staf perempuan penasaran.
Evan tersenyum tipis. “Ya. Kita mulai dari niat yang bersih. Semua bahan, penyajian, sampai cara berpakaian harus mencerminkan nilai halal dan elegan. Bukan cuma makanan, tapi juga suasana.”
Rico, manajer operasional, mengangguk sambil mencatat di tabletnya. “Berarti seragam juga harus diganti, ya?”
“Yes. Aku nggak mau yang terlalu formal, tapi tetap classy. Warna lembut, desain sopan, dan nyaman dipakai kerja.”
Salah satu staf dapur angkat tangan. “Kalau buat yang berhijab gimana, Chef?”
Evan menatapnya dan tersenyum. “Kita buat seragam yang bisa dipakai semua orang. Tetap sopan, tapi tetap satu tim.”
Ia melihat sketsa desain seragam yang ditampilkan. Kemeja polos dengan apron panjang dan logo kecil di dada kiri.
“Hmm …” gumamnya. “Aku mau yang lebih hidup dari ini. Harus ada sentuhan lembut. Kayak ada ‘rasa’ di tiap jahitannya.”
Rico terkekeh. “Maksudnya, Chef?”
Evan menatapnya serius. “Aku bakal cari sendiri butiknya. Aku ingin lihat langsung siapa yang bisa bikin seragam ini punya jiwa.”
Tim saling pandang. Evan menutup laptopnya, berdiri dengan senyum kecil. Dalam hatinya, ia merasa perubahan ini bukan sekadar soal bisnis. Ada sesuatu yang lebih sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
***
Sementara itu, di tempat lain, Siska menarik napas panjang sambil mengelap keringat dengan punggung tangan. Tangannya pegal, tetapi ia tetap fokus memotong kain di depannya.
“Aku harus cepat selesai,” gumamnya pelan. Ia bertekad untuk segera pulang dan belajar memasak lagi.
Tadi, ia sempat mendengar teman-temannya bercanda, “Kalau mau menjerat hati pria, mulai dari perutnya.” Kalimat itu melekat di kepala Siska. Ia tersenyum tipis.
Bukan karena ia mencintai Evan, tetapi karena ia tidak pernah berpikir untuk pergi dari pernikahan ini. Ia punya alasannya sendiri untuk bertahan.
“Kalau ingin tetap tinggal, aku harus berusaha membuat Evan melirikku,” ucapnya mantap. Siska benar-benar ingin mencoba.
***
Siska menutup mulutnya cepat. Ia masih mengantuk tetapi memaksakan diri untuk bangun.“ Ini semua gara-gara Andin, menelpon sampai tengah malam,” keluhnya seraya meregangkan otot-ototnya. Semalam sahabatnya itu sangat cerewet karena Siska pergi ke Paris tanpa memberitahukannya. Andin sedikit khawatir, namun setelah melihat unggahan Siska yang sedang bersama Evan di menara Eiffel rasa kesalnya justru semakin meningkat, karena tidak diajak. Siska tersenyum kecil mengingat percakapannya bersama Andin. Tak lama, ketukan di pintu terdengar, seorang pelayan masuk setelah Siska mengizinkan masuk. “Nona, ditunggu sarapan sama Grandma.” “Baik. Saya segera turun.”Pelayan itu lantas meninggalkan Siska. “Evan kemana?” ***Di taman di samping mansion, Siska mendorong kursi roda Nenek Evan. “Ada yang ingin Grandma bicarakan?” ucap Siska. Sejak sarapan Siska sudah memperhatikan wanita tua itu. Siska dapat menebak jika ada sesuatu yang ingin disampaikan. “Apa begitu kentara?” Wanita tua itu
Bab 32 – Singkat Tetapi BerdebarEvan mengulum senyum di depan cermin bulat. Masih berada di kamar mandi. Bayangan kejadian di perjalanan pulang tadi kembali terlintas, saat ia mengirimkan pesan kepada Nando.Evan: Kau hanya bisa mengagumi dia di sosial media. Sedangkan aku melihatnya secara langsung, berdiri di depanku.Tak lama kemudian, Evan mengirimkan foto Siska yang diam-diam ia ambil tadi.Sepanjang perjalanan pulang, Evan sibuk meladeni Nando yang mendadak uring-uringan. Pria itu bahkan mengancam, jika Evan tidak membawa Siska ke restoran untuk berkenalan, maka Nando sendiri yang akan datang langsung ke apartemen hanya demi numpang makan.Tanpa Evan sadari, sejak tadi Siska sering meliriknya dengan hati yang nyaris retak.“Ternyata dia benar-benar fans sama Siska,” gumam Evan. Ia mengulurkan tangan, menghapus embun di cermin, berusaha menatap wajahnya sendiri dengan lebih jelas.“Aku akan mempertemukan mereka, sebelum Nando berbuat aneh.”Ya, Nando sempat mengancam akan membu
Bangunan itu berdiri megah di hadapan mereka. Kubah kaca besar dengan rangka besi berornamen klasik memanjakan mata. Orang-orang berlalu-lalang, sebagian berhenti sekadar mengambil foto.Siska terdiam cukup lama.“Ini …” Suaranya pelan. “Ini Galeries Lafayette?”Evan mengangguk. “Iya.”Siska menelan ludah. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan mantel Evan.“Aku cuma pernah lihat di majalah,” ucapnya lirih. “Aku tidak pernah membayangkan bisa ke sini.”Evan menoleh. Matanya menangkap ekspresi Siska yang sulit disembunyikan, mata berbinar, bibir sedikit terbuka, seperti anak kecil yang baru masuk ke dunia impiannya.Lucu, pikir Evan.Dan entah kenapa, dadanya terasa hangat.Siska dan Evan masuk.Langit-langit kubah kaca langsung menyambut. Tangga melengkung, etalase butik kelas dunia, dan aroma parfum mahal bercampur menjadi satu.Siska berdiri terpaku.“Evan …” Ia berputar perlahan, menatap ke segala arah. “Ini gila.”“Kau berlebihan,” ujar Evan, tetapi sudut bibirnya terangkat.“A
Menara Eiffel berdiri megah di hadapan mereka. Langit Paris berwarna jingga keemasan, matahari belum sepenuhnya tenggelam. Angin sore berhembus pelan, membawa udara dingin yang membuat Siska refleks merapatkan jaket tipisnya. Namun dingin itu sama sekali tidak mengurangi senyum di wajahnya.Setelah meminta izin secara diam-diam kepada Nenek Evan, Siska dan Evan akhirnya memutuskan ke Menara Eiffel. Siska pikir Evan akan menolaknya, tetapi lelaki itu justru lebih dulu bersiap.Di depan Menara Eiffel, Siska berhenti melangkah. Matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka. Ia menatap ke atas, ke arah menara besi yang selama ini hanya ia lihat dari layar ponsel atau televisi.“Ini … beneran ya?” gumamnya lirih, seperti takut kalau semua ini hanya mimpi.
Halaman restoran Evan sore itu cukup ramai. Kamera berdiri di tripod, menghadap ke arah dapur terbuka yang sudah dipercantik dengan nuansa kayu dan tanaman hijau. Evan berdiri di depan, mengenakan baju koki hitam dengan potongan tegas, lengan dilipat rapi hingga siku.“Take satu,” ucap kru singkat.Evan langsung tersenyum profesional. “Selamat datang di—”“Stop, stop,” Nando tiba-tiba menyela sambil mendekat, matanya menyipit menatap pakaian Evan. “Eh, Van … aku baru ngeh.”Evan menoleh. “Kenapa?”“Itu baju koki baru?” Nando meraba sedikit bagian lengan. “Gila, cocok banget di badanmu. Hitam memang lebih menawan.”Evan menunduk sekilas melihat pakaiannya sendiri, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. “Iya,” jawabnya ringan. “Nyaman. Potongannya pas.”Nando mengangkat alis. “Dari mana? Jangan bilang dari Fatin.”Evan refleks menggeleng. “Bukan.”“Terus?”Evan diam sebentar, lalu berkata datar tapi jujur, “Dari istriku,” ucap Evan setengah berbisik. Ia tidak mungkin membiarkan semua orang
Pagi-pagi sekali Evan telah berangkat ke restoran. Katanya sore ini dia adalah acara take video untuk mempromosikan menu baru di restoran. Siska merasa bosan tinggal di apartemen. Karena Andin masih proses resign jadi Siska tak punya teman. Untuk itu Siska memutuskan untuk menghibur diri diluar sekalian untuk mencari referensi untuk rencana karirnya ke depan. Mall siang itu cukup ramai. Musik lembut mengalun dari pengeras suara, bercampur dengan suara langkah kaki dan tawa pengunjung. Siska berdiri di depan etalase sebuah butik pakaian wanita. Tangannya memegang hanger gaun sederhana berwarna krem. Ia menimbang-nimbang, ragu.“Bagus itu.”Siska menoleh spontan.Seorang wanita berhijab berdiri di sampingnya. Senyumnya lembut dan matanya hangat.“Eh … Fatin?” Siska agak terkejut.“Iya.” Fatin tersenyum lebih lebar. “Aku kira salah lihat.”Mereka sama-sama terdiam sejenak. Canggung, tapi tidak sampai kikuk. Ada rasa asing yang aneh, padahal mereka sudah pernah bertemu beberapa kali.“Ka







