Beranda / Romansa / Cintai Aku, Pak Dosen! / Ch 95 : Rumor Menyebar di Indonesia

Share

Ch 95 : Rumor Menyebar di Indonesia

Penulis: Ivy Morfeus
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 13:11:38

Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah percakapan yang berpotensi menghancurkan hidup seseorang.

‘Aku sudah muak dengan ruangan ini.’ rutuk Ronn dalam hati.

Ini sudah ketiga kalinya ia dipanggil ke ruangan Dekan Whitmore dalam seminggu. Angka yang ‘fantastis’ jika untuk keperluan umum kampus. Tapi dia sadar, dia sedang diinterogasi atas kasus foto itu.

‘Apa aku perlu memberitahu Danadyaksa tentang ini?’ pikirannya tiba-tiba teringat pada Aerin. Senyuman di wajahnya, suaranya, kembali terngiang di kepalanya.

‘Tidak. Saat ini sudah sangat buruk. Aku tak ingin membuat wajahnya itu redup.’

Lagi-lagi ia membayangkan wajah Aerin saat terakhir kali mereka bicara berdua di kelas. Yang membuat hatinya sedikit berdenyut nyeri melihat ekspresi kekhawatirannya bukan untuk dirinya sendiri, tapi justru untuk dosennya yang jelas-jelas menyeretnya ke permasalahan ini.

‘Dasar bodoh.’ Satu sudut bibirnya terangkat sedikit. Pikiran itu menciptakan sebersit rasa bahagia di antara kekhawatiran yang bertum
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 98 : Kepercayaan yang Patah

    Danadyaksa berdiri di depan rumah bergaya Georgian yang tenang dan menjulang tinggi. Beberapa waktu lalu, dia sempat menghubungi Nenek Ronn, Elara Nathaniel, hanya untuk bertukar kabar dia akan berkunjung ke London. Karena tahun lalu saat mengantar Aerin, ia belum sempat berkunjung.‘Oh, kau ingin menemui Aerin? Aku sangat senang Aerin tinggal di sini. Semenjak dia ada di rumah ini, suasana rumah jadi lebih ceria.’Itu yang dia dengar dari Nenek Elara. Kabar yang anehnya dia baru tahu.“Sejak kapan Aerin tinggal di rumah Nenek Elara? Kenapa aku tidak dianggap perlu tahu tentang ini?” gumamnya.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya menekan bel rumah.***~***Danadyaksa mempercepat langkahnya. Ia sudah bertemu dengan Helena di depan pintu, dan mengatakan kalau Aerin sedang berada di kolam renang belakang rumah.Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada putrinya itu—sesuatu yang sepertinya dia sembunyikan.“Aerin—”Danadyaksa berhenti di tepi koridor kolam renang , langkahnya terputus

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 97 : Jarak

    Di sela-sela kesadarannya, aroma Cedarwood itu muncul lagi. Hangat. Menenangkan. Lengan besar yang mengangkatnya. Detak jantungnya cepat—terlalu cepat untuk seseorang yang selalu terlihat tenang.Aerin mencengkeram jas Ronn lebih erat.‘Please, God… hentikan waktu. Biarkan aku bisa seperti ini lebih lama.’ doanya.“Dokter!” suara bass Ronn memecah udara di ruang IGD itu.Beberapa perawat menghampirinya, memindahkan tubuh Aerin di ranjang rumah sakit.“Dia tiba-tiba berkeringat, matanya tidak fokus dan pingsan…”Samar-samar Aerin mendengar suara Ronn saat menjelaskan kondisinya pada dokter yang menjaga.Dan setelah itu, gambaran lain berganti.Kini ia sudah berada di sebuah kamar, dengan dinding dan atap berwarna putih bersih. Saat tangannya sedang meraba, ia tak sengaja menyentuh sesuatu.Rambut. Ada seseorang yang sedang tertidur di bawah ranjangnya. Aerin sedikit menunduk.“R-ronn…”“Kau sudah bangun?”Ronn tiba-tiba saja mendongak. Ia segera berdiri, membungkukkan tubuhnya untuk me

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 96 : Tersudut

    ‘Papa akan ke London.’Suara Danadyaksa beberapa waktu lalu terngiang di telinga Aerin. Ia masih duduk di tempat yang sama, punggungnya bersandar ke kursi kamar kecil itu, napasnya tenang—walau gemuruh dadanya terdengar keras.Ia mulai menggesek-gesek ujung kuku ibu jarinya dengan jari tengahnya.“Aku harus memberitahu Ronn ‘kan?” gumamnya bimbang. Aerin menatap layar ponselnya agak lama.“Tapi, bagaimana kalau itu justru menambah bebannya? Dia sudah banyak tertekan saat ini,”Tanpa sadar, kakinya melangkah bolak-balik di kamar itu. “Dia akan lebih shock jika tiba-tiba melihat Papa muncul di London,”Langkahnya terhenti. “Lagipula… aku tak tahu apakah harus berbohong pada Papa atau mengatakan segalanya,”Ia menekan satu nama. Nada sambung terdengar.Sekali. Dua kali.Tak diangkat.Aerin memutuskan mengirim pesan.[“Papa akan ke London. Kita perlu bicara.”]Aerin mengernyitkan alis. Kurang dari sepuluh detik, notifikasi muncul di layar ponselnya. Balasan datang cepat. Terlalu cepat.[“

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 95 : Rumor Menyebar di Indonesia

    Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah percakapan yang berpotensi menghancurkan hidup seseorang.‘Aku sudah muak dengan ruangan ini.’ rutuk Ronn dalam hati.Ini sudah ketiga kalinya ia dipanggil ke ruangan Dekan Whitmore dalam seminggu. Angka yang ‘fantastis’ jika untuk keperluan umum kampus. Tapi dia sadar, dia sedang diinterogasi atas kasus foto itu.‘Apa aku perlu memberitahu Danadyaksa tentang ini?’ pikirannya tiba-tiba teringat pada Aerin. Senyuman di wajahnya, suaranya, kembali terngiang di kepalanya. ‘Tidak. Saat ini sudah sangat buruk. Aku tak ingin membuat wajahnya itu redup.’Lagi-lagi ia membayangkan wajah Aerin saat terakhir kali mereka bicara berdua di kelas. Yang membuat hatinya sedikit berdenyut nyeri melihat ekspresi kekhawatirannya bukan untuk dirinya sendiri, tapi justru untuk dosennya yang jelas-jelas menyeretnya ke permasalahan ini.‘Dasar bodoh.’ Satu sudut bibirnya terangkat sedikit. Pikiran itu menciptakan sebersit rasa bahagia di antara kekhawatiran yang bertum

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 94 : Seseorang Harus Jatuh

    ‘Seseorang harus jatuh. Yang lain… harus diam.’Kalimat Liz itu tidak pergi dari kepala Aerin.Ia mengulanginya berkali-kali, seperti mantra yang menolak pudar. Bahkan saat Aerin menatap layar ponselnya yang gelap, kalimat itu tetap ada—menggantung, mengancam, menuntut makna.“Apa maksudmu, Liz?” gumamnya pelan, sendirian di halte bus.Bukan soal siapa yang salah. Bukan soal siapa yang memulai. Tapi siapa yang akan dikorbankan agar sistem tetap terlihat bersih.Tiba-tiba ponsel Aerin bergetar. Nama itu muncul di layar.Ronn.Aerin menatapnya lama sebelum mengangkat.‘Kau di mana?’ suara Ronn terdengar rendah. Terlalu terkendali. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang membakar kampus.“Di luar,” jawab Aerin singkat.‘Kita tidak boleh terlihat bersama sekarang.’Aerin menelan ludah, ia sudah tahu. Tapi setelah mendengarnya sendiri, ternyata kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. “Untuk menjaga reputasimu?” tanya Aerin, suaranya bergetar tipis. “Kau tak tanya apakah aku

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 93 : Reputasi Goyah

    “Selamat, Aerin.”Di hari berikutnya, lorong perpustakaan kampus itu sepi, kecuali suara langkah sepatu yang terukur.Aerin menoleh.Clara berdiri di belakangnya, dengan senyum yang terlihat seperti formalitas. Blazer abu-abu gelapnya rapi, rambutnya tersisir tanpa satu helai pun memberontak. Ia tampak seperti seseorang yang sejak lahir tahu bahwa dunia memang disiapkan untuknya.“Beasiswa Sterling,” lanjut Clara. “Cukup mengesankan. Pantas kau berbesar kepala mengabaikan pesanku.”“Terima kasih,” jawab Aerin sekenanya. Ia tak tertarik untuk terlibat dengan gadis itu. Ia akan melangkah pergi, tapi sepertinya, Clara masih ingin berbicara.“Padahal kau hanya seseorang yang datang dari…” Clara berhenti sejenak, matanya menyapu Aerin dari ujung rambut hingga sepatu. “Negara kecil.”Aerin tidak langsung menjawab.Ia pernah mendengar rasisme seperti ini sebelumnya—lebih halus, lebih berlapis, dan selalu datang dari orang-orang yang merasa dunia berutang pada mereka.Tapi dadanya tetap berge

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status