Share

Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu
Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu
Author: Summer

Bab 1

Author: Summer
Sebelum meninggal, sang ibu menggenggam tangan Summer yang baru berusia 10 tahun. Menatap wajah putrinya yang meski masih kecil sudah menunjukkan kecantikan luar biasa, sang ibu mengerahkan sisa tenaganya untuk berpesan.

"Summer ... ingat pesan Ibu ... terlalu cantik bisa membuatmu ditipu laki-laki dan ujung-ujungnya malah menderita .... Kamu harus melindungi dirimu sendiri .... Sembunyikan wajahmu baik-baik ...."

Summer mengingatnya. Sejak saat itu, dia mulai menyamarkan penampilannya. Poninya makin tebal, kacamatanya pun makin berat. Dia selalu mengenakan pakaian dengan warna yang paling tidak mencolok.

Ayahnya mencarikan banyak pria untuk dikenalkan kepadanya, tetapi semuanya kabur karena tidak tahan melihat wajahnya yang jelek.

Pada kencan buta yang ke-100, Summer duduk di sebuah kafe. Di hadapannya ada seorang pria yang mengenakan setelan jas rapi. Saat melihat sosok Summer, pria itu langsung mengernyit.

"Summer," katanya dengan nada jijik yang sama sekali tak disembunyikan. "Mak comblangnya nggak bilang padaku kalau penampilanmu ... seperti ini."

Summer menunduk tanpa berkata apa-apa.

"Sejujurnya, dengan penampilan seperti ini ... gimana kamu berani pergi kencan buta?" Pria itu mencibir. "Siapa yang mau nikah sama kamu?"

Summer menggenggam cangkir kopinya erat-erat.

Pria itu mengangkat cangkirnya sendiri, lalu tiba-tiba menyiramkan kopi ke wajahnya. "Sekalian saja biar makeup-mu luntur. Lebih cocok denganmu."

Cairan dingin mengalir di pipinya. Bedaknya luntur, memperlihatkan kulit putih di baliknya. Summer mengangkat kepala dan hendak berdiri ....

Brak! Sebuah tangan panjang dan ramping sontak terulur dari samping, mencengkeram pergelangan tangan pria itu dan memelintirnya dengan kuat.

"Aaah!" Pria itu menjerit kesakitan.

"Minta maaf." Suara rendah dan dingin terdengar.

Summer menoleh dan melihat seorang pria mengenakan setelan jas yang dibuat khusus. Pria itu sangat tinggi dengan postur tegap. Alis dan matanya tegas, hidungnya mancung, bibir tipisnya terkatup rapat.

Seluruh dirinya memancarkan aura dingin dan berkelas. Saat ini, dia masih mencengkeram pergelangan tangan pria tadi. Tatapannya sedingin es.

"Siapa kamu?" Pria itu meronta.

"Minta maaf." Dia mengulanginya sekali lagi. Suaranya tidak keras, tetapi mengandung tekanan yang tak bisa dibantah.

Pria itu gentar oleh auranya. Dengan tubuh gemetar, dia meminta maaf kepada Summer, lalu kabur dengan tergesa-gesa.

Pria baik itu mengibaskan tangannya, mengeluarkan saputangan dari saku jas, dan menyerahkannya kepada Summer. "Lap."

Summer menerima saputangan itu dengan tatapan kosong.

"Seorang wanita nggak seharusnya diperlakukan seperti ini." Dia menatap Summer dengan tenang. "Kalau lain kali ada kejadian seperti ini, langsung lapor polisi."

Setelah berkata demikian, dia berbalik dan pergi.

Summer berdiri di tempatnya, memandangi punggung tegap pria itu hingga menghilang di balik pintu kafe. Jantungnya berdebar kencang.

Dia mengingat pria itu. Setelah pulang, dia mulai menyelidikinya.

Namanya Aston, pewaris termuda Grup Dananta. Di usia 26 tahun, dia sudah memimpin perusahaan keluarganya selama tiga tahun. Cara bertindaknya tegas dan kemampuannya luar biasa. Dia diakui sebagai pria sempurna di kalangan sosialita.

Yang lebih langka lagi, kehidupan pribadinya bersih dan tidak pernah tersandung skandal apa pun.

Summer pun mulai terpikat. Namun, sebelum dia sempat memikirkan bagaimana cara mendekatinya, Aston justru datang mencarinya terlebih dahulu.

"Summer, aku ingin menikah denganmu," katanya dengan terus terang saat duduk di ruang tamu rumah Summer.

Summer tertegun.

"Kenapa aku?" tanyanya. "Aku ... nggak cantik."

Aston menatapnya dengan tenang. "Penampilan nggak penting. Menurutku, kamu ... sangat cocok."

Cocok. Kata itu tidak terdengar romantis, tetapi ketika keluar dari mulutnya, jantung Summer justru berdebar semakin cepat.

Ibunya pernah berkata, terlalu cantik akan membuat seorang wanita ditipu laki-laki. Kini, meski dia sengaja menyamarkan kecantikannya, pria ini justru ingin menikahinya. Dia berpikir, mungkin dia telah bertemu dengan orang yang tepat.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, Aston memperlakukannya dengan sangat baik. Dia tidak pernah merasa jijik dengan penampilan Summer. Sebaliknya, ketika orang lain membicarakan penampilan Summer, dia akan menggenggam tangannya dengan lembut sambil berkata, "Summer, kamu sangat baik."

Summer menyukai desain, jadi Aston berinvestasi untuk membuka sebuah studio desain untuknya. Lambung Summer kurang sehat, jadi Aston mengingat makanan yang harus dihindarinya. Setiap kali pulang dari acara jamuan, Aston selalu membawakan semangkuk bubur hangat untuknya.

Saat ulang tahun Summer, sesibuk apa pun Aston, dia tetap akan membatalkan pekerjaannya untuk menemani Summer seharian.

Bahkan pernah suatu kali Summer mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya terbalik dan masuk ke parit, bahkan bisa meledak kapan saja. Aston tetap mendekat tanpa memedulikan keselamatannya sendiri. Dia membuka pintu mobil yang ringsek dengan tangan kosong, lalu menarik Summer ke luar mobil.

Belum sepuluh meter mereka menjauh, mobil itu langsung meledak. Aston melindungi Summer dengan tubuhnya. Lidah api menyambar punggungnya dan meninggalkan luka bakar yang parah.

Saat Summer sadar di rumah sakit, hal pertama yang ditanyakan kepada perawat adalah, "Suamiku di mana? Gimana keadaannya?"

"Luka bakar di punggung Pak Aston cukup parah, tapi nggak mengancam nyawanya," jawab perawat. "Beliau ada di kamar sebelah."

Summer langsung mencabut jarum infus dan berlari sempoyongan ke kamar sebelah.

Baru saja hendak membuka pintu, dia mendengar suara ibu Aston dari dalam ....

"Aston! Kamu menikahi wanita sejelek itu sampai seluruh keluarga kita jadi bahan tertawaan! Sekarang kamu malah mempertaruhkan nyawamu untuknya! Sebenarnya sampai kapan kamu mau bertindak seenaknya?!"

Tangan Summer terhenti di gagang pintu. Suasana di dalam hening selama beberapa detik. Kemudian, terdengar suara Aston yang tenang tanpa sedikit pun emosi.

"Ibu tahu apa yang kuinginkan."

"Aku tahu semua yang kamu lakukan ini demi Manda!" Suara ibu Aston bergetar karena marah. "Aku beri tahu kamu, kamu adalah pewaris terbaik keluarga kita. Manda nggak boleh masuk ke keluarga kita! Meski kamu mencintainya, tetap nggak ada gunanya! Tindakanmu yang sengaja menggunakan Summer untuk memancing reaksi kami juga nggak ada gunanya!"

Summer berdiri di tempatnya. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Barusan ... mereka sedang membicarakan apa? Demi Manda? Siapa Manda?

Kepanikan dan firasat buruk yang dahsyat seketika menenggelamkannya. Hatinya jatuh ke dasar. Dia berpegangan pada dinding dan perlahan mundur, lalu kembali bersembunyi di ruang rawatnya.

Beberapa detik kemudian, dengan tangan gemetar, dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada detektif swasta.

[ Selidiki hubungan Aston dan Manda. Aku mau sedetail mungkin. ]

Setiap detik menunggu balasan terasa seperti siksaan. Kepalanya berdenging.

Kata-kata tajam ibu Aston seperti "sengaja menikahi wanita yang tidak layak" dan "demi Manda", serta ucapan tenang Aston tentang "Ibu tahu apa yang kuinginkan", terus bergema di benaknya. Semua itu seperti pisau beracun yang mengiris hatinya yang baru saja sedikit menghangat, menjadikannya hancur berlumuran darah.

Akhirnya, detektif swasta mengirimkan sebundel berkas. Dengan tangan gemetar, Summer membukanya. Di dalamnya ada berlembar-lembar dokumen, lengkap dengan banyak foto.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 22

    Menjelang senja, Aston akhirnya tiba di tempat pengungsian sementara di sebuah kota kecil dekat pusat gempa. Dia menghentikan setiap orang yang lewat dan bertanya dengan suara serak apakah mereka pernah melihat seorang gadis bernama Summer. Tinggi, berkulit putih, cantik, dan memiliki mata yang sangat cerah.Sebagian besar orang menggeleng kebingungan.Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh debu menunjuk ke arah pos medis sementara di kejauhan."Di sana. Sepertinya ada gadis cantik yang sedang membantu membagikan barang ...."Jantung Aston berdegup kencang. Dia langsung berbalik dan berlari ke sana.Kerumunan di depan pos medis terlihat cukup tertib. Beberapa relawan sedang membagikan air mineral dan makanan sederhana.Aston langsung melihat Summer.Summer sedang berjongkok di depan seorang gadis kecil yang terisak pelan. Sambil memegang sebungkus biskuit, dia mengatakan sesuatu dengan suara lembut. Ekspresinya begitu sabar dan penuh kelembutan.Langkah Aston men

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 21

    Tepuk tangan kembali bergemuruh, diselingi seruan kagum.Aston naik ke panggung untuk menerima barang lelang yang dimenangkannya. Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan sang desainer. Dia berjalan ke hadapan Summer. Cahaya lampu panggung terasa menyilaukan.Aston mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin dan sedikit gemetar. Tangan Summer terasa hangat dan kering. Dia menjabatnya sebentar, lalu segera melepaskannya.Senyum sopan tersungging di bibir Summer, pas dan tanpa cela."Terima kasih atas dukungan Pak Aston terhadap kegiatan amal." Suaranya tenang, sopan, tetapi berjarak.Aston menatapnya dalam-dalam. Jakunnya bergerak naik turun.Ribuan kata menyesaki dadanya dan membakar tenggorokannya, tetapi pada akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat, "Desainmu ... sangat indah.""Selamat.""Terima kasih." Senyum Summer tidak berubah. Dia mengangguk kecil.Setelah seluruh prosesi selesai, mereka turun dari panggung. Lorong menuju belakang panggung cukup sempit. Dengan arahan s

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 20

    Kompetisi desain perhiasan internasional bergengsi akhirnya dimulai.Sang juara akan mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan merek mewah papan atas, sebuah batu loncatan yang diimpikan para desainer dari seluruh dunia.Summer melihat pengumuman penerimaan karya untuk kompetisi tersebut. Dia menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama, lalu menutup halaman itu dan kembali melanjutkan ukiran kayu yang belum selesai di tangannya.Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah rancangan desain yang telah dipersiapkan dengan sangat serius.Beberapa bulan berlalu, daftar peserta yang berhasil masuk ke babak final akhirnya diumumkan. Nama "Solstice" terpampang jelas di dalam daftar tersebut.Desainnya yang memadukan nuansa oriental yang khas dengan dekonstruksi modern berhasil memukau seluruh juri pada tahap penilaian awal.Divisi investasi barang mewah di bawah Grup Dananta merupakan salah satu sponsor utama kompetisi kali ini. Pihak penyelenggara berkali-kali mengirimkan permohonan, berh

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 19

    Dia menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar tanpa terkendali.Edric memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Aston. Dia belum pernah melihat Aston seperti ini. Rapuh, putus asa, seolah-olah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.Kebiasaan minum berlebihan dalam waktu lama, insomnia, gejolak emosi yang ekstrem, ditambah luka di lengannya yang terus mengalami infeksi dan tidak mendapat perawatan yang semestinya, akhirnya membuat tubuh Aston mencapai batasnya.Dalam sebuah konferensi video bersama jajaran petinggi perusahaan, Aston sedang mendengarkan laporan bawahannya ketika tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas hebat. Rasa anyir mendadak memenuhi tenggorokannya.Detik berikutnya, di bawah tatapan ngeri semua orang, dia tiba-tiba memalingkan kepala dan memuntahkan darah berwarna gelap ke atas meja rapat yang mengilap."Pak Aston!"Ruang rapat seketika kacau.Aston segera dilarikan ke rumah sakit.Hasil pemeriksaan pun sege

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 18

    Seluruh tubuh Aston seketika membeku. Rasanya seperti seember air es disiramkan tepat ke tubuhnya, membuat hawa dingin menjalar dari kepala hingga ujung kaki.Dia menatap Summer dengan tidak percaya. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat daripada akibat kehilangan banyak darah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang mampu keluar."Kali ini kamu menerima satu sabetan pisau," kata Summer sambil menatapnya. Tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya, yang ada hanya ketidakpedulian yang dingin dan hampa. "Lalu lain kali? Apa kamu harus menyerahkan nyawamu kepadaku baru merasa semuanya cukup?""Aston, cintamu datang terlambat dan juga terlalu berat."Dia berhenti sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan serpihan es tajam yang menghunjam dalam ke jantung Aston. "Aku nggak sanggup menerimanya."Setelah mengatakan itu, Summer tidak lagi menatapnya. Dia juga tidak melihat lengan Aston yang sedikit gemetar akibat kata-katanya dan masih terus mengucurkan darah.Summer menop

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 17

    Tatapan Aston bahkan tidak bergerak sedikit pun saat dia menjawab dengan tegas, "Nggak mungkin. Selain dia, aku nggak menginginkan siapa pun.""Hahaha!" Manda tertawa histeris, tetapi tatapan matanya justru semakin dipenuhi kegilaan. "Bagus! Benar-benar cinta yang begitu dalam dan setia!""Kalau begitu, aku akan menghancurkan wajahnya dulu! Aku mau lihat apakah kamu masih mencintainya setelah dia berubah menjadi wanita buruk rupa!""Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja," ucap Aston dengan mata yang memerah karena murka. Setiap katanya seolah diucapkan dengan paksa, "Aku akan membuat hidupmu lebih menderita daripada mati."Sambil berbicara, dia perlahan-lahan menggeser langkahnya ke depan tanpa menarik perhatian Manda.Emosi Manda sudah sepenuhnya lepas kendali. Tangannya yang menggenggam pisau gemetar hebat, sementara tatapannya tampak liar. "Kalau begitu, coba saja! Lihat saja aku berani atau nggak!"Belum selesai Manda berbicara, dia mengerahkan tenaga pada pergelangan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status