Share

Bab 3

Penulis: Xaviera
Seketika itu juga, Frida merasa dadanya seperti dihantam sesuatu yang berat hingga membuatnya sesak.

Urusan pernikahan yang menyangkut sisa hidupnya, di mata pria itu, ternyata sama sekali tidak penting?

Pantas saja, pantas saja Samuel bisa berkali-kali mengabaikannya demi Kamila.

Sementara itu, orang-orang di dalam ruangan justru tertawa mendengar jawaban Samuel dan terus berseloroh.

"Benar juga, siapa yang nggak tahu kalau Frida cinta mati sama Samuel. Jangankan puluhan kali, diabaikan seratus kali pun, dia pasti akan menerimanya dengan lapang dada!"

"Dulu waktu di kampus, demi ngejar Samuel, Frida menyatakan cintanya di depan seluruh mahasiswa. Ke mana pun Samuel pergi, Frida pasti membuntutinya. Surat cintanya bahkan ditolak ratusan kali sampai kampus-kampus tetangga tahu semua. Samuel terpaksa menerimanya karena sudah kehabisan cara untuk menghindar!"

"Dulu aku merasa sifat Samuel terlalu dingin, tapi setelah dengar cerita ini, bersikap dingin itu ada bagusnya. Kalau nggak, bayangkan saja dikejar-kejar oleh orang yang nggak kamu suka, aku pasti nggak akan tahan walau semenit pun. Tapi kamu bisa bertahan selama delapan tahun! Sekarang aku paham, kenapa kamu selalu mencari alasan untuk menunda pernikahan. Kalau sampai benar-benar menikah dengannya, kamu nggak akan bisa lepas seumur hidup!"

Mendengar gunjingan itu, warna merah di wajah Frida perlahan memudar.

Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, telapak tangannya bahkan terkoyak oleh kukunya sendiri hingga hampir berdarah.

Namun, dia seolah mati rasa terhadap rasa sakit itu. Matanya terus menatap Samuel tanpa berkedip, menunggu jawaban dari pria itu.

Namun, Samuel sama sekali tidak memberikan pembelaan. Dia hanya melirik jam di ponselnya dan bertanya dengan nada acuh, "Jam berapa sekarang?"

"Jam delapan. Frida bilang setengah jam yang lalu dia mau datang menjemputmu, seharusnya dia sudah hampir sampai."

Samuel mengangguk, mengambil ponselnya lalu bangkit berdiri untuk pergi.

Seorang pengacara yang biasanya dekat dengannya, khawatir Samuel akan terjatuh, sehingga dia memapahnya sembari menasihati dengan suara rendah, "Samuel, kalau kamu memang benar-benar nggak mau menikah dengannya, bicarakan saja baik-baik pada Frida. Dia pasti paham kalau cinta yang dipaksakan nggak akan berujung bahagia."

Mendengar langkah kaki yang mendekat, reaksi pertama Frida adalah berbalik dan bersembunyi.

Dia bergegas turun ke lantai bawah. Embusan angin malam yang menerpa wajahnya membuat kepalanya yang pening dan kacau menjadi sedikit lebih jernih.

Dia menekan kuat-kuat gelombang kesedihan yang nyaris meremukkan dadanya, merapikan ekspresi wajahnya, lalu berbalik kembali.

Samuel tampak berjalan keluar dengan dipapah. Begitu melihat Frida berdiri di depan pintu, raut wajahnya sempat membeku sesaat sebelum akhirnya kembali datar seperti semula.

Dia menyerahkan kunci mobil ke telapak tangan Frida. Saat bicara, mulutnya menyiratkan aroma alkohol yang kental.

"Maaf sampai kamu harus datang kemari. Terima kasih."

Sikapnya yang dingin dan berjarak itu, persis seperti seseorang yang tengah mengucapkan terima kasih kepada sopir pengganti.

Frida tidak tahu harus merespons apa, dia hanya menundukkan kepala dan mengambil kunci tersebut dalam diam.

Setelah masuk ke dalam mobil, suasana di dalam kabin terasa sangat sunyi. Samuel bersandar pada jendela dengan mata terpejam, tampaknya sedang tertidur.

Frida mencengkeram kemudi erat-erat, sementara isi kepalanya terus memutar ulang kata-kata yang dia dengar malam ini.

Saat lampu merah menyala, Frida menghentikan mobilnya. Tepat ketika dia hendak membuka mulut untuk berbicara, ponsel Samuel tiba-tiba berdering nyaring.

Tak lama kemudian, suara manja Kamila terdengar dari pelantang telepon.

"Kak, makanan di rumah sakit nggak enak banget, aku nggak nafsu makan. Apa Kakak bisa mengajakku makan makanan Barat? Kalau nutrisiku kurang, lukaku nggak akan kunjung sembuh dan aku harus dirawat di sini lebih lama lagi."

Mendengar keluhan manja itu, Samuel yang semula tampak pening akibat mabuk, langsung menegakkan tubuhnya. Dia mengiyakan ucapan gadis itu, mematikan sambungan telepon, lalu menoleh ke arah Frida.

"Pinggirkan mobilnya, ada urusan yang harus kuselesaikan."

Frida mendengar setiap detail percakapan mereka dan tahu persis apa yang ingin pria itu lakukan.

Dia menepikan mobil, terdiam selama beberapa detik, lalu menyahut dengan suara parau, "Mau pergi ke mana? Biar aku antarkan."

Samuel melepas sabuk pengamannya dan menggelengkan kepala.

"Nggak perlu, aku bisa naik taksi saja. Kamu pulang lebih awal dan langsung istirahat saja, malam ini aku mungkin pulang sangat larut. Nggak perlu menungguku."

Apa pria itu memang benar-benar tidak ingin merepotkannya, ataukah dia hanya tidak ingin Frida mengantarnya karena takut rahasianya terbongkar?

Frida sangat ingin menanyakan hal itu secara langsung. Namun sebelum dia sempat bersuara, Samuel sudah mendorong pintu mobil dan melangkah keluar.

Setelah melihat pria itu menaiki taksi dan pergi, Frida pun segera menyalakan mesin mobilnya dan membuntuti dari belakang.

Taksi tersebut melaju cepat menuju rumah sakit. Kamila rupanya sudah menunggu di depan pintu masuk dengan pakaian yang tampak sangat tipis.

Begitu turun dari taksi, Samuel langsung melepaskan mantelnya dan menyampirkannya ke tubuh gadis itu. Suaranya terdengar datar, tetapi menyiratkan perhatian yang begitu tulus.

"Cuaca sedang dingin begini, kenapa pakai baju tipis sekali? Bagaimana kalau kamu masuk angin?"

Kamila tersenyum manis sembari merapatkan mantel tersebut, lalu menggandeng lengan Samuel dengan begitu akrab.

"Kakak bahkan rela ke sini dan menemaniku makan malam romantis saat sedang mabuk begini. Tentu saja aku harus dandan secantik mungkin, kalau nggak, bukannya aku akan menyia-nyiakan niat baik Kakak?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta yang Terkubur   Bab 24

    Samuel bertahan di dalam mobil sepanjang malam. Keesokan harinya, dia menunggu satu hari penuh hingga akhirnya pada malam hari, dia melihat Frida dan Marsel keluar dari hotel.Frida tampak sangat bahagia sambil menggandeng tangan Marsel. Keintiman di antara keduanya, menciptakan atmosfer yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sepasang pria tampan dan wanita cantik itu, menjadi pusat perhatian di jalanan. Sementara Samuel hanya bisa bersembunyi di sudut yang gelap, mengintip kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.Jika saja dulu saat Kamila muncul, dia tidak membiarkan hatinya goyah dan tetap setia pada Frida, maka orang yang berdiri di samping wanita itu sekarang adalah dirinya. Dia telah kehilangan orang yang paling mencintainya hanya demi ego sesaat.Marsel sangat peka dengan sekitar. Menyadari ada yang mengintai, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan singkat. Lalu dia tetap bersikap biasa sambil menggandeng Frida, meski tubuhnya mendadak menegang waspad

  • Cinta yang Terkubur   Bab 23

    Samuel masih ingin melihat Frida untuk terakhir kalinya. Setelah mengetahui Frida dan Marsel sedang berbulan madu di luar negeri, dia langsung membeli tiket pesawat untuk menyusul.Namun begitu turun dari pesawat, dia menerima banyak pesan. Polisi telah menemukan jenazah Kamila. Karena rambut dan sidik jarinya ditemukan di lokasi kejadian, polisi bersiap menangkapnya dan mengirim pesan menyuruhnya menyerahkan diri.Samuel langsung mencopot kartu ponselnya dan membuangnya ke dalam toilet. Setelah melakukan penyamaran sederhana di kamar mandi, dia keluar dan memanggil taksi, lalu memberikan seonggok uang tunai kepada sopir untuk mengantarnya ke tempat penyewaan mobil ilegal. Melihat uang yang tebal, sopir taksi langsung mengantarnya ke sana. Setelah negosiasi singkat, dia berhasil mendapatkan mobil ilegal tanpa identitas. Dia memasukkan titik tujuan dan langsung berkendara menuju lokasi Frida...."Baik, saya paham. Jika melihatnya, saya akan langsung menghubungi polisi." Di tempat

  • Cinta yang Terkubur   Bab 22

    Samuel yang lukanya belum sembuh terpaksa mengurus masalah firma hukumnya dengan tubuh yang sakit. Setelah urusan selesai, karier yang dibangunnya bertahun-tahun hancur total, bahkan izin pengacaranya pun hampir dicabut.Dia terus menyelidiki dalang di balik semua ini hingga menerima sebuah rekaman video misterius. Dari sana dia tahu bahwa ini semua adalah ulah Kamila. Saat dia tertidur di rumah sakit, gadis itu membawa orang untuk mencuri data di ponselnya."Kamila, aku akan membunuhmu!" Pada saat ini, kebenciannya pada Kamila mencapai puncaknya.Dia baru keluar dari rumah sakit sebulan kemudian. Sejak tahu dalang di balik kehancurannya adalah Kamila, setiap hari dia merencanakan balas dendam. Setelah memikirkan berbagai cara selama sebulan, Samuel akhirnya memilih jalan yang paling cepat.Setelah membuntuti Kamila selama dua hari, dia memilih malam yang gelap untuk memukul gadis itu hingga pingsan. Memasukkannya ke dalam karung, lalu membawanya ke sebuah gudang tua yang sudah dia

  • Cinta yang Terkubur   Bab 21

    "Halo?" Suara Frida terdengar dari seberang telepon. Seketika Samuel merasa waktu seolah berjalan mundur, dan air matanya hampir menetes. "Frida, ini aku. Tolong jangan ditutup dulu, dengarkan penjelasanku, ya? Aku mimpi sesuatu, di dalam mimpi itu, kita berada di dalam sebuah buku." Samuel memohon dengan sangat rendah hati agar Frida mau mendengarkannya.Di seberang sana, Frida yang mendengar suara Samuel, sebenarnya berniat langsung menutup telepon. Namun, mendengar perkataan pria itu, dia mengurungkan niatnya. Dia tiba-tiba teringat, jika hal ini ketahuan oleh Marsel, dia pasti harus memutar otak lagi untuk membujuk suaminya yang sangat mudah cemburu itu. Setelah pernikahan selesai waktu itu saja, dia butuh waktu lama untuk menenangkan Marsel di rumah. Pria itu bahkan terus menggunakan masalah itu untuk bermanja-manja dan meminta perhatiannya, hingga rencana bulan madu mereka harus tertunda lama karena ulah manjanya setiap hari."Frida, apa kamu juga mimpi hal yang sama? Di dal

  • Cinta yang Terkubur   Bab 20

    Saat Samuel terbangun, Kamila sudah tidak ada. Setelah mengurus administrasi keluar dari rumah sakit, dia langsung naik taksi untuk pulang. Langit tampak mendung pekat dan angin kencang menggulung awan hitam, pertanda badai besar akan segera datang. Saat melewati sebuah persimpangan, sebuah truk yang hilang kendali tiba-tiba menghantam taksi yang ditumpangi Samuel.Samuel merasa tubuhnya seperti diguncang hebat dalam mesin cuci, sementara pecahan kaca menyayat wajahnya. Pandangannya berputar sebelum akhirnya dia terjebak di bawah badan mobil. Mobil itu mulai memercikkan api dan tercium bau bensin yang menyengat, tetapi karena terluka parah, dia tidak bisa bersuara. Orang-orang yang melintas segera menelepon ambulans dan polisi, sementara beberapa warga yang baik hati berusaha menolong.Hujan deras mulai turun membasahi wajahnya. Dalam hati, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu akrab dengan rumah sakit belakangan ini. Jalanan menjadi sangat kacau, pecahan kaca berserakan,

  • Cinta yang Terkubur   Bab 19

    Setibanya di Kota Kiskan, Samuel segera menyelidiki peristiwa yang terjadi belakangan ini. Melihat dokumen di tangannya, dia merasa sangat kesepian. Baru sekarang dia menyadari betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Melihat foto pernikahan Frida yang didapatnya dari orang lain, serta senyum bahagia di wajah wanita itu, penyesalan mendalam merayapi hati Samuel. Kebahagiaan itu seharusnya menjadi miliknya.Setelah mengirimkan pesan pemecatan Kamila ke firma hukumnya, dia mengurung diri di rumah dan minum alkohol sepanjang hari untuk melupakan kesedihan.Hingga suatu hari, rekan kerjanya di firma hukum tidak bisa menghubunginya. Saat mendatangi rumah Samuel, rekan kerjanya menemukan Samuel sudah tidak sadarkan diri akibat keracunan alkohol. Karena panik, rekannya segera menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.Saat terbangun, Samuel hanya bisa menatap kosong dinding ruang rawat yang putih. Dulu, setiap kali dia sakit dan dirawat, Frida selalu sibuk mengurus dan meraw

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status