Share

Bab 3

Author: Summer
"Maaf," Manda melangkah maju. Suaranya lembut, tetapi nadanya sama sekali tidak sopan. "Aku juga tertarik dengan gaun ini. Memang kamu yang datang lebih dulu, tapi ...."

Dia menatap poni tebal dan kacamata berbingkai hitam milik Summer. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman yang pas.

"Aku rasa aku lebih cocok memakainya. Gimana kalau kamu ngalah dan memberikannya padaku?"

Summer menggenggam gaun di tangannya erat-erat. Bahannya lembut, tetapi saat ini terasa seperti duri yang menusuk tangannya.

"Nggak mau." Dia menoleh kepada pegawai butik. "Aku mau bayar."

Senyum di wajah Manda sedikit memudar. Dia mengulurkan tangan dan langsung memegang ujung gaun yang lain.

"Aku benar-benar menyukainya. Dengan penampilanmu seperti ini, apa pun yang kamu kenakan hasilnya kurang lebih sama saja. Kenapa nggak berbuat baik dan mengalah untukku saja? Boleh ya?"

Keduanya saling berhadapan. Suasana di udara dipenuhi ketegangan yang tak terucapkan.

"Ada apa?" Suara rendah Aston terdengar dari ujung tangga. Setelah selesai menelepon dan naik ke lantai atas, dia langsung melihat pemandangan itu. Alisnya sedikit berkerut.

Saat melihat sosok Aston, mata Manda langsung berbinar, tetapi tangannya yang menggenggam gaun itu tak juga dilepaskan. "Aston? Kamu juga ada di sini?"

Tatapannya beralih antara Summer dan Aston. Kemudian, dia menunjukkan ekspresi seolah baru menyadari sesuatu.

"Jadi ini istrimu? Kalau sejak awal aku tahu dia Nyonya Dananta, aku nggak akan berebut gaun ini dengannya. Ya sudah, gaun ini untukmu saja." Sambil berkata demikian, dia melepaskan tangannya, seolah kegigihannya tadi hanyalah sebuah lelucon.

Namun detik berikutnya, Aston justru mengulurkan tangan dan langsung mengambil gaun panjang berwarna sampanye itu dari tangan Summer, lalu menyerahkannya kepada Manda.

"Nggak usah." Dia menatap Manda. Suaranya terdengar lebih lembut daripada sebelumnya. "Ini cocok untukmu. Coba saja."

Setitik rasa puas melintas di mata Manda. Dia menerima gaun itu, tersenyum kepada Summer, lalu berbalik dan masuk ke ruang ganti.

Tangan Summer membeku di udara. Ujung jarinya masih bisa merasakan sentuhan kain yang direnggut darinya.

Dia perlahan menarik tangannya kembali dan mengepalkannya. Kukunya menekan telapak tangan, tetapi rasa sakit kecil itu tak mampu menekan rasa nyeri di hatinya yang seperti sedang disayat pisau tumpul.

Setelah itu, Aston pun menoleh kepadanya, seolah baru saja menyelesaikan urusan kecil yang tidak penting.

"Summer, wanita tadi adalah Manda, temanku. Sifatnya memang agak blak-blakan, tapi dia nggak bermaksud buruk. Cuma gaun kok. Kita pilih yang lain saja."

Summer mengangkat kepala dan menatapnya melalui lensa kacamatanya yang tebal. "Kenapa nggak mengatakan yang sebenarnya saja? Kamu bilang dia lebih cocok, bukannya itu berarti menurutmu aku nggak pantas pakai gaun itu, bahkan nggak pantas memakai apa pun yang cantik?"

Aston jelas tertegun. Dia sepertinya tidak menyangka Summer akan membalas seperti itu, terlebih lagi Summer akan secara langsung membongkar kepura-puraan yang selama ini sama-sama mereka pahami.

"Aku nggak bermaksud begitu." Dia segera mengubah ekspresinya. Nada bicaranya mengandung sedikit rasa tak berdaya. "Kalau menurutku kamu nggak pantas, kenapa sejak awal aku menikahimu?"

Kenapa dia menikahinya? Kalimat itu seperti pisau beracun yang menghunjam tepat ke hati Summer, membuat pandangannya menghitam karena rasa sakit.

Benar. Kenapa? Karena dia cukup jelek untuk menjadi alat yang sempurna, bidak paling tepat untuk menyulut emosi Keluarga Dananta dan memaksa mereka berkompromi!

Sejak kecil, karena menyembunyikan penampilannya, dia telah mendengar terlalu banyak ejekan. Bisikan teman-teman sekelas, perkataan kasar dari pria-pria yang kencan buta dengannya, keluhan ayahnya ....

Kata-kata itu seperti jarum. Setelah ditusuk berkali-kali, dia seolah sudah mati rasa.

Namun, Aston berbeda. Selama tiga tahun ini, penghiburannya yang lembut, perlindungan yang diberikannya, bahkan kasih sayang yang membuatnya rela mempertaruhkan nyawa, perlahan seperti air hangat yang mencairkan hati Summer yang sudah membeku.

Semua itu membuatnya melahirkan harapan dan ketergantungan yang seharusnya tidak pernah ada.

Lalu, Aston sendiri yang menghancurkan kehangatan palsu itu dengan cara yang paling tenang dan paling tidak disengaja.

Hal itu jauh lebih menyakitkan daripada kebencian yang ditunjukkan secara terang-terangan!

Summer menahan isak tangis dan rasa sakit yang bergejolak di tenggorokannya. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya berbalik menuju deretan pakaian lain dan asal mengambil sebuah gaun hitam panjang dengan model sederhana.

Tiba-tiba, tirai ruang ganti terbuka. Manda berjalan ke luar.

Gaun panjang berwarna sampanye itu membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna, membuat kulitnya tampak putih bersih dan sosoknya semakin memukau. Dia berputar sekali, membuat ujung gaunnya mengembang membentuk lengkungan yang anggun.

"Bu, gaun ini sangat cocok untuk Anda!"

"Gaun ini seolah dibuat khusus untuk Anda!"

Para pegawai butik memujinya.

Tatapan Aston juga tertuju pada Manda. Sorot matanya dalam. Bayangan Manda terlihat jelas di matanya. Tatapan yang biasanya dingin itu kini memperlihatkan sedikit cinta yang selama ini pernah dicari Summer dalam tatapannya, tetapi tidak pernah dia tunjukkan kepada Summer.

Meski hanya sekilas, Summer berhasil menangkapnya. Jantungnya seolah dicengkeram erat oleh tangan tak kasatmata, membuatnya hampir tidak bisa bernapas karena rasa sakit.

"Aston, bagus nggak?" tanya Manda sambil tersenyum cerah. Namun, tatapannya samar-samar menyapu Summer yang berdiri di samping.

"Ya, bagus sekali." Aston mengangguk, nadanya penuh kepastian.

Senyuman di wajah Manda semakin cerah. Dia berjalan ke sisi Aston dan merapikan rambut di dekat telinganya dengan santai.

"Oh ya, kudengar malam ini pesta ulang tahun Nyonya Dananta? Di Hotel Grandia?"

"Ya." Aston mengangguk.

"Kebetulan malam ini aku senggang." Manda menatap Summer dengan senyuman yang sopan. "Nyonya Dananta, kamu nggak keberatan kalau aku juga datang untuk merayakan ulang tahunmu, 'kan?"

Summer belum sempat menjawab ketika Aston sudah lebih dahulu berkata, "Tentu saja nggak. Kami menyambut kedatanganmu."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 22

    Menjelang senja, Aston akhirnya tiba di tempat pengungsian sementara di sebuah kota kecil dekat pusat gempa. Dia menghentikan setiap orang yang lewat dan bertanya dengan suara serak apakah mereka pernah melihat seorang gadis bernama Summer. Tinggi, berkulit putih, cantik, dan memiliki mata yang sangat cerah.Sebagian besar orang menggeleng kebingungan.Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh debu menunjuk ke arah pos medis sementara di kejauhan."Di sana. Sepertinya ada gadis cantik yang sedang membantu membagikan barang ...."Jantung Aston berdegup kencang. Dia langsung berbalik dan berlari ke sana.Kerumunan di depan pos medis terlihat cukup tertib. Beberapa relawan sedang membagikan air mineral dan makanan sederhana.Aston langsung melihat Summer.Summer sedang berjongkok di depan seorang gadis kecil yang terisak pelan. Sambil memegang sebungkus biskuit, dia mengatakan sesuatu dengan suara lembut. Ekspresinya begitu sabar dan penuh kelembutan.Langkah Aston men

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 21

    Tepuk tangan kembali bergemuruh, diselingi seruan kagum.Aston naik ke panggung untuk menerima barang lelang yang dimenangkannya. Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan sang desainer. Dia berjalan ke hadapan Summer. Cahaya lampu panggung terasa menyilaukan.Aston mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin dan sedikit gemetar. Tangan Summer terasa hangat dan kering. Dia menjabatnya sebentar, lalu segera melepaskannya.Senyum sopan tersungging di bibir Summer, pas dan tanpa cela."Terima kasih atas dukungan Pak Aston terhadap kegiatan amal." Suaranya tenang, sopan, tetapi berjarak.Aston menatapnya dalam-dalam. Jakunnya bergerak naik turun.Ribuan kata menyesaki dadanya dan membakar tenggorokannya, tetapi pada akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat, "Desainmu ... sangat indah.""Selamat.""Terima kasih." Senyum Summer tidak berubah. Dia mengangguk kecil.Setelah seluruh prosesi selesai, mereka turun dari panggung. Lorong menuju belakang panggung cukup sempit. Dengan arahan s

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 20

    Kompetisi desain perhiasan internasional bergengsi akhirnya dimulai.Sang juara akan mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan merek mewah papan atas, sebuah batu loncatan yang diimpikan para desainer dari seluruh dunia.Summer melihat pengumuman penerimaan karya untuk kompetisi tersebut. Dia menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama, lalu menutup halaman itu dan kembali melanjutkan ukiran kayu yang belum selesai di tangannya.Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah rancangan desain yang telah dipersiapkan dengan sangat serius.Beberapa bulan berlalu, daftar peserta yang berhasil masuk ke babak final akhirnya diumumkan. Nama "Solstice" terpampang jelas di dalam daftar tersebut.Desainnya yang memadukan nuansa oriental yang khas dengan dekonstruksi modern berhasil memukau seluruh juri pada tahap penilaian awal.Divisi investasi barang mewah di bawah Grup Dananta merupakan salah satu sponsor utama kompetisi kali ini. Pihak penyelenggara berkali-kali mengirimkan permohonan, berh

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 19

    Dia menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar tanpa terkendali.Edric memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Aston. Dia belum pernah melihat Aston seperti ini. Rapuh, putus asa, seolah-olah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.Kebiasaan minum berlebihan dalam waktu lama, insomnia, gejolak emosi yang ekstrem, ditambah luka di lengannya yang terus mengalami infeksi dan tidak mendapat perawatan yang semestinya, akhirnya membuat tubuh Aston mencapai batasnya.Dalam sebuah konferensi video bersama jajaran petinggi perusahaan, Aston sedang mendengarkan laporan bawahannya ketika tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas hebat. Rasa anyir mendadak memenuhi tenggorokannya.Detik berikutnya, di bawah tatapan ngeri semua orang, dia tiba-tiba memalingkan kepala dan memuntahkan darah berwarna gelap ke atas meja rapat yang mengilap."Pak Aston!"Ruang rapat seketika kacau.Aston segera dilarikan ke rumah sakit.Hasil pemeriksaan pun sege

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 18

    Seluruh tubuh Aston seketika membeku. Rasanya seperti seember air es disiramkan tepat ke tubuhnya, membuat hawa dingin menjalar dari kepala hingga ujung kaki.Dia menatap Summer dengan tidak percaya. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat daripada akibat kehilangan banyak darah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang mampu keluar."Kali ini kamu menerima satu sabetan pisau," kata Summer sambil menatapnya. Tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya, yang ada hanya ketidakpedulian yang dingin dan hampa. "Lalu lain kali? Apa kamu harus menyerahkan nyawamu kepadaku baru merasa semuanya cukup?""Aston, cintamu datang terlambat dan juga terlalu berat."Dia berhenti sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan serpihan es tajam yang menghunjam dalam ke jantung Aston. "Aku nggak sanggup menerimanya."Setelah mengatakan itu, Summer tidak lagi menatapnya. Dia juga tidak melihat lengan Aston yang sedikit gemetar akibat kata-katanya dan masih terus mengucurkan darah.Summer menop

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 17

    Tatapan Aston bahkan tidak bergerak sedikit pun saat dia menjawab dengan tegas, "Nggak mungkin. Selain dia, aku nggak menginginkan siapa pun.""Hahaha!" Manda tertawa histeris, tetapi tatapan matanya justru semakin dipenuhi kegilaan. "Bagus! Benar-benar cinta yang begitu dalam dan setia!""Kalau begitu, aku akan menghancurkan wajahnya dulu! Aku mau lihat apakah kamu masih mencintainya setelah dia berubah menjadi wanita buruk rupa!""Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja," ucap Aston dengan mata yang memerah karena murka. Setiap katanya seolah diucapkan dengan paksa, "Aku akan membuat hidupmu lebih menderita daripada mati."Sambil berbicara, dia perlahan-lahan menggeser langkahnya ke depan tanpa menarik perhatian Manda.Emosi Manda sudah sepenuhnya lepas kendali. Tangannya yang menggenggam pisau gemetar hebat, sementara tatapannya tampak liar. "Kalau begitu, coba saja! Lihat saja aku berani atau nggak!"Belum selesai Manda berbicara, dia mengerahkan tenaga pada pergelangan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status