“Tubuh—ku …?” Ayunira bergumam pelan, nyaris seperti berbicara dengan tanpa suara.
Dia terdiam sejenak, membeku seperti sebuah patung yang bisu, dan hanya mampu menatap lamat-lamat akan pria yang berujar secara blak-blakan barusan.
Hening datang menyergap, membuat suasana mendadak menjadi dingin dan canggung, mempertajam sensitivitas pada diri wanita penetes air mata itu.
Pikirannya kalut, dan emosinya berkecamuk.
“….”
Tunggu sebentar, apa katanya tadi? Ayunira ingin mencerna apa yang didengarnya barusan itu dengan lebih baik.
Namun, … ego dan rasa ingin melindungi dirinya sendiri lebih cepat bereaksi.
“KYARGGHHH!!!” Ayunira menjerit kencang.
Lantang sekali, sampai membuat Kenan sendiri menjadi kaget, apalagi dengan ditambah aksi Ayunira yang menepis kasar tangan pemegang bahu, berdiri tegak lalu mendorong paksa dada bidang sang pemegang nama belakang Adijaya supaya menjauhinya.
Masih belum memberhentikan jeritannya, malahan justru nada suaranya semakin ke sini semakin meninggi, kedua tangan Ayunira menapak ke pinggir meja rias, seterusnya mendorongnya untuk menyerong semua barang yang ada di atas sana supaya jatuh ke lantai semua secara kasar.
Tak ayal, suara benda yang pecah dan juga berserakan itu, kini bercampur baur dengan suara pekikan.
“Ayu?!”
Tak menghiraukan panggilan dari Kenan, serta tak memberhentikan diri hanya cukup sampai pemberontakan itu, Ayunira menahan pekikannya terlebih dahulu selagi ia merunduk tuk memungut barang yang barusan ia jatuhkan ke lantai, selanjutnya melemparkannya ke arah pria, ….
“PERGI!”
… Yang ironisnya dapat menghindari serangan dadakan itu dengan mudah.
“PERGI! MENJAUH DARIKU!” teriak Ayunira, sambil terus memunguti apa pun yang setidaknya bisa dijadikan benda untuk melempari Kenan.
Namun. Alih-alih menjauh, kini … Kenan justru semakin mendekat.
“PERGI SANA, B*JING*N MESUM S*AL*N!”
Pria itu melangkahkan kaki berbalut sandal rumah berbentuk kelinci hitamnya ke depan, tuk mengikis jarak di antara mereka kembali.
Tentunya, sambil berhati-hati dan dengan lihai melewati berbagai tantangan lemparan barang-barang yang memang sengaja Ayunira arahkan kepadanya secara khusus.
“Tunggu dulu, Ayu. Sepertinya kamu salah paham,” bujuk Kenan, merentangkan kedua telapak tangannya di depan dadanya yang membusung, mengisyaratkan bahwa ia ingin meminta waktu tuk memperjelas situasi.
“SALAH PAHAM BAGAIMANA?!”
Akan tetapi, sayangnya, gejolak emosi yang Ayunira rasakan sudah tak dapat dibendung lagi.
Semuanya sudah banjir, meluber ke mana-mana, dan hanya menyisakan keinginan untuk mengemukakan seluruh kemurkaannya saja.
“JELAS-JELAS, KAMU MENGINGINKAN TUBUHKU!” seru Ayunira sengit, menodong Kenan yang kembali dekat dengannya—yakni hanya tepat satu langkah di depannya—menggunakan pecahan botol parfum.
Terkejut bukan kepalang mendapati Ayunira Larasati yang dimatanya hanya sesosok wanita cengeng, kini tiba-tiba mengunjukkan gigi bahkan sampai menodongkan pecahan botol parfum ke arah leher Kenan, sampai tidak sadar bahwa telapak tangannya sendiri saja sudah mulai berdarah akibat ia mencengkeram pecahan tersebut lebih erat, … pria bermata ungu ametis yang terbelalak sempurna itu berujar pelan.
“Whoa~! Tenanglah. Aku tak bermaksud—!”
“—PERGI!” potong Ayunira, sembari mengayunkan lengan pemegang pecahan botol parfum tersebut ke arah leher Kenan.
Wanita berambut cokelat hangat itu menggeram.
Menatap tajam akan orang di hadapan, bagaikan seekor macan betina kelaparan yang sudah sangat siap untuk mencabik-cabik lawan.
“Pergi! Pergi sana atau aku akan—!”
Dia mulai mengambil ancang-ancang kembali untuk mengayunkan lengannya dan memberikan Kenan ancaman baru. Namun, ….
PAK!
… Hanya dalam sekejap mata memandang, aksinya tersebut langsung disabotase dengan ditepuknya—oleh Kenan—tangan pemegang pecahan botol lumayan keras, sampai-sampai benda tajam tersebut lepas dari genggaman Ayunira dan kembali pecah berserakan, menjadi partikel-partikel kecil.
“Apa yang—?!”
Belum sempat pula wanita itu mendelik serta menatap heran ke arah pria berekspresi wajah datar dan juga lebih memilih mengatupkan bibirnya rapat-rapat pada kesempatan ini, tiba-tiba, pandangan mata hijau klorofilnya yang indah, seketika menjadi gelap gulita.
Dunia yang dilihatnya barusan, telah berubah warna menjadi hitam legam, segera setelah Ayunira ingat kalau tangan besar Kenan yang menampik tangan pemegang pecahan botol itu, telah beralih ke belakang kepalanya, dan …!
“Eukh?!”
… Dengan cepat memukul bagian tengkuknya, sehingga membuatnya tidak sadarkan diri begitu saja.
SRUKK!
Kenan menarik Ayunira ke dalam pelukannya lekas-lekas setelah bongkahan ametis miliknya itu, menangkap bayangan akan ketidakseimbangan tubuh ringkih sang wanita yang dijadikan jaminan uang yang ia hutang kan, karena terlihat seperti hendak jatuh terjungkal ke belakang.
Begitu merasakan kepala Ayunira bergerak menyusup ke permukaan dadanya yang bidang tanpa ada yang menahan, barulah Kenan sadar, kalau ia benar-benar sudah membuat wanita rapuh tersebut menjadi pingsan.
“Haah,” desahnya, menarik nafas dalam-dalam. “Seharusnya aku lebih sabar lagi."
Tak ingin berlama-lama berdiri di sana sambil menahan Ayunira supaya tidak jatuh, akhirnya, pria bernama belakang Adijaya tersebut mulai menggerakkan lengan kirinya untuk menyekop perpotongan lutut, dan lengannya yang satu lagi menyusup di antara ketiak, selagi mengangkat lalu memangku wanita yang pingsan itu untuk kemudian ia baringkan di ranjang secara hati-hati.
“….”
Dalam suasana kamar yang anehnya mendadak menjadi berbeda setelah menjadi hening, sebab yang menimbulkan keributan itu sendiri kini telah dibuat bungkam untuk beberapa waktu, Kenan memicingkan mata.
Sorotnya yang tadi terasa dingin, perlahan-lahan berubah menjadi pandangan seseorang yang tampak kelelahan, sewaktu memerhatikan telapak tangan Ayunira masih mengeluarkan rembesan darah segar.
Melihat betapa damainya wajah wanita itu selagi ia menutup mata dan mulutnya yang barusan tidak bisa diam, Kenan sedikit mengernyitkan dahinya kesal, lalu lekas menengadahkan wajahnya sambil menyembunyikan iris ametis itu di balik kelopak, selagi memijat tengkuknya sebab merasa pegal.
“Merepotkan sekali,” dengusnya pelan, disusul dengan punggung yang segera ia balikkan menuju pintu keluar kamar.
Begitu pintu perbatasan antar benteng pertahanan dan medan perang baru untuk Ayunira ditutup dari luar secara perlahan, Kenan menjentikkan jari.
Tak butuh waktu yang lama, seorang wanita paruh baya datang memenuhi panggilan khas itu.
Dia adalah seseorang berstatus kepala pelayan kediaman.
“Imelda.”
“Anda memanggil Saya, Tuan?”
“Suasana calon nyonya rumah ini sedang tidak baik. Dia tak sengaja menjatuhkan barang-barang di atas meja.”
Kepala pelayan yang barusan dipanggil dengan nama Imelda itu menunduk patuh. Dia tidak banyak bertanya.
“Saya akan membereskan kekacauan, tanpa mengganggu kenyamanan sang Nona.”
Seolah-olah paham dengan situasi ini tanpa harus meminta penjelasan lebih, Imelda juga menambahkan.
“Ke depannya, Saya akan menyimpan perlengkapan riasan untuk Nona di tempat lain, dan hanya akan membawanya ke kamar selagi dibutuhkan.”
“Bagus,” puji Kenan puas, tersenyum bangga dan merasa tidak sia-sia kalau keluarganya mempertahankan orang seperti Imelda untuk menjadi kepala pelayan di rumah ini.
“Oh, benar.”
Sebelum benar-benar pergi dari kawasan kamar Ayunira di sana, Kenan memberitahukan hal terakhir kepada kepala pelayan kepercayaannya tersebut.
“Telapak tangan wanita itu tampaknya terluka karena kekacauan tadi. Obati lukanya dengan hati-hati, okay?”
“Saya mengingatnya, Tuan.”
Setelah semua urusannya selesai, akhirnya Kenan menuruni tangga lantai dua sana, untuk menjangkau ruang tengah rumah.
Baru juga kakinya menapak di permukaan lantai dasar kediamannya ini, suara langkah kaki-kaki kecil yang terdengar berlarian menuju ke arahnya, semakin mendekat.
Ditambah lagi, begitu gendang telinganya menangkap suara makhluk mini yang seperti kesulitan mengatur nafas terengah-engah selagi berlari, … itu membuat Kenan merasa tergelitik untuk segera menolehkan kepalanya ke sumber suara.
SRUKK!
Dan, benar saja.
“Yeay! Papa~!”
Hadirlah ke dekatnya, seorang anak laki-laki berusia lima tahunan yang memakai seragam taman kanak-kanak lengkap dengan topi kuning bundarnya yang lucu, dengan ceria memeluk dan melingkari pahanya secara erat.
“Papa ada dirumah~!” seru anak laki-laki itu, menengadahkan wajah dan memamerkan gigi susunya yang terawat.
“Ah, Raihan?” Kenan tampak terperangah sebentar.
“Kamu sudah pulang?”
“Sudah~!”
Tak berapa lama kemudian, pria berusia dua puluh enam tahun itu melepaskan pelan-pelan kedua tangan mungil yang memeluk pahanya tersebut, tuk seterusnya duduk merunduk melipat satu kali dilantai, … supaya bisa menyejajarkan diri dengan sang putra laki-laki, buah hatinya, tuan muda kediaman ini, Raihan Adijaya.
“Papa kenapa ada di rumah? Kok pulangnya lebih cepat dari pada kemarin? Atau jangan-jangan, Papa tidak kerja, ya?” Tanya Raihan polos, menatap mata ungu Kenan yang sama sepertinya, seolah-olah sedang bercermin.
“Iya, Papa tidak kerja.”
“Kenapa?”
Kenan mengulum senyuman tipis.
“Coba Raihan tebak.”
Sorot matanya yang tadi hanya menunjukkan sisi licik, dingin, dan juga merasa lelah, kini dibuat lembut.
Tangan kanannya terangkat, dan jari-jemarinya dengan menyingkirkan poni rambut berwarna hitam keunguan warisan darinya pada diri sang putra secara hati-hati, supaya tidak mengganggu penglihatan bayi kecilnya itu.
“Papa membawakan sesuatu, sesuai dengan apa yang kamu inginkan sedari lama, lo~!”
“….”
Awal mulanya, Raihan tampak kebingungan.
Bocah kecil yang paras dan juga ciri fisiknya sebelas dua belas mirip sekali dengan Kenan Adijaya bagaikan sebuah kopian itu, mencoba mengingat-ingat sesuatu dengan keras.
"Tidak mungkin …?"
Sampai, mata bulat beriris ungu ametis miliknya tersebut pun membelalak sempurna, dan bibir mungilnya terbuka lebar begitu ia meneriakkan sesuatu.
“… Ibuuu?!” pekik Raihan heboh, yang justru berhasil mendorong ayahnya untuk terkikik geli.
“Pffft, ya.”
Kenan mendekat.
Dia menggenggam kedua kepalan tangan mungil sang putra, memejamkan mata merasa nyaman den
gan interaksi hangat ini, lalu sedikit mendorongkan wajahnya supaya dahi mereka bersentuhan.
“Sesuai permintaan kamu, ….”
Terakhir, supaya tidak membuat Raihan penasaran lebih lama lagi, Kenan pun memberikan klarifikasi.
“… Papa membawa calon ibumu.”
“…!”Ayunira diam membisu.Wanita itu mematung, kaku seperti patung, dan mulai memalingkan wajahnya tuk menoleh ke samping supaya menatap permukaan tanah berlapis papin blok saja, sebab tak berani menghadap serta memandang langsung akan pria yang kini tengah mengungkungnya.Keringat dingin mulai muncul, datang berjatuhan membasahi dahi.Ditatap intens oleh Kenan dalam posisi yang memojokkan seperti itu, ini sama saja dengan adegan saat sang raja hutan mengagumi mangsa yang memberikannya seonggok daging segar.“Ke mana Imelda?”Cukup lama hanya mendiamkan diri dan lebih memilih tuk memandang Ayunira secara lamat-lamat saja, kini, hal pertama yang ditanyakan oleh Kenan adalah keberadaan kepala pelayan pribadinya, yang membuat wanita dalam kungkungannya tersebut terlonjak kaget.“Kenapa dia tak bersama denganmu?” Tanya Kenan sekali lagi, yang masih diberikan jawaban tak pasti berupa wajah bermulut tersegel rapat nan dipalingkan ke arah lain.Bertepatan dengan rampungnya pertanyaan barusa
“Apa ada yang Anda perlukan?”Sarapan pagi di dalam kamar berlangsung dengan lancar.Ayunira makan dengan lahap tanpa menyisakan sedikit pun makanan yang disodorkan, dan berhasil membuat sang kepala pelayan menyunggingkan senyuman merasa puas sekaligus terlihat bangga. “Tidak ada, terima kasih,” tukas Ayunira sembari menyodorkan nampan berisikan perkakas yang ia gunakan tuk makan, secara malu-malu.Sang kepala pelayan, Imelda, lekas memanggil sodoran tersebut.Sebelum ia benar-benar membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Ayunira kembali, Imelda menatap wanita bermata hijau yang tengah duduk melamun di atas tepi ranjang itu, seterusnya bersuara.“Apakah ada suatu hal lain yang sekiranya bisa Saya bantu?” Tanya Imelda sekali lagi, yang justru menyundul hati sang narasumber tuk merasakan sedikit kekesalan.“Tidak ada, tapi ….”Namun, berkat kesadaran diri bahwa ia harus bersabar demi mencapai “rencana itu” dengan tanpa menimbulkan kecurigaan apa pun, dia, si wanita tersebut, Ayunir
“Bagaimana kondisinya?”Malam telah jatuh semakin larut.Namun, Kenan Adijaya masih belum memiliki niatan untuk beristirahat dan memejamkan matanya sejenak, lalu pergi dibuai ke alam mimpi.Saat ini, pria yang memasang kacamata baca di batang hidungnya itu tengah berada di depan meja kerja dalam kamarnya, berkutat dengan pekerjaan kantor perusahaan yang sekiranya dapat ia kerjakan sementara dari rumah. “Apa dia menolaknya, atau …?”“Setelah siuman, beliau tidak melakukan hal macam-macam.”Tak jauh dari sana, di hadapannya terdapatlah sosok kepala pelayan, Imelda, berdiri tegak dan menumpukkan kedua telapak tangan di depan perutnya, memberikan sebuah laporan kepada sang majikan.“Makan malam yang Saya berikan pun, dihabiskannya dengan baik. Beliau makan dengan lahap.”Sedikit meragukan pernyataan itu, mengingat betapa kerasnya sikap Ayunira tadi, Kenan mengangkat sebelah alisnya kemudian bertanya.“Apa kau sudah benar-benar memastikannya?”Di mana pertanyaan itu segera dijawab Imelda
SIING~!Sinar mentari senja yang hangat nan terasa mencolok, datang menembus kaca jendela ruangan berukuran luas untuk sebuah kamar, dan menyinari kelopak mata seorang wanita yang masih berbaring diranjang.Berkat konsistensi dari cahaya sang fajar yang sebentar lagi mengaburkan dirinya di ufuk barat itu, wanita tersebut pun mengernyit.Dia merasa silau.Oleh karenanya, secara perlahan tapi pasti, ia pun mulai membuka mata … serta memamerkan betapa indahnya iris hijau klorofil miliknya yang tampak lebih asri lagi, selama diperhias oleh sinar emas matahari senja tersebut.“….”Wanita itu, Ayunira Larasati, dia terdiam.Hal pertama yang dilihatnya setelah membuka mata adalah langit-langit kamar yang tampak asing.Kemudian, hal pertama yang ia dengar setelah terbangun dari kebingungannya ini pun, adalah suara yang asing pula.“Anda sudah sadar, Nona?"Yakni, suara seorang wanita paruh baya yang berpakaian gaun hitam berkerah tinggi dan menyanggul rambutnya dengan rapi, memperkenalkan dir
“Tubuh—ku …?” Ayunira bergumam pelan, nyaris seperti berbicara dengan tanpa suara.Dia terdiam sejenak, membeku seperti sebuah patung yang bisu, dan hanya mampu menatap lamat-lamat akan pria yang berujar secara blak-blakan barusan.Hening datang menyergap, membuat suasana mendadak menjadi dingin dan canggung, mempertajam sensitivitas pada diri wanita penetes air mata itu.Pikirannya kalut, dan emosinya berkecamuk.“….”Tunggu sebentar, apa katanya tadi? Ayunira ingin mencerna apa yang didengarnya barusan itu dengan lebih baik.Namun, … ego dan rasa ingin melindungi dirinya sendiri lebih cepat bereaksi.“KYARGGHHH!!!” Ayunira menjerit kencang.Lantang sekali, sampai membuat Kenan sendiri
Menikah?Menikah … dengannya?PLAKK!Rentangan jejak cap lima jari yang berwarna merah menyala, mendarat dengan kuat dan sepenuh tenaga di pipi pria yang wajah pemilik rahang tegas tersebut, dengan tanpa peringatan dan juga aba-aba sebelumnya.Saking kerasnya dampratan yang mengeluarkan bentuk kekesalan memuncak itu, tangan ramping wanita bermanik mata hijau menyala tajam tersebut mampu membalikkan wajah sang tuan rumah kediaman besar ini, supaya menyamping.“Lancang sekali!” hardik wanita itu, yang tak lain adalah Ayunira Larasati, dengan bersuara tegas.Raut muka yang dipancarkan oleh wajah cantiknya tampak dipenuhi oleh kerutan emosi.Alisnya menekuk, netranya menajam, rona merah menghias, disertai dengan urat leher yang menegang, semakin memperjelas situasi Ayunira saat ini.Ya. Wanita itu merasa murka.“Apa kamu tengah mengejekku sekarang?!”Belum juga genap satu hari semenjak orang yang selama ini ia cinta, tiba-tiba menceraikannya.Dan kini, apa …? Ada seseorang yang memanfaatk