Share

Bab 2

Author: Summer
Manda adalah putri sulung Keluarga Kusnadi, cinta pertama Aston. Keduanya berasal dari keluarga yang setara, cocok dalam segala hal, dan diakui sebagai pasangan paling serasi di kalangan sosialita.

Tiga tahun lalu, keduanya bersiap untuk menikah. Namun, saat menjalani pemeriksaan pranikah, diketahui bahwa Manda tidak mampu memiliki anak.

Bagi keluarga Aston yang merupakan salah satu keluarga konglomerat papan atas, keturunan adalah hal yang paling utama. Karena itu, Keluarga Dananta dengan tegas menentang pernikahan mereka.

Namun, Aston sangat mencintai Manda dan bersikeras ingin menikahinya. Keluarga Dananta mulai menekan bisnis Keluarga Kusnadi habis-habisan. Pada akhirnya, Keluarga Kusnadi tidak mampu menahan tekanan itu dan Manda mengakhiri hubungannya dengan Aston.

Setelah putus, Aston mulai sering mengikuti kencan buta, tetapi dia tidak menyukai satu pun wanita yang ditemuinya.

Hingga pada akhirnya, dia bertemu Summer, wanita yang terkenal sebagai wanita terjelek di kalangan sosialita.

Sejak saat itu, semuanya menjadi jelas. Dia menikahi Summer bukan karena Summer memiliki sesuatu yang istimewa, apalagi karena dia melihat kecantikan hatinya.

Itu hanya karena di antara semua wanita yang dikenalkan kepadanya, Summer adalah yang paling tidak layak, paling memalukan untuk dibawa ke depan orang lain, paling bisa mempermalukan Keluarga Dananta, sekaligus alat yang paling efektif untuk membuat orang tua Aston marah dan terpaksa berkompromi.

Dia sengaja menikahi wanita jelek hanya untuk menunjukkan pembangkangan kepada keluarga, memaksa mereka berkompromi dan menyetujui Manda masuk ke keluarga mereka!

Summer menatap tulisan di ponselnya, lalu tiba-tiba tertawa. Semakin dia tertawa, semakin deras air matanya jatuh.

Rasa sakit seperti jaring raksasa yang membelitnya erat, makin lama makin kencang, seolah hampir mencekiknya sampai mati.

Ibunya berkata bahwa terlalu cantik akan membuat seorang wanita ditipu. Sayangnya, meski dia menyamarkan kecantikannya, dia tetap saja ditipu. Dia bahkan ditipu dengan lebih kejam, lebih konyol, dan lebih menyedihkan!

Kebahagiaan yang selama ini dia kira telah dimilikinya selama tiga tahun ternyata hanyalah sebuah sandiwara yang dirancang dengan sangat cermat.

Dia hanyalah alat yang digunakan Aston untuk menunjukkan pembangkangan kepada keluarganya, hanyalah bidak yang digunakan Aston untuk menunjukkan cintanya kepada Manda.

Dia mengira telah menemukan cahaya, tetapi tidak tahu bahwa cahaya itu hanyalah pantulan cermin yang digunakan orang lain untuk menerangi tempat lain.

Summer duduk di ruang rawat dan menangis lama sekali. Kemudian, dia menghapus air matanya, mengambil ponsel, dan menelepon ibu Aston.

Suaranya terdengar tenang saat berkata, "Aku ingin cerai dengan Aston."

Di ujung telepon, suasana hening selama beberapa detik.

"Apa katamu?!" Suara ibu Aston meninggi, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Summer, dengan wajah seperti itu, kamu masih berani mengajukan cerai lebih dulu? Kamu tahu berapa banyak wanita di kalangan sosialita yang rela melakukan apa saja demi menikah dengan Aston?"

"Seperti apa penampilanku, itu nggak ada hubungannya denganmu," kata Summer. "Aku sudah memutuskan untuk bercerai. Kalau Keluarga Dananta nggak setuju, aku akan mencari pengacara dan menempuh jalur hukum. Kalau masalah ini menjadi besar, nggak akan ada yang diuntungkan."

Ibu Aston sangat marah di ujung telepon, tetapi Summer bisa mendengar sedikit kelegaan tersembunyi dan ketergesaan dalam nada bicaranya.

Benar saja, sejak awal ibu Aston memang tidak menyukai menantu "jelek" sepertinya. Dia pasti berharap Summer segera pergi agar tempatnya bisa diberikan kepada para wanita dari keluarga terpandang yang lebih cantik dan lebih pantas.

Dalam hatinya, Manda tidak pantas untuk Aston, apalagi Summer!

"Oke!" Pada akhirnya, ibu Aston mengambil keputusan. "Soal perceraian, akan kuurus untukmu. Tunggu beberapa hari lagi."

Setelah menutup telepon, Summer menarik napas dalam-dalam. Dia langsung mengurus kepulangannya dari rumah sakit, lalu pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, hal pertama yang dilakukannya adalah membuang barang-barang. Dia mengeluarkan semua barang yang pernah diberikan Aston kepadanya selama bertahun-tahun. Kalung, gelang, cincin, tas, semuanya dibuang ke tempat sampah.

Dia seolah sedang membuang kebodohannya selama tiga tahun terakhir.

Beberapa hari kemudian, Aston pulang. Luka bakar di punggungnya belum sepenuhnya sembuh. Gerakannya sedikit lebih lambat, tetapi dia masih mengenakan setelan jas yang rapi. Posturnya tetap tegap dan wajahnya tetap tampan.

"Kenapa duduk di sini?" tanyanya dengan nada lembut seperti biasanya. "Pelayan bilang beberapa hari ini kamu hampir nggak makan apa-apa."

Summer mengangkat kepala dan menatapnya. Dulu setiap kali melihat wajah ini, jantungnya akan berdebar kencang dan wajahnya memerah karena malu. Namun sekarang, ketika melihatnya lagi, yang dia rasakan hanyalah asing dan dingin.

Aston sepertinya tidak menyadari perubahan dalam tatapannya. Atau mungkin, dia memang tidak pernah benar-benar memperhatikan tatapan Summer.

Dia melirik kalender di dinding, lalu meraih tangan Summer. "Kamu bad mood karena aku nggak pulang menemanimu ya? Hari ini ulang tahunmu. Aku sudah minta orang siapkan pesta makan malam di hotel paling mewah di pusat kota. Mumpung masih ada waktu, gimana kalau aku mengajakmu memilih gaun dulu?"

Jika dulu mendengar Aston mengingat hari ulang tahunnya dan bahkan menyiapkan pesta makan malam khusus untuknya, Summer mungkin akan sangat bahagia sampai tidak tahu harus berbuat apa.

Namun sekarang, hatinya hanya dipenuhi kekosongan dan tawa dingin. Meski begitu, dia tidak membongkar semuanya.

"Oke," jawabnya pelan.

Aston mengemudikan mobil dan membawanya ke sebuah butik kelas atas.

Setibanya mereka di sana, ponsel Aston berdering.

"Kamu pilih dulu yang kamu suka, aku angkat telepon." Setelah berkata demikian, dia berjalan ke samping.

Summer tidak memedulikannya dan naik ke lantai atas untuk memilih gaun. Dia tertarik pada sebuah gaun panjang berwarna sampanye yang sederhana dan elegan.

"Yang ini, tolong bungkuskan untukku," katanya kepada pegawai butik.

"Aku mau gaun ini." Suara wanita yang lembut tiba-tiba terdengar dari belakang.

Summer menoleh. Saat melihat wanita yang berbicara itu, sekujur tubuhnya seketika terasa dingin. Itu Manda.

Wajah cerah dan menawan yang terlihat bersandar di sisi Aston di dalam foto, kini benar-benar terpampang di hadapannya.

Dia mengenakan setelan berwarna putih gading, rambut panjang sedikit bergelombang, riasan yang sempurna, dan tatapan yang menyiratkan rasa superioritas. Saat ini, dia sedang menatap gaun berwarna sampanye di tangan Summer dengan senyuman tipis yang sulit ditebak.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 22

    Menjelang senja, Aston akhirnya tiba di tempat pengungsian sementara di sebuah kota kecil dekat pusat gempa. Dia menghentikan setiap orang yang lewat dan bertanya dengan suara serak apakah mereka pernah melihat seorang gadis bernama Summer. Tinggi, berkulit putih, cantik, dan memiliki mata yang sangat cerah.Sebagian besar orang menggeleng kebingungan.Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh debu menunjuk ke arah pos medis sementara di kejauhan."Di sana. Sepertinya ada gadis cantik yang sedang membantu membagikan barang ...."Jantung Aston berdegup kencang. Dia langsung berbalik dan berlari ke sana.Kerumunan di depan pos medis terlihat cukup tertib. Beberapa relawan sedang membagikan air mineral dan makanan sederhana.Aston langsung melihat Summer.Summer sedang berjongkok di depan seorang gadis kecil yang terisak pelan. Sambil memegang sebungkus biskuit, dia mengatakan sesuatu dengan suara lembut. Ekspresinya begitu sabar dan penuh kelembutan.Langkah Aston men

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 21

    Tepuk tangan kembali bergemuruh, diselingi seruan kagum.Aston naik ke panggung untuk menerima barang lelang yang dimenangkannya. Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan sang desainer. Dia berjalan ke hadapan Summer. Cahaya lampu panggung terasa menyilaukan.Aston mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin dan sedikit gemetar. Tangan Summer terasa hangat dan kering. Dia menjabatnya sebentar, lalu segera melepaskannya.Senyum sopan tersungging di bibir Summer, pas dan tanpa cela."Terima kasih atas dukungan Pak Aston terhadap kegiatan amal." Suaranya tenang, sopan, tetapi berjarak.Aston menatapnya dalam-dalam. Jakunnya bergerak naik turun.Ribuan kata menyesaki dadanya dan membakar tenggorokannya, tetapi pada akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat, "Desainmu ... sangat indah.""Selamat.""Terima kasih." Senyum Summer tidak berubah. Dia mengangguk kecil.Setelah seluruh prosesi selesai, mereka turun dari panggung. Lorong menuju belakang panggung cukup sempit. Dengan arahan s

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 20

    Kompetisi desain perhiasan internasional bergengsi akhirnya dimulai.Sang juara akan mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan merek mewah papan atas, sebuah batu loncatan yang diimpikan para desainer dari seluruh dunia.Summer melihat pengumuman penerimaan karya untuk kompetisi tersebut. Dia menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama, lalu menutup halaman itu dan kembali melanjutkan ukiran kayu yang belum selesai di tangannya.Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah rancangan desain yang telah dipersiapkan dengan sangat serius.Beberapa bulan berlalu, daftar peserta yang berhasil masuk ke babak final akhirnya diumumkan. Nama "Solstice" terpampang jelas di dalam daftar tersebut.Desainnya yang memadukan nuansa oriental yang khas dengan dekonstruksi modern berhasil memukau seluruh juri pada tahap penilaian awal.Divisi investasi barang mewah di bawah Grup Dananta merupakan salah satu sponsor utama kompetisi kali ini. Pihak penyelenggara berkali-kali mengirimkan permohonan, berh

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 19

    Dia menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar tanpa terkendali.Edric memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Aston. Dia belum pernah melihat Aston seperti ini. Rapuh, putus asa, seolah-olah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.Kebiasaan minum berlebihan dalam waktu lama, insomnia, gejolak emosi yang ekstrem, ditambah luka di lengannya yang terus mengalami infeksi dan tidak mendapat perawatan yang semestinya, akhirnya membuat tubuh Aston mencapai batasnya.Dalam sebuah konferensi video bersama jajaran petinggi perusahaan, Aston sedang mendengarkan laporan bawahannya ketika tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas hebat. Rasa anyir mendadak memenuhi tenggorokannya.Detik berikutnya, di bawah tatapan ngeri semua orang, dia tiba-tiba memalingkan kepala dan memuntahkan darah berwarna gelap ke atas meja rapat yang mengilap."Pak Aston!"Ruang rapat seketika kacau.Aston segera dilarikan ke rumah sakit.Hasil pemeriksaan pun sege

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 18

    Seluruh tubuh Aston seketika membeku. Rasanya seperti seember air es disiramkan tepat ke tubuhnya, membuat hawa dingin menjalar dari kepala hingga ujung kaki.Dia menatap Summer dengan tidak percaya. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat daripada akibat kehilangan banyak darah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang mampu keluar."Kali ini kamu menerima satu sabetan pisau," kata Summer sambil menatapnya. Tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya, yang ada hanya ketidakpedulian yang dingin dan hampa. "Lalu lain kali? Apa kamu harus menyerahkan nyawamu kepadaku baru merasa semuanya cukup?""Aston, cintamu datang terlambat dan juga terlalu berat."Dia berhenti sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan serpihan es tajam yang menghunjam dalam ke jantung Aston. "Aku nggak sanggup menerimanya."Setelah mengatakan itu, Summer tidak lagi menatapnya. Dia juga tidak melihat lengan Aston yang sedikit gemetar akibat kata-katanya dan masih terus mengucurkan darah.Summer menop

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 17

    Tatapan Aston bahkan tidak bergerak sedikit pun saat dia menjawab dengan tegas, "Nggak mungkin. Selain dia, aku nggak menginginkan siapa pun.""Hahaha!" Manda tertawa histeris, tetapi tatapan matanya justru semakin dipenuhi kegilaan. "Bagus! Benar-benar cinta yang begitu dalam dan setia!""Kalau begitu, aku akan menghancurkan wajahnya dulu! Aku mau lihat apakah kamu masih mencintainya setelah dia berubah menjadi wanita buruk rupa!""Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja," ucap Aston dengan mata yang memerah karena murka. Setiap katanya seolah diucapkan dengan paksa, "Aku akan membuat hidupmu lebih menderita daripada mati."Sambil berbicara, dia perlahan-lahan menggeser langkahnya ke depan tanpa menarik perhatian Manda.Emosi Manda sudah sepenuhnya lepas kendali. Tangannya yang menggenggam pisau gemetar hebat, sementara tatapannya tampak liar. "Kalau begitu, coba saja! Lihat saja aku berani atau nggak!"Belum selesai Manda berbicara, dia mengerahkan tenaga pada pergelangan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status