Share

Bab 4

Author: Xaviera
Keduanya masuk ke dalam mobil sembari berbincang dan tertawa riang. Samuel bahkan dengan penuh perhatian membukakan pintu untuk Kamila, sembari menopang kepalanya agar tidak terbentur langit-langit mobil.

Sesampainya di restoran, Samuel menemaninya duduk di meja dekat jendela, lalu berinisiatif mengambil daftar menu.

"Steak-mu matang tiga perempat, pasta tanpa bawang putih, dan ganti red wine dengan air hangat ...."

Kamila menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap pria itu dengan senyum manis yang menguar penuh kebahagiaan.

"Kakak masih ingat selera makanku sedetail ini? Jangan-jangan setiap kita makan bersama, Kakak diam-diam memperhatikan dan mencari tahu tentangku, ya? Bahkan tanpa mencatatnya di ponsel pun, Kakak sudah hafal. Sebegitu perhatiannya padaku?"

"Ini cuma detail kecil, sekali dengar pun aku langsung ingat. Lagi pula kamu sedang sakit, tentu saja pola makanmu harus diperhatikan dengan baik."

Dari kejauhan, Frida mendengar setiap patah kata dari percakapan itu.

Rasa perih yang teramat sangat seketika menghunjam jauh ke dalam lubuk dadanya.

Jadi ... karena tidak mampu mengingatnya di dalam kepala, Samuel harus menuliskannya di dalam buku catatan?

Sementara untuk orang yang benar-benar dia pedulikan, cukup sekali mendengar gadis itu mengucapkannya, dan Samuel akan langsung menyimpannya di dalam hati.

Untuk pertama kalinya, Frida benar-benar menyadari bahwa perbedaan antara mencintai dan tidak mencintai, dapat terlihat begitu nyata dan gamblang.

Dia hanya bisa diam menyaksikan Samuel menata peralatan makan untuk Kamila, memotongkan steak untuknya, lalu mengambil selembar tisu untuk mengusap noda saus di sudut bibir gadis itu.

Setiap gerak-gerik Samuel terasa begitu lembut dan penuh perhatian, hingga membuat para pelayan di sana tak kuasa menyembunyikan rasa iri mereka.

"Wah, gadis itu beruntung sekali. Pacarnya tampan sekali dan sangat memanjakannya. Aku iri! Kapan ya, aku bisa dapat pacar setampan itu!"

"Lihat saja dari raut wajahnya, pria tampan itu pasti tipe yang dingin dan angkuh. Kalau dia nggak suka, dia pasti nggak akan memedulikan gadis itu. Makanya, dia cuma akan bersikap semanis itu pada pacarnya saja. Sudah, jangan mimpi kejauhan!"

Kata demi kata dari orang asing itu menghunjam dada Frida layaknya bilah pisau yang tajam, membuatnya sesak dan hampir tak bisa bernapas.

Seluruh tenaganya seolah terkuras habis dalam sekejap. Frida terpaksa bertumpu pada pegangan tangga agar tubuhnya tidak limbung.

Bahkan orang asing yang tidak saling kenal pun, bisa melihat bahwa Samuel memperlakukan Kamila dengan cara yang sangat istimewa.

Hanya dirinya seorang yang selama ini masih berkhayal, terus percaya bahwa pria itu pernah sungguh-sungguh mencintainya.

Namun, di dalam dunia sebuah novel, bukankah tokoh utama pria hanya akan selalu menjadi milik tokoh utama wanita? Dan karakter figuran selamanya hanya akan menjadi batu loncatan yang habis manis sepah dibuang, bukan?

Selama ini, dialah yang terus membohongi dirinya sendiri. Dia menggenggam erat sesuatu yang sejak awal bukan miliknya, dan menolak untuk melepaskannya.

Kini, wanita yang memang ditakdirkan untuk pria itu telah hadir. Sudah saatnya dia mundur.

Frida tersenyum tanpa suara, namun rongga mulutnya terasa penuh dengan kepahitan.

Dia tidak ingin berlama-lama di sana lagi. Dengan langkah kaki yang terasa hampa dan melayang, dia berbalik dan menuruni tangga.

Dia duduk sendirian di dalam mobil untuk waktu yang cukup lama, mencoba menarik dirinya keluar dari pusaran rasa sakit yang mencekik.

Setelah mengembuskan napas panjang, dia baru saja hendak menyalakan mesin mobil ketika sebuah truk tiba-tiba melaju kencang dari arah depan.

Sorot lampu depan yang begitu menyilaukan, membutakan pandangannya seketika, membuatnya tidak sempat menghindar.

Brak! Pyar!

Benturan keras terdengar memekakkan telinga. Mobilnya terlontar ke belakang dan menghantam dinding pembatas jembatan.

Dunia terasa berputar jungkir balik. Tubuh Frida terjepit di antara besi-besi bodi mobil yang telah ringsek.

Darah segar pekat mengalir deras, membasahi seluruh tubuhnya hingga berlumuran darah.

Rasa nyeri yang begitu hebat seolah membelah saraf dan tulang-tulangnya, membuat tubuhnya terus menggigil dan kejang menahan sakit.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dia meraba-raba ponselnya untuk menghubungi nomor darurat, namun operator terus-menerus memberikan nada sibuk.

Kesadarannya makin menipis dan memudar. Sembari menggigit bibir menahan sakit, Frida memencet nama Samuel.

Nada sambung berdering berulang kali di dalam mobil yang hancur itu.

Dia tidak ingin mati begitu saja di tempat ini. Dia terus mencoba menelepon Samuel, lagi, dan lagi, namun yang terdengar hanyalah pesan otomatis bahwa panggilan tidak dijawab.

Sampai akhirnya, kekuatannya benar-benar habis dan dia tak sadarkan diri. Sayup-sayup dia mendengar suara sirene ambulans yang mendekat.

...

Keesokan harinya, saat terbangun, Frida membuka matanya perlahan-lahan. Dia mendapati Samuel sedang duduk menjaga di sisi ranjang rumah sakit.

Melihat Frida telah siuman, Samuel menuangkan segelas air untuknya lalu berkata dengan suara rendah, "Semalam ada urusan yang sangat penting, jadi aku men-silent ponselku dan nggak tahu kalau kamu telepon. Maaf aku nggak bisa langsung datang kemari."

Mengapa ponselnya di-silent?

Apa karena dia ingin menikmati kencan romantisnya dengan Kamila tanpa ingin diganggu oleh siapa pun?

Frida menatap pria itu lekat-lekat, namun dia memilih untuk tidak membongkar kebohongan tersebut.

Dia hanya menyahut pelan, "Nggak apa-apa."

Selama tiga hari dirawat di rumah sakit, Samuel selalu datang setiap hari.

Pria itu menemaninya melakukan kontrol medis, menyiapkan makanan tiga kali sehari untuknya, dan berjaga di kamar rawat sepanjang malam tanpa pernah beranjak sedikit pun.

Seorang perawat yang sesekali datang untuk memeriksa kondisinya, bahkan tidak tahan untuk berbisik padanya dengan penuh rasa kagum, "Pacarmu perhatian sekali. Kamu nggak tahu, kondisimu sangat kritis malam itu, dokter bahkan sudah hampir menyerah setelah berjuang menyelamatkanmu sampai subuh. Begitu dia datang dan tahu situasinya, dia langsung turun tangan semalaman mencari profesor senior yang sudah pensiun untuk menanganimu. Bahkan mengusahakan donor darah dari seluruh kota. Berkat perjuangannya, kamu bisa selamat."

Mendengar cerita lengkap tentang proses penyelamatan dirinya untuk pertama kali, pandangan Frida membeku sesaat.

Samuel yang telah menyelamatkan nyawanya? Lalu mengapa pria itu tidak pernah menyinggung hal ini padanya?

Dia masih terlarut dalam keheranan ketika sang perawat beralih memberikan nasihat, "Pria yang tampan dan punya perasaan sedalam itu sudah jarang di dunia ini. Kamu harus cepat-cepat mengajaknya menikah, kalau nggak, bisa-bisa nanti dia direbut orang!"

Mendengar kata "menikah", pikiran Frida seketika berpaling dari apa yang baru saja dilakukan Samuel untuknya.

Bayangan tentang lima puluh dua kali kegagalannya saat hendak mengurus akta nikah, melintas kembali di benaknya. Sudut bibirnya melengkung, membentuk seulas senyum tipis yang terlihat lelah.

"Sudah dituliskan oleh takdir, kalau aku nggak akan bisa menikah dengannya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Terkubur   Bab 24

    Samuel bertahan di dalam mobil sepanjang malam. Keesokan harinya, dia menunggu satu hari penuh hingga akhirnya pada malam hari, dia melihat Frida dan Marsel keluar dari hotel.Frida tampak sangat bahagia sambil menggandeng tangan Marsel. Keintiman di antara keduanya, menciptakan atmosfer yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sepasang pria tampan dan wanita cantik itu, menjadi pusat perhatian di jalanan. Sementara Samuel hanya bisa bersembunyi di sudut yang gelap, mengintip kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.Jika saja dulu saat Kamila muncul, dia tidak membiarkan hatinya goyah dan tetap setia pada Frida, maka orang yang berdiri di samping wanita itu sekarang adalah dirinya. Dia telah kehilangan orang yang paling mencintainya hanya demi ego sesaat.Marsel sangat peka dengan sekitar. Menyadari ada yang mengintai, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan singkat. Lalu dia tetap bersikap biasa sambil menggandeng Frida, meski tubuhnya mendadak menegang waspad

  • Cinta yang Terkubur   Bab 23

    Samuel masih ingin melihat Frida untuk terakhir kalinya. Setelah mengetahui Frida dan Marsel sedang berbulan madu di luar negeri, dia langsung membeli tiket pesawat untuk menyusul.Namun begitu turun dari pesawat, dia menerima banyak pesan. Polisi telah menemukan jenazah Kamila. Karena rambut dan sidik jarinya ditemukan di lokasi kejadian, polisi bersiap menangkapnya dan mengirim pesan menyuruhnya menyerahkan diri.Samuel langsung mencopot kartu ponselnya dan membuangnya ke dalam toilet. Setelah melakukan penyamaran sederhana di kamar mandi, dia keluar dan memanggil taksi, lalu memberikan seonggok uang tunai kepada sopir untuk mengantarnya ke tempat penyewaan mobil ilegal. Melihat uang yang tebal, sopir taksi langsung mengantarnya ke sana. Setelah negosiasi singkat, dia berhasil mendapatkan mobil ilegal tanpa identitas. Dia memasukkan titik tujuan dan langsung berkendara menuju lokasi Frida...."Baik, saya paham. Jika melihatnya, saya akan langsung menghubungi polisi." Di tempat

  • Cinta yang Terkubur   Bab 22

    Samuel yang lukanya belum sembuh terpaksa mengurus masalah firma hukumnya dengan tubuh yang sakit. Setelah urusan selesai, karier yang dibangunnya bertahun-tahun hancur total, bahkan izin pengacaranya pun hampir dicabut.Dia terus menyelidiki dalang di balik semua ini hingga menerima sebuah rekaman video misterius. Dari sana dia tahu bahwa ini semua adalah ulah Kamila. Saat dia tertidur di rumah sakit, gadis itu membawa orang untuk mencuri data di ponselnya."Kamila, aku akan membunuhmu!" Pada saat ini, kebenciannya pada Kamila mencapai puncaknya.Dia baru keluar dari rumah sakit sebulan kemudian. Sejak tahu dalang di balik kehancurannya adalah Kamila, setiap hari dia merencanakan balas dendam. Setelah memikirkan berbagai cara selama sebulan, Samuel akhirnya memilih jalan yang paling cepat.Setelah membuntuti Kamila selama dua hari, dia memilih malam yang gelap untuk memukul gadis itu hingga pingsan. Memasukkannya ke dalam karung, lalu membawanya ke sebuah gudang tua yang sudah dia

  • Cinta yang Terkubur   Bab 21

    "Halo?" Suara Frida terdengar dari seberang telepon. Seketika Samuel merasa waktu seolah berjalan mundur, dan air matanya hampir menetes. "Frida, ini aku. Tolong jangan ditutup dulu, dengarkan penjelasanku, ya? Aku mimpi sesuatu, di dalam mimpi itu, kita berada di dalam sebuah buku." Samuel memohon dengan sangat rendah hati agar Frida mau mendengarkannya.Di seberang sana, Frida yang mendengar suara Samuel, sebenarnya berniat langsung menutup telepon. Namun, mendengar perkataan pria itu, dia mengurungkan niatnya. Dia tiba-tiba teringat, jika hal ini ketahuan oleh Marsel, dia pasti harus memutar otak lagi untuk membujuk suaminya yang sangat mudah cemburu itu. Setelah pernikahan selesai waktu itu saja, dia butuh waktu lama untuk menenangkan Marsel di rumah. Pria itu bahkan terus menggunakan masalah itu untuk bermanja-manja dan meminta perhatiannya, hingga rencana bulan madu mereka harus tertunda lama karena ulah manjanya setiap hari."Frida, apa kamu juga mimpi hal yang sama? Di dal

  • Cinta yang Terkubur   Bab 20

    Saat Samuel terbangun, Kamila sudah tidak ada. Setelah mengurus administrasi keluar dari rumah sakit, dia langsung naik taksi untuk pulang. Langit tampak mendung pekat dan angin kencang menggulung awan hitam, pertanda badai besar akan segera datang. Saat melewati sebuah persimpangan, sebuah truk yang hilang kendali tiba-tiba menghantam taksi yang ditumpangi Samuel.Samuel merasa tubuhnya seperti diguncang hebat dalam mesin cuci, sementara pecahan kaca menyayat wajahnya. Pandangannya berputar sebelum akhirnya dia terjebak di bawah badan mobil. Mobil itu mulai memercikkan api dan tercium bau bensin yang menyengat, tetapi karena terluka parah, dia tidak bisa bersuara. Orang-orang yang melintas segera menelepon ambulans dan polisi, sementara beberapa warga yang baik hati berusaha menolong.Hujan deras mulai turun membasahi wajahnya. Dalam hati, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu akrab dengan rumah sakit belakangan ini. Jalanan menjadi sangat kacau, pecahan kaca berserakan,

  • Cinta yang Terkubur   Bab 19

    Setibanya di Kota Kiskan, Samuel segera menyelidiki peristiwa yang terjadi belakangan ini. Melihat dokumen di tangannya, dia merasa sangat kesepian. Baru sekarang dia menyadari betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Melihat foto pernikahan Frida yang didapatnya dari orang lain, serta senyum bahagia di wajah wanita itu, penyesalan mendalam merayapi hati Samuel. Kebahagiaan itu seharusnya menjadi miliknya.Setelah mengirimkan pesan pemecatan Kamila ke firma hukumnya, dia mengurung diri di rumah dan minum alkohol sepanjang hari untuk melupakan kesedihan.Hingga suatu hari, rekan kerjanya di firma hukum tidak bisa menghubunginya. Saat mendatangi rumah Samuel, rekan kerjanya menemukan Samuel sudah tidak sadarkan diri akibat keracunan alkohol. Karena panik, rekannya segera menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.Saat terbangun, Samuel hanya bisa menatap kosong dinding ruang rawat yang putih. Dulu, setiap kali dia sakit dan dirawat, Frida selalu sibuk mengurus dan meraw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status