Home / Romansa / Cinta yang Diracik Takdir / Bab 6 - Rasa Penasaran

Share

Bab 6 - Rasa Penasaran

last update Last Updated: 2025-12-05 22:10:09

Siska bernyanyi kecil sambil memainkan spatula di tangannya. Aroma cabai memenuhi dapur kecil itu, menggoda hidungnya sendiri. Tangannya terasa kaku setelah seharian berkutat dengan kain di kantor, tapi ia tetap menikmati memasak. Ada semacam kebahagiaan aneh setiap kali ia membuat sesuatu didapur.

“Baby cumi rica-rica,” ucapnya bangga ketika masakan itu hampir matang. Tepat saat itu, seseorang muncul dengan wajah kusut tapi tampak bersinar karena lelah—Evan, yang langsung menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol air.

“Kau sudah makan malam?” tanya Siska sambil memperhatikan Evan meneguk air langsung dari botol. Matanya otomatis jatuh pada jakun Evan yang naik turun.

Seksi sekali!

“Belum,” jawab Evan pendek. “Masak apa?” Ia akhirnya menoleh, membuat Siska semakin senang.

Siska menarik lengannya dengan girang, tapi pria itu bahkan tak bergeser sedetik pun.

“Kau ini kuat sekali!” protes Siska sambil berusaha menarik lengan Evan lagi. Tetap saja, tetap tak bergerak.

“Apa?” Evan bertanya dengan keras. Menatap tangannya yang digenggam Siska. Terlalu dekat, terlalu … aneh.

Kening Evan berkerut dalam. Nama sahabatnya Vero seketika terlintas di kepalanya. Bukankah Siska menyukai Vero? Bukankah karena itu mereka menikah? Tetapi hingga detik ini, Siska bahkan tak pernah menyinggung nama tersebut. 

Pikiran Evan buyar saat Siska menjentikkan jari di depan wajahnya. “Cobain dulu masakanku, Chef Evan!” seru Siska, menarik kembali Evan yang akhirnya bergerak pasrah menuju ke depan kompor. 

Siska dengan sigap mengambil sendok, mengambil sedikit kuah masakannya lalu meniupnya, melayangkan sendok didepan bibir Evan. 

Siska mengangguk-angguk, menyuruh Evan mencicipi. Ia menunggu dengan wajah penuh harap.

Siska memperhatikan suaminya tersebut. Bersiap untuk menerima pujian, karena ia sudah sangat yakin jika masakannya tersebut ada peningkatan dibanding dengan sebelumnya. 

“Bagaimana? Cepat bilang!” desaknya.

“Buruk!” seru Evan asal, mundur pelan menyandar di tembok wastafel. Dalam hati ia sedikit takjub dengan istrinya tersebut. Begitu cepat wanita itu belajar hal-hal baru. Padahal baru tiga hari ia belajar memasak, tapi sudah mampu menyesuaikan rasa. 

“Masa sih.” Siska tak percaya lalu mencobanya dengan sendok yang sama membuat mata Evan membulat. 

Siska mencicipinya dengan sendok yang sama. Mata Evan membulat. Sembrono sekali!

“Enak kok. Kalau mau disamakan dengan masakanmu ya jelas bedalah! Kau kan profesional sedangkan aku masih pemula. Tapi bisa dimakan kan?” tanyanya. 

“Hmm.” Evan berbalik hendak menuju ke kamarnya. “Daripada mubazir, lebih baik dimakan,” ucapnya pelan. “Aku mau mandi dulu,” sambungnya kemudian sebelum benar-benar meninggalkan dapur. 

“Yak! Aku mendengarnya!” seru Siska kesal, melayangkan tinju ke udara. “Lihat saja nanti. One day, kau akan memuji masakanmu, Chef Evan,” tuturnya angkuh.

***

Di ruang tamu, Siska duduk sambil menggambar gaun di kertas putih. Sesekali ia melirik TV yang menampilkan variety show.

“Cantik sekali,” ucapnya terpukau melihat salah satu gaun dari Paris. Ia kembali fokus pada sketsanya.

Ia terlalu tenggelam dalam dunia kecilnya sendiri sampai tidak menyadari Evan kini berdiri di belakangnya, memperhatikan gambar itu dengan dahi berkerut.

Bukankah dia lulusan bisnis?

Merasa ada hembusan angin aneh di atas kepalanya, Siska mendongak. Ia langsung bertatapan dengan mata coklat pekat milik Evan. Beberapa detik saling diam, sampai Evan tiba-tiba batuk kecil dan buru-buru berjalan ke sofa lain, seolah menjauhkan diri dari situasi canggung itu.

“Kau bisa menggambar?” tanya Evan akhirnya.

“Hmm, bisa. Dulu aku jurusan seni, tapi dipaksa pindah jurusan,” jawab Siska pelan. Tatapannya meredup sesaat.

Evan bisa melihat kesedihan itu, meski hanya sesaat. Rumor yang ia dengar selama ini tentang Siska dimanja dan hidup enak.

“Ayahmu?” tanya Evan seraya menyandarkan punggungnya disofa.

“Hmm, siapa lagi kalau bukan dia.” Siska membuang nafas kasar. “Itu sudah berlalu. Sekarang aku bisa menggambar dengan tenang.” Garis melengkung tampak diwajah Siska. Ia mengusap hasil karyanya di kertas putih, merasa bahagia akhirnya dia bisa bebas melakukan hal selama ini selalu ingin ia lakukan.

Evan memperhatikan gerak gerik Siska. Sepertinya ada yang salah dengan berita yang selama ini beredar. 

‘Apa aku perlu mencari tahu?’ Sedetik kemudian, Evan membuang nafas kasar. 

‘Tidak ada untungnya untukku. Pernikahan ini juga tidak akan bertahan lama, untuk apa aku ikut campur dengan urusannya.’

“Oh ya, kau butuh apa?” tanya Siska, sadar mungkin Evan menghampirinya karena ada keperluan.

“Tidak ada. Aku hanya mau menonton TV,” balas Evan sambil mengganti channel.

Siska mengangguk mengerti, lalu menaikkan kedua kakinya dan memeluknya. Pandangannya jatuh ke wajah Evan yang sedang serius.

‘Tampan juga kalau diam,’ pikirnya, sambil terkekeh kecil.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Evan.

“Kau tampan kalau sedang diam,” jawab Siska jujur seraya tersenyum kecil.

“Aku selalu tampan,” balas Evan tanpa malu.

Siska melotot. “Narsis sekali!”

“Cerewet!” protes Evan. “Sana buat camilan kalau kau lagi menganggur, daripada disini, berisik!” Evan memencet tombol remot sedikit kasar tanpa menoleh ke Siska.

Siska merenggut kesal menatap Evan tajam. 

Evan menoleh. “Apa?” tanyanya menantang. “Tidak ada yang takut dengan tatapanmu itu. Sudah sana, buat camilan sekalian buatkan aku jus,” perintahnya kembali membuat tingkat kekesalan Siska meningkat.

Siska spontan berdiri, tetapi tidak membuat Evan bergerak. Ia tetap melihat tingkah Siska yang sedikit kekanak-kanakan menurutnya. 

“Baik, Tuan,” balasnya tiba-tiba dengan gerakan sedikit membungkuk hormat. “Saya akan siapkan pesanan anda. Anda dapat menunggu dua jam dari sekarang,” ucap Siska penuh penekanan namun mengandung unsur ejekan kemudian melangkah cepat meninggalkan Evan.

“Tiga puluh menit!” sahut Evan cepat. “Lebih dari itu, ku seret kau keluar.”

“Ya ampun, aku bisa cepat tua berhadapan dengannya,” gumam Evan sambil bersandar di sofa.

***

Tiga puluh menit kemudian, Siska kembali membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dan dimsum.

“Pesanan Anda datang, Chef Ev—”

Ia berhenti. Sofa kosong.

“Eh? Kemana dia?” Siska mengedarkan pandangan. “Dia nggak mungkin balik ke kamar kan setelah nyuruh aku bikin camilan?”

Siska menghempaskan tubuh ke sofa, kesal. “Dasar pria rese’!”

“Siapa yang kau maki itu?”

“Eh?” Siska tersenyum kikuk saat Evan muncul dari arah balkon. “Kau darimana?”

“Weekend nanti kosongkan waktumu,” ucap Evan tiba-tiba tanpa membalas pertanyaan Siska.

“Memangnya ada apa?” Siska langsung merasa gugup.

“Kita pergi ke suatu tempat.”

“Kemana?”

Evan menoleh dengan senyum miring yang justru membuat Siska semakin gugup.

“Evan…” panggilnya pelan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 46 - Perasaan Yang Berubah

    Fatin tidak pernah benar-benar berniat mengintai.Namun entah kenapa, setiap kali secara tidak sengaja ia selalu melihat sesuatu.Sore itu, ia baru saja keluar dari butik tempatnya fitting gaun untuk sebuah acara amal. Ia berdiri di tepi jalan, menunggu mobilnya dijemput.Dan di seberang sana … Ia melihat Evan, bersama Siska.Mereka tidak menyadari keberadaannya.Evan sedang memegang tas belanja di tangan kiri. Tangan kanannya menggenggam jemari Siska. Bukan sekadar menyentuh. Tetapi menggenggam. Seolah takut terlepas.Siska tertawa karena sesuatu yang Evan katakan. Pria itu menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya untuk mendengar lebih jelas.Mereka terlalu dekat, terlalu akrab.Fatin menahan napas.Selama bersamanya, ia tidak pernah melihat Evan seperti itu. Tertawa bahagia.Evan memang perhatian. Lembut. Tetapi selalu memberi jarak tak kasat mata yang selalu ia rasakan.Namun dengan Siska?Tampak tak ada jarak.Fatin menggigit bibirnya pelan.Kekasih atau istri? Dua kata itu selalu

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 45 - Serahkan Kepada Pemilik Takdir

    “Siska! Kau gila!” seru Andin tertahan. Ia tidak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya tersebut. “Apa otakmu kemasukan air?” Andin menatap bingung. Wanita itu tampak syok dengan penjelasan yang baru saja disampaikan Siska padanya.Siang ini, Siska mengajak Andin bertemu di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai. Untuk menjelaskan semuanya. Bagaimanapun, Andin adalah seseorang yang selama ini sangat dekat dengannya, ia merasa perlu untuk bercerita.Siska tersenyum kecil. Andin frustasi.“Sekarang berikan aku penjelasan yang masuk akal?” Andin menatap Siska dengan serius. “Untuk apa kau menginginkan anak dari Evan?”Siska beranjak duduk disamping Andin. Meraih tangan Andin dan menggenggamnya. Kemudian menarik napas dalam.“Kamu tahu kan, sejak kematian ibuku, hanya kau satu-satunya keluarga yang aku punya.” Ucapan Siska terhenti sejenak, namun Andin tidak menyelah.“Setelah menikah aku pikir, aku bisa merasakan kembali rasanya punya keluarga. Tetapi sepertinya takdir itu sedang tidak

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 44 - Terlalu Hangat Untuk Perpisahan

    Pagi itu terasa berbeda. Sinar matahari masuk melalui celah tirai. Hangatnya menyentuh wajah Siska yang masih terpejam. Namun bukan cahaya yang membuatnya terbangun. Melainkan pelukan.Evan.Pria itu masih memeluknya dari belakang. Tangan besarnya melingkar di pinggang Siska, erat. Seolah takut wanita itu menghilang saat ia melepaskan.Siska membuka mata perlahan.“Van …” gumamnya lirih.“Hm …” Evan mendekatkan wajahnya ke tengkuk Siska. Menghirup pelan aroma rambut istrinya.Siska tidak bergerak. Biasanya ia akan mengeluh, menggeser tubuhnya atau pura-pura kesal. Tetapi kali ini tidak. Ia justru memegang tangan Evan yang berada di perutnya.Evan terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.Siska menggeleng. “Tidak apa-apa.”Hanya saja … aku sedang menguatkan diri.Evan mengecup bahunya. “Hari ini jangan ke mana-mana.”“Memangnya kenapa?”“Aku ingin di rumah.”Siska menoleh sedikit. “Tidak kerja?”“Aku bisa terlambat sedikit.”Siska tidak menjawab. Ia hanya

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 43 - Mulai Merindu

    “Maafkan aku,” ucap Evan lembut seraya memeluk Siska.Baru saja Evan meminta izin atau lebih tepatnya memberitahukan bahwa malam ini ia harus mengantar Fatin pulang kampung untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit.Jujur saja, tadi Evan ingin menolak. Ia sudah berniat menjaga jarak. Namun suara Fatin yang bergetar di telepon, isakan kecil yang ditahannya, membuat hatinya tak tega.Padahal ia sudah mencoba menjauh. Sudah mencoba menata ulang semuanya. Tetapi waktu seolah belum berpihak padanya.Mungkin … ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk jujur pada Fatin tentang statusnya yang sebenarnya. Berharap, saat hari itu tiba, Fatin tidak membencinya.Siska tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku, tangannya menggantung di samping tubuhnya.“Aku mengerti,” jawabnya pelan.Aku mengerti, Van. Fatin lebih penting untukmu.Van … aku benar-benar menyerah.Siska mendorong pelan dada Evan. “Pergilah. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama.”Evan terdiam. Ia menatap wajah istrinya, mencari ses

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 42 - Sadar, Namun Tetap Menikmati

    Evan menghentikan mobil di depan sebuah toko olahraga ternama. Siska yang sejak tadi diam akhirnya menoleh.“Kita kesini ngapain?” tanyanya curiga.Evan membuka sabuk pengamannya. “Belanja.”“Belanja apa?” Siska menyipitkan mata.“Baju olahraga.” Evan menoleh santai. “Kau kan mau mulai hidup sehat, kan?”“Aku tidak pernah bilang mau,” bantah Siska cepat.“Tapi aku yang bilang,” jawab Evan ringan. “Turun.”Siska mendengus, tetapi tetap menuruti. Begitu masuk ke dalam toko, matanya langsung menangkap deretan pakaian olahraga dengan warna-warna cerah.“Pilih,” ucap Evan.“Aku tidak biasa pakai yang begini,” gumam Siska sambil menyentuh bahan jaket training.“Itu sebabnya kau harus mulai,” sahut Evan. Ia mengambil satu set baju berwarna abu muda lalu menempelkannya ke tubuh Siska. “Yang ini cocok.”“Kau asal saja,” Siska merengut.Evan tersenyum kecil. “Percaya seleraku.”Siska mendengus lagi, tetapi akhirnya masuk ke ruang ganti. Saat keluar, Evan terdiam sejenak. Bukan karena baju itu l

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 41 - Senyum yang Disalah Artikan

    Usai pamit dan memberikan kecupan di kening Siska, Evan berangkat ke restoran. Pria itu bersama dengan Fatin. Ya, saat menelpon tadi, fatin minta tolong diantar ke butik karena mobilnya sedang berada di bengkel. Di dalam mobil, Evan menyetir dengan fokus. Fatin duduk di sampingnya, sesekali melirik pria itu.“Van,” panggil Fatin pelan.“Hm?”“Ad sesuatu yang terjadi? Kamu sedikit … terlihat berbeda hari ini,” ucapnya ragu. Fatin dapat melihat raut wajah bahagia pria itu. Wajahnya bahkan tampak berseri-seri. Evan mengerling sekilas. “Beda bagaimana?”“Kamu tampak bahagia” jawab Fatin jujur. Evan terdiam sejenak. Tangannya tetap menggenggam kemudi. “Mungkin, karena aku mendapatkan tawaran endorse.” Evan tertawa terpaksa.Ia tidak mungkin mengatakan, jika malam tadi ia baru saja melepas status perjakanya setelah sekian lama. Dan ia merasa sangat puas. Bahkan rasanya tidak ingin berhenti. Tahu begini, sejak awal Evan sudah meminta haknya kepada istrinya tersebut.Seketika wajah lelah S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status