Share

Hubungan Mereka...

Penulis: Pitt
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 13:47:31

Usai menangisi kedekatan Nick dengan Liora, Gina memilih ke toilet untuk membersihkan wajahnya agar dia tampak fresh dan tak seperti orang yang baru saja menangis hebat.

Gina menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya. Dia tersenyum miris.

"Miris sekali hidupmu, Gina. Kamu bermimpi akan menikah bak putri kerajaan lalu hidup bahagia dengan pasanganmu hingga mati, tetapi kau malah menikah dengan seorang pria yang bahkan sama sekali tak perduli bahwa kau hidup atau tidak," ucapnya pada diri sendiri.

Gina menghela napas berat. Dia berusaha untuk tetap tersenyum.

"Ini yang semalam sengaja menyiram Liora ya? Jahat sekali. Dia sudah mengambil jabatan Liora, lalu dia memperlakukan Liora dengan tidak baik."

"Padahal setahu aku, Liora punya banyak potensi untuk tetap menjadi sekretaris Pak Nick."

"Sehebat apa perempuan itu sampai bisa menggeser Liora?"

Gina mengerutkan keningnya. Dia mendengar semua bisik-bisik para karyawan itu.

Dia berbalik dan menatap para pekerja kantor suaminya itu dengan tatapan datar.

"Lupa ya kalau tembok juga punya telinga?" tanya Gina.

Gina berjalan menghampiri mereka.

"Aku bukan orang jahat. Orang jahatnya adalah Liora!" tegas Gina.

Karyawan-karyawan itu menatap Gina dengan tatapan meledek.

"Kalau kalian tahu aku istri Nick, kalian pasti tidak akan seberani ini padaku," batin Gina.

Gina berjalan keluar dari toilet, telinganya panas karena jadi bintang utama gosip kantoran itu.

Gina memilih untuk kembali ke ruangannya.

Saat baru masuk ruangan Nick, mata Gina membelalak kaget. Dia mendapati suaminya tengah berciuman panas dengan Liora.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak Gina histeris.

Liora dan Nick kaget, buru-buru mereka memperbaiki posisi mereka.

"Ini—"

"Sama seperti apa yang kamu lihat, Mrs. Sarvana," ucap Liora memotong perkataan Nick sebelum pria itu angkat suara.

"Kamu—" Gina menunjuk Liora.

"Hahaha!" Liora tertawa menang.

Liora melipat kedua tangannya di depan dada. Dia begitu angkuh.

"Kamu pikir dengan menikah dengan Nick, hubunganku dengan Nick akan berakhir? Tidak, Gina!" seru Liora sinis.

"Hubungan kami masih sangat berjalan dengan baik. Ya, walaupun sebelumnya aku dan Nick harus menyembunyikan itu semua di depanmu," lanjutnya tenang.

"Pergi Liora! Jangan goda suamiku!" marah Gina.

Gina dengan cepat menghampiri Liora. Tangannya terangkat tinggi. Dia akan menampar perempuan itu.

Suara tamparan keras terdengar di ruangan itu.

Bukan. Itu bukan suara tamparan Gina untuk Liora, itu suara tamparan yang Nick layangkan di pipi kanan istrinya.

Gina menangis sambil memegang pipinya yang terasa sakit dan perih.

"Jangan coba-coba menggores wajah kekasihku!" sentak Nick.

Gina menatap Nick.

"Putuskan dia. Aku istrimu!" seru Gina.

"Sampai kapanpun Nick tak akan mau melepaskan aku," sahut Liora.

"Aku akan melaporkan hubungan kalian ke Ayah, Ibu, Nenek dan kedua orang tuaku," final Gina.

Gina berbalik dan hendak pergi dari sana.

"Awalnya Nick takut kalau keluargamu tahu akan hubungan gelap kami. Tapi, kamu memang bisa menerima konsekuensi kalau mereka semua tahu tentang hubunganku dengan Nick?" tanya Liora santai. Perempuan itu memainkan jari jemarinya dengan tenang.

"Kalau berita tentang hubunganku dengan Nick tersebar di keluargamu, maka putuslah hubungan keluarga kalian berdua. Bagaimana dengan keadaan nenekmu yang punya sakit jantung? Apa jadinya jika nenekmu tahu kalau akibat dari wasiat kakekmu membawamu ke hubungan yang tak diinginkan? Nenekmu akan merasa bersalah. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri dan BOM—" Liora tertawa keras sebelum melanjutkan ucapannya.

"Dia bisa menyusul kakekmu," lanjut Liora santai.

". . ."

Gina terdiam. Dia menunduk dan tak tahu harus berbuat apa. Apa yang dikatakan Liora sangat benar. Semuanya bermula dari perjodohan itu.

Gina tak bisa berkata apa-apa. Dia memilih untuk pergi sambil menghapus air matanya dengan kasar. Dia tak tahu apa yang dilakukan Liora dan Nick disana saat dia sudah pergi. Seks mungkin? Entahlah, membayangkannya saja membuat dunia Gina hancur.

Semua orang memandang ke arah Gina yang berlari sambil menangis. Mereka berbisik-bisik dan menganggap kalau Gina aneh.

"Argg!"

Gina terjatuh dan lututnya tergores saat dia tak sengaja menabrak seseorang sampai dia terjatuh di lantai.

Gina menangis keras. Dia menangis bukan karena sakit pada kakinya, tetapi semuanya. Semua pengkhianatan suaminya di belakangnya.

"Kamu—Gina?!" Pria itu kaget saat melihat siapa yang menabraknya.

Gina tersentak. Suara itu lumayan familiar. Perempuan iu mengangkat pandangannya. Didapatinya seorang pria dengan tubuh proporsional bak model dan kuliat berwarna Tan yang eksotis.

Tanpa mengucap sepatah kata apapun, Gina memeluk orang itu sambil menangis meraung-raung. Pria itu kaget tetapi dia juga membalas pelukan Gina.

Dari balkon lantai dua kantor Nick, sang CEO memandang pemandangan itu, pemandangan dimana istrinya tengah berpelukan dengan salah seorang kolega nya yang punya janji meeting hari ini dengannya.

"Apa hubungan Daniel dan Gina?" gumam Nick geram sambil mengepalkan kedua tangannya di bawah sana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintai Aku Dengan Tulus, Pak CEO!   Berakhir

    "Jadi?" Briana bertanya sambil mengangkat alisnya dengan tinggi. "Semuanya sudah selesai," sahut Gina—Dia berjalan perlahan mendekat ke arah suaminya. "Apa kamu yakin kalau memenjarakan ibumu adalah pilihan yang terbaik?" tanya Gina sambil menatap suaminya dengan sangat serius. Nick tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Kita sekarang sudah berada di pengadilan dan ibu sudah duduk di kursi yang memang seharusnya dia tempati. Pihak media sudah menyoroti kita semua. Jadi, apalagi yang harus aku pilih selain daripada mengikuti pilihanku saat ini?" tanya Nick.Gina menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ya, mereka sekarang memang sudah berada di persidangan dan bahkan Nyonya Abri sudah duduk di depan di kursi tersangka. Tak ada orang yang membela Nyonya Abri karena memang dari awal Tuan Arga meminta agar setiap pengacara tidak berpihak kepada Nyonya Abri. Sekarang tak ada satupun yang bisa membantu Nyonya Abri. Memangnya siapa yang ingin membantu orang yang men

  • Cintai Aku Dengan Tulus, Pak CEO!   Hukuman Yang Setimpal

    Semua orang yang ada di ruangan itu langsung terkaget bukan main saat mendengar pernyataan Tuan Arga. Tuan Arga meminta cerai pada Nyonya Abri."Sa-Sayang? Apa yang kamu katakan? Yang ingin bercerai itu Nick dan Gina. Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Nyonya Abri tak percaya sambil menggelengkan kepalanya. Tuan Arga menatap ke arah Nyonya Abri."Untuk apa mempertahankan rumah tangga kita kalau kita sudah tidak sejalan lagi, Abri? Kau masih mencintai Arkane yang jelas-jelas dia adalah Ayah dari menantumu. Mana mungkin aku ingin hidup satu atap dengan orang yang tak mencintaiku, Abri? Kau juga tak ingin hidup satu atap dengan orang yang tak kau sukai, kan?" jelas Tuan Arga. "Daripada mereka yang bercerai, lebih baik kita berdua saja yang bercerai. Hubungan kita sudah sangat jelas, Abri. Di mana kau tak mencintaiku dan aku tak bisa terus menghalangimu agar berpisah denganku," jelas Tuan Arga."Aku tak ingin berpisah denganmu, Arga!" pekik Nyonya Abri sambil menggelengka

  • Cintai Aku Dengan Tulus, Pak CEO!   Kita Cerai

    Sesuai apa yang Gina katakan pada Nick pada panggilan telepon beberapa hari lalu, sekarang mereka bertemu bersama kedua orang tua mereka di salah satu restoran berbintang di kota itu. "Aku tak menyangka kalau kau akan melakukan hal selicik ini hanya untuk balas dendam padaku, Abri," ucap Nyonya Briana membuka pembicaraan mereka pada makan malam itu. "Aku menerima undangan makan malam ini karena anakku yang merencanakannya. Aku datang ke sini bukan untuk memojokkanmu, Abri," ucap Nyonya Briana."Tetapi aku datang ke sini karena aku menghormati anakku," lanjut Nyonya Briana sambil mengelus rambut panjang Gina dengan lembut."Aku tak ingin basa-basi, bolehkah kalian langsung pada intinya? Aku tidak terlalu suka makan malam bersama seperti ini," ucap Nyonya Abri dengan ketus tanpa menatap ke arah Nyonya Briana maupun Gina. "Memangnya Ibu mau ke mana? Kenapa Ibu buru-buru sekali seperti itu?" tanya Gina—dia menatap mertuanya itu dengan tatapan ramah yang dibuat-buatnya. Nyonya Abri t

  • Cintai Aku Dengan Tulus, Pak CEO!   Mengikuti Mama

    Gina menggelengkan kepalanya, merasa kalau dia tidak akan bisa berada di posisi ibunya—tentang masa lalu antara mertuanya dan juga papanya. "Pantas saja Mama begitu marah kalau tentang perselingkuhan, itu karena Papa pernah melakukan hal buruk itu di belakang Mama dengan Ibu Nick yang tak lain merupakan sahabat Mama sekaligus Ibu mertuaku," gumam Gina—dia menghela nafas berat sambil memijat pelipisnya dengan lemas. "Aku sekarang akan mengikuti apa mau Mama. Aku tak bisa membayangkan kalau harus berbesanan dengan wanita yang pernah menjadi selingkuhan suamiku. Mama pasti merasa sangat terpukul sekali, tetapi dia harus terpaksa untuk memenuhi wasiat Kakek sebelum meninggal," gumam Gina miris. Gina sekarang lebih memilih jawaban yang diinginkan oleh ibunya. Dia tahu kalau rumah tangganya itu bergantung pada dirinya dan Nick karena yang menjalani rumah tangga itu adalah dia dan Nick—tapi kesehatan dan kepikiran ibunya adalah yang lebih utama. Gina ingin mempertahankan hubungan rum

  • Cintai Aku Dengan Tulus, Pak CEO!   Luka Masa Lalu Briana

    Gina sekarang berbaring di atas kasurnya—dia tadinya lebih memilih pulang sendiri sedangkan Nick yang tadi ingin ikut bersamanya dia larang dan meminta suaminya agar tetap berada di mansion orang tuanya dulu. Bukannya Gina tak merindukan suaminya atau dia tak senang bila dia seatap apalagi sekamar dengan suaminya, tetapi dia masih merasa terguncang dengan fakta yang baru saja dia dapatkan. "Jadi selama ini Ibu Nick pernah menjalin hubungan dengan Papa? Mereka berselingkuh saat mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Ibu Nick yang sudah menikah dengan ayah Arga dan Papa arkane sudah menikah dengan Mama," gumam Gina yang masih tidak percaya. Gina memijat keningnya yang terasa begitu pusing. Dia tak menyangka kalau alasan mengapa Nyonya Abri melakukan kejahatan itu sampai rela menjerumuskan anaknya ternyata dengan motif luka masa lalu perselingkuhannya. "Aku masih memiliki perasaan dengan Arkane dan aku iri dengan Briana yang selalu diperlakukan dengan sangat baik oleh Arkane. A

  • Cintai Aku Dengan Tulus, Pak CEO!   Fakta Mengejutkan

    "Jadi, memang benar kalau Ibu di balik semua ini? Ibu tidak setuju dengan pernikahanku dengan Gina? Lalu kenapa selama ini Ibu bersikap seolah-olah Ibu menerima pernikahanku dengan Gina? Aku tak menyangka kalau ternyata aku ditipu sejauh ini oleh Ibuku sendiri."Gina dan nyonya Abri tersentak kaget saat tiba-tiba suara berat Nick terdengar dengan begitu jelas dari belakang sana—Nick sadar atau memang dia hanya berbohong kalau dia sedang tertidur. "Sayang—""Aku tak menyangka kalau ibu akan melakukan ini sejauh ini. Bagaimana bisa Ibu berpikiran untuk menjatuhkan karir yang sudah aku bangun mulai dari nol sampai saat ini? Apa Ibu tidak memikirkan karirku?" tanya Nick tak habis pikir dengan tatapan yang tak pernah berkedip ke arah ibunya. "Kalau memang Ibu tidak menyetujui pernikahanku dengan Gina, mengapa Ibu dari awal seakan-akan memohon-mohon padaku agar mengabulkan permintaan nenek agar menikah dengan Gina? Kenapa Ibu melakukan semua sandiwara itu?" Nick bertanya dengan suara bera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status